
"Xin Chen!"
Youji tidak sempat menangkap tangan Xin Chen, dia bergegas menarik tali jembatan di sebelahnya yang terputus. Langkahnya terseret menuju jurang, Wei Feng dan Yu Xiong membantunya bertahan.
"Xin Chen, kau di sana?!"
Tidak ada jawaban. Youji berteriak lebih keras lagi. "Jawab aku! Kau masih hidup, kan?!"
Youji dapat merasakan seseorang menarik tali tersebut, dia menyuruh Wei Feng dan Yu Xiong mundur ke belakang. Di ujung jurang sebuah tangan terlihat, mereka bertiga segera mengerubungi dan mendapati Xin Chen di sana.
Sontak saja mereka langsung heboh sendiri, Xin Chen berhasil naik dibantu yang lainnya. Delapan orang tadi jatuh saat jembatan hancur. Tidak ada yang selamat. Dengan berakhirnya seleksi itu semua orang dapat menarik napas lega. Wei Feng membaringkan tubuhnya di tanah kelelahan, dadanya tak berhenti naik turun.
"Aku seperti hampir mati dibuatnya."
Youji ikut berbaring di sebelah Wei Feng, pelaksana seleksi mengatakan mereka memberikan peserta waktu untuk beristirahat. Yu Xiong tak menyangka dia bisa melewati hari ini, apalagi melihat delapan orang terakhir tewas. Rasa kasihan akan kematian orang-orang itu terus menghantui pikirannya.
"Kudengar gaji prajurit di Kekaisaran Qing sangat tinggi, ya?" Wei Feng membuka obrolan.
Yu Xiong menanggapi. "Ya, aku juga dengar begitu dari yang lain."
"Pantas saja semua orang mati-matian berjuang. Selain untuk bertahan hidup mereka juga mengejar jabatan dan uang. Kalau kita lolos kita akan langsung mendapatkan gaji?"
"Memang kau mau bekerja untuk musuhmu sendiri?"
Pertanyaan Xin Chen membuat mereka bertiga terdiam, dia ikut membaringkan badan sambil menatap langit biru yang mulai terlihat memudar. Di kejauhan terlihat gumpalan awan hitam, mungkin malam ini akan turun hujan. Sebab itu mereka segera dikawal untuk kembali ke asrama setelah mendapatkan jatah makan malam.
**
__ADS_1
Malam kembali datang, semua orang tertidur karena kelelahan. Xin Chen duduk di tempatnya dengan wajah tertunduk. Mendengarkan derap langkah kaki di luar, sepertinya mereka kedatangan tamu. Kesibukan terjadi sepanjang malam, keramaian baru berhenti ketika menjelang pagi buta. Xin Chen tidak melakukan pencarian lagi karena terlalu bahaya jika menggunakan kekuatan roh. Apalagi jika itu harus memancing Roh Dewa Perang yang sebelumnya muncul tanpa diduga.
Pikirannya terus memikirkan kemunculan roh itu, bagaimana dia bisa bergerak leluasa tanpa menggunakan kekuatan roh. Pintu depan terkunci kuat. Tidak ada celah untuk keluar. Dan lagipula orang-orang di luar sangat banyak. Dia pasti akan langsung dicurigai.
Setiap detik berjalan begitu lambat. Xin Chen menunggu pintu depan terbuka, dia benar-benar ingin tahu mengapa keadaan di luar sana begitu ramai. Apalagi suara tapak kaki terdengar sangat jelas. Seperti suara langkah kaki kuda dan juga ditambah dengan bunyi-bunyi besi yang saling beradu.
Xin Chen kembali merasakan hawa kehadiran yang sangat dikenalnya. Sosok pengguna roh lainnya di tempat ini tengah berjalan di sisi bangunan asrama. Xin Chen terus menatapi dinding kosong di bagian paling ujung. Mewaspadai orang itu tiba-tiba tembus dan melakukan hal yang sama seperti pengguna roh sebelumnya. Tapi hal itu tidak terjadi, detik demi detik berlalu begitu saja hingga akhirnya hawa kehadiran itu menghilang.
Dua jam terasa seperti dua hari, Xin Chen hampir mati kebosanan menunggu. Suara gesekan antara besi dan lantai terdengar nyaring di telinga, bersusulan setelahnya teriakan nyaring menggema di seisi ruangan.
"Berbaris!"
Sontak semua orang yang tadinya terlena di alam mimpi berdiri tegak di sisi ranjang. Mereka berjalan tertib menuju ke satu tempat yang lebih luas dari sebelumnya. Bahkan dilengkapi dengan arena memacu kuda serta tempat untuk berduel. Kuda-kuda berwarna cokelat berbaris rapi dijaga oleh prajurit. Mereka menggiring dua puluh kuda pertama.
"Tiga orang yang terakhir sampai di garis akhir dinyatakan gugur!"
Yu Xiong bergumam pelan. "Tetap bersama sampai garis terakhir."
Mereka maju, menaiki kuda sesuai arahan. Youji dan Wei Feng pernah menunggangi kuda, setidaknya satu kali seumur hidup. Berbeda halnya dengan Yu Xiong yang bahkan sekalipun tak pernah melihat kuda. Dibandingkan sebelum-sebelumnya, kali ini Yu Xiong terlihat lebih berani. Dia menghilangkan kegugupannya dengan menarik napas. Berusaha untuk fokus demi kemenangannya hari ini.
"Sepertinya ini seleksi terakhir. Yu Xiong, kau harus bertahan dengan cara apa pun. Tetap berada di dekat kami."
"Aku mengerti."
Dalam hitungan mundur, dua puluh kuda berpacu cepat. Terjadi kekacauan di detik pertama. Hampir semua kuda menguasai jalanan. Seseorang mulai memimpin di depan, mereka bertiga termasuk barisan paling terakhir. Hanya ada dua orang di belakang mereka yang masih berusaha mengendalikan kuda. Bahkan salah satunya langsung terjatuh ke tanah, kudanya berlarian ke arah yang berbeda.
Yu Xiong tidak berani menoleh ke belakang. Dia memusatkan semua perhatiannya ke jalan di depan. Mereka tidak dalam posisi aman, jarak dengan kuda lainnya di depan terpaut sangat jauh. Wei Feng mulai serius.
__ADS_1
"Kita hanya melewati satu putaran! Kita harus menyusul yang di depan atau salah satu di antara kita akan mati!"
Kuda Yu Xiong berlari begitu kencang sampai sulit untuk dikendalikan, Youji dengan mudah menyusulnya. Mereka mulai memasuki barisan kedua terdepan. Satu orang yang sebelumnya memimpin di depan mundur ke belakang. Memberikan kesempatan yang lainnya untuk merebut posisi.
Yu Xiong bisa melihat kemenangan di depan matanya.
"Kak Wei, kita bisa melakukannya-"
Seketika Yu Xiong menghentikan kudanya. Orang yang berada di barisan terdepan tadi adalah si preman yang membuat mereka babak belur tempo hari. Dia tersenyum licik melalui Yu Xiong yang dibuat terpaku melihat Wei Feng terbaring di tanah. Kuda miliknya diserang hingga menabrak bebatuan besar. Kuda itu terpincang-pincang dan segera diamankan ke kamp terdekat oleh prajurit yang berjaga.
"Kak Wei ..."
Yu Xiong melihat ke depan sana, satu per satu orang sudah melewati garis akhir. Dia menoleh ke arah Wei Feng yang kini mengangkat jempolnya.
"Aku baik-baik saja! Pergilah! Cepat! Waktumu hanya sedikit, berjuanglah sampai akhir, bocah bodoh!"
Entah mengapa Wei Feng sempat-sempatnya menyengir di waktu seperti itu. Yu Xiong mengeratkan pegangannya, memacu kuda ke tempat di mana Wei Feng terjatuh. Dia mengulurkan tangan, tidak peduli jika prajurit itu sisi jalan akan membunuhnya karena membantu Wei Feng.
"Teman tidak akan meninggalkan rekannya berjuang sendirian."
"Hei, hei, lihat matamu sampai berkaca-kaca begitu. Apa debu di Kekaisaran Qing sebesar batu sampai kau menangis begitu?" Wei Feng naik ke atas kuda dengan santai.
"Sekarang kau malah mengejekku. Padahal keadaanmu saja sudah memprihatinkan."
"Hahahah. Ku kira kau akan meninggalkanku, bocah. Sekarang biar aku yang mengejar ketertinggalan kita! Berpegangan!"
Detik selanjutnya Yu Xiong menyesal menyelamatkan Wei Feng.
__ADS_1