
Hanya terdengar sayup-sayup angin di antara ketegangan yang hadir, topeng dari wajah itu terbuka. Dan di sana muncul wajah yang memang sudah diperkirakan Xin Fai.
"Apa kau puas meludahi mukaku hingga sepuluh tahun ini?"
"Semua itu tidak akan terjadi jika kau tidak memulainya."
Laki-laki itu mendecih, "Oh, kau menginginkan kebahagiaan untuk semua orang, bukan? Kupikir itu semua hanya bualan semata oleh pahlawan yang gila kehormatan seperti kau, Pedang Iblis." Dia menapak di tanah dan mengayunkan kakinya menuju Xin Fai, kemarahan tampak membludak di dalam matanya.
Laki-laki itu, Qin Yijun. Anak dari Kaisar Qin yang begitu dihormati oleh satu kekaisaran. Kudeta yang pernah dilakukannya berujung tragis, seluruh organisasi yang berdiri di belakangnya, salah satunya Kultus Iblis dibantai habis oleh Xin Fai. Tanpa pengecualian, sedangkan dirinya dibiarkan hidup menanggung rasa malu yang menjadi-jadi.
Qin Yijun menderita, sebuah penyakit menggerogoti tubuhnya selama di tahan di penjara bawah tanah tanpa ada yang mau menengoknya. Dia layaknya pembunuh berantai yang telah menghabisi ribuan nyawa tak berdosa.
"Dibandingkan aku, seharusnya orang sepertimu lah yang patut dihinakan. Kau membawa kesengsaraan, sudah berapa banyak nyawa yang mati di tanganmu sementara orang-orang justru mengelu-elukan namamu. Pahlawan busuk!"
Xin Fai menahan kata-kata yang hendak dikeluarkannya, jika dia terbawa emosi maka tak beda dirinya dengan laki-laki itu. Qin Yijun kini tak lebih dari lima meter di hadapannya. Dari jarak dekat tampak jelas wajah telah menanggung penderitaan itu selama bertahun-tahun.
Qin Yijun baru bisa melepaskan diri dari penjara setelah tiga tahun terkurung, salah satu bawahannya yang selamat rela menggantikan posisinya dan mengeluarkan Qin Yijun hidup-hidup dari penjara. Dengan sumpah akan membalaskan semua yang terjadi pada teman-temannya, laki-laki itu mengembara hingga ke tempat-tempat berbahaya. Dan di sanalah dia dipertemukan dengan Naga Kegelapan. Yang membawa amarah sama dengan apa yang Qin Yijun pikul selama ini.
Kedua mata itu saling pandang, wajah Qin Yijun seperti ingin memakan lawannya saat itu juga.
"Aku takkan pernah bisa memaafkanmu. Dan di sini, akan kuberitahu padamu, apa itu keputusasaan dan kehancuran. Kau lemah, tidak ada bedanya dengan ku. Serahkan dua senjata itu jika kau masih menginginkan dua orang ini hidup."
Qin Yijun memberikan perintah pada bawahannya. Segera tak lama berselang perempuan berjubah itu membawa tubuh Xin Xia yang sudah tak sadarkan diri di atas tubuh Naga Kegelapan. Tak ada yang bisa menjangkaunya. Xin Fai mengepalkan tangan, mencoba untuk sabar dan tenang.
Sementara di tempat lain Lan An tak kuasa menahan kemarahannya, tapi tak keluar satu patah kata pun dari mulut itu selain mata yang menatap tajam ke arah musuh mereka; Qin Yijun.
__ADS_1
Qin Yijun menyodorkan tangannya, sambil tersenyum dalam-dalam. Senyuman yang akan membuat siapa pun ingin sekali memukulnya. "Bagaimana? Penawaran yang bagus, 'kan? Atau jangan bilang kau menganggap nyawa adikmu itu tak lebih penting dari kedua Pedang ciptaan Han Zilong itu?" Dia menarik sebelah alis, seperti menguji kesabaran Xin Fai yang memang sudah di luar batas.
"Lepaskan adikku jika kau tak ingin kepalamu lepas sekarang juga."
"Oh? Kau mengancamku?" Lalu tertawa lah Qin Yijun setelahnya. "Apa yang kau harapkan setelah itu? Memenggal kepalaku, lalu kepala ini akan menggelinding di tanah sambil menertawaimu. Pahlawan busuk yang bahkan tak bisa menghargai nyawa adiknya."
"Hentikan mulut kotormu itu, Qin Yijun." Sekarang Ren Yuan juga membalas, Qin Yijun makin menjadi saja. Dia sampai kehabisan napas menertawai orang-orang yang berdiri di depannya.
"Sepertinya aku membuat marah istrimu juga. Siapa namamu? Ren Yuan? Cih, sayangnya aku tak bisa menangkapmu tadi. Mungkin setidaknya nyawamu sedikit lebih diperhitungkan oleh orang ini dibandingkan pedangnya."
"Qin Yijun." Xin Fai berkata tanpa ekspresi, padahal kesabarannya sudah habis dibakar oleh laki-laki itu.
"HM?"
"Serahkan Xin Xia, atau aku akan membunuhmu. Seharusnya aku mengatakan itu, tapi karena kau membuat ku kesal, maka pilihanmu hanya satu. Serahkan Xin Xia."
Qin Yijun membelalak, dia tak merasakan apa-apa dalam detik itu hingga akhirnya darah mencuat membasahi sekitarnya.
"Berengsek!" Melotot mata Qin Yijun kuat-kuat, sumpah serapah lolos dari mulutnya dengan keras.
Wanita berjubah menarik tubuh Qin Yijun mundur, tanpa mengatakan apa-apa dia menghentikan pendarahan di sana. Darah berhenti menetes sementara mulut Qin Yijun masih terus memaki-maki.
"Xin Fai, jangan harap aku takkan membalasmu. Aku pasti akan mengembalikannya seribu kali lipat padamu."
"Aku sudah mengatakannya, kembalikan Xin Xia. Kau yang menulikan telingamu."
__ADS_1
Jawaban tersebut seperti memancing emosi Qin Yijun, lantas dia mengangguk dan masih tak menghilangkan ekspresi marah.
"Baiklah, jika itu maumu. Bawakan orang itu kemari. Lihat apakah dia masih bisa berbicara seperti ini."
"Kau tahu, bagaimana pun akhirnya ku pastikan kau akan bersujud padaku. Berani menantang?"
Xin Fai bergeming di tempatnya, wajahnya tak begitu banyak berubah sebelum akhirnya kehadiran sosok paling penting di Kekaisaran Shang hadir dengan kawat besi yang mencekik sekujur tubuhnya hingga merembes darah.
Qin Yijun menikmati wajah terkejut itu, benar-benar puas dan lupa akan keadaan tangannya sendiri. Di tengah tawanya Qin Yijun berceloteh, "Seperti yang kubilang, bukan? Sehebat apa pun dirimu kau tak akan bisa berkutik dengan takdirmu sendiri? Sudah waktunya kau kalah, keadilan dan perdamaian hanya akan ada dalam mimpimu seorang."
Mata Xin Fai terpaku pada Kaisar Qin yang kini sekarat, suaranya parau sekaligus tersiksa. Tapi di balik mata yang merana menanggung derita itu, kekuatan besar tetap ada dalam hatinya.
"Bunuh aku saja jika dengan itu seluruh rakyatku selamat. Xin Fai, tak usah pedulikan aku. Keselamatan semua orang lebih penting."
"Yang Mulia ...." Xin Fai berada di ambang keraguan, kali ini, jika Kaisar Qin dibunuh maka posisi Kaisar tak ada yang menggantikan. Perang akan meletus kembali tanpa kehadiran seorang pemimpin, dan perebutan pusaka akan menjadi lebih agresif saat suatu wilayah kehilangan pemimpinnya.
"Kau belum mengerti juga posisimu?"
Qin Yijun mengeluarkan sabit dan melingkari benda tajam itu di leher Xin Xia, membuat darah bercucuran di sana.
Perang yang terjadi ini, semua nyawa yang dikorbankan hanya demi dua buah pedang ternama. Xin Fai tak bisa memungkiri semua itu adalah kesalahannya, Kaisar Qin batuk-batuk, darah kental telah memenuhi tenggorokannya.
"Ku ingatkan padamu. Jika pun kau tetap bersikeras, aku akan kembali lagi. Dengan membawa perang yang lebih besar. Satu Kekaisaran ini mungkin akan habis dan saat itu tiba, semua orang akan mempertanyakan keputusanmu. Ini semua tentang nyawa semua orang."
Qin Yijun terus berbicara, dia lebih serius dari sebelumnya.
__ADS_1
**