Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 268 - Yuhao


__ADS_3

Mereka saling memandang dalam kecemasan, tak ada yang berani mengeluarkan suara hingga beberapa detik kemudian, Shui bercelutuk.


"Apa kita kirimkan bantuan ke sana?"


"Saya akan pergi." Lan Zhuxian terlihat pasti tak pasti, tetapi dari raut wajahnya terlihat jelas pemuda itu sedang melawan keraguannya sendiri.


"Kau tidak perlu memaksakan diri," tegur Nan Ran sembari menepuk pundak Lan Zhuxian. Namun Lan Zhuxian tetap bersikukuh, "Saya akan memastikan Guru Yuhao takkan mencelakai Tuan Muda. Saya sudah mengucapkan sumpah setia pada Tuan Muda. Meskipun harus membangkangi guru ...."


"Aku pastinya akan ikut."


"Sebenarnya aku juga penasaran dengan siapa Guru Yuhao itu, tapi harus ada ikan yang menjaga kandang. Jadi aku di sini saja, lagipula aku juga malas bergerak."


"Pastikan kau menjaga markas baik-baik, kami mungkin agak lama. Jangan sampai kudengar kau membakar bangunan lama seperti yang sudah-sudah. Kalau ku laporkan pada pimpinan sudah habis kepalamu itu."


"Baik, sudah diputuskan. Kita bertiga pergi, tolong sampaikan pada unit satu lainnya. Kami akan pergi sekarang-"


"Aku ikut."


Dari arah pintu seorang lainnya datang sembari menenteng busur panah, mulutnya yang hampir tertutup oleh kerah baju kini mulai berucap tanpa memedulikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya.


"Kau harus terus melatih tim pemanah, ingat itu? Kita perlu pasukan penyerang jarak jauh. Bukannya senior Bai sudah mengatakan bahwa cepat atau lambat kita akan berperang? Kau tidak mempersiapkan bawahan mu dengan matang, Lao Zi."

__ADS_1


"Tentu saja aku mempersiapkannya. Aku sudah menitipkan tugas ini pada satu orang kepercayaanku."


Nan Ran ingin mendebat lagi, namun wajah tembok Lao Zi seolah-olah menahannya untuk memprotes.


Shui sendiri sebenarnya tak peduli mengenai siapa yang ikut atau tidak, namun apa yang dikatakan oleh Nan Ran ada benarnya. Saat ini hanya pasukan pemanah yang tampak tidak terlalu siap. Dibandingkan kavaleri dan infanteri, pemanah jauh lebih mudah terbunuh. Tak memiliki pertahanan dan hanya mengandalkan kecepatan dan ketepatan.


"Dia sudah bilang, bukan? Perang adalah tujuan utama mengapa kita berdiri di sini. Bisa saja pulang dia kemari kita akan langsung berperang, sementara orang-orang mu tak memiliki kesiapan. Seratus tujuh puluh pemanah, jika mereka semua mati dan tak membantu apa-apa kita hanya akan mengalami kekalahan-"


"Aku kenal salah satu orang YuangXe. Dan dia adalah orang yang disebut sebagai Pengkhianat. Orang itu masih hidup dan ditahan di penjara, tetapi dia masih bisa berkomunikasi dengan kita melalui burung gagak peliharaannya. Menyerang musuh tanpa mengetahui informasi tentang mereka hanya akan mengantarkan kita pada kekalahan telak. Pikirkan itu baik-baik."


Nan Ran, Shui, Lan Zhuxian serta Tian Xi berpikir dalam walaupun di situasi seperti itu Shui justru menguap lebar.


"Jadi bagaimana? Lao Zi ikut saja. Permasalahan seperti ini saja lama sekali. Aku bisa tidur dua abad menunggu kalian selesai berdebat."


***


Rentang waktu yang lumayan lama, sekitar satu minggu setelah memberikan surat pada Lan Zhuxian namun tak mendapatkan balasan membuat Xin Chen mulai mempertanyakan keadaan di Lembah Para Dewa. Dia mengirimkan surat kedua kalinya, berpikir gagak roh yang kemarin dikirimnya tak sampai ke sana. Tak ada yang terjadi dalam sepekan ini kecuali sesuatu yang semakin membuatnya tertekan.


Terhitung satu minggu, sudah melebihi tiga ratus pendekar lebih terbunuh di tangannya. Kebanyakan dari mereka adalah pendekar besar yang memiliki kekuatan tingkat tinggi, pengalaman yang mereka miliki dalam pertarungan juga bukan sembarangan. Sehingga untuk membunuh satu per satu dari mereka bahkan membutuhkan waktu lama.


Tak ada mayat dan darah di hutan belantara itu. Tubuh rohnya semakin berat, Xin Chen menyadari semakin besar kekuatan pasukan rohnya hal itu hanya akan membebani tubuhnya. Napasnya tersengal setelah menghabisi sekomplotan bandit dari Kekaisaran Qing. Lima jam bertarung dan kepalanya seakan-akan ditimpa sebuah batu besar.

__ADS_1


Xin Chen menyandarkan diri pada satu batang pohon, keadaan sepi di sekitarnya seakan-akan membisikkan sesuatu yang misterius. Xin Chen mengeluarkan sebuah kitab hitam yang kini bersinar terang di tengah gelapnya malam. Beberapa lembar kosong mulai terisi, beberapa tulisan yang diukir dengan tinta berupa darah. Terdapat belasan lembar lagi yang kosong, dan hanya akan bertambah seiring dengan perkembangan kekuatan yang dia miliki.


Sejak awal Xin Chen sadar, walaupun orang-orang lain mengatakan bahwa kekuatannya sangat berbahaya, nyatanya Kitab Pengendali Roh ini memiliki lebih banyak tingkatan yang seolah-olah tak terbatas. Dia bisa mengatakan ini bisa sebanding dengan kekuatan Kitab Tujuh Kunci atau bahkan lebih, hanya saja tak ada pengguna Kitab Pengendali Roh sebelumnya yang mampu mencapai tingkatan tertinggi tersebut.


'Apa itu mati?'


Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalanya, Xin Chen memejamkan mata. Terbawa dalam pikirannya sendiri yang mulai kacau, detik itu, hari itu, dia mulai mempertanyakan kembali apa rasanya mati.


"Aku pernah mati beberapa kali. Tapi saat melawan Ratu Iblis, aku merasa itu adalah kematian terdekatku."


Xin Chen tak bisa membuka matanya kembali, sesuatu seperti memberikan beban pada pundaknya dan itu begitu berat.


"Bagaimana rasanya kehilangan? Apa itu kewajiban untuk menyelamatkan orang-orang tersayangmu? Kau bisa saja meninggalkan mereka, tidak perlu melihat ke belakangmu dan capailah semua inginmu. Keluarga mu itu, hanya menghalangi jalanmu sebagai Manusia Terkuat."


Xin Chen tak bisa mengendalikan pikirannya kembali, sesuatu seperti merasuki pikirannya. Sesuatu yang begitu kuat dan tak biasa, dan di waktu yang hampir bersamaan telinganya mendengarkan pergerakan membahayakan. Dia tahu sesuatu sedang mengintai bahkan saat matanya sedang tertutup. Namun apa yang menahannya kali ini memang di luar nalar.


'Tidak mungkin Hantu dari YuangXe, lalu siapa?' pikirnya.


"Kau mau tahu siapa aku?"


Suara yang sedari tadi berdenging di telinganya mulai terdengar jelas seperti suara wanita, cekikikannya terdengar licik.

__ADS_1


Xin Chen memaksa melawan kekuatan tersebut, dia dapat melepaskan diri tepat sebelum senjata dengan dua bilah tajam nyaris mengoyaknya. Itu bukan senjata biasa yang dikhususkan untuk melawan manusia, melainkan senjata roh yang hampir mirip dengan yang dimiliki Ratu Iblis.


"Aku adalah Yuhao, Pembasmi Iblis yang ditakdirkan untuk membunuh para bencana manusia sepertimu. Lama mencarimu selama tujuh tahun ini dan akhirnya kau memunculkan diri, anak kedua Pedang Iblis, Xin Chen."


__ADS_2