
Kata-kata Piao Qi masih menggema di telinganya, peringatan itu benar-benar mengganggu pikiran Xin Chen bahkan setelah laki-laki tua itu pamit pergi. Sedangkan dirinya masih duduk di meja yang sama seperti mempertimbangkan segala hal. Penuturan Piao Qi tentang Hantu dari YuangXe mungkin hanya kabar burung yang biasanya di lebih-lebihkan karena tersampai dari mulut ke mulut.
Namun, satu hal yang sedari tadi mengganjal di hatinya adalah tentang para pendekar aliran hitam lain yang juga bertolak ke YuangXe. Jika benar orang-orang YuangXe tutup mulut dan jarang berkomunikasi dengan orang luar, tentunya salah satu di antara suku itu adalah pengkhianat. Bocornya informasi adalah karena kehadiran orang yang tak bisa dipercaya.
Dan kini entah bagaimana orang-orang YuangXe dapat bertahan dengan para pendekar aliran hitam yang pastinya mengepung tempat mereka.
'Benda itu seharusnya memiliki penjaga, seperti Huo Zhao yang menjaga Topeng Hantu Darah. Tetapi bagaimana bisa dia menjaga sesuatu yang bahkan telah hancur?'
Lama tenggelam dengan pemikirannya sendiri Xin Chen tak mendapatkan jawaban sama sekali. Antara dua, jika pusaka langit itu tak memiliki penghuni maka sudah jelas benda itu dapat digunakan semua orang tanpa terkecuali. Namun jika masih ada roh penjaga yang melindungi benda tersebut, tak sembarang orang dapat menjadi tuan barunya. Hal itu tentu tak begitu diketahui banyak orang, mereka hanya tahu bagaimana cara merebut barang kelas tinggi yang kini tak diincar dari segala penjuru itu.
Terdengar seperti sesuatu menyeruput air dengan tenang ketika Xin Chen berpikir. Saat membuka mata, Xin Chen segera melotot saat mendapati Ye Long tengah meminum teh hijau yang tak disentuhnya sama sekali itu. Naga hitam menyengir, menggigit cangkir teh dan menelannya.
"Aku belum makan-"
"Bersembunyi, kadal."
Ye Long menuruti apa kata Xin Chen tepat sebelum penjaga toko masuk dan menyadari beberapa meja hancur terbelah oleh ekor naga tersebut. Dia membuka mulut hendak menghujat.
"Hai, apa yang kau lakukan sampai rusak satu tempatku seperti ini?"
"Aku ganti rugi."
"Hais, sudahlah. Tidak usah. Aku juga sudah terbiasa. Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
__ADS_1
Xin Chen menghentikan langkah sebelum benar-benar meninggalkan kedai, bertanya pada penjaga kedai. "Maksudmu sudah terbiasa?"
Laki-laki itu mengelap meja dengan tampang kesal, sekilas terlihat dia menarik napas gusar. "Para pendekar, siapa lagi. Sama sepertimu, bedanya mereka bergerombol dan bukan seperti pengembara. Bawa-bawa siluman ke kota dan desa, seperti satu kekaisaran ini milik nenek moyangnya!"
Xin Chen merasa tersinggung walaupun bukan dia yang dimaksud sang penjaga kedai. Ye Long juga suka merusuh di jalan kota, suka membuat para nenek-nenek serangan jantung dan anak kecil lari pontang-panting. Tak terbayangkan jika naga hitam itu ditakdirkan menjadi manusia, Xin Chen takkan sanggup meladeninya.
"Begitu. Kalau boleh tahu mereka pergi ke mana?"
"Mana kutahu!" ketus laki-laki itu masih marah karena tempatnya dirusak, meski begitu dia tetap menengok ke belakang di mana Xin Chen menunggu jawabannya.
"Tapi mereka membahas sesuatu seperti Tanah Kehormatan atau apalah! Sudah, cepat pergi. Aku ingin membereskan tempat ini sebelum ramai pengunjung."
Xin Chen menunduk kecil, bergerak menuju tempat sepi dan terbang bersama Ye Long menuju tanah yang disebut sebagai 'Tanah Kehormatan' itu.
Di kejauhan di antara hutan belantara yang luas serta pegunungan yang tingginya menyentuh awan, sebuah pemukiman yang dialiri sungai di tengah-tengah berdiri. Kebanyakan hanya rumah papan dan dilengkapi dengan perlengkapan untuk memburu binatang. Xin Chen hanya memperhatikannya dari atas dan tak kunjung memerintahkan Ye Long turun ke daratan.
Matanya menangkap siluet seorang laki-laki yang nekad berlari menuju desa tersebut, tetapi belum sempat menyentuh YuangXe yang tersisa tiga ratus meter di depannya, sebuah perangkap tali mengikat kakinya. Membuat sesuatu tertarik dan sebuah anak panah terlepas, menembus dahinya tanpa ampun. Tidak ada siapa pun di sana dan laki-laki itu mati karena dirinya sendiri.
Di arah selatan iring-iringan tapak kuda siap menembus tanah YuangXe dengan mengandalkan kuda kuat dan tahan. Binatang itu juga dilapisi baju pelindung besi yang membuat mereka tak mudah mati oleh serangan senjata tajam ataupun panah. Namun sayangnya, seperti kata Piao Qi. Setiap inci dari tanah itu adalah jebakan. Mereka tak menyadari sebuah keanehan akan dipasangnya lentera api di atas pohon. Tepat saat tanah bergetar hebat, sebuah pegas tertarik dan melambung anak panah yang menembus lentera api.
Panah api itu terjun bebas di tanah para penunggang kuda, sang pemimpin tak begitu merasa terancam karena panah api itu tak mengenai satu pun anak buahnya. Perasaan meremehkan itu ternyata menjerumuskan mereka pada kematian.
Tong-tong minyak meledak saat panah api membakar tanah yang telah basah oleh minyak tanah. Membuat ledakan berskala besar yang memecahkan bagian-bagian tubuh manusia dan kuda. Hutan terbakar detik itu juga dan Ye Long dibuat tak berkutik melihat strategi pertahanan orang-orang YuangXe.
__ADS_1
"Mereka benar-benar tak tersentuh. Manusia seperti apa mereka sebenarnya?"
"Yang jelas mereka sangat berbahaya. Mungkin keberadaan kita sudah diketahui oleh mereka. Beruntung panah mereka tak bisa melukai kita dari atas sini."
"Kau tidak berniat menghabisi mereka langsung?"
"Tidak. Kau sudah lihat sendiri bagaimana cara otak mereka bekerja? Membunuh mereka tanpa mendapatkan informasi hanya perbuatan sia-sia. Tanpa mereka seumur hidup aku tidak akan mendapatkan informasi apa-apa soal Armor Dewa Perang, mereka menyembunyikan dengan cara mereka sendiri."
"Lalu kita seharian di sini? Aku belum makan dari kemarin dan terus terbang sampai kedua sayapku rasanya ingin rontok."
"Ck, naga perut karet ini. Orang-orang sedang meregang nyawa di bawah dan kau terus memikirkan makanan. Dan lagi kita belum menemui keberadaan Hantu dari YuangXe itu-"
Xin Chen berkedip saat sesuatu menyilaukan matanya dari bawah, sebuah anak panah yang berukuran setengah badannya terlempar dan nyaris menusuk jantung Ye Long. Pemuda itu memperhatikan alur panah itu dan detik itu pula, ketika panah mendekati mereka sesuatu meledak dan membuat Ye Long pingsan.
"Ye Long-! Bangun!"
Ye Long terjun bebas ke bawah sementara Xin Chen menggunakan wujud roh. Di bawah sana perangkap mematikan sudah menanti untuk menjemput nyawa mereka. Ye Long sebentar lagi akan jatuh di sebuah tanah yang tak ditumbuhi satu pohon pun. Dan tempat itu pastinya yang paling berbahaya, karena dia dapat diincar dari segala sisi.
Xin Chen hendak menggunakan kekuatan roh untuk menyelamatkan Ye Long tetapi ratusan anak panah mengejarnya dari berbagai arah. Benar dugaannya, orang-orang YuangXe mengetahui keberadaan mereka dan langsung menyerang.
Xin Chen tak masalah jika anak panah itu menyerangnya karena itu tak memberikan pengaruh apa-apa, sayang anak panah itu mengincar Ye Long. Xin Chen harus segera menghentikan anak panah itu. Saat hendak menggapai Ye Long, naga itu membuka mata lebar-lebar. Menyembunyikan majikannya di dalam sayapnya saat menyadari serangan anak panah lain datang dengan jumlah lebih banyak.
Naga itu jatuh menghempas tanah, ledakan besar terjadi dan jatuhnya tubuh Ye Long mengaktifkan semua perangkap yang melindungi tanah YuangXe.
__ADS_1