
Saat itu matahari sudah terbenam, malam datang begitu cepat bersama bulan yang bersinar sangat tenang. Bulan purnama menemani Xin Chen yang masih mencari Ye Long ke seluruh penjuru. Tidak ada tanda-tanda kehadiran siluman itu. Bertanya dengan orang-orang di tempat ini juga tidak ada gunanya, satupun dari mereka tidak ada yang tau ke mana Ye Long melarikan diri.
Setengah jam sudah berlalu, dia teringat akan Rubah Petir. Mungkin saja naga itu kembali ke penginapan tersebut. Tidak ada salahnya memastikan.
Namun setibanya di sana, tampang marah Rubah Petir yang menyambutnya. Xin Chen bergidik ngeri, bagaimana bisa dia menjelaskan bahwa dirinya telah pergi- tanpa izin dari rubah itu, bersama Ye Long dan sekarang naga itu seperti hilang ditelan bumi.
Belum sempat lagi menjelaskan pada rubah situasinya, terdengar bunyi kepakan burung di dalam hutan. Sangat banyak dan di sambut beserta suara jeritan Ye Long, Xin Chen dapat mendengar jeritan itu sebagai pertanda bahaya.
Tak memikirkan dua kali keduanya segera berlari ke arah suara tadi, yang ditemui di dalam hutan itu adalah bekas noda darah dan cakaran di batang pohon. Terlihat bekas pertarungan, tampaknya mereka sudah berpindah tempat dan berkejaran ke arah lain.
Dengan mengikuti jejak bekas perkelahian akhirnya Xin Chen tiba di sebuah danau, air di dalam danau mengeluarkan gelembung-gelembung udara, tak lama berselang kepala Ye Long muncul di atas permukaan. Sedang berkelahi melawan musuhnya, seekor ular putih.
Pandangan mata Rubah teralihkan ke arah di mana terjadi pertarungan lainnya, seorang murid dari sekte Bunga sedang beradu pedang dengan seorang pendekar misterius. Beberapa bagian tubuhnya terluka cukup berat, bahkan untuk berdiri saja gadis itu sudah tak mampu.
Sementara Rubah Petir membantu Ye Long, Xin Chen memasuki pertarungan lainnya. Dia mematahkan serangan yang hendak menembus ke jantung gadis itu. Kemudian menendang lawan menggunakan kaki. Pria itu melompat cukup jauh demi menjaga jarak aman.
"Siapa orang ini?"
"Ti-tidak tahu, aku baru saja mencari tanaman obat di sekitar sini dan dia mendatangiku, setelah itu naga ini datang menyerangnya..."
Sial, pikir Xin Chen. Jika dia tidak membunuh pria itu bisa saja identitas Ye Long terkuak. Naga itu akan menjadi bulan-bulanan para organisasi pemburu siluman langka.
Pedang Petir yang berada di dalam genggaman tangannya bersinar terang di tengah hutan yang gelap. "Mundurlah. Biar aku selesaikan yang ini."
"Kau bilang kau takkan menyelamatkanku untuk yang kedua kalinya... ?"
__ADS_1
"Untuk situasi seperti ini mana mungkin aku berpikir seperti itu. Sudahlah, mundur dan obati lukamu itu."
Dia berujar cepat, bertarung dengan seorang perempuan di belakangnya hanya akan memperlambat gerakan. Apalagi dengan kondisi terluka seperti itu.
"Kheh, kau mau menantang mautmu sendiri anak muda?"
"Bukan, justru aku dengan murah hati ingin menawarkan padamu tempat beristirahat terbaik di muka bumi ini."
"Hah? Di mana?" Pria itu sedikit bingung.
"Kuburan."
"Kau yang lebih dulu ku antarkan ke sana, bocah!" Pertarungan sebenarnya dimulai, pria itu tak ragu sama sekali untuk menebas lawannya. Bahkan dalam pertarungan dengan minim pencahayaan seperti ini, matanya jauh lebih tajam daripada Xin Chen.
Tarikan pedang di setiap kekuatan serang memaksa lawannya harus benar-benar memasang posisi siap bertahan, meski begitu lawan Xin Chen kali ini dapat menahan segala serangannya. Bahkan tak sedikitpun sengatan petir membakar jubahnya. Hanya satu kekurangan Xin Chen dalam pertarungan, dia masih memiliki pertahanan lemah untuk serangan fisik. Mengingat selama ini dirinya fokus melatih perubahan jenis elemen dan teknik pertarungan jarak jauh.
Untuk memastikan dirinya tidak dipojokkan Xin Chen segera mengambil jarak, sayatan dalam di pipinya mengeluarkan darah. Hampir lima menit bertarung, dia belum melukai lawan sama sekali.
"Cih hanya segitu kemampuanmu?" Ejeknya sambil tertawa puas.
"Lebih baik mati saja sana!"
Kekuatan pria itu menjadi dua kali lipat dari sebelumnya, untuk memberikan serangan terakhir di sisa tenaga yang dia miliki. Pedang yang ukurannya sangat besar menyerupai bilah sabit itu berbenturan dengan senjata Xin Chen. Membuat Xin Chen terdorong ke belakang hingga menghantam bebatuan.
"Ku kira kau tak semudah itu dikalahkan, rupanya tak lebih dari pendekar kelas teri. Membuatku muak saja."
__ADS_1
Senyuman terbit di kedua sudut bibir Xin Chen, dia berujar pelan setelahnya. "Sempurna."
Secepat kilat pria itu menoleh ke belakang, tidak bisa diragukan lagi kecepatan refleks serta ketajaman mata pria ini. Dalam hal ini dia jauh lebih unggul. Hanya saja firasatnya benar-benar salah. Tidak ada satupun serangan yang datang dari belakangnya.
Xin Chen menjentikkan jarinya. "Mati."
Lima pedang Petir ternyata sudah menusuk di tubuh pria itu dan baru muncul ketika Xin Chen menjentikkan jarinya, pria itu tak sempat terkejut karena merasakan sengatan mengerikan mengoyak tubuhnya. Dia menjerit dalam kesakitan luar biasa, kakinya bergetar hingga jatuh bersujud. Mulutnya mengeluarkan darah kental, "Ba-bagaimana..."
Brukkh
Tubuh pria itu jatuh ke tanah bersimbah darah. Bahkan tanpa menodai tangan Xin Chen dengan darah. Dengan cara-cara cerdiknya, selagi lawan sibuk memasukkan serangan Xin Chen menciptakan Pedang Petir dan menghilangkan wujudnya saat menusuk tubuh lawan menggunakan kekuatan Topeng Hantu Darah. Hanya membutuhkan 5 detik hingga lima pedang menancap ke tubuh lawan. Saat wujud pedang itu muncul maka tusukan yang nyata akan terasa. Sama seperti ketika Xin Chen mencabut jantung dari tubuh alkemis dulu.
Jika pendekar aliran putih melihat hal ini maka mereka akan menghardiknya, caranya bertarung sama sekali salah. Di tempat lain Rubah Petir sendiri tak perlu turun tangan membantu Ye Long, naga itu berhasil membunuh lawannya dengan gigitan di leher.
Satu hal yang baru disadari Rubah Petir, Ye Long memiliki fisik yang cukup kuat dalam pertarungan kekuatan. Bahkan saat dilingkari oleh ular tersebut, hanya dengan ekor naga itu dengan mudah melepaskan diri.
Sekarang siluman naga itu sudah kembali ke daratan, Ye Long membakar habis mayat siluman itu dan kemudian mengejar lawannya yang lain. Tubuh pria misterius yang masih kejang-kejang itu tergeletak tak berdaya hingga cahaya biru terang membakarnya menjadi abu.
"Ye... Long?"
Bola mata Ye Long mengecil, jelas dia masih merasa terancam. Xin Chen menepuk kepalanya pelan, berusaha menenangkan. Sementara itu murid dari sekte Bunga mendekat, dia menunduk kecil sebelum menggunakan teknik penyembuhannya untuk mengobati luka dalam di tubuh Ye Long.
Sudah agak tenang akhirnya Ye Long bersikap seperti biasanya, sebelum akhirnya dari kejauhan terdengar suara derapan kaki dari kuil yang tak begitu jauh. Sepertinya orang-orang menyadari keributan ini dan sekarang, masalahnya Ye Long sama sekali tak memiliki sehelai kain pun untuk menyembunyikan diri. Dia menatap majikannya, mereka saling menatap panik.
***
__ADS_1