
"Baiklah! Pertunjukan di mulai! Selamat bersenang-senang!" teriak laki-laki itu sambil mengangkat tinggi-tinggi kendi arak yang diberikan kepadanya. Kerumunan mulai brutal tak terkendali, tak sedikit yang melewati batas yang ditentukan sebagai arena pertunjukan. Mereka tertawa dan menyorak lantang seolah-olah menyemangati kawanan serigala untuk merobek mangsanya.
Belum lagi pertandingan dimulai, ketika Xin Chen mengeluarkan senjata sang pemimpin acara segera memberikan interupsi, membuat pertandingan terhenti untuk beberapa saat. Dia tak peduli dengan keluh dan omelan yang lain, tangannya terus merebut pedang di tangan anak muda itu seraya mengomel.
"Membawa senjata tidak diperbolehkan. Kau harus bertahan, bukan menyerang." Kata tersebut pelan dan rendah, terdengar mengecam perbuatan Xin Chen tadi. Tanpa mengatakan apa-apa lagi dia segera kembali ke tempatnya untuk meminum arak.
"Pertandingan yang sesungguhnya dimulai!"
Laki-laki yang nyaris terbunuh oleh tiga serigala tadi menahan napas saat melihat sosok pemuda yang menyelamatkannya tadi dikepung siluman buas dari berbagai sisi. Matanya melebar berkali-kali ketika cakar maut seekor serigala nyaris merobek kulit leher manusia tersebut.
Dia tak begitu peduli dengan keadaannya sendiri, tubuhnya telah bersimbah darah dan terasa sangat menyakitkan saat tetesan air laut membuat lukanya semakin pedih. Matanya tertuju pada mayat kawannya yang kini diinjak-injak para serigala, rasa sakit di hatinya semakin membakar. Pria itu menyeka air matanya dengan lengan kiri, tiba-tiba saja dia menangis.
"Manusia tak berhati! Setidaknya lepaskan anak muda itu? Apa kalian benar-benar sudah kehilangan hati nurani untuk sekedar memahami bagaimana rasanya nyawa kalian dipermainkan?! Bahkan binatang saja jauh lebih berhati dibandingkan kalian!"
Namun kata-katanya tenggelam oleh sorakan dan sahut menyahut yang semakin antusias, darah di kepalanya serasa mendidih. Dia mengepalkan tangan erat dan meninju laki-laki di sebelahnya, hal itu membuat yang lain terdiam dan menampakkan wajah murka.
"Apa maksudmu?!" geram pendekar yang baru saja di tonjoknya tadi dengan cukup keras, aliran darah mulai keluar dari sudut bibirnya.
"Apa maksudku?!" ulangnya dengan suara yang lebih tinggi, dia mencengkram kerah baju lawan dan nekad meninjunya dengan beringas. "Kalian mempermainkan kami seolah-olah kami adalah sampah, dan itu semua membuatku muak!"
"Kau kira kau siapa berani berbicara seperti itu di depanku, heh?!"
Pertarungan lainnya terjadi di barisan penonton. Membuat perhatian orang-orang terbagi dua. Xin Chen menyadari sedang terjadi sesuatu di sana dan itu pasti berasal dari penduduk biasa yang tadi ditolongnya.
__ADS_1
Selagi semua perhatian tertuju pada tempat lain, Xin Chen memperhatikan bola mata serigaa yang sedari tadi terus mengincarnya. Mereka benar-benar seperti binatang buas yang kelaparan setengah mati.
Saat bola mata biru itu terbuka, para serigala terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sesuatu merasuki tubuh mereka dan tak lama kemudian terdengar irama indah yang mengalun pelan, mengikuti irama angin laut di pesisir pantai. Begitu menenangkan hingga dua orang yang bertarung tadi terhenyak oleh suara yang lembut itu.
Bunyi irama kematian adalah tiruan dari Senandung Air yang diajarkan dari Kuil Teratai terutama untuk menenangkan para roh. Hanya saja terdapat beberapa bait yang diubah sedemikian rupa dan mengakibatkan kesalahan fatal yang begitu berbahaya jika ditujukan pada manusia maupun siluman. Yaitu memadamkan jiwa yang hidup.
Pelan tapi pasti, bola mata tiga serigala yang semula berkilat-kilat itu berubah kosong dan hampa. Corak warna abu-abu kelam menggantikannya tanpa ada yang menyadari. Para pendekar cukup dibuat bingung dengan apa yang baru saja dialami oleh tiga serigala tersebut, mereka jauh lebih tenang dari sebelumnya..
Namun siapa sangka di detik selanjutnya tiga serigala itu kembali liar, mereka jauh lebih agresif dan tak terhentikan. Lompatan tinggi membubarkan lingkaran penonton, beberapa dari mereka jatuh dan segera dicabik-cabik tanpa ampun oleh mahkluk buas tersebut.
"Si-sialan! Apa yang terjadi?! Hei selamatkan aku-!!" Tenggorokannya terasa tercekik saat semua temannya berlari luntang-lantung meninggalkannya, padahal baru beberapa detik yang lalu mereka bersenda gurau seperti saudara.
"Tolong!"
"Orang itu pasti baru saja melakukan sesuatu!"
"Berengsek! Awas saja kalau aku turun, kupastikan akan memotong kedua telingamu itu!"
"Oi, oi!" salah satu dari mereka menyadari sebuah pergerakan yang mendekat ke arah mereka. Tiga serigala sekaligus, mereka bersiap-siap dengan tombak dan kapak masing-masing, siap menyambut sambaran binatang besar itu.
"Heh? Senjata makan tuan?" ujar pemuda dengan caping di kepala itu, sepintas terlihat prihatin dengan kelompok penjahat itu. Mereka saling dorong agar bisa berlindung dari cakaran siluman. Sebentar kemudian matanya menoleh ke mayat seorang pria yang disapu oleh ombak kecil, darah terus merembes dan membuat cairan merah kental menyatu dengan beningnya air laut. Xin Chen mengangkat tubuh itu dan membawanya ke suatu tempat.
"Tu-tuan! Sa-saya ikut!" sahut seseorang di belakangnya, dia berdiri dengan wajah lebam sana-sini. Ceruk matanya membiru dan bengkak akibat pertarungan tadi, tapi dengan mudahnya dia berdiri seolah-olah semua rasa sakit di tubuhnya tak berarti apa-apa.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menguburkannya. Tapi jika dia temanmu mari ikut."
Xin Chen berhenti saat mereka tiba di sebuah daratan yang agak jauh dari laut, ditumbuhi oleh rumpun bambu yang rimbun dan juga hanya trdengar bunyi-bunyi binatang hutan di sekitar.
"Aku tak tahu harus mengatakan apa pada calon istrinya nanti." Tiba-tiba laki-laki itu berbicara setelah lama membungkam mulutnya, hatinya larut dengan duka mendalam.
"Dia sepupu jauhku, tapi aku menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Kami tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Binatang bermuka manusia itu, mereka tiba-tiba menyeret kami bahkan saat kami tak tahu salah kami apa. Sebenarnya ada beberapa dari kami yang dibawa mereka, kemungkinan juga sudah tiada."
"Siapa namamu?"
"Nama ku tidak penting." Xin Chen hanya bisa menunggu lawan bicaranya bersuara, dia tampak tak rela menguburkan jasad sepupunya sendiri.
"Aku hanya berpikir penderitaan tanpa akhir ini hanyalah pembukaan untuk kesengsaraan di Kekaisaran Shang ini." Lalu tangannya mencoba mengorek tanah, sementara raut wajahnya yang kusam terlihat putus asa.
"Kau benar. Orang seperti kalian terpaksa menanggung takdir seperti ini."
Xin Chen membantunya, "Seberapa lama orang-orang harus menanggung rasa sakit hingga seseorang berhasil menyelamatkan mereka?"
"Hahahah," tawa laki-laki itu terdengar lemah, kelihatan jelas dia sedang menahan kesedihannya. "Aku rasa tidak ada yang sedang berjuang untuk hal itu."
Lalu matanya yang sembap mengarah ke Xin Chen, "Mungkin saja kau? Hahahah, bercanda. Tidak mungkin. Hal itu terlalu berat jika diemban oleh anak muda sepertimu. Anakku saja, disuruh berlatih seharian sampai sakit berhari-hari. Terdengar konyol, memang. Tapi apa yang bisa kuperbuat?"
Perbincangan mereka terhenti. "Dia juga sudah tiada di tangan para penjahat itu."
__ADS_1