Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 173 - Medan Tempur


__ADS_3

Tapak kaki Rubah Petir membekas di tanah dengan sangat dalam, Naga Kegelapan memojokkannya. Menahan tubuh rubah di bawahnya, dengan membuka mulutnya tepat di depan muka si rubah. Hanya butuh waktu beberapa detik lagi hingga kepala rubah hangus dibakar api biru.


Rubah Petir berulang kali membuat petir pelindung namun Naga Kegelapan menggagalkannya, di sisi lain Shui telah jatuh terkapar berdarah-darah. Rubah itu mendecih hampir putus asa saat tiba-tiba bantuan datang, Xin Fai dan sembilan Pilar Kekaisaran lainnya datang termasuk Lan An. Kini mereka sudah dapat bertarung dengan leluasa mengingat para penduduk berhasil dievakuasi.


Lan An seperti disambar petir, bagaimana bisa dia tenang melihat anak sahabatnya itu sedang sendirian menghadapi Qiang Jun sementara Xin Fai berlari ke arah berlawanan.


"Hoy! Hoy! Sialan, apa yang kau lakukan?! Ini sangat gila! Kau membiarkan anakmu menghadapi monster itu sendirian?"


Xin Fai sudah menebak Lan An akan sepanik itu, dikarenakan di Lembah Kabut Putih dialah yang paling akrab dengan Xin Chen. Bisa dibilang putranya yang kedua itu begitu disayang oleh Lan An, wajah lelaki itu padam. Benar-benar murka yang ditunjukkannya pada Xin Fai.


"Dia yang menginginkannya."


Lan An sengaja menabrak Xin Fai, membuat tubuh mereka sama-sama jatuh membentur tanah, tak memikirkan posisinya lagi Lan An menarik kerah Xin Fai.


"Jika aku tidak berpikir bahwa kau adalah Pilar Kekaisaran pertama, mungkin sudah ku tinju mukamu! Dia anakmu! Xin Fai!? Kau sebegitu putus asanya kah, sehingga membiarkan anakmu-" Lan An hanya bisa melihat wajah putus asa sahabatnya itu untuk pertama kalinya.


"Jika aku tidak membiarkannya, maka dia tidak akan kembali ke rumah dan akan melepas marga klan Xin."


Lan An melepaskan cengkeramannya, kepalan tangannya sangat erat sembari melayangkan pandangan ke atas langit. Xin Chen menghindar puluhan serangan yang dilancarkan Qiang Jun, temponya sangat-sangat gila. Dalam satu detik saja Qiang Jun telah mengayunkan lima kali sabetan pedang. Dan jurus tingkat tinggi lainnya menyerbu Xin Chen dari berbagai sisi. Dia seperti sedang dihajar babak belur.


"Cih!! Membuatku kesal saja!"


Xin Fai tidak bisa menyalahkan Lan An saat ini, memang keputusannya itu tidak bisa dimaafkan. Apalagi jika Ren Yuan tahu akan hal ini, pasti dia akan ditampar lima hari. Membayangkannya saja dia sudah ngeri.


"Berdoa saja semoga istrimu itu tidak tiba-tiba datang dan melihat apa yang terjadi. Kupikir Ren Yuan lebih tahu cara membunuhmu daripada Qiang Jun."

__ADS_1


Senyuman bengis Lan An seperti dibuat-buat seram, tapi entah mengapa Xin Fai masih merinding. Entah memang wajah Lan An seperti setan. Beberapa detik tak lama Xin Fai teringat sesuatu.


"Ngomong-ngomong, adikku ... Xiaxia, apa dia pergi bersamamu?"


Lan An berpikir sebentar, "Tadi dia bersama walikota pergi ke pelabuhan."


"Apa kau melihatnya di pelabuhan?"


"Memangnya kenapa-" jantung Lan An seperti berhenti berdetak, dia mulai mengerti maksud Xin Fai. Jika adiknya itu dalam ancaman, dia yakin kepalanya akan dipenggal sahabatnya itu tanpa ampun.


"Xiaxia, dia di mana?" Ulang Xin Fai dengan nada yang sedikit menekan.


"Aku tak melihatnya Xiaxia ketika berpas-pasan dengan walikota. Dia tak bersama mereka lagi ...."


Lan An segera lari bahkan tanpa Xin Fai membentaknya sekeras itu, kakinya terasa lemas begitu saja. Mengingat selepas pernikahan tadi, dia dan Xin Xia sudah resmi menjadi suami-istri. Namun bahkan belum berapa jam saja, mungkin istrinya itu sudah berada dalam bahaya karena kelalaiannya.


Xin Fai ingin sekali menyusul Lan An andai dia tak ingat musuhnya di depan jauh lebih penting. Adiknya, Xin Xia itu takkan mampu mempertahankan dirinya. Dia hanya belajar dasar dari teknik berpedang.


Akan tetapi Xin Fai tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa saat ini Rubah Petir membutuhkannya. Siluman itu dibantu delapan Pilar Kekaisaran, tak ada satupun dari jagoan tersebut yang berani mencampuri urusan Xin Chen.


Hanya dengan melihatnya saja mereka sampai menahan napas beberapa kali, bunyi deritan pedang yang beruntun serta ledakan dan jarum pedang mengepung Xin Chen di dalam pertarungan brutal tersebut. Tidak ada satupun yang menyadari bahwa sosok yang bertarung di sana adalah Putra Kedua dari Pedang Iblis.


Xu Jiang, salah satu Pilar Kekaisaran berbicara saat dia melihat Xin Fai datang.


"Pendekar hebat di sana ... Siapa gerangan pemuda itu? Dia sangat hebat bahkan bisa mengimbangi Qiang Jun ...."

__ADS_1


"Dia putraku kedua, Xin Chen."


Kali ini pria itu terdiam beribu bahasa, tak percaya bahkan jika Xin Fai sendiri yang mengatakannya. Dia tertawa canggung.


"Senior Xin bisa saja bercandanya, ah, aku tahu kau pasti mencoba menghiburku bukan?"


"Tidak. Dia benar-benar Xin Chen. Jika tidak percaya bisa kau memastikannya sendiri."


Tak lama Xin Fai berlalu darinya, menghiraukan lelaki itu yang gelagapan, dia hendak berbicara namun terbata-bata. Tak bisa membedakan kenyataan bahwa yang dilihatnya dari jauh itu memang mirip persis dan Xin Chen dan kenyataan bahwa kekuatan roh yang dimilikinya itu terasa familiar.


"Kekuatan roh itu ... Jangan bilang dialah yang membunuh si Zhang Ziyi, si Pengendali Roh dari Kekaisaran Wei itu!?" Baru sekarang dia takjub, kendati demikian tetap tak berani mendekat ke sana. Kini dia mulai percaya setelah mengingat hal itu lagi. Beberapa Pilar Kekaisaran lagi mencoba melirik pandangan ke arah sana dan mengalami hal yang sama seperti dirasakan Xu Jiang. Tak ada waktu untuk terkejut, mereka kembali membuat formasi untuk menyerang Siluman itu secara bersamaan.


Dengan instruksi Xin Fai mereka mulai mengerti cara menghadapi Naga Kegelapan, beberapa kali Naga Hitam itu mundur.


Xin Fai tak tinggal diam, dengan sisa kekuatannya dia menyerang dalam bayangan selagi naga itu sibuk oleh tiga pendekar lainnya. Kelengahan itu menjadi kesempatan emas bagi musuhnya.


Xin Fai mengeluarkan sebuah pedang terkuat yang dimilikinya saat ini, menusuknya tepat di bola mata naga itu dan merenggut pusaka istimewa yang seharusnya dimiliki Naga Es. Dia segera menyimpan pusaka itu dan membiarkan Naga Kegelapan mengamuk luar biasa.


Keadaan di tempat itu telah berbalik, tidak ada lagi percepatan dan perlambatan waktu yang sejak tadi membuat Rubah Petir terpojokkan. Para Pilar Kekaisaran cukup puas, membiarkan naga itu mengamuk sejadi-jadinya.


Di kala bersamaan Xin Fai berusaha melirik ke belakangnya, tempat di mana seharusnya anaknya itu sedang bertarung dengan Qiang Jun.


Sialnya dia tak menemukan siapa-siapa di sana, rasa khawatirnya memuncak. Terlebih lagi mendengar suara pertarungan di bawah sana.


Seekor naga terbang ke arahnya, mendorong tubuh Xin Fai hingga dirinya kehilangan keseimbangan di atas udara. Ternyata itu Ye Long, sebelah sayapnya tak berfungsi baik. Dia terlihat seperti meneriakkan sesuatu dan berkali-kali melihat ke bawah. Tempat di mana sumber pertarungan berasal.

__ADS_1


__ADS_2