
Xin Chen sudah menduganya, naga ceroboh itu pasti sedang tersangkut di suatu tempat dan sialnya itu adalah tanah yang dihuni singa-singa ganas. Dirinya pun tak bisa sembarangan masuk setelah mengetahui klan yang tinggal di sana adalah golongan anti-roh.
"Baguslah. Aku ingin menemui Hantu dari YuangXe."
Xin Chen mengejar Shui yang menyelinap di antara pepohonan. Wujudnya yang kecil dan bening seperti air membuat Shui nyaris tak terlihat. Gerakannya begitu cepat dan sulit diikuti, Nan Ran dan Lao Zi kebingungan ke mana perginya Shui dan Xin Chen yang masing-masing menghilang dari depan mereka.
"Argh, sial. Itu artinya kita harus membuka jalan sendiri?" Nan Ran tampak frustrasi. Lao Zi menarik busurnya ke atas langit, jelas membuat Nan Ran menekuk alis bingung. "Kau menyerang siapa? Lebih baik kau simpan anak panah itu, kita tidak tahu seberapa banyak musuh yang akan datang."
Panah terlepas dan melesat tinggi, bubuk peledak di ujungnya meledak dan menghasilkan suara yang cukup keras. Lao Zi baru saja hendak menjawab Nan Ran namun pandangannya terkunci pada sosok gadis yang sedang merangkak di tanah dengan tangan bersimbah darah.
Nan Ran yang menangkap keanehan di wajah Lao Zi segera mengikuti arah pandangnya, menangkap seseorang yang tak asing di matanya. Dia tertegun, seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Fu Yu?!"
*
Ye Long menggigit tali yang mengikat tubuhnya, telinga naga hitam itu menurun lalu menggeram ketika kawanan manusia jangkung mendekat. Mereka membawa senjata-senjata berat yang dalam sekali hantam saja kepalanya bisa bocor. Terlebih lagi ada satu laki-laki berbadan gempal, pori-pori kulitnya mengeluarkan keringat berjumlah banyak sehingga tubuhnya tampak berkilap oleh pantulan api unggun.
Kepalanya dihiasi oleh tulang tengkorak dari serigala besar, yang menjadi simbol kehormatan karena dirinya pernah bertarung hebat melawan siluman ganas tersebut. Tongkat di tangannya ditaburi oleh sesuatu yang berkilap, Ye Long menggelengkan kepala beberapa kali. Kilauan indah itu membuatnya lupa untuk melarikan diri, dan tahu-tahu saja dirinya sudah berada di tengah YuangXe.
Di sana sebuah lubang–atau sejenis sumur menganga lebar, diisi oleh kertas-kertas mantra yang sebagian besar sudah menjadi abu. Jalinan tali yang ditempeli kertas-kertas itu melewati seluruh tempat. Sehingga saat melihat YuangXe, tampak seperti sebuah desa yang ditimbun oleh mantra berbahaya. Mungkin tak berbahaya bagi Ye Long, tetapi bagi Xin Chen, tempat itu adalah neraka baginya.
Sadar posisinya dalam ancaman, Ye Long menyemburkan api panas yang segera membakar mantra serta kayu-kayu rumah. Api tersebut menjalar hingga ke tong minyak di dalam rumah produksi dan meledak bersusulan. Tubuh Ye Long yang masih dalam posisi terikat tak dapat menghindari ledakan tersebut. Sayapnya yang biasa dia gunakan untuk melindungi pun diikat kencang menggunakan kawat besi.
Ledakan semakin mendekat, sebelum benar-benar mengenai tubuhnya, seseorang datang dan melepaskan Ye Long dari kawat dan tali tersebut. Naga itu melarikan diri, melihat manusia yang tak asing di matanya. Pemuda itu pernah dia lihat di Lembah Para Dewa. Tetapi dia hanya sendirian dan di sekelilingnya para orang-orang YuangXe yang jauh lebih besar tubuhnya menutup celah untuk melarikan diri.
Ye Long menerobos kawanan manusia tersebut dan mencengkram tubuh Lan Zhuxian di kakinya. Tapi hal itu tak membuat mereka lepas begitu saja, panah berisi ledakan menyerang sayap Ye Long hingga dia sulit terbang. Tubuh naga itu ambruk ke tanah dan langsung dikerubungi oleh manusia. Lan Zhuxian yang dia sembunyikan di balik sayapnya sama sekali tak terluka. Detik itu, Ye Long benar-benar menyesal menamai majikannya dengan sebutan majingan.
__ADS_1
*
Shui terhenti saat Xin Chen melambat, dia tak bisa mendekat lebih jauh lagi. Kekuatan rohnya terganggu semakin parah. Hanya ada dua kemungkinan jika memaksa masuk ke dalam YuangXe. Tubuhnya yang hancur atau roh-roh miliknya yang lepas tak terkendali.
Shui membaca kegamangan di wajah itu, melihat ke dalam YuangXe dengan lebih terperinci dan baru menyadari betapa anehnya tempat tersebut. Hampir setiap rumah dihiasi dengan tali ditempelkan kertas mantra.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Xin Chen menggunakan tubuh manusia, namun hal itu tetap tak mempengaruhi tekanan mantra pembasmi milik Yuhao kepadanya. Benar kata wanita itu, dia adalah musuh yang paling ditakuti orang-orang YuangXe. Dan dari baik pembatas yang melindungi YuangXe telah berdiri sepuluh pria dewasa serta beberapa tetua yang memainkan alat musik aneh untuk mengganggu kekuatan rohnya.
Lagi-lagi hal itu mengganggunya gerak Xin Chen, Shui yang sedari tadi memperhatikan ke sumber suara Ye Long menoleh ke arah Xin Chen.
"Kau bergerak di depan."
Shui mengiyakan, meninggalkan pemuda itu sendirian melawan sesuatu yang belum pernah di temuinya.
Suara yang tak asing terdengar dan Xin Chen enggan menoleh, identitasnya akan terungkap jika dia melihatnya.
*
Nan Ran berjongkok dengan sebelah kaki, menatap gadis itu memuntahkan darah. Sebelah tangannya mengelus punggung gadis itu.
"Dia ... Selamat?"
"Siapa?"
Fu Yu terdiam. Tampak ragu menyebut dengan kata-kata apa.
__ADS_1
"Pemuda dengan jubah bulan darah itu ...."
"Kau mengkhawatirkannya?" Nan Ran membantu Fu Yu duduk, mengobati lukanya dengan tenaga dalam. Gadis itu mengangguk dalam. "Aku memiliki hutang budi dan juga dosa padanya."
Nan Ran tak melayangkan pertanyaan apa pun lagi sampai dia benar-benar menyembuhkan luka di tubuh itu. Dia merasa ada yang berubah dari Fu Yu, gadis cantik yang dulunya seindah bunga itu kini dihiasi oleh aura hitam pekat yang kuat.
"Kau tahu pengkhianatanmu itu membuatmu dicap buruk oleh perguruan. Berubah haluan ke aliran hitam hanya akan memperburuk keadaan."
"Aku tak serta-merta melakukannya karena putus asa."
Dari balik pepohonan rimbun, laki-laki dengan pakaian emas berbalut hitam yang tampak elegan muncul. Kepala botaknya terangkat tinggi, memberikan kesan angkuh. Dia merangkul pundak Fu Yu sambil menyunggingkan senyum nakal.
"Ada perlu apa dengan mainanku, bocah-bocah ingusan?"
Nan Ran berjengkit kesal, andai laki-laki itu lebih lemah pasti di sikatnya orang itu. Kalau bisa kepalanya pun disikat sampai licin. Sayangnya adegan melicinkan kepala botak itu hanya terjadi di pikirannya.
"Tak kusangka bunga dari sekte terhormat ini berakhir menjadi pelayan si Cumi Botak."
"Jangan memberi sebutan aneh, dia bukan Tian Xi." Lao Zi berbisik, menyadari radar mata merah dari si kepala pelontos tengah mengarah padanya.
"Hah, bukannya benar? Dia seperti mahkluk tak bertulang. Bulan purnama pun terpantul jelas di botaknya. Fu Yu, ku peringatkan padamu. Menempatkan dirimu dalam bahaya demi si botak itu tak memberi keuntungan apa-apa. Kau hanya-"
"Aku mengerti."
Laki-laki di sebelah Fu Yu tak termakan dengan omongan Nan Ran. Dia berbicara pada Fu Yu dengan lembut. "Aku sudah menepatinya bukan, sekarang waktunya kembali."
Lalu mereka berdua berjalan ke dalam hutan yang gelap. Nan Ran menggumam kesal. Detik sebelum mereka pergi, Nan Ran sempat melihat tatapan Fu Yu yang putus asa. Dia seperti dikekang oleh sesuatu.
__ADS_1
***