Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 338 - Sayatan Menyilang


__ADS_3

Wei Feng jatuh tak sadarkan diri akibat kehabisan darah. Pedang yang semula berada di lehernya kini terjatuh cukup jauh dari tangan orang di belakangnya. Empat orang yang tadi hanya menyaksikan kematian Wei Feng mulai pasang badan, mereka kedatangan seseorang yang tidak diharapkan. Xin Chen. Tetapi bagi si ketua yang telah dihabisi harga dirinya oleh Xin Chen, kehadiran orang itu justru adalah kebetulan yang ditunggu-tunggu.


"akhirnya kau datang juga!" Napasnya berderu tidak beraturan, dendam dan benci yang sudah diredamnya beberapa hari ini kembali menguasai pikirannya. Xin Chen tidak peduli apa yang dirasakannya para orang-orang menyebalkan itu setelah perkelahian mereka. Tetapi dari matanya sudah jelas mereka ingin membunuh Xin Chen.


"Bertarung lah denganku sekali lagi! Dengan begitu aku masih memiliki muka untuk bertemu dengan calon istriku!"


Tebasan melayang mengincar leher teman-temannya, tiga orang yang lain mundur terkejut. Mereka belum bersiap tetapi Xin Chen sudah mengacaukan formasi mereka. Satu orang lari pontang-panting dikejar Xin Chen, dia beberapa kali terjatuh. Lengannya terputus, dia berlari setengah mati sambil meneriakkan sesuatu dengan ketakutan. Perbuatan Xin Chen mengundang perhatian orang banyak.


"Monster, monster-!"


Yung Qi, ketua dari preman itu tidak mengerti mengapa bawahannya meneriakkan kata itu sambil berteriak ketakutan. Namun, sejenak dia dapat melihat pemuda itu melibas semua orang yang berjalan di depannya tanpa ampun. Yung Qi memutar pandangannya ke semua tempat. Melihat anggota kelompoknya telah gugur setidaknya dengan dua bagian yang terpisah dari tubuhnya.


"Ini lebih terlihat seperti pembantaian ..." Kelompok merah berhenti menyerang dan hanya bisa menyaksikan Xin Chen menghabisi kelompok biru tanpa pandang bulu. Dia terus membunuh yang lain, hingga akhirnya bawahan Yung Qi kembali tergelincir. Lehernya ditusuk dengan mata pedang, lalu ditarik ke atas hingga membelah isi kepalanya.


Beberapa orang di dekat Xin Chen kabur sambil berteriak seram melihat isi otak orang itu berhamburan. Xin Chen menoleh ke arah Yung Qi yang mulai merasakan ketakutan tak biasa. Dia tidak pernah merasa setakut ini bahkan ketika maut berkali-kali berada di depan wajahnya. Dua puluh orang tewas dalam kurun waktu kurang dari satu jam.


Barisan tamu mulai berisik oleh bisik-bisik, perhatian mereka tertuju pada seorang pemuda dengan sekujur tubuh penuh dengan darah orang yang dibunuhnya. Tidak ada belas kasihan di mata itu, wajahnya menampakkan ekspresi tidak peduli terhadap seberapa banyak nyawa yang melayang di tangannya.


"Kalau Kaisar Yin melihat orang ini dia pasti akan mengangkatnya menjadi pengawal. Lihatlah, dia bahkan tidak terganggu ketika merobek organ tubuh manusia itu. Benar-benar monster."


"Orang tanpa belas kasih sepertinya memang yang dicari-cari Kaisar Yin. Kudengar Yan Xue sudah memberikan rekomendasi tentang potensi peserta itu kepada Jenderal-18." Wanita yang duduk di sebelahnya berbicara sambil menutup mulutnya dengan kipas. Takut Jenderal-18 yang duduk dua bangku dari mereka mendengar apa yang sedang mereka bincangkan.

__ADS_1


"Sepertinya Jenderal-18 juga tertarik dengan orang itu. Matanya hanya memperhatikan orang yang bernama Zu Chen itu. Padahal klan Zu hanya keluarga dari pedesaan miskin, aku sampai tidak percaya orang seperti dia lahir dari sana."


Obrolan-obrolan tentangnya semakin berlanjut tanpa henti, Jenderal-18 tetap mengarahkan perhatian pada jalannya perang di antara dua kelompok itu. Meski bukan perang sungguhan, dari sana sudah tergambar jelas bagaimana kekuatan dan juga keahlian peserta yang akan lolos. Dia dapat menebak siapa-siapa saja yang akan selamat.


Jenderal-18 tiba-tiba berdiri, lalu berteriak menggelegar. "Siapa pun yang tidak membunuh akan dijatuhi hukuman mati!"


Sontak peraturan baru itu membuat semua orang kalang kabut, mereka kacau sampai-sampai lebih terlihat seperti orang yang berdemo daripada berperang. Bagi orang awam tidak mudah membunuh lawan yang memakai zirah perang tebal dari bahan besi. Mereka sendiri ketakutan mengambil nyawa manusia lain,


Yu Xiong berduel melawan laki-laki tambun yang menjadi salah satu temannya selama seleksi ini. Mereka kenal semenjak hari pertama memasuki distrik-18 dan menjadi musuh malam ini. Tangan dan kaki keduanya sama-sama mengeluarkan darah, tapi tak ada satu pun yang berani menyerang ke arah vital atau bahkan membunuh lawan. Yu Xiong menggeleng lima kali.


"Aku tidak bisa membunuhmu! Aku tidak bisa-"


Yu Xiong gemetar di tempatnya, mungkin seumur hidupnya dia belum pernah membunuh orang. Membunuh kelinci saja dia tidak tega apalagi memenggal kepala manusia. Laki-laki di depannya berusaha tersenyum.


"Kita harus saling membunuh, Nak. Atau jika tidak aku akan dibunuh orang lain dan kau tidak punya kesempatan lagi untuk selamat-"


Laki-laki itu terdiam, kepalanya menunduk melihat sebuah benda tajam tembus di perutnya. Dia memegang pedang itu berusaha menyingkirkannya. Musuh di belakangnya ternyata adalah teman satu kelompoknya sendiri.


"Cepat bunuh aku-!"


Laki-laki itu gemetar di tempatnya berpijak, dia berusaha bertahan menunggu Yu Xiong langsung menghabisi nyawanya.

__ADS_1


"Yu Xiong, apa yang kau lakukan-?!"


Tenggorokan Yu Xiong mendadak kering, dia tidak bisa membalas apa pun ketika melihat laki-laki itu tumbang dan berguling di tanah. Menjadi incaran semua orang yang panik mencari mangsa masing-masing. Dadanya terasa sakit. Dia terlalu takut untuk sekedar menggerakkan tangannya. Saat kerumunan di depannya telah menghilang, Yu Xiong hanya bisa melihat laki-laki tambun tadi telah tewas dengan tubuh terburai.


"Apa yang aku lakukan ...?" Pikirannya mendadak kacau, Yu Xiong hanya melihat sekitarnya seperti sedang bermimpi. Kelap-kelip penerangan di sekitar arena berperang, tamu, Pembunuhan dan juga jeritan sekarat yang tak henti-hentinya mendengung di telinganya. Kematian laki-laki itu membekas di kepalanya, Yu Xiong yang tak pernah turun ke medan perang dibuat terkejut dengan situasi ini.


"Apa yang aku lakukan ...?" Yu Xiong terjatuh saat satu sayatan mengenai pundaknya, dia berdarah. Tetapi kesadarannya belum kembali. Ketakutan itu muncul kembali.


"Aku sama sekali belum berubah."


"Yu Xiong, awas!" Jeritan di belakangnya mendengung hebat di telinganya, tanpa sadar Yu Xiong menoleh dan mendapati seseorang menjaga punggung belakangnya dari sayatan tajam. Namun dengan melindungi Yu Xiong, Youji justru terkena serangan telak itu. Mata pedang menyilang dari dada kirinya hingga ke bagian perut, terbuka lebar mengeluarkan darah yang banyak. Youji ambruk seketika. Dia memuntahkan darah.


"La-lari ..."


"Kak Youji! Kenapa kau-"


"Lari, Yu Xiong! Lari!"


Youji mendorong Yu Xiong yang terus berusaha memapahnya, karena dia melihat Yung Qi berlari kesetanan untuk membunuh mereka berdua.


"Matilah!"

__ADS_1


__ADS_2