
"Adik kecil?" Xin Chen tersentak saat mendapati Rubah Petir juga sedang berjalan ke arah mereka. Dia khawatir Wei Feng nekad membuka jubah Rubah Petir karena memang laki-laki itu agak sesuatu, Xin Chen merentangkan kedua tangannya menghadang Wei Feng.
"Percaya padaku, Kak Wei. Dia sangat-sangat pemalu."
"Hmmmm?" Wei Feng menaikkan sebelah alisnya. "Entah kenapa aku tak bisa mempercayai perkataanmu. Saat bertarung aku tak merasa dia seperti yang kau katakan."
"Bu-bukan begitu..." Xin Chen mengelilingi sekitar dan mendapati tatapan yang sama, semua orang seperti mempertanyakan siapa sosok Rubah Petir sebenarnya.
Biasanya Xin Chen selalu mengalihkan topik jika Rubah Petir disinggung, Jin Sakai juga pernah menanyakannya dan Xin Chen selalu mengalihkan perhatiannya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol.
Sikap ini mesti dipertanyakan, Wei Feng sekarang satu suara dengan semua orang.
Di tempat yang agak jauh Rubah Petir sudah tahu dengan apa yang dibicarakan oleh orang-orang di dekat Xin Chen, khawatir situasinya malah memburuk dia tak mendekat dan membiarkan Xin Chen membereskan sendirian.
"Hm? Adik kecil? Aku tidak pernah mendengar Tuan Xin memiliki anak selain Tuan Muda Xin Zhan dan Xin Chen." Jin Sakai menopang dagunya sembari berpikir keras, diingat-ingat berapa kali pun memang kenyataannya begitu. Xin Chen tak memiliki adik seperti yang dikatakan Wei Feng.
"Paman Jin, kau mengerti apa yang ku katakan, bukan? Sepertinya Xin Chen menyembunyikan sesuatu dari kita. Chen, kau tak bisa terus-terusan berbohong pada penduduk desa. Walaupun orang yang kau sebut adik mu itu tak mengganggu ketentraman desa, tapi bukannya tidak ada salahnya memberi tahu siapa dirinya? Semalam dia juga turut membantu kita melawan musuh. Ada baiknya juga namanya dikenal oleh orang-orang sini."
"Memangnya harus?"
"Harus." Wei Feng tak mau mendebat semakin panjang. Dia menaikturunkan alisnya memberi kode agar Xin Chen membuka identitas sosok di balik tudung jubah tersebut, pria itu dapat melihat semalam bagaimana hebatnya Rubah Petir mengendalikan perubahan energi petir. Nyaris tanpa cela dan energi murni tersebut bukan sembarang di pergunakan dalam ilmu bela diri.
Dalam artian lain, energi tersebut memiliki level tertinggi. Mengeluarkan sebegitu banyaknya energi murni bukanlah hal yang biasa. Maka dari itu Wei Feng menaruh curiga padanya.
"Aku tidak mau mengatakannya."
"Ayolah... Sekali saja Chen. Aku takkan menanyakannya lagi setelah ini." Wei Feng sadar Xin Chen sedikit terganggu dengan pertanyaannya. Xin Chen menggaruk tengkuknya gusar kemudian menghadap pada Wei Feng.
"Hah.... Baiklah, kalau kau mau tahu. Dia ini Guruku."
"I-iya? Maksudku, dia itu siapa? Namanya atau gelarnya?"
__ADS_1
"Kau bilang hanya akan bertanya sekali dan aku pun hanya akan menjawab sekali juga. Tidak ada jawaban kedua."
Wei Feng membuka mulutnya lebar-lebar, bukan ini yang dimaksudnya dan di sisi lain dia tak memiliki pembelaan. Adu debat dengan Xin Chen memang mengharuskannya untuk kalah telak, anak itu pandai sekali memutuskan alur perdebatan.
"Baiklah, aku akan pergi. Jaga diri kalian dan desa ini baik-baik." Dia melambaikan tangannya ke atas sembari mengembangkan senyum kecil. Rubah Petir berlalu begitu saja dari dekat Wei Feng, tak menoleh ataupun sekedar berbasa-basi.
Keduanya menjauh dari gerbang desa secara perlahan hingga terdengar suara protes di belakang, "Iblis Kecil, jangan lupa jika kau ingin ke Kekaisaran Wei aku akan ikut bersamamu!"
Xin Chen sedikit menoleh lalu mengangguk, hingga akhirnya punggungnya menghilang di ujung jalan.
*
Rubah Petir mendengus samar untuk yang ketiga kalinya, melihat tingkah laku dan gerak-gerik Xin Chen sedari tadi membuatnya ingin sekali memukul kepala anak itu dengan ranting kayu.
Bagaimana tidak marah, sudah beberapa kali anak itu memanggilnya dan saat disahut dia tak mau berbicara. Alhasil Rubah Petir kesal bukan main dan hanya bisa menggerutu samar.
Sepanjang jalan Xin Chen terlalu memikirkan sesuatu dan ingin mengatakannya pada Rubah Petir. Tapi hal itu diurungkannya mengingat rubah pasti akan marah jika tahu yang sebenarnya.
Rubah Petir berceloteh tak lama kemudian, "Jika kau tak ingin mengatakannya simpan saja untuk dirimu sendiri. Sekali lagi kau memanggilku dan masih melakukan hal yang sama aku takkan segan-segan menggantungmu di pohon tinggi itu," ancam Rubah Petir. Xin Chen bergidik ngeri, jika Rubah Petir mengatakannya sudah pasti dia akan benar-benar melakukannya.
"Begini... Kalau ku katakan yang sebenarnya kau jangan marah dulu ya?"
"Tentang apa?"
"Baja Phoenix?" Xin Chen menjawab hati-hati, tak berapa lama langkah Rubah Petir berhenti, dia melirik ke belakangnya tempat Xin Chen berdiri dalam tatapan bingung. Merasa tak ada yang salah dengan senjata Pusaka Langit tersebut.
"Senjata itu bukannya masih aman katamu tiga hari yang lalu? Kau tidak diserang perampok atau apalah itu hingga kehilangan benda pusaka itu bukan?"
"Aku tidak sedang dicuri atau dirampok, tapi ini soal..."
"Kau meninggalkannya di Desa Pelarian?" Rubah Petir memotong kalimatnya.
__ADS_1
"Bukan, Baja Phoenix-"
"Atau pusaka itu tenggelam di sungai!?"
"Ku bilang bukan itu, hais, Guru Rubah. Setidaknya tunggu sampai aku selesai bicara." Xin Chen menggumam ketus, susah payah memberanikan diri tapi selalu saja si rubah asal memotong pembicaraannya.
Rubah Petir berdeham kecil, membiarkan Xin Chen berbicara langsung.
Sementara Xin Chen menarik gagang pedang di balik punggungnya dan menyodorkan senjata tersebut pada Rubah Petir. "Kau bisa merasakan kekuatan pedang ini? Baru kemarin selesai ditempa oleh Paman Jin."
Rubah Petir terlihat mencermati secara cepat pedang tersebut, mencari-cari keanehan dari sana. Hingga tak begitu lama kemudian Rubah Petir dapat merasakan sebuah energi tak biasa mengalir dalam bilah pedang.
"Kekuatan ini... Jangan bilang kau-!?"
"Aku menempa Baja Phoenix di dalam pedang ini..."
Detik demi detik berlalu hening, Xin Chen tak tahu mengapa tiba-tiba Rubah Petir diam tak kunjung mengeluarkan suaranya. Tidak memberikan pendapatnya seperti biasa.
"Apa ada yang salah?"
"Setelah menempanya seperti ini kau takkan bisa mengembalikannya ke wujud semula." Rubah Petir akhirnya merespon.
"Aku tidak terlalu mengerti, memangnya jika tidak bisa kembali ke bentuk semula kenapa?"
"Chen, kau tidak lupa bukan Baja Phoenix yang kau dapatkan hanya sebelah saja?"
Bola mata Xin Chen terbuka, dia mulai mengerti dengan arah pembicaraan ini. Jika memang Baja Phoenix kualitas tinggi sudah menyatu bersama logam lainnya dalam pedang Xin Chen artinya baja tersebut tak bisa diambil lagi dari sana. Terlanjur tercampur ke dalam dan dilelehkan dengan besi yang sama seperti bijih logam kualitas menengah.
"Apa ini akan bermasalah? Sial, tahu begitu dari awal aku akan berpikir-pikir dulu sebelum menempanya." Xin Chen menyesali perbuatannya.
"Pada dasarnya kau memang senang bergerak sesuai keinginanmu. Tidak ada yang salah dengan itu," ucap Rubah Petir tenang. "Dan lagipula hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Hanya saja, kekuatan asli dari Baja Phoenix mungkin akan berkurang jika kau satukan dengan logam lainnya. Itu saja."
__ADS_1
***