
Usai prajurit itu berbicara ternyata hari hendak berganti malam, mereka segera diarahkan ke sebuah bangunan besar memanjang yang menjadi asrama dengan daya tampung maksimal seratus orang. Terdapat tiga bangunan dengan corak yang sama dan di dalamnya sudah disediakan semua yang diperlukan. Termasuk kamar mandi dan juga tempat tidur. Semuanya segera tidur di tempat masing-masing dengan tenang. Malam yang dingin tiba, hanya penerangan seadanya yang menerangi asrama tersebut. Xin Chen bangun dari tempatnya dan langsung bergerak dengan wujud roh. Menuju kamp para prajurit yang tak begitu jauh dari asrama mereka.
Saat memasuki kawasan kamp, orang-orang secara tak sadar merasakan kekuatan aneh di sekitar mereka. Sontak saja prajurit tertinggi menyeru dengan marah. "Siapa yang berani-beraninya memakai kekuatan di sini!?"
Hanya terdengar suara kayu yang dibakar oleh api unggun, sebegitu heningnya keadaan. Tak ada yang mengaku karena tak ada satu pun dari mereka yang berani melanggar aturan di sana. Prajurit itu menginjakkan kaki beralas sepatu besinya di atas api, membuatnya padam seketika. Kendi arak di tangannya melayang hampir mengenai wajah orang lain.
"Cepat cari sumber masalah ini! Bunuh saja jika ketemu!" Mereka mengangguk patuh. Laki-laki itu pergi ke tendanya dengan menggeram kesal. Sebaliknya Xin Chen masih berada di dalam kegelapan dan mengintai mereka sambil berpikir keras. Jika dia maju kekuatan roh ini akan semakin mudah dilacak. Tak membutuhkan waktu lama hingga para prajurit itu mulai bergerak ke tempatnya. Dia segera menyingkir dari sana dan mencari tempat yang lebih sepi.
Namun bukannya mendapatkan tempat sepi, dia justru tersasar ke sebuah tempat yang lepas dari penjagaan. Kebanyakan prajurit berkumpul di kamp. Mereka mengunci tempat itu rapat-rapat hingga penyusup pun tak akan bisa masuk ke dalamnya. Namun bagi Xin Chen gembok sebesar apa pun tak ada guna. Dia tetap bisa masuk tanpa menghancurkan pintu itu. karena penasaran dia langsung memasuki tempat tersebut. Dan apa yang ada di dalamnya rupanya adalah zirah berperang yang terpisah-pisah, ditata begitu rapi hingga ke rak paling atas. Xin Chen baru memegang pelindung tangan saat pintu tiba-tiba terbuka. Dia meletakkan barang tadi ke tempat semula tetapi benda yang lainnya jatuh tanpa disengaja. Membuat dua orang bertombak itu segera mewanti-wanti.
"Kau meletakkannya dengan benar tadi, 'kan?"
Salah satunya bertanya sambil membereskan benda yang jatuh, yang lainnya mengambil kunci gudang yang tertinggal. Dia mengangkat bahu tidak yakin. "Mungkin karena tadi terburu-buru aku tak sempat memastikan. Lagipula mana ada orang yang bisa masuk ke sini dengan pintu yang masih terkunci utuh. kecuali dia setan. Setan mana juga yang mau mencuri baju perang begini. Memang dia mau perang dengan siapa di akhirat?"
__ADS_1
"Sudah, berhenti mengoceh. Komandan akan membunuh kita jika berlama-lama." Mereka brdua mengitari seisi ruangan, memastikan tidak ada masalah di tempat tersebut sebelum benar-benar mengunci pintu dari luar.
Sesudah kedua orang itu pergi Xin Chen langsung merampas satu unit baju perang dan menyimpannya ke cincin penyimpanan. Dia sempat berpikir untuk menghancurkan persediaan ini.
"Bukan saatnya." Lalu sebelum dua orang itu datang lagi, Xin Chen segera meninggalkan tempat itu. Tentu dengan menggunakan zirah yang membuat tubuhnya dua kali lebih sulit digerakkan.
Belum memasuki tengah malam, tanpa diduga sepuluh orang praurit datang ke asrama dan memeriksa satu per satu kamar. Memastikan tidak ada yang meninggalkan tempat tidur masing-masing. Wei Feng terbangun oleh bunyi langkah kaki mereka dan segera menyadari bahwa tmpat di sebelahnya kosong. Xin Chen sudah pergi tanpa sepengetahuannya dan sekarang masalah lainnya datang.
Benar saja, prajurit yang melihat tempat itu kosong segera membangunkan Wei Feng yang memang terjaga. "Di mana orang di sebelahmu?"
"Kau membohongi kami?"
Sekarang, nyawa Wei Feng benar-benar di ujung tanduk. Dia mengangkat tangannya yang mendadak dingin. "Aku tadi melihatnya di sana. Mungkin kalian belum melihat dengan baik, dia ada di kamar mandi paling ujung." Wei Feng tak tahu harus mengatakan apalagi. Detik itu Yu Xiong dan Youji juga terbangun. Melihat prajurit berkerumun di satu-satunya ranjang yang kosong. Prajurit itu menyuruh temannya memeriksa sekali lagi, Wei Feng menelan ludah susah payah.
__ADS_1
Di tempat lain Xin Chen sedang disibukkan oleh perintah yang entah bagaimana caranya ditujukan pada dirinya semua. Prajurit lain tertawa-tawa sambil berbagi cerita, mengejek dan menghina satu sama lain sementara dirinya sibuk membawa kendi arak dan membawa kayu bakar agar menjaga api unggun tetap hidup. Mereka seperti tak membutuhkan tidur dan terus mengoceh sampai tengah malam.
Saat sedang meletakkan kayu bakar tiba-tiba saja mereka membahas sesuatu yang rahasia. Mereka sampai berbisik-bisik kecil sambil melihat ke sana kemari takut atasan mendengar. Sudah bukan rahasia lagi bagi orang-orang Kekaisaran Qing yang bahkan t tahu sosok yang mendorong terjadinya perang ini. Lebih awal dari yang seharusnya. Dikarenakan perjanjian berdarah belum selesai, maka Kekaisaran Qing tak punya alasan untuk menyerang Kekaisaran Shang.
Namun karena orang tersebut, Kaisar Yin sampai turun tangan menyiapkan pasukannya. Dengan mengandalkan nama Lembah Para Dewa, maka perang ini dianggap tak memiliki kaitan dengan perjanjian berdarah dan hanya dianggap sebagai pertarungan antar kelompok Empat Unit Pengintai dan kelompok Lembah Para Dewa. Sosok di balik Lembah Para Dewa brhasil membujuk Kaisar Yin untuk mengerahkan kekuatan militer demi kepentingan mereka. Pembahasan tersebut semakin lama semakin ditutup-tutupi, mereka sampai membahas sesuatu seperti Phoenix Cahaya dan Kaisar Yin yang tertipu. Informasi acak itu tidak memiliki hubungan satu sama lainnya. Tapi orang-orang itu berbicara seperti dapat mengerti apa pun yang temannya katakan.
"Bukankah artinya Kaisar Yin gagal mendapatkannya?"
'Mendapatkan apa?' batin Xin Chen geram sendiri, mereka tak membahas apa yang menjadi inti pembicaraan tersebut dan hanya menduga-uga sesuatu yang tidak pasti.
Xin Chen sengaja memperlama pekerjaannya agar bisa mendengar informasi lebih rinci hanya saja perintah lainnya datang dan langsung memaksanya untuk pergi dari sana.
"Siapkan anak panah dan busur untuk pelatihan besok pagi!" titah salah satu prajurit, dia yang sedari tadi memerintah prajurit rendahan untuk terus bergerak tanpa henti.
__ADS_1
Xin Chen tak menggubrisnya hingga akhirnya laki-laki yang menyuruhnya mengamuk. Sekilas, Xin Chen melihat ke arah asrama di mana Wei Feng dan lainnya berada. Tempat itu menjadi lebih terang dari terakhir kali dia meninggalkan tempat tersebut.