
"Mereka serius menyuruh kita memanjat gunung ini?" tanya Wei Feng setelah seleksi kedua dimulai. Dia menunjuk ke salah satu titik di mana binatang buas muncul, bahkan dari jarak yang terbilang dekat tercium aroma darah akibat pertarungan dua siluman.
"Kita harus segera bergerak. Usahakan tetap dalam kelompok."
"Biar aku yang paling depan." Wei Feng memotong jalan dan berdiri paling depan, melihat kanan kiri dengan percaya diri. "Omong-omong, tadi kenapa kau dipanggil? Kau membuat masalah?" Wei Feng tak menunggu jawaban, dia langsung berbicara lagi. "Kau tahu, semalam aku tidak ingin tidur. Hanya orang bodoh yang tidak mendengar apa yang penjaga asrama katakan. Benar saja, satu orang kehilangan nyawa tanpa alasan yang jelas. Apa karena itu kau dipanggil?"
"Kau mengatakan aku yang membunuhnya?"
Wei Feng mendecak dua kali, dia membalikkan badan dan berjalan mundur. "Aku tidak mencurigai kau sebagai pelakunya. Tidakkah kau lihat tadi pagi semua orang berebutan kamar mandi? Pasti ada sesuatu yang salah. Kau tahu, aku selalu mempercayai instingku."
"Lupakan. Fokus saja dengan masalah di depan."
Wei Feng mengernyit melihat Yu Xiong mundur, dia kembali melihat ke arah depan di mana seekor ular dengan ukuran besar tengah mengawasi mereka. Berat tubuhnya mungkin melebihi ukuran lima orang dewasa. Siluman itu membuka mulutnya, menampakkan barisan gigi tajam dan juga lidah berbisa yang seketika membuat nyali Wei Feng menciut. Dia mundur tak karuan.
"Belum-belum juga sudah ada saja yang mendatangi kita."
"Sepertinya Kak Wei memang memiliki kemampuan terpendam. Ilmu pemanggil masalah."
"Hei, bocah. Pulang saja daripada banyak mengeluh." Wei Feng mendengus kesal, Yu Xiong mengatakan yang sebenarnya. Memang tidak ada satu hari pun dia lewatkan tanpa terlibat masalah.
Siluman itu merayap tanpa memalingkan pandangannya dari mereka, mencari celah untuk menyerang salah satunya. Wei Feng menyerahkan satu kayu pada Xin Chen.
"Biar aku yang menjadi umpan." Dia menengok ke belakang. "Kalian berdua mundur dulu. Kita tidak bisa lewat sebelum menyingkirkan ular jelek ini."
"Kami akan mencari jalan yang aman. Tunggu kami kembali."
Youji menarik Yu Xiong yang hampir saja terkena gigitan ular tersebut, tetapi langkahnya justru tersandung oleh ekor panjang yang kini mulai melilit tubuh Youji. Xin Chen naik ke atas tubuh ular tersebut, menendang tengkoraknya dari atas hingga kepalanya menghantam tanah.
__ADS_1
Wei Feng segera bertindak menarik Youji dari lilitan ular, bersama Yu Xiong yang mati-matian menyeret tubuh tersebut. Namun siluman ular langsung berdiri dan mempererat lilitan ekornya. Mengejar Xin Chen yang membuatnya marah.
Xin Chen melompat ke atas dahan tinggi, berniat melompat ke bawah di mana ular tersebut tengah menunggunya. Siluman tersebut membuka mulut, mengeluarkan suara desis yang cukup keras ketika sebuah kayu tembus menusuk sebelah bola matanya. Sementara Xin Chen masih bergelantungan dengan sebelah tangannya di dahan pohon.
Ular tersebut menjadi lebih agresif, sebelah matanya mengeluarkan darah cukup banyak tetapi pergerakannya tak melambat. Dia mengeluarkan suara-suara aneh, mungkin bagi yang lain hal itu tak begitu penting tetapi bagi Xin Chen itu adalah pertanda bahaya.
Wei Feng melempari ular tersebut, mengalihkan perhatian sambil berteriak-teriak keras.
"Sebelah sini! Sebelah sini, bodoh!"
Ular tersebut mengejar Wei Feng yang langsung panik karena langkah kakinya jauh lebih lambat dari ular tersebut. Untung di sekitarnya pohon-pohon tumbuh dengan lebat. Dia bisa mengecoh ular itu sambil mengulur waktu. Youji sedang dibawa oleh Yu Xiong. Dan Xin Chen entah ke mana perginya. Padahal Wei Feng sudah bertahan cukup lama di sana.
"Kecambah sialan! Ke mana kau!?"
Wei Feng panik karena tiba-tiba saja dia tidak bisa mundur lagi, tidak sempat menoleh, mulut ular tersebut terbuka lebar hendak memakannya. Wei Feng terdorong ke belakang saat bahunya ditarik. Hingga tak lama kemudian seseorang maju ke depannya dan mencengkram kedua gigi taring siluman tersebut. Terdengar retakan sebelum akhirnya jeritan kesakitan menyusul. Ular tersebut jatuh dengan kedua mata bersimbah darah. Dan salah satu taring miliknya sendiri menancap dalam di tubuhnya.
"Padahal kau sendiri yang meminta menjadi umpan." Xin Chen menjawabnya enteng, karena Wei Feng merasa dia lebih dewasa, kali ini saja dia tak mau berdebat. Lagipula dia tidak kehabisan tenaga untuk sekedar menjawab Xin Chen.
"Kita harus menyusul mereka berdua."
Wei Feng menoleh saat tak mendengar langkah kaki Xin Chen di belakangnya. Tangan pemuda itu dilumuri darah, dia baru saja mengambil sesuatu dari tubuh ular tersebut.
"Yang benar saja. Kau mengorek sampai ke ususnya hanya demi benda itu?" Wei Feng menunjuk benda berwarna hijau gelap di tangan Xin Chen.
"Rugi kalau orang lain yang mengambilnya."
"Ck! Sifat perhitunganmu memang tidak pernah berubah."
__ADS_1
Xin Chen bergegas meninggalkan tempat itu, dia sempat melihat beberapa siluman datang mengelilingi tubuh teman mereka yang bersimbah darah. Bersamaan dengan itu pula, preman yang beberapa waktu lalu mengganggunya tiba.
"Mereka pasti akan mati." Wei Feng menggumam, kembali memperhatikan ke depan. Dia memutar badan sambil meneriakkan nama Youji dan Yu Xiong. Tampaknya kedua orang itu sudah pergi jauh.
"Atau justru mereka meninggalkan kita?"
Xin Chen berjongkok, melihat bekas jejak yang seperti terseret-seret. "Mereka belum begitu jauh."
Dia segera mengikuti jejak tersebut, Wei Feng mengikutinya dari belakang hingga mereka melihat seseorang tengah menodongkan ranting kayu pada seekor siluman ular yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Kaki anak muda berusia belasan tahun itu gemetar bukan main, tetapi dia tetap berdiri tegak melindungi seseorang di belakangnya.
"Yu Xiong itu memang bodoh atau ap-"
Matanya melotot saat melihat Xin Chen sudah berada di ujung ekor siluman tersebut dan menginjaknya. Mahkluk itu segera menoleh dan mendesis kencang, dia berbalik mendekati Xin Chen.
"Kalian pergi lebih dulu saja. Aku akan menyusul setelah membereskan yang ini."
"Mana bisa begitu!" teriakan Yu Xiong kembali menarik perhatian siluman ular itu ke arahnya. Tanpa sadar kakinya mundur ketakutan.
"Kalau mau menolongku hanya ini satu-satunya cara. Kalian berdua pergi ke tempat aman, Kak Wei akan menjaga kalian. Berpencar!"
Ada keengganan yang membuat langkah Wei Feng tertahan, tapi di sisi lain Xin Chen benar. Mereka tak bisa melakukan apa-apa jika menghadapi mahkluk sebesar ini. Bukannya membantu, mereka akan mempersulit gerakan Xin Chen.
"Baiklah, kami pergi! Bergabunglah setelah ini!"
Ketiganya berhasil pergi, Xin Chen baru hendak menarik napas lega tetapi dia merasakan akan kedatangan masalah baru. Terlebih saat sekelompok preman yang tadi dilihatnya berlari ke tempatnya dengan menyeringai penuh arti. Mereka berhenti tepat di dekatnya dan menggunakan bom asap yang entah datang dari mana, lalu menghilang meninggalkan tawa terbahak-bahak.
Xin Chen seperti memasuki sarang ular yang tidak ada habisnya. Dari kanan dan kiri, siluman ular mengerubunginya. Dan satu-satunya yang terbesar dan merupakan penguasa di gunung ini berada di depannya. Dengan aura kuat disertai racun mematikan.
__ADS_1