
"Zhan'er!" teriak Ren Yuan mengejutkan orang-orang di rumah tersebut, derap langkah kakinya menerobos jalan dengan tergesa-gesa. Ren Yuan menghambur ke arah Xin Zhan sambil menangis. Satu-satunya yang dia punya, pulang tanpa nyawa. Hati ibu mana yang tak hancur dengan hal itu. Semua orang dapat merasakan luka yang sama, tak ada yang ingin berbicara lagi.
Ren Yuan melipat lengan jubahnya, menyuruh mereka membaringkan Xin Zhan di ruangan yang kiranya luas. Dia dan ahli obat itu berupaya mengembalikan nyawa Xin Zhan, dengan apa pun itu. Dua jam bekerja tetap tidak ada kemajuan, Ren Yuan kembali menjatuhkan air mata saat melihat putranya itu tak kunjung membuka mata. Segala teknik dan obat-obat paling manjur sekali pun sudah dikerahkan tapi tak ada satu pun yang membuahkan hasil.
Xin Xia yang baru saja mendengar kabar ini langsung diantarkan di tempat di mana ruang Xin Zhan dirawat, pundaknya seketika luruh saat mendapati Ren Yuan tengah memeluk tubuh Xin Zhan yang telah lama dingin. Sama halnya dengan para pengantar Xin Zhan yang juga merasakan duka saat mendengar tangisan Ren Yuan.
"Dia sudah tak bisa diselamatkan." Ucapan terakhir sang ahli obat bagaikan belati yang menghujam hati setiap orang yang berada di sana. Ren Yuan sama sekali tak menyangkal hal itu sama sekali, tubuh Xin Zhan telah lama kehilangan denyut ndi. Mungkin sekitar tengah malam atau lebih, tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana Xin Zhan pulang serta kabar 50 prajurit yang dibawanya. Hal itu masih menjadi misteri bagi orang-orang Kota Fanlu.
Berita tentang kepulangan Xin Zhan menjadi berita duka terbesar bagi penduduk Kota Fanlu, kota pelabuhan yang biasanya ramai dan penuh warna itu berubah menjadi sepi. Banyak yang berdatangan ke kediaman Ren Yuan walaupun penjaga tak mengizinkan mereka masuk. Selebih dari itu, mereka sebenarnya hanya ingin tahu dengan apa yang telah menimpa Xin Zhan. Kabar burung menyebar begitu cepat hingga ke desa-desa lain. Tak ada yang dapat menjabarkan peristiwa yang terjadi sebenarnya. Setengah hari berlalu namun para tabib masih tidak menemukan titik terang.
Banyak yang telah menyerah, tak ada yang bisa mereka lakukan terhadap tubuh Xin Zhan. Namun Ren Yuan tetap bersikukuh dan mengatakan mereka harus menunggu, bahkan jika mayat Xin Zhan telah dikerubungi belatung, wanita itu tetap percaya anaknya akan tetap hidup.
__ADS_1
Xin Xia ikut larut dalam kesedihan wanita itu, tak ada yang bisa dilakukannya pada Ren Yuan untuk menjelaskan bahwa Xin Zhan takkan terselamatkan. Bahkan hingga malam tiba, jasad Xin Zhan telah mengeras. Orang-orang kembali ke tempat mereka masing-masing, berharap Ren Yuan menyetujui upacara pemakaman Xin Zhan demi menghormati jasanya selama ini.
Ren Yuan masih meracik bahan-bahan herbal, membuka buku-buku pengobatan yang bahkan dibuat oleh ahli obat Kekaisaran lain demi sebuah ramuan, malam datang tiba-tiba malam itu. Namun Ren Yuan tak begitu peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Jendela dan kerai-kerai bergerak kencang tertiup angin, menimbulkan bunyi bising yang sangat ribut di telinga. Tak ada satu pun warga yang keluar di malam selarut itu, bahkan pengantar barang sekali pun.
Ombak di lautan meninggi dengan cara tak biasa, malam itu pesisir laut hanya ada dua orang lelaki yang umurnya sekitar empat puluh tahun, baru saja memindahkan hasil tangkapan mereka dari perahu. Tidak cukup banyak karena cuaca belakangan sangat buruk. Beruntung hari ini keberuntungan memihak mereka, tidak terjadi hujan atau pun badai. Namun, keberuntungan itu seolah menghilang saat ternyata sebuah badai besar tengah mengikuti mereka menuju daratan.
Satu laki-laki terjungkal saat petir menyambar air laut, cahayanya yang menyilaukan seperti menusuk kedua bola matanya. Temannya telah lari pontang-panting melarikan diri. Bahkan melirik sedikit pun tidak. Alasan mengapa warga kota Fanlu begitu menakuti badai hitam itu adalah karena bukan seratus lagi nyawa yang direnggutnya. Hampir setiap prajurit yang dikirimkan ke sana takkan pernah kembali, bahkan seribu prajurit pun dikerahkan, seribu nyawa akan menghilang setelahnya.
Yang lebih membuatnya ketakutan setengah mati adalah kehadiran sesosok yang bahkan nyaris menyatu dengan udara, laki-laki itu dapat mendengar embusan napasnya walau pun wujud itu seperti hantu. Mata biru bersinar di tengah kegelapan malam yang membunuh. Tak bisa lagi dia menarik napas, semua kesadarannya telah dihilangkan oleh ketakutan yang menjadi-jadi.
Dan dalam beberapa detik setelahnya dia mati.
__ADS_1
Jalan-jalan Kota Fanlu yang di hiasi lentera-lentera dan lilin kecil membuatnya terlihat seperti kota penuh warna-warni. Penjaga Kota yang berjaga tak lagi memunculkan diri, mereka kelelahan seharian bekerja. Lebih lagi belakangan ini terlalu banyak hal yang mengharuskan mereka bekerja lebih keras.
Beberapa prajurit yang tidur di atas benteng kota terbangun oleh badai tiba-tiba yang menerbangkan beberapa kayu dan juga tombak, membuat kericuhan terdengar di rumah-rumah warga. Saat mereka terbangun barulah sadar bahwa badai hitam telah sampai ke Kota Fanlu. Hal yang paling ditakutkan orang-orang di tempat ini. Mitos yang bahkan jika dikatakan sembarangan dikatakan akan mengundang marabahaya.
Kejadian mengejutkan terjadi tak lama setelahnya, penerangan di seluruh Kota Fanlu padam. Lilin dan lentera mati, angin-angin misterius menyapu jalanan utama kota Fanlu. Tak ada siapa pun yang dapat menjelaskan kejadian ganjil tersebut, mereka terlalu takut untuk sekedar menebak. Bahwa bencana besar telah memasuki gerbang Kota Fanlu.
Pemimpin para Pejuang membangunkan anggotanya yang lain, menyuruh mreka bersiap-siap akan segala hal yang mungkin saja terjadi, fenomena ini tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Mereka membentuk sebuah barisan di jalanan kota, yang menjadi perbatasan antara rumah penduduk dengan pelabuhan. Bulan telah menghilang ditutup awan tebal, tak ada hujan sama sekali di tempat itu sekali pun awannya sehitam arang.
Pimpinan pejuang antisipasi, mempertahankan kota adalah tugas mereka. Di samping itu prajurit-prajurit berkeliaran di sekitar jalan kota sambil membawa pedang di tangan masing-masing. Ketegangan tampak jelas di wajah mereka, tak ada yang mau mengeluarkan suara bahkan batuk saja terpaksa mereka tahan demi dapat mendengar pergerakan mencurigakan di sekitar mereka.
Benar saja, bersama ganasnya badai yang datang seseorang telah datang bertamu ke Kota Renwu, seluruh tubuhnya ditutupi jubah besar hitam yang panjangnya sampai menyapu jalanan. Langkah kakinya ringan, tidak ada yang dapat melihat wajahnya di tengah kota yang gelap gulita itu. Tapi satu hal yang mereka yakini, bahwa laki-laki itu memiliki kekuatan pembunuh yang jauh lebih mematikan dari siapa pun.
__ADS_1