
"Dan sekarang aku menawarkan jalan damai padamu, serahkan pedang itu baik-baik padaku."
"Dan kau akan menyerangku kembali suatu saat nanti?"
Qin Yijun melebarkan senyuman remeh. "Kau takut? Oh, hahahah. Ternyata orang sepertimu juga tahu dengan rasa takut."
Xin Fai merespon dengan nada ketus, "Sepertinya kau sedang berpikir aku akan menyerahkannya begitu saja?"
Jawaban itu lantas membuat Qin Yijun diam untuk beberapa saat, dia memiringkan kepala dengan wajah penuh tanda tanya. Mencoba memahami maksud perkataan Xin Fai tadi dan merasa tak ada yang disalahpahami oleh nya sendiri.
"Hm? Kau tentu tak menginginkan Kaisar Qin mati hingga Kekaisaran ini akan hancur ditindas yang lain. Seperti mayat yang dikerubuti belatung. Kalau pun suatu saat kalian akan berontak maka kubu lain akan menikam kalian tanpa ampun. Pedang itu hanya akan mendatangkan kemalangan bagi kalian dan orang bodoh ini, dia justru mengundang perang ke tanahnya sendiri, mengorbankan nyawa para rakyat-rakyatnya."
Qin Yijun menunjuk Kaisar Qin yang masih satu darah dengannya, melihat pakaian mahal yang dipakai laki-laki itu dan membayangkan dirinya yang berada di posisi itu. Menjadi seorang pemimpin yang diakui oleh Kekaisaran dan dihormati oleh semua orang.
Angan-angan semu itu membuat hatinya kembali mendendam, Qin Yijun menyuruh bawahannya untuk mengeratkan tali kawat yang mengikatnya. Hingga bagian daging terluar telah berhasil terkoyak, darah terus menetes dari sana. Dan saat ini tanpa di perintah perempuan itu meletakkan belati di leher Kaisar Qin.
"Pilihanmu hanya dua, menyerah dan berikan senjata itu. Atau memberontak lah, maka dengan senang hati aku akan membunuhnya dan Naga Kegelapan akan menghancurkan satu Kekaisaran ini."
"Hahahah, kau cukup pintar juga!" Qin Yijun terbahak, semua orang menunggu respon Xin Fai.
Para pendekar di belakangnya sudah berkumpul, melihat Kaisar Qin ditangkap membuat suasana menjadi kian buruk.
"Hm? Tidak ada jawaban. Aku hitung sampai tiga. Maka kepala itu akan kupastikan menjadi hiasan terindah di kamarku."
"Satu ...." Qin Yijun mulai menghitung.
"Dua ...."
"Tiga ...." Xin Fai tak kunjung menjawab, Qin Yijun belum mengambil tindakan apa-apa. Laki-laki itu bukan seseorang yang bisa dipermainkannya dengan ancaman kekanak-kanakan.
Terlihat berat wajah Xin Fai pada saat itu, pertimbangannya kali ini adalah satu hal paling berat dalam hidupnya. Dengan terus membawa pedang itu Xin Fai yakin bahkan nyawa Ren Yuan, anak-anaknya dan para rakyat Kekaisaran Shang akan binasa. Cepat atau lambat. Namun melepasnya juga tak ada beda.
__ADS_1
"Aku akan menyerahkan diriku."
"Nah?" Qin Yijun sumringah, "Pada akhirnya kau sama sekali tidak berdaya bukan?"
"Aku memang tidak berdaya jika itu semua tentang nyawa orang lain yang ku tanggung."
Xin Fai berjalan mendekati Xin Chen yang masih membatu, tak mempercayai kata-kata ayahnya barusan. Ingin sekali dia menyalahkan dirinya sendiri, mereka memang tidak kalah tapi kenyataan bahwa keadaan begitu memojokkan Ayahnya lah yang membuat Xin Chen marah.
"Tidak mungkin...." Ucapan Xin Chen bergetar, dia begitu memahami ayahnya. "Jangan pernah lakukan itu, Ayah."
Keduanya terdiam sesaat, Xin Fai berkata dengan nada rendah. "Mulai saat ini, jagalah ibumu dan kakakmu. Mungkin aku takkan ada di sisimu untuk waktu yang lama ...."
"Ayah ..." Xin Zhan menggumam sambil menggelengkan kepala. Jelas-jelas mereka memenangkan perang ini, tapi kenapa semuanya justru berbalik. Bahkan Ren Yuan pun tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, dia tahu ini semua tanggung jawab Xin Fai sebagai Pilar Kekaisaran dan dirinya pernah bersumpah untuk menahan laki-laki itu jika sewaktu-waktu hal seperti ini terjadi. Ditelannya kata-kata protes itu dalam dirinya dan berharap si kembar Xin mampu merubah pikiran Xin Fai. Walaupun hal itu takkan pernah memungkinkan terjadi.
Xin Fai kembali ke depan Qin Yijun, "Aku tak serta-merta memberikanmu pedang ini. Aku akan membawanya bersamaku, tinggalkan Kekaisaran ini dan jangan sekali pun kalian menginjakkan kaki lagi ke tempat ini."
"Oh-ho! Apa ini, sang Pedang Iblis sekaligus menyerahkan dirinya?! Benar-benar bagus sekali. Aku tak kan bisa menolaknya jika kau sudah menawarkan diri. Hahahaha!"
Ren Yuan berkali-kali memanggil namanya, Xin Fai hanya bisa bersikap seolah-olah dia tak mendengar. Tahu akan penyesalan besar yang akan ditanggungnya.
Lan An menahan langkahnya saat Xin Fai menghampiri Qin Yijun, lalu melayangkan tinju ke wajah tersebut dengan emosi. "Apa yang kau lakukan?!"
"Ini sudah keputusan terakhirku."
"Jangan pernah berharap ini semua akan membuat keluargamu bahagia!"
"Lalu?" Xin Fai melepaskan tangan Lan An di bajunya, tatapannya tenang dan itu membuat Lan An murka padanya.
"Ini akan menjadi perang yang tak berkesudahan, aku takkan pernah menyerahkan pedang ini. Seumur hidupku, karena pedang itu akan tetap ada dalam diriku."
Lan An tak mengerti apa yang dikatakan sahabat lamanya ini, dia hanya tak bisa melihat Xin Fai menjadi seorang pecundang yang hanya bisa menyerahkan diri untuk meredam sebuah perang. Namun, memang benar adanya. Tak ada yang bisa diperbuat. Keberadaan Pedang Manusia Iblis dan Pedang Kaisar Langit hanyalah bencana.
__ADS_1
Jika sekali pun dia berhasil menyelamatkan keduanya; baik pedang maupun nyawa Kaisar Qin dan Xin Xia, maka suatu hari nanti akan terjadi perang yang melibatkan satu Kekaisaran. Dan itu adalah hal yang paling Xin Fai takuti. Kebinasaan Kekaisaran Shang dan tanah mereka diambil alih oleh Kekaisaran lain. Maka hilanglah nama Kekaisaran Shang dari dunia.
Namun, agaknya Lan An tak pernah memikir sampai di situ, Xin Fai menepuk pundaknya dalam tatapan teduh.
"Saat harinya tiba, tolong selamatkan aku dengan pahlawan kecil itu. Aku akan menunggunya, perang mungkin akan terjadi lagi. Sampai saat itu tiba berjuanglah untuk mempertahankan Kekaisaran ini. Jadilah Pilar Pertama untuk menggantikanku, Lan An."
"Tidak akan aku menerimanya! Kau camkan itu! Xin Fai, jangan menyerahkan dirimu begitu saja-"
"Lalu kau memiliki jalan lain? Kau pasti tak mau melihat Xin Xia terluka. Apalagi aku, terlebih Kaisar Qin adalah segalanya bagi Kekaisaran ini."
Di akhir kalimatnya Xin Fai tersenyum, "Semua akan baik-baik saja."
Semua orang menyaksikan dalam tatapan terpana, saat itu sosok pelindung yang selama ini menjaga Kekaisaran Shang, membiarkan tubuhnya ditembakkan panah agar rakyat-rakyatnya tak menderita, pergi dari sisi mereka. Lan An akan memikul tanggungjawab besar itu di kemudian hari.
Detik itu tanpa sepengetahuan mereka langit meneteskan air hujan, ikut bersedih saat Ren Yuan menangis tanpa suara. Dirinya pernah mendengarkan, kadang untuk menyelamatkan kebahagiaan orang lain dibutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Sekarang dia tahu bahwa itu sedang terjadi pada Xin Fai, perang telah berakhir.
Dan untuk terakhir kalinya mata mereka bertemu.
"Maaf dan selamat tinggal."
Xin Chen baru menyadari bahwa semua yang terjadi di depan matanya adalah kenyataan. Sementara Qin Yijun dan Naga Kegelapan yang membawa Ayahnya hendak bergerak.
Perempuan dalam jubah hitam mengembalikan Xin Xia dan Kaisar Qin. Perjanjian perdamaian ditorehkan dengan darah Xin Fai dan Qin Yijun, agar dalam kurun waktu tertentu mereka tak boleh menyerang Kekaisaran Shang dalam bentuk apa pun.
"Ayah! AYAH!"
Rasa tidak berdaya ini membuat Xin Chen muak, pada akhirnya mereka akan berlutut di bawah kaki musuh. Demi kebaikan, demi keselamatan dan demi menghindari pertumpahdarahan.
Xin Chen menyusul naga itu, namun, sebuah pisau melesat ke arahnya dan meledak di depan mukanya. Xin Chen tak peduli, dia terus mencoba mengejar dan mengejar hingga sesuatu menabraknya dan membuat dia tersungkur di atas tanah.
**
__ADS_1
quote: sekuat apa pun dirimu, sekeras apa pun usahamu. jika takdir (author) berkehendak lain maka kau pun tak bisa mengubahnya.
fix, otor bakal kena buli wkwkkwksk