Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 336 - Jenderal-18


__ADS_3

Saat semua peserta telah tiba di tenda, tidak ada perintah apa pun yang datang. Mereka masih menunggu di tempat masing-masing sambil bertanya-tanya. Hari masih terlalu siang, tidak mungkin juga mereka dikembalikan ke asrama. Dan juga isu tentang seleksi terakhir semakin menyebar, mereka berbicara satu sama lain dengan mempertanyakan apa yang sedang terjadi.


Orang-orang sibuk melayani para tamu yang hadir. Mereka adalah prajurit bangsawan yang dikhususkan datang untuk melihat jalannya seleksi. Bagian paling membuat mereka senang adalah saat satu per satu peserta dibunuh. Menyisakan mereka yang memiliki ketahanan fisik kuat dan keberuntungan besar di akhir penyeleksian.


"Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?" Youji tiba-tiba mengajak Xin Chen berbicara. Karena sekitar mereka terlalu berisik, keempatnya memilih untuk diam dan tidak menambah keributan. Xin Chen menoleh sebentar lalu kembali menatap ke depannya. Jalan berdebu di luar sana seperti sedang dibakar panasnya terik matahari.


"Bersiap-siap untuk seleksi terakhir."


Beberapa jam berlalu, mereka hanya diberikan makanan dan minuman tanpa ada yang menjelaskan apa yang akan mereka lakukan berikutnya. Prajurit di kanan kiri mereka menutup mulut rapat-rapat, Wei Feng sampai kehabisan suara berbicara dengan mereka.


"Pantatku sampai kotak menunggu di sini! Tidak adakah yang mau menjelaskan untuk apa kami disuruh menunggu selama ini?"


Wei Feng benar-benar berbicara pada batu. Dia mendelik ke arah bangku peserta dengan kedua tangan di pinggang. Wajah masamnya membuat Yu Xiong terbahak-bahak, "Wajah orang susah."


"Sudahlah tunggu saja di sini. Jangan membuat kami malu." Xin Chen melihat semua orang memperhatikan mereka, tampaknya memang Wei Feng yang paling berani memprotes pengawas. Dia sampai tak mau menyingkirkan dari hadapan dua prajurit itu. Mereka berdua tetap membatu di tempat tanpa berniat merespon Wei Feng yang sudah garuk-garuk kepala.


Tanpa kejelasan Wei Feng tidak bisa duduk dengan tenang seperti yang lainnya. Dia curiga sebenarnya seleksi ini dilakukan untuk menjaring calon-calon korban yang akan diperjualbelikan sebagai budak. Siapa tahu saja memang ada orang yang menginginkan budak dengan keahlian seperti memanah, memacu kuda atau memanjat tebing. Panas di atas kepalanya mulai menghilang, hari telah memasuki sore.


Telunjuk Wei Feng menunjuk ke bawah kaki prajurit itu.


"Hei, uangmu jatuh."


Keduanya langsung menunduk, membuat Wei Feng naik pitam.

__ADS_1


"Urusan uang kalian baru bergerak, dari tadi kalian hanya mematung tidak jelas. Jelaskan, jelaskan!"


Karena ulah Wei Feng yang meresahkan beberapa pengawas turun tangan mengamankannya. Dia dipaksa duduk kembali ke tenda, lalu baru salah satu dari mereka menjelaskan dengan suara lantang.


"Malam nanti kalian harus bersiap-siap. Kita akan melaksanakan seleksi terakhir!"


Lalu mereka berbalik badan dan pergi begitu saja tanpa menjelaskan lebih lanjut. Wei Feng membuka mulutnya lebar-lebar, seperti tak percaya. "Jadi kita dibiarkan menganggur setengah hari ini untuk menunggu nanti malam? Itu saja?"


Wajahnya memadam karena kesal.


"Lima jam tidak terkena masalah rasanya seperti ada yang kurang. Karena itu dia mencari masalah sendiri. Lihat saja, nanti kalau terjadi sesuatu jangan ada yang membantunya." Xin Chen mengomel di tempatnya, melihat kelakuan Wei Feng semenjak siang siang tadi benar-benar menguras emosinya. Mana orang-orang di sebelahnya sampai bertanya siapa teman Wei Feng dan menyuruhnya untuk menarik laki-laki itu ke bangkunya.


"Lihatlah wajah Kak Chen sampai berkilau terang karena ulahmu." Yu Xiong ikut menimpali, membuat Wei Feng gusar. "Halah diamlah, karena aku juga kita tahu apa yang sedang mereka lakukan."


"Sekarang apa?"


**


Suara terompet dan juga genderang terdengar nyaring, disambut dengan sorakan meriah yang meramaikan hari terakhir seleksi. Tak ada yang menyangka hari terakhir disiapkan begitu istimewa, beberapa penari membuka acara pada malam itu. Seseorang yang disebut sebagai Jenderal-18 duduk di bangku yang terletak di tengah lapangan yang luas. Dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan juga pengawal lengkap dengan senjata. Jenderal itu merupakan penguasa di distrik ini, dia tak memiliki sifat pemurah dan hanya memperlihatkan kebengisannya saat mengeluarkan suara.


Malam itu diisi dengan penerangan yang indah serta diiringi penyambutan meriah. Kelima puluh dua orang tersisa berbaris, di depan mereka berdiri prajurit utama yang bertugas memanggil satu persatu nama mereka. Dia berteriak keras hingga terdengar seperti orang marah


"Peserta ke-76, Wei Feng! Silakan menuju tempat yang disediakan!"

__ADS_1


Wei Feng berjalan dengan wajah penuh kemenangan. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya tetapi dia memiliki firasat yang baik. Hari ini adalah hari kemenangannya. Setelah ini semua Wei Feng bersumpah dia tidak akan mencari gara-gara dengan nekad pergi ke tanah orang.


Ketujuh puluh enam orang telah berbaris rapi di sisi kanan, Wei Feng menoleh ke prajurit utama yang berhenti memanggil nama peserta selanjutnya. Seharusnya setelah ini teman-temannya akan di panggil.


Sepertinya benar mereka akan dipanggil. Tapi wajah Wei Feng berubah pucat saat ternyata ketiganya tidak berada di kelompok yang sama dengannya. Wei Feng mulai gelisah, dia hanya bisa menerka-nerka pertarungan macam apa yang sedang menanti mereka. Tengkuknya mulai terasa dingin ketika para prajurit membawa senjata tajam ke arena luas. Disertai perisai, anak panah, dan baju-baju perang.


"Jangan bilang kita akan saling membunuh?"


"Kenapa? Kau takut membunuh temanmu sendiri?"


Sahutan di sampingnya menarik atensi Wei Feng yang diliputi rasa putus asa. Wajahnya yang semula pucat kembali memerah marah melihat musuh bebuyutannya masih hidup. Preman itu, orang yang berkali-kali mencelakakannya dan juga teman-temannya. Dia merasa dikutuk malam ini. Satu kelompok dengan musuhnya sendiri memang sebuah bencana.


"Tenang saja. Kau adalah orang paling beruntung karena satu kelompok dengan kami. Asalkan kau berguna dengan panahmu itu, aku tidak akan membunuhmu." Tawa sinis menggema di telinga Wei Feng yang semakin terbakar oleh ejekan-ejekan yang mereka layangkan terhadap temannya. Dia mengepalkan tangan erat,


"Aku tidak sudi bekerjasama denganmu. Mau kau yang mati atau aku, jangan berharap aku akan berbaik hati membantu kalian menang. Sialan."


"Oh ... Kita lihat kakak pemberani ini. Lihat saja apakah kau akan menjilat kakiku saat teman-temanmu datang membunuhmu?"


"Mereka tidak akan melakukannya-aku lebih baik mati bunuh diri daripada menghalangi kemenangan mereka."


"Kalau begitu saat pertarungan dimulai kau adalah orang pertama yang aku bunuh."


Ketegangan di antara mereka semakin menjadi, lima orang itu tampak serius mengincarnya. Mereka menoleh senjata tajam yang nantinya akan dibagikan. Jika benda itu sudah berada di tangan mereka, Wei Feng yakin nyawanya langsung terancam.

__ADS_1


Nama terakhir dipanggil, Jenderal-18 maju dengan gagah. Kilat terang dari baju perangnya menambah kharismanya sebagai seorang pemimpin.


__ADS_2