
Xin Chen tersedak napasnya sendiri, sebelum sempat melayangkan protesnya Rubah Petir sudah lebih dulu mundur. Menunggunya di atas tiang yang menyangga gerbang pintu kediaman.
"Aku akan menunggumu dari luar, untuk melatihmu kau harus menghadapi musuh yang lebih besar dari dirimu sendiri, tidak ada cara lain."
"Guru-! Kau menyebut ini dengan melatih?" Xin Chen menyeru lagi, "Ini sama saja dengan menguji nyawaku. Di dalam ada begitu banyak pendekar... Kau tahu, satu dari mereka saja sudah lebih dari cukup untuk memenggal kepalaku?"
Jujur saja baru kali ini Xin Chen merasakan ketegangan dalam pertarungan yang sebenarnya, sebelumnya dia masih yakin bisa bertahan walaupun harus terluka. Itupun Rubah Petir masih bersamanya.
Apalagi dari pertarungan sebelumnya, Rubah Petir benar-benar serius saat menyuruhnya bertarung sendirian melawan pria dari Manusia Darah Iblis.
"Bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini dan menyelamatkan walikota sekaligus tanpa harus terbunuh?"
Pandangan Xin Chen fokus di satu titik, dia terlihat berpikir keras lagi dan lagi. Membuat pelipisnya pun turut menimbulkan urat-urat, tak tahu apa yang harus dilakukannya sedangkan keadaan sangat terdesak Xin Chen pun memberanikan diri. Dia mengendap-endap masuk meskipun tanpa rencana.
Perlahan-lahan tapi pasti dengan menggunakan Topeng Hantu Darah bukan masalah sulit lagi untuk memasuki rumah tersebut tanpa diketahui orang-orang. Di aula utama benar saja seperti perkiraannya, Walikota yang berumur sekitar 40 tahunan sedang diancam dengan dua senjata di dekat lehernya.
Dia dan dua istri serta anak-anaknya dikepung, para penjaga dan pelayan tak dapat berbuat banyak sebab para pendekar yang datang ini kebanyakan dari tingkat pendekar besar. Untuk mengalahkan mereka setidaknya membutuhkan lima penjaga kediaman untuk satu pendekar.
"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi," ancam sang pendekar dengan tatapan bengis. "Besok kau harus segera mengumpulkan anak-anak di kota ini, tanpa terkecuali! Atau... Kau akan merasakan akibatnya!"
Air muka sang Walikota berubah panik ketika salah satu istrinya pun ditodongkan pisau. Salah bergerak saja kulitnya akan tertembus oleh pedang yang tajam.
"Ja-jangan sakiti istriku-" pria itu menelan ludah berat hati, napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya yang memang gemuk mengeluarkan keringat berlebihan hingga membuat kulitnya seperti dilapisi minyak.
"Aku akan melakukannya, se-sekarang juga jika tuan mengizinkanku dan keluargaku bebas!"
Xin Chen yang tengah menyamar di antara para anak-anak Walikota mulai merasakan kekhawatiran berlebih, ini semua menjadi sangat sulit baginya. Mencuri artefak itu tak dia sangka akan berakibat fatal begini, tetapi keputusannya pun tak bisa dikatakan salah.
Seandainya kepingan Baja Phoenix jatuh di tangan Lembah Para Dewa yang mungkin sedang merencanakan sesuatu kemungkinan mereka akan mempergunakannya untuk sesuatu yang buruk.
__ADS_1
Sementara itu salah satu putra walikota yang umurnya tak begitu jauh dari Xin Chen menyipitkan matanya, seingatnya dia tak memiliki saudara seperti Xin Chen.
"Hei... Apa kau saudara baruku? Kenapa wajahmu baru terlihat sekarang?"
Xin Chen menyengir saat empat anak walikota tersebut malah teralihkan padanya ketimbang nyawa Ayah mereka yang sedang berada di ujung tanduk.
Terdengar dehaman dari mulut Xin Chen, dalam hal mengelak anak itu paling juara. Ren Yuan saja bahkan tak pernah tahu yang mengacaukan taman bunganya setiap hari adalah Xin Chen, bukan hewan liar.
"Khem, begini. Sebenarnya aku adalah kembaran..." Xin Chen menunjuk salah satu dari mereka asal. "Kembaran mu, tapi karena hal tak diduga, aku tak bisa dilahirkan dan malah–"
"Hei, apa yang sedang kalian ributkan di sana-?!" Salah seorang menegur mereka, lantas saja anak-anak dari walikota terdiam.
Istri pertama Walikota melihat Xin Chen dalam diam, sejenak tatapan matanya beradu dengan mata Xin Chen. Tampaknya anak itu memintanya untuk diam perihal ini.
Tak lama berselang rupanya mereka mencapai kesepakatan, jika sampai jam 9 esok pagi Walikota tak mengumpulkan semua anak kecil dari tempatnya dia akan dibunuh.
Walikota memeluk istrinya cemas, setelah rombongan dari Asosiasi Pagoda Perak pergi dia bisa bernapas bebas. Tak lama kemudian Xin Chen mendekatinya.
Agak kebingungan dan dalam tanda tanya Walikota tersebut menjawab. "Apa kau memiliki benda berharga yang mereka maksud?"
"Ya, aku akan memberikannya sebagai jaminan nyawamu. Tapi dengan satu syarat, berikan aku informasi tentang Lembah Para Dewa. Di mana tempat mereka berada saat ini? Aku sangat membutuhkannya."
Sang Walikota hampir tak percaya ada anak kecil seperti Xin Chen, dia mengatakannya dengan lugas seperti tidak tahu apa yang diperbuat hampir membahayakan keselamatan nyawa keluarganya.
"Kau kira akan semudah itu, setelah kau mencuri benda itu dan membuat keluargaku dalam ancaman–"
"Jika tidak mau ya sudah, aku hanya menawarkan. Di posisi ini sebenarnya Anda yang membutuhkanku. Tanpa artefak ini kau akan kehilangan mereka." Xin Chen menunjuk istri dan anak-anaknya.
Merasa apa yang dikatakan Xin Chen ada benarnya lantas sang Walikota terdiam, dia seperti ingin memperdebatkannya lagi untuk menjaga harga dirinya, merasa perbuatan Xin Chen tak adil.
__ADS_1
Mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi. Walikota mengiyakan permintaannya.
"Begini, apa seseorang bernama Xu Ming pernah melaporkan sesuatu pada kalian untuk segera ditangani? Seperti kasus pembunuhan atau semacamnya?"
Walikota tak begitu ingat mengenai hal ini karena yang menerima laporan adalah bawahannya, dia menunjuk bawahannya.
"Tuan Muda, kami memang pernah menerima laporan seperti yang anda maksud tapi tak begitu tahu masalah terkaitnya."
"Itu karena kalian tidak serius menjalankan tugas masing-masing dan mengabaikan segala sesuatu hingga hal buruk pun terjadi dengan mudah. Lihatlah saja, kalian seperti melihat seseorang sedang membunuh tapi tak berniat menghentikannya."
Gerutuan Xin Chen seperti menusuk Walikota, pria gemuk itu tak mau menjawab karena saat ini keselamatannya berada di tangan Xin Chen.
"Kalau begitu pasti Paman Xu Ming ini memberikan laporan atau semacamnya? Bisa kalian berikan semua itu padaku? Dengan artefak ini sebagai gantinya."
Artefak berupa kertas kuno tersebut muncul di tangannya. Walikota hendak meraihnya namun Xin Chen lebih dulu menyimpan dalam jubah.
"Aku akan menunggu di luar, sepuluh menit, siapkan apa yang kuminta. Dan aku akan segera pergi dari sini."
Jelas saja Walikota tersebut meremas tangannya gemas, dia terlihat agak sebal pada Xin Chen. Andai topeng yang melekat di wajahnya tak ada, mungkin pria itu akan membenci anak dari Pedang Iblis ini.
Xin Chen tak begitu memedulikan tatapan orang-orang di dalam aula tersebut, justru dia lega hal ini bisa diselesaikan dengan jalan damai tanpa harus membunuh.
Tiba di depan kediaman Xin Chen memanggil roh pemilik Topeng Hantu Darah, sedikit berbisik padanya.
"Bisa kau ubah isi pesan di artefak ini?"
Roh tersebut mengangguk mengiyakan tanpa banyak bertanya, Rubah Petir yang sedang memperhatikannya dari atas hanya bisa tersenyum kecil.
"Bocah cilik yang licik. Cocok untuk iblis kecil ini." Gumamnya pelan.
__ADS_1
*