
"K-kau gila?!" Dua kata tersebut keluar begitu saja, Jin Sakai tentu tak mengerti bagaimana jalan pikir Xin Chen sekarang ini.
Menggunakan Baja Phoenix sebagai baja yang akan digunakan sebagai bahan pedang sudah terdengar sulit dilakukan. Karena setiap baja memiliki tingkat kesulitan tersendiri saat diolah agar tercipta sebuah pedang berkualitas.
Dan juga untuk mendapatkan hasil yang maksimal tentu dibutuhkan pengalaman dalam mengolahnya. Seumur hidup baru kali ini Jin Sakai akan menggunakan Baja Phoenix sebagai bahan untuk menempa pedang tersebut.
Maka dari itu Jin Sakai sendiri tak tahu menahu mengenai baja tersebut, bagaimana tingkat kepadatan serta cara mengolahnya agar bisa menjadi sebilah senjata. Yang dia tahu sekarang adalah, omongan Xin Chen terlalu sulit untuk diwujudkan.
"Maaf... Mungkin jika kau mempercayakan kami untuk mengolah senjata pusaka langit itu aku agak tidak yakin, karena..." Pria itu menunjukkan segala perkakas di tempatnya bekerja. "Kau bisa lihat sendiri, kan? Kami tak memiliki alat-alat yang mumpuni untuk mengolah baja kelas atas seperti itu. Jika proses pembuatan pedang gagal, aku tak yakin bisa mengembalikan kerugiannya padamu."
Untuk sesaat Xin Chen tak mengucapkan apa-apa kecuali hanya tersenyum, membuat dua lelaki itu saling bertatapan bingung. "Aku sudah mempercayai kalian. Paman, seharusnya kau harus mempercayai dirimu sendiri. Di sini yang lebih paham tentang pandai besi adalah kau, bukan aku."
"Ah, sudahlah. Aku tidak tahu ini akan berhasil apa tidak. Sebenarnya kau mendapatkannya dari mana? Sampai memiliki senjata pusaka langit seperti ini... Aku yakin kau bukan orang biasa."
"Tenanglah tidak perlu takut, lagipula kau tahu aku tidak akan membahayakan kalian."
Jin Youji mengiyakan perkataan Xin Chen, dia merasa ada benarnya juga. Setelah diberi tahu Ayahnya bahwa mereka kedatangan anak dari Pedang Iblis, setidaknya Youji sadar harus bersikap bagaimana.
Di negerinya dulu, mereka sangat menghargai sosok pahlawan, baik orangnya langsung ataupun keluarga maupun klannya.
"Jadi bagaimana, kita sudah sepakat bukan untuk membuat pedang itu? Kira-kira kapan akan dimulai pembuatannya? Biar aku bisa sekalian ikut membantu," katanya kemudian. Xin Chen mengambil beberapa pedang yang telah berhasil kedua orang itu buat untuk melihat-lihat, dia memerhatikannya dalam kekaguman.
"Hhh... Mungkin lusa kau bisa kembali, setelah aku menyelesaikan pedang yang tadi tentunya."
"Baik, kalau begitu aku pamit dulu."
Xin Chen bersorak dalam hati, padahal sebenarnya dia tidak begitu yakin Baja Phoenix bisa ditempa atau tidak. Ide gila ini datang secara tiba-tiba dan Xin Chen pun tak tahu bagaimana reaksi Rubah Petir nanti jika dia memberitahukannya.
__ADS_1
Karena alasan wujud keping Baja Phoenix ini sangat mudah dikenali maka dari itu Xin Chen berniat menyatukannya dengan pedang. Agar orang-orang tak mengetahui dan merebut pusaka itu saat Xin Chen mempergunakannya dalam pertarungan.
Apalagi dia sendiri sangat membutuhkan pedang yang tahan banting dan tak mudah patah. Mungkin seperti yang dikatakan Jin Sakai tadi, baja kelas atas memiliki keistimewaan hingga sulit ditempa.
Untuk mendapatkannya saja termasuk langka dan bisa menghabiskan puluhan ribu keping emas hanya untuk secuil bajanya saja. Tengah disibukkan dengan permasalahan Baja Phoenix, terlihat hal menarik lagi di seberang jalan.
Baru saja Xin Chen sadar, pemukiman sederhana ini adalah tempat tinggal orang-orang asing. Mereka yang tidak memiliki tempat tinggal akan memilih untuk menetap di sana. Di lingkungan yang terbilang sederhana dan memiliki nuansa berbeda.
Beberapa petani ladang melebarkan senyum saat anak itu lewat, "Tuan Muda, kau ingin pergi ke sana?" tanya salah satunya yang sedang sibuk menanam bibit padi. Melihat pakaian yang dikenakan Xin Chen tidak sembarangan dia yakin anak itu pasti termasuk orang penting di Kekaisaran.
Xin Chen menyengir, entah darimana pria itu tahu apa isi kepalanya.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Oh, itu. Hati-hati saja. Orang yang mau kau datangi itu agak tidak bagus juga otaknya. Kusarankan kau tidak usah mengganggunya berlatih, siang malam kerjanya cuma membidik anak panah. Disuruh kerja juga tidak mau... Dikiranya hidup ini tidak perlu makan dan hanya menembakkan anak panahnya yang tidak berguna itu..."
Dari kerutan dalam menghitam di bawah matanya dan caranya memegang busur terlihat jelas dia sudah tak memiliki tenaga lagi. Kedua kaki pria itu mulai bergerak lemah, dia kehilangan keseimbangan sejenak dan jatuh.
Petani yang baru saja berbicara dengan Xin Chen terdengar menghela napas dalam, tak berniat lagi membantu orang itu karena sudah sekian kalinya hal ini terjadi. Berulang-ulang sampai dia sendiri muak.
Sementara Xin Chen langsung menghampiri, mengeluarkan beberapa makanan dan menyodorkannya pada pria itu. "Ini, makanlah."
"Siapa kau?!"
Xin Chen tersentak kaget, suara menggelegar tersebut seperti baru saja mengoyak gendang telinganya. "Aku tak membutuhkan pertolonganmu, sialan!"
Xin Chen menarik sudut bibirnya sulit untuk tersenyum, pria itu baru saja merampas makanan yang dia sodorkan.
__ADS_1
Petani tua berjalan tak jauh dari mereka sembari menggelengkan kepalanya. "Sepuluh tahun hidup di sini dan sikapmu tak pernah berubah... Sampai hari ini aku bingung bagaimana kau bisa tetap bertahan hidup."
"Diam saja kau kakek tua!!" Pria itu menyepak batu besar hingga mengenai bokong petani tua, terjadi perdebatan sengit di antara mereka berdua. Suasana seketika gaduh dibandingkan dengan sebelumnya yang sepi.
"Pak Tua!! Sekali lagi kau lewat kupukul botakmu dengan kayu!"
"Jaga omonganmu itu, dasar pengangguran!"
"Sudahlah, berhenti bertengkar. Yang merasa waras ayo mengalah saja," Lerai Xin Chen pelan-pelan, bukannya meredakan kedua belah pihak dia malah membuat mereka makin emosi.
"Kau menyebut kami tidak waras?!"
"Bukan... Sudahlah, berhenti berkelahi." tambahnya lagi, dia menggaruk belakang kepalanya tak tahu harus merespon seperti apa. Hingga petani tua itu berangsur pergi akhirnya si pria pemanah melirikkan matanya pada Xin Chen.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" gertaknya sembari memakan roti yang Xin Chen berikan.
'Ini orang sepertinya tidak tahu cara berterimakasih.' batinnya dalam hati. Xin Chen baru saja hendak menjawab tapi kata-katanya lebih dulu dipotong oleh si pemanah.
"Kalau niatmu cuma menagih utang maaf-maaf saja! Hari ini dan seterusnya aku sudah tidak pegang uang lagi!" Lantas pintu rumah yang sudah agak miring ditutup kencang hingga menghasilkan suara berderak patah. Bahkan Xin Chen belum sempat mengatakan apa-apa pada pria itu.
"Hah... Salahku sendiri. Asal datang ke tempat orang seperti dia..." Xin Chen menggumam kecil. Ketika kakinya berjalan dia menginjak sesuatu di bawah. Sebuah panah yang lebih panjang dari yang biasanya dia gunakan tergeletak di sana.
"Bagus juga, busur ini kalau ditarik dengan tenaga orang dewasa mungkin akan mengenai sasaran yang sangat jauh..." Xin Chen membenarkan posisinya memanah, dengan mengambil satu anak panah dan menarik busur dia membidik sasarannya yang merupakan sebuah boneka seukuran manusia dewasa, terbuat dari jerami usang dan sudah rusak parah.
"Salah!! Salah! SALAAAH!!!"
***
__ADS_1