
Wei Feng mengangkat busurnya di atas kepala, dia membuat prajurit lainnya kagum dengan bidikannya. Jarang penduduk biasa dapat melakukan hal itu, bahkan pemanah sekalipun. Wei Feng menerima rasa kagum itu dengan senyuman berbunga-bunga. Sudah lama dia tak merasa sebahagia ini. Bergabung ke barisan yang lolos, Wei Feng hanya bisa melihat tiga kawannya tampil.
Di tempatnya kini Yu Xiong tak berhenti-henti gemetar saat melihat mereka yang tewas di tempat. Rasa takut itu muncul kembali. Waktu berlalu begitu lama hingga akhirnya matahari berada tepat di atas mereka. Keringat di dahi Yu Xiong semakin berjatuhan. Antara kegugupannya sendiri atau karena cuaca panas yang membakar kulit mereka. Nama-nama kembali dipanggil, dia menengok kanan kiri saat nama pertama dipanggil. Satu per satu maju ke tempat panahan, tak sedikit yang gemetar saat memegang busur, tengkuk Yu Xiong semakin dingin saat nama pertamanya disebut.
"Sembilan. Yuzhan Wang."
Yu Xiong buru-buru menoleh, melihat laki-laki yang dipanggil mengeluh. Youji yang melihat kekhawatirannya berkata pelan, "Tenanglah, tidak akan terjadi hal yang buruk."
"Tapi-"
Perbincangan mereka terhenti saat nama selanjutnya dipanggil.
"Sepuluh. Jin Youji."
Youji menarik napas, melirik Yu Xiong sekali lagi sambil mengangguk meyakinkan. Mereka akan baik-baik saja. Hal itulah sedari tadi ingin disampaikannya. Youji telah memasuki arena latihan panah, dia mengambil busur miliknya dan bersiap untuk menarik anak panah. Salah satu prajurit menangkap keanehan dan segera menghentikan seleksi dengan teriakan yang menggelegar.
"Seleksi ditunda!"
Kontan semuanya menurunkan panah, melihat sosok yang berbicara tadi mendekat ke sepuluh orang di depan arena sambil membawa senjata. Awalnya Youji tenang, tetapi ketenangan itu tak berlangsung lama sebab prajurit bertangan besi berjalan ke tempatnya sambil menenteng senjata. Dia berhenti di depan Youji, memperhatikan laki-laki itu dari atas sampai ke bawah.
"Siapa yang membawa orang cacat sepertinya ke dalam pasukan?!" gelegar suara prajurit utama itu memecahkan keheningan di tengah situasi yang semakin menegangkan. Youji tahu tangan buatan ini akan mendatangkan masalah, tapi dia tak berharap ketidaksempurnaannya dihina di depan semua orang seperti ini. "Kau berasal dari mana?! Siapa yang membawanya ke sini! Jawab! Atau kalian semua harus menanggung hukumannya!"
Satu detik setelahnya suasana pecah dengan argumen yang saling menyalahkan, tak ada yang merasa pernah membawa atau mengenal laki-laki yang dimaksud prajurit tersebut.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang menjawab maka aku akan membunuhnya!"
Youji melihat ke sekelilingnya, tidak ada yang mau mengangkat tangan. Yu Xiong terlalu takut untuk sekedar bergerak. Penyakit gugupnya membuat anak muda itu takut mengangkat wajahnya. Youji memegang lengannya, penyesalan itu datang kembali. Kehilangan sebelah tangan adalah luka terberat. Meski tangan kirinya dapat digantikan dengan tangan yang terbuat dari besi,tetapi pandangan terhadap orang-orang akan berubah terhadapnya. Dia tak lebih dari seorang yang cacat dan tidak layak untuk dibawa dalam pertarungan.
"Tidak ada yang mengaku? Baiklah," bilah pedang menggores lehernya. Youji memejamkan mata dengan wajah terangkat, dia tidak berani melihat ke depan karena jarak pedang dengan batang lehernya hanya seujung kuku. Prajurit tadi hendak membunuh Youji di tempat. Namun bawahannya segera menahan.
"Ada yang mengangkat tangannya dari tadi."
"Siapa?" Bunyi baju besi yang dikenakannya terdengar berat, tubuh sang prajurit berputar ke sisi kanan. Ternyata benar, di sana dia melihat seorang pemuda mengangkat tangan. Dengan langsung menatap prajurit utama, laki-laki itu berjalan ke arahnya. Menyuruh yang lainnya untuk menyingkir.
"Siapa yang membolehkanmu membawa orang cacat itu kemari?"
"Pertama, jangan sebut dia orang cacat."
"Aku atasanmu di sini. Berani bertarung?"
Prajurit mencengkram leher Xin Chen, kulit tangannya terasa dingin. Sangat dingin hingga membuatnya refleks melepas leher tersebut.
"Membawa orang cacat dalam pertempuran adalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan."
"Lalu siapa yang menyuruh kami mengumpulkan dua puluh orang laki-laki dalam waktu hitungan jam? Mengancam kami dengan membakar seluruh desa jika tak mematuhi kalian?"
"Apa masalahmu, berengsek?" Yang lainnya ikut terbawa emosi.
__ADS_1
"Masalahku? Tidak ada. Hanya saja kami kekurangan laki-laki dan diharuskan untuk mengumpulkan sebanyak dua puluh orang. Jadi dia menawarkan diri untuk ikut agar desa kami tidak dibakar." Xin Chen sedikit melunak, membuat laki-laki di depannya mendecih. Tahu lawan bicaranya tak berniat memperbesar masalah.
Prajurit dengan zirah emas itu maju ke depan, mengumumkan sesuatu dengan keras.
"Peserta nomor sepuluh tidak dikeluarkan. Tapi peralatannya akan disita selama seleksi berlangsung demi menghindari terjadinya kecurangan! Tidak ada bantahan atau nyawa menjadi taruhan!"
Youji tak bisa berbuat apa-apa saat tangan besi miliknya disita oleh dua orang prajurit. Mereka membawanya ke tempat lain.
Tidak ada orang yang bisa memanah dengan sebelah tangan. Karena pada dasarnya, memanah membutuhkan satu tangan untuk memegang busur dan satunya lagi menarik anak panah. Mereka tak memberikan keringanan apa pun pada Youji. Dan langsung meneruskan seleksi seperti sebelumnya. Mereka hanya diberikan waktu lima menit untuk memanah. Dan Youji memiliki tiga kesempatan untuk membidik.
Semua orang menatap kasihan pada Youji yang belum melakukan apa-apa hingga tiga menit berlangsung. Laki-laki itu tampak pias, dia hanya memasang senyuman pahit sambil menatap lantai yang sebentar lagi akan kotor oleh darahnya. Sementara yang lain ada yang selamat dan segera meninggalkan arena. Dua orang tewas. Dan di menit keempat, hanya tersisa Youji sendirian di sana. Waktu terus berjalan. Youji memungut busur, melihat orang-orang di sekeliling yang tampak meragukan dirinya.
Youji memberanikan diri melihat Xin Chen, dia malu, karena dirinya telah dibela dan justru berakhir seperti ini. Laki-laki itu mencoba tersenyum.
"Kita akan baik-baik saja," gumamnya kecil. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sekalipun dia mati, Youji tak ingin karena dirinya Xin Chen ketahuan dan misi mereka gagal begitu saja. Dia hanya akan mati dalam penyesalan.
Di tengah barisan, Xin Chen menunjuk mulutnya. Youji melihatnya sambil berpikir apa yang dilakukan pemuda itu. Sampai dia gemas sendiri memberitahu Youji sesuatu yang bisa dilakukannya.
"Mulut?"
Xin Chen ditahan prajurit di sebelahnya, pedang disodorkan di belakang tengkuknya. Xin Chen berhenti bergerak, berharap Youji mengerti kodenya.
Pada akhirnya Youji mengembalikan busur yang sempat dipegangnya. Semua orang berpikir laki-laki itu sudah menyerah.
__ADS_1
Youji mengambil anak panah kemudian memasukkan ujungnya pada mulut. Xin Chen bernapas lega. Setelah ini hanya bagaimana Youji melakukannya. Semuanya tergantung pada keberuntungan Youji. Jika dipikir-pikir, memanah dengan titik keseimbangan kacau seperti itu tak akan mungkin menyelamatkan Youji. Ditambah lagi waktunya mungkin tak akan sempat.
Youji menggigit anak panah tersebut dan menarik busurnya dengan tenang.