
Masih bersikeras mempelajari
Irama Kematian dan tetap tak menemukan petunjuk akhirnya Xin memilih berhenti sebentar.
Seruling di tangannya diambil alih Naga Hitam, dia menggigit benda itu dan bermain-main sendirian. Xin Chen memijit kepalanya sakit, mau dicoba sampai napasnya habis juga yang namanya belajar alat musik harus dimbangi dengan pengalaman yang banyak.
Jari Wei Feng bergerak selagi Xin Chen melamun, dia memerhatikan pergerakan tersebut dan sedikit melotot. Kini jiwa Wei Feng semakin melemah dan roh-roh tersebut datang memasuki tubuhnya. Xin Chen berusaha meniupkan serulingnya, dia tersedak saat mendapati air liur Naga Hitam mengalir dari lubang seruling.
"Hm..." Xin Chen melirik Naga Hitam sinis, dia memuntahkan isi perutnya dan buru-buru membuat seruling lain. Tak tahu sudah berapa lama sejak Wei Feng tak sadarkan diri, mungkin saja saat ini jiwanya sudah tidak bisa diselamatkan.
Sepengetahuan Xin Chen hanya biksu yang dapat mengatasi permasalahan-permasalahan seperti ini, seperti roh dan iblis. Mereka menggunakan mantra penyegelan dan pengusir. Seperti biksu muda yang waktu itu menghancurkan kekuatan spiritual Huo Zhao. Xin Chen rasa dengan cara seperti itu masalah Wei Feng akan lebih mudah diatasi.
Saat berhasil membuat seruling lainnya tubuh Wei Feng sudah memgambang di udara, asap hitam dari roh masuk cepat ke mulutnya dari seluruh penjuru. Memperlihatkan pemandangan menakutkan, napas Xin Chen bahkan sempat berhenti saat melihatnya.
"Celaka, masalah ini sudah terlalu gawat!" Xin Chen tergesa-gesa mengeluarkan kitab Irama Kematian, sebuah tangan yang terbentuk dari roh merebutnya dan menghancurkan kertas tersebut menjadi abu.
"Apa?!"
Xin Chen tak memiliki waktu untuk menyadarinya, Naga Hitam sendiri kini malah menyerang Wei Feng yang makin dimasuki roh. Membuat hawa manusianya memudar. Roh tersebut mulai bisa mengendalikan tubuh Wei Feng, walau terlihat kaku.
"Sial... Aku harus menghentikannya atau roh ini bisa masuk ke tubuh penduduk desa." Keadaan menjadi semakin tak terkendali ketika Naga Hitam terus-terusan menyerang Wei Feng.
Xin Chen memakai serulingnya, menutup mata mencoba tenang di tengah situasi yang kian kacau. Saat matanya kembali terbuka, sebuah cara datang dengan sendirinya.
Baja Phoenix dikeluarkannya dari cincin ruang penyimpanan, ketika dia memakainya terlihat gambaran untuk bermain Irama Kematian. Baja Pengetahuan ini bekerja dengan menghubungkan informasi dari pusaka ke dalam pikiran penggunanya tanpa harus membuka mata.
Alunan nada mematikan membuat Naga Hitam berhenti dan segera menjauh menghindari bunyi tersebut, roh-roh yang sibuk memasuki tubuh Wei Feng terganggu dengan bunyi dari seruling. Alhasil semuanya berjalan seperti kata Rubah Petir tadi, para roh menjadi lebih ganas, kekuatan yang mereka keluarkan menjadi amat sulit dihentikan.
__ADS_1
Xin Chen mempertahankan tubuhnya agar terus berdiri tegak, wujud hantu tak bisa bertahan selama itu selagi para roh menyerangnya.
Asap hitam mengepung Xin Chen dari segala arah, membentuk sebuah wujud mengerikan. Xin Chen terus meniup serulingnya, berusaha menghilangkan rasa takutnya akan mahkluk seperti ini.
"Takut dan marahlah... Aku sudah memakan jiwa temanmu..." Lamat-lamat suara misterius muncul, Xin Chen meniup serulingnya semakin kencang. Roh tersebut semakin liar. Mereka menyatu dan mencengkram leher Xin Chen hingga kakinya tidak bisa menyentuh tanah.
"Berhenti memainkan seruling itu!"
"Kau takut?"
Xin Chen menahan sakit ketika tenggorokannya ditekan oleh kuku tajam, dia menggunakan wujud roh dan hasilnya nihil. Di hadapan raja roh itu dia sama saja seperti mereka. Wujud roh dapat disentuh pula oleh roh sendiri.
"Kau meremehkan kami?"
"Aku tidak pernah meremehkan lawanku, kecuali kau memang pecundang payah yang putus asa karena tidak berhasil menemukan jati dirimu semasa hidup dulu."
"Aku benarkan? Kalian semua terlalu putus asa karena tidak bisa bergabung dengan keluarga kalian di akhirat, masih ada penyesalan dan kemarahan di dalam roh kalian. Hal itulah yang menahan jiwa kalian di sini, selama berpuluh-puluh tahun lamanya."
"Diam-! Kau bocah tidak tahu apa-apa tentang kami!" Suara lainnya menyahut, tapi Xin Chen tak tahu siapa yang barusan menjawab.
Tampaknya roh lain juga bisa menjawabnya. Wajar saja, di desa ini terlalu banyak orang mati dalam pembantaian berdarah. Tak bisa dipungkiri roh-roh jahat akan tumbuh di sana.
Kini roh yang tadinya bergerak ke tubuh Wei Feng serentak menyerang Xin Chen, mereka membentuk pusaran besar yang dipenuhi oleh energi hitam pekat.
Xin Chen segera menyembunyikan Baja Phoenix setelah mengetahui bagaimana cara memainkan Irama Kematian, dia hanya tak ingin baja itu berpindah tangan seperti kakek penghuni Baja tersebut.
"Apa yang baru saja kau sembunyikan?"
__ADS_1
Cengkraman di lehernya semakin erat, Xin Chen mengeluarkan Pedang Petir untuk menebas roh tersebut namun mereka menyatu kembali seperti semula.
Lagi-lagi keberuntungan tak berpihak padanya, roh tersebut tak bisa dikalahkan dengan senjata tajam. Dan kini serulingnya dipatahkan begitu saja.
"Apa yang baru saja kau sembunyikan?! Katakan pada kami!"
Xin Chen tak mau menjawab, sontak saja roh-roh tersebut menembus tubuhnya, membuat luka memar menyakitkan. Kuku-kuku tajam kembali menusuk leher Xin Chen. "Tidak mau mengatakannya aku akan menusuk lehermu dengan ini."
Xin Chen tertawa mengejek, dengan kuku seperti itu dia tidak akan mati. Hanya terasa sedikit menyakitkan saja. Terdengar suara Naga Hitam di balik kepulan asap roh, membakar pemimpin mereka dengan semburan api. Pertahanan mereka langsung goyah, roh tersebut berpencar saat api mengenai mereka.
Cengkraman di leher Xin Chen terlepas, membuatnya bisa menarik napas seperti semula. "Sepertinya Naga ini musuh alami kalian? Api? Memangnya ada apa dengan api?"
Xin Chen beralih menggunakan Pedang Api, meski baru pertama kali memakainya kurang lebih dia paham bagaimana mengendalikannya. Xin Chen baru menyadari, kobaran api seperti ini ternyata lebih memakan banyak kekuatannya daripada sengatan listrik.
"A-api! Ada api!"
Xin Chen berhenti sebentar, sepertinya api ini memang bukan kelemahan dari roh. Hanya saja kelemahan manusia biasa. Membawa kenangan buruk saat Manusia Darah Iblis membakar desa, memperkosa istri mereka, membawa semua persediaan makanan dan menyebarkan wabah penyakit.
"Kalian semua... Dari sikap dan perilaku kalian aku yakin pasti kalian adalah Pejuang dari desa ini, bukan?"
Seketika suasana hening, roh itu sendiri tak tahu menyebut diri mereka apa. Kehilangan jati diri dan melupakan segalanya sejak menjadi roh membuat mereka semua terkejut saat ingatan itu kembali. Saat kobaran api menghanguskan desa dan mereka berjuang bersama-sama untuk mempertahankan desa.
Sayangnya tak satupun dari mereka selamat, anak, istri, keluarga ataupun penduduk desa. Semuanya mati mengenaskan.
"Ke-keluargaku..."
"Jika ingin menemui keluarga kalian silakan berdamai dulu dengan kematian kalian. Pembalasan dendam kalian sudah lebih dulu diwakilkan oleh Ayahku, dia sudah membunuh Manusia Darah Iblis. Semua markas termasuk pemimpinnya. Tidak ada yang perlu kalian sesalkan lagi mulai hari ini." Xin Chen berusaha mendekat, menyentuh roh tersebut dan dapat merasakan wujudnya.
__ADS_1