Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 263 - Mantra Yuhao


__ADS_3

Matanya melotot ketika mendapatkan bayangan hitam tengah bergerak di belakang mereka, dengan refleks ditariknya busur panah dalam satu kali tarikan yang melepaskan dua anak panah sekaligus. Benda itu hanya menancap di dahan pohon yang besar padahal gadis itu yakin serangannya menembus ke bayangan tersebut.


"Jangan katakan ini jebakan lainnya?"


Pasukan dengan baju seragam yang melambangkan mereka berasal dari Lembah Kabut Putih saling pandang saat mendengar gadis itu berbicara sedangkan tak ada satu pun dari mereka melihat apa yang dilihatnya.


"Mengapa Nona Xiu?"


"Aku ... Ah, tidak. Lupakan saja, kita harus segera bergerak!"


"Baik!"


*

__ADS_1


Beberapa jam mencari-cari keberadaan Hantu dari YuanXe, Xin Chen tak menemukan siapa-siapa di hutan belantara itu selain para pemburu. Dapat bertemu dengan satu pemuda YuanXe tadi adalah keberuntungan. Xin Chen cukup penasaran dengan kekuatan orang itu tetapi sayangnya dia pergi tanpa mengatakan apa pun.


Tak ada jalan lain selain masuk ke dalam tanah YuanXe, semua petunjuk berada di sana. Namun yang sedari tadi membuatnya ragu adalah tempelan jimat dan mantra yang melindungi seisi pelindung dan benteng YuanXe. Memang tak bisa diragukan lagi, mereka membentengi diri sedemikian rupa hingga tak ada satu pun celah untuk masuk.


Kini Xin Chen dapat merasakan efek dari mantra yang sengaja dipasang untuk menghindari kedatangan pengguna roh sepertinya. Pimpinan orang-orang YuanXe ini pastinya orang yang cerdas hingga memikirkan tentang kemungkinan pemburu seperti Xin Chen.


Mantra Yuhao, salah satu guru senior di Kekaisaran Qing yang telah lama menghilang akibat sebuah insiden. Mantra itu dibagi menjadi beberapa mantra lagi seperti Pembasmi Roh. Dibuatkan dengan tujuan khusus yakni melindungi sebuah tempat dari keberadaan pemilik kekuatan roh.


Dulu pembantaian satu klan oleh seorang pengguna roh di Kekaisaran Qing adalah hal yang sangat lumrah terjadi sehingga banyak klan bangsawan menengah dan kecil habis dibantai, hal itu menimbulkan keresahan berkepanjangan yang berakhir dengan pembunuhan seluruh pengguna roh dan upacara berdarah untuk menghabisi semua pemilik kekuatan tersebut.


Semakin mendekat ke tanah tersebut, wujud roh Xin Chen melemah. Dia tak menyangka ada seseorang yang menyadari kehadirannya dari dalam YuanXe. Sebuah teriakan perintah terdengar membumbung di sekitarnya. Xin Chen terpana, bahkan saat berteriak pun, orang-orang itu memiliki suara yang dua kali lebih keras dari manusia biasa.


"Pengguna roh! Pengguna roh!!!"

__ADS_1


Sekejap mata seisi tempat itu berisik, terdengar bunyi lonceng yang sangat kencang serta pembakaran besar di tengah-tengah YuanXe. Asap dari pembakaran itu mengganggu ketenangan jiwa Xin Chen, dia yakin tak yakin namun ketika mencob a melihat dari atas, puluhan orang dewasa tegah berkumpul di satu titik di mana mereka membakar kertas mantra itu menjadi asap pekat yang tebal.


Udara menjadi semakin keruh dan gelap, Xin Chen mundur beberapa kali saat melihat tangannya menghilang perlahan-lahan. Apa yang terjadi saat itu sama sekali di luar prediksinya, dan benar saja tak berapa lama berselang segrombolan wanita dengan pakaian aneh dan kecapi mendekat. Memainkan alat musik itu dengan irama yang membuat kekuatan roh miliknya semakin tersiksa.


"Sial, apa-apaan kekuatan ini?" kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, dia hendak mundur lebih ke belakang lagi. Namun sama sekali tak dapat bergerak, jiwanya seolah-olah di segel oleh alunan musik dari tanah lain itu. Hanya ada satu kemungkinan yang terpikirkan olehnya, yaitu Guru Yuhao. Lan Zhuxian sempat menyebut nama itu saat mereka pertama kali berangkat ke Lembah Para Dewa.


Xin Chen tak mengetahui apa pun soal mantra ini, tapi tampaknya kesalahan fatalnya karena tak pernah mencari tahu tentang hal ini terlebih dahulu. Sekuat apa pun dia mencoba melawan, mantra itu justru semakin kuat membekuknya.


'Semakin banyak aku mengeluarkan kekuatan malah semakin memperburuk keadaan.' Dia mengangkat sebelaha tangan, mengumpulkan bola api biru yang kemudian berpecah melindungi tubuhnya seperti perisai.


Bunyi berisik dari belakangnya membuat Xin Chen teralih, pikirannya seperti kacau saat itu sehingga pandangannya tak begitu jelas melihat siapa yang berdiri di belakangnya, sebuah kelompok dengan satu gadis di barisan terdepan tengah memaku melihat ke arah depan.


Saat sebuah mantra menempel di tubuhnya, Xin Chen tak sadar hal itu membuat dirinya terlihat oleh musuh walau pun masih memakai wujud roh. Kelompok tersebut terdiam beribu bahasa, seolah-olah tak asing dengan wajah tersebut.

__ADS_1


Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan di detik yang sama pula tiga orang dewasa dari YuanXe melompati benteng hendak menghabisi kepala Xin Chen.


"Mati kau!"


__ADS_2