Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 64 - Ye Long


__ADS_3

"Sudahlah, adik kecilku ini mengantuk. Kau pasti tidak mau melihat kantung matanya hitam, kan? Nanti malah berubah menjadi Panda Petir-aduh!" Xin Chen menjerit karena tubuhnya disengat listrik tiba-tiba.


Selain karena tersinggung Rubah Petir juga tak terima tubuhnya diseret-seret oleh anak itu. Dia menepis tangan Xin Chen dan berlalu begitu saja dari sana.


"Hais... Menyebalkan sekali kau ini," rutuk Rubah Petir memindahkan tangan Xin Chen dari pundaknya ketika jarak mereka dengan Wei Feng sudah cukup jauh.


Xin Chen memandang langit mendung sebentar, terpikirkan akan sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Maaf. ngomong-ngomong aku ingin menanyakan sesuatu," ujarnya dengan menadahkan tangan. Tetesan hujan gerimis membasahi telapak tangannya secara perlahan. "Saat cuaca alam datang apa kau bisa mengubahnya? Seperti hujan atau kemarau?"


Rubah Petir melibas ekornya, mengenai punggung Xin Chen telak. Meski tidak terlihat menyakitkan tapi Xin Chen rasa tulang pinggangnya sedikit bergeser dari tempat yang seharusnya.


"Pertanyaan bodoh, jangan tanyakan lagi padaku."


"Kau ini, lagipula aku hanya bertanya. Mungkin suatu saat kekuatanmu bisa membantu petani menyuburkan tanah berladang atau membantu nelayan agar mereka bisa menangkap ikan tanpa takut harus hujan."


"Kau ingin membuat harga diriku sebagai Siluman Penguasa Petir hancur? Mau ku taruh ke mana mukaku ini, kekuatanku kau pakai untuk bertani dan melaut?"


Rubah Petir menyesal kenapa dia harus menjawab anak itu, dari awal dia sudah yakin Xin Chen pasti akan mengeluarkan ide-ide tak masuk akal yang muncul di kepalanya.


"Ya, lagipula kau berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang meskipun caranya berbeda."


"Tidak mau, kau saja yang melakukannya." Rubah Petir memasuki kamar penginapan yang sempat disewanya kemarin. Sangat sederhana dan cukup untuk ditempati oleh dua orang.


"Memang aku bisa melakukannya? Mengendalikan petir sepertimu? Gila! Itu terlalu keren untuk dibayangkan!" Bola mata Xin Chen bersinar terang, membayangkan dirinya menjadi sosok pendekar yang muncul saat malam diiringi sambaran petir serta gemuruh.


"Keren...." Xin Chen terbaring di atas ranjangnya, tak sanggup membayangkan lagi.


"Ingat, besok kita harus segera bergegas dari sini. Kau ingat, tujuan awalmu pergi ke arah Utara?"


"Mencari pemukiman Manusia Darah Iblis? Tapi..." Xin Chen merunduk gelisah, takut mengatakan permasalahan Baja Phoenix ini pada Rubah Petir.


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Aku sedang menempa pedang dengan keluarga Jin. Yang tempat aku berhenti tadi, kau tahu? Hanya butuh waktu satu bulan, aku akan mendapatkan pedang yang kucari."


Rubah Petir mendengus samar, "Batalkan saja. Kau bisa langsung membelinya dengan harga yang lebih murah."


"Ta-tapi... Tidak baik membatalkan seperti itu, aku sudah telanjur memesannya, Guru."


"Kalau kau mengatakan yang sebenarnya mungkin aku akan sedikit memberikanmu waktu untuk tinggal di sini."


Bagaimanapun Xin Chen dibuat terdiam, apalagi melihat raut wajah Rubah Petir berubah menjadi lebih serius daripada biasanya. Xin Chen dapat merasakan aura intimidasi menyerang dari berbagai sisi, persis seperti yang Rubah Petir keluarkan saat menghadapi Naga Hitam di hutan.


"Ah... Itu, seharusnya aku memberitahumu sejak awal... Hanya saja aku memikirkannya tiba-tiba dan tidak tahu cara menjelaskannya padamu."


"Jadi kau mulai memikirkannya sekarang? Hahaha tak kusangka ingatanmu cukup kuat juga, kuakui sebagai seorang murid kau cukup mematuhi Gurumu ini, Chen." Rubah Petir tertawa diikuti Xin Chen yang hanya bisa tertawa canggung, dibuat kebingungan sendiri dengan situasi yang dihadapi.


"Jadi bagaimana perkembanganmu?"


"Pe-perkembanganku? Tubuhku tumbuh dengan baik, Guru-! Warrggh jangan petir lagi!"


Rambut Xin Chen naik ke atas akibat setruman listrik si rubah, siluman itu memasang wajah sebal. "Aku lihat kau sepertinya mulai serius untuk melatih kemampuan memanahmu, bukankah begitu?"


"Benar. Saat menyeimbangkan tubuhmu dan membidik lawan dengan tepat, kurasa memanah cukup baik untuk mengembangkan diri."


Xin Chen merenung sebentar, dia berkedip saat tangan Rubah Petir melintas di depan mukanya. "Kau kenapa? Ada yang ingin kau bicarakan?" tanyanya heran. Xin Chen tertegun namun tak segera menjawab. Ragu untuk memberitahu Rubah Petir perihal Baja Phoenix.


"Kalau kau sudah bersedia mengatakannya, katakan saja. Aku akan bermeditasi sampai esok pagi. Jika mau pergi latihan, langsung pergi saja tidak perlu mengganggu meditasiku."


"Baik!"


Lentera penerang telah meredup, membuat suasana menjadi remang-remang di dalam kamar Xin Chen. Hanya beberapa batang lilin kecil meneranginya malam itu.


'Kalau kuberi tahu Rubah Petir apa dia akan setuju? Menempa Baja Phoenix masih memiliki kemungkinan gagal, tapi ini harus benar-benar dilakukan jika aku tak mau baja itu direbut orang lain.'


Tiba-tiba saja terdengar suara benda terjatuh dari dekat jendela, Xin Chen terbangun dalam sikap waspada. Bersiap mengeluarkan Pedang Petir andai ada seseorang yang hendak melukainya. Baru saja membuka tirai jendela dia dikejutkan oleh Naga Hitam, naga tersebut menerobos masuk dan menjilati wajah Xin Chen.

__ADS_1


"Haha, kau kembali lagi, kawan." Katanya senang, naga itu juga terlihat sama senangnya. Akan tetapi Xin Chen segera melepaskan naganya ketika menyadari sepasang mata sedang tertuju padanya.


"Guru?"


"Kalau mau memeliharanya, jangan bawa dia ke tempat orang ramai dulu. Paham?"


"Terimakasih Rubah, hehehe. Baiknya ku beri nama apa Naga Hitam ini? Naga Kerdil? Naga Kegelapan? Hm... Sepertinya Naga Malam." Naga Hitam tampaknya sedikit menyukai sebutan tersebut, terlihat dari reaksi antusiasnya. "Ye Long. Bagus tidak?"


Ye Long nama baru Naga Hitam melonjak girang, hingga membuat beberapa barang di atas meja pecah terkibas ekornya.


"Baik, baik. Aku tahu kau senang. Tapi-"


"Tuan Muda, apakah ada masalah di dalam kamar?" Salah satu pelayan penginapan mengetuk pintu di luar dengan cemas. Sedangkan Rubah Petir hanya memasang wajah malas. "Jangan bawa Ye Long-mu itu ke kamar, dia hanya akan menambah masalah."


Xin Chen menyuruh Ye Long keluar dari kamarnya kemudian membuka pintu kamar. Meyakinkan mereka tidak terjadi apa-apa di dalam kamarnya.


*


Masih pagi buta Xin Chen sudah menghilang dari tempat tidurnya, Rubah Petir bahkan tidak menyadari kapan anak itu pergi.


Di tempat lain Xin Chen baru saja melompati sebuah dahan pohon yang tumbang, mengejar seekor kumbang besar di hutan. Sedikit lagi untuk bisa meraih kumbang itu, dia malah tercebur ke dalam lubang lumpur.


"Yang benar saja..." Xin Chen merengut, mengeluh menatapi tubuhnya sudah kotor sepagi ini. Sebuah tangan tersodor padanya saat Xin Chen mencoba bangun, dia menengadah, mendapati Jin Youji mengulurkan tangan padanya.


"Terimakasih," ucapnya.


Youji melirik ke sekitarnya, baru saja dia menangkap belut untuk dimasak di rumah nanti. "Kebetulan rumahku sudah dekat dari sini, mungkin kau mau membersihkan diri sekalian di rumahku?"


Xin Chen tak enak pada Youji, dia menolak halus. "Tidak perlu, aku bisa membersihkan diriku sendiri nanti."


"Caranya?"


"Em dengan..." Xin Chen terdiam sebentar, mengamati sekelilingnya tanpa melanjutkan perkataannya tadi dan berlari kecil ke sebuah aliran air sungai. Dia menenggelamkan tubuhnya hingga ke atas leher dan keluar dari sana basah kuyup. Tanah lumpur telah menghilang diseret arus sungai.

__ADS_1


Sementara Xin Chen mengeringkan tubuhnya dengan melakukan perubahan energi api, membuat suhu tubuhnya memanas ke tingkat maksimum dan mengeringkan pakaiannya dalam waktu singkat.


Youji hampir tak percaya menatapnya, dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Menuntun Xin Chen ke jalan pintas agar segera sampai ke halaman belakang rumahnya.


__ADS_2