Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 196 - Kota Tak Berpenghuni


__ADS_3

Api perang telah lama padam, menyisakan abu tebal dan juga kabut yang terus menaungi Kota Renwu. Tak ada lagi kehidupan manusia di sana, di antara kejamnya Api Keabadiann yang terus membakar habis daratan kota tersebut.


Dalam beberapa tahun terakhir tempat itu telah berubah menjadi lautan api yang sebenarnya, hawa panas di tanah itu akan membunuh siapa pun yang berjalan di atasnya.


Kecuali, hanya pada satu hal.


Jika Api Keabadian telah menjadi darah yang mengalir dalam diri seseorang maka kekuatan itu akan menangguhkan majikannya lebih dari apa pun. Tanpa harus makan, atau minum, kekuatan itu akan memperkuat tubuh tuannya hingga jauh melebihi kemampuan tubuh manusia biasa.


Pada setiap akhir tahun di Kota Renwu yang telah menjadi tanah tak berpenghuni, terdengar suara seruling merdu yang begitu menyayat hati. Irama kesedihan, keputusasaan dan penyesalan dapat dirasakan hanya dengan suara. Bulan yang sama saat perang pecah di tanah kelahiran sang pemain seruling, bulan ketika dia dilahirkan di dunia. Dan bertanya-tanya apakah dia memang dilahirkan untuk menelan penderitaan.


Tujuh tahun, tanpa pernah berbicara dengan manusia lain dan hanya berteman dengan laut, angin, langit dan juga tanah gersang. Lalu kadang menghilang dari sana hingga berbulan-bulan.


Batas kemampuannya sudah benar-benar habis, tubuhnya membutuhkan nutrisi untuk tetap bertahan hidup. Namun apa yang bisa di dapatnya di tempat ini. Tidak ada lagi burung imigran yang lewat, ikan-ikan di dasar laut telah punah karena tak dapat bertoleransi dengan suhu panas di bawah kedalaman sana. Sementara itu tak pernah ada lagi kapal datang, setidaknya dia bisa mencuri sedikit persediaan mereka dengan diam-diam.


Melihat bertahan di Kota ini tidak akan mungkin lagi akhirnya sosok itu keluar dari persemayamannya. Dengan sebuah jubah hitam yang dulu sempat disimpannya saat mengembara bersama Rubah Petir, berdiri pada sebuah menara benteng yang sangat kokoh dan hebatnya dapat bertahan dari Api Keabadian karena ketebalannya.


Dia melompat turun sehingga jubah hitam yang dikenakannya melambai tersapu oleh angin, sedikit berjalan pemuda itu saat akhirnya tiba disebuah patung yang berdiri begitu kokoh dan tak gentar sekali pun oleh api yang membakarnya; Patung Pilar Kekaisaran pertama dengan leher yang retak, patung itu sempat terbelah tujuh tahun yang lalu dalam peperangan.


Pemuda itu berjongkok dengan sebelah kaki, menundukkan kepala dengan rasa hormat yang begitu besar, membisikkan sesuatu bersama suaranya yang hanya bisik-bisik.


Lalu, dalam beberapa menit setelahnya dia membalikkan badan seraya berkata, "Aku pasti akan menolongmu. Berjanjilah untuk terus hidup."

__ADS_1


Angin berhembus sayu, seolah-olah bersedih mengantarkan kepergian satu-satunya manusia penghuni di tempat mereka


Seekor Naga Hitam yang telah kehilangan namanya menunduk dalam ketika melihat sosok itu pergi menuju tepi pantai yang dipenuhi kabut asap. Dia ingin menyusul pemuda itu namun sayang langkah kakinya terlalu gemetar bahkan walau hanya untuk bergerak satu meter.


*


Ren Yuan mengejar sosok tersebut, dia menghilang tepat di pekarangan. Tak lagi dapat dilihatnya ke mana gerangan pemuda itu pergi, tubuhnya lebih tinggi dari pada Xin Zhan dan tak ada lagi yang dapat dilihat Ren Yuan selain itu. Desis samar terdengar dari kamar Xin Zhan, Ren Yuan melihat anaknya yang baru saja sadarkan diri dengan mata penuh air mata.


Sosok itu menyelamatkan nyawa Xin Zhan, Ren Yuan yakin sosok itu adalah orang yang sama dengan orang yang membawa Xin Zhan kembali ke Kota Fanlu. Pagi-pagi buta keamanan di Kota Fanlu diperketat sedemikian rupa hingga hampir sepanajang jalan dibanjiri para penjaga kota. prajurit, dan juga para pejuang. Kembali terjadi guncangan di Kota pelabuhan itu.


Dan lagi para penduduk dibuat kget setengah mati saat melihat Xin Zhan keluar dari rumah. Bahkan mereka sampai ternganga-nganga, seolah-olah baru saja melihat setan di pagi buta.


Lantas Xin Zhan tersenyum getir, "Aku tidak apa-apa."


"Tapi, Tuan Muda ... Bukankah hari itu Anda-" Laki-laki itu tak sanggup meneruskan kalimatnya. Dia tergagu untuk beberapa saat, hingga tatapan Xin Zhan menenangkan laki-laki itu.


"Ibu menyelamatkanku, hanya itu yang bisa aku katakan padamu."


Sejenak lelaki tua itu termangu sbelum akhirnya menggangguk paham, pengawasan ketat di Kota Fanlu kali ini digerakkan langsung oleh Pilar Kekaisaran ketiga, tanpa basa-basi segera dilakukan pencarian terhadap seorang pemuda yang mengenakan jubah hitam. Selain dari ciri itu, tak ada yang dpat digambarkan oleh para saksi mata lainnya.


Lan An berjalan di sekitar penghubung Kota Fanlu dengan kota seberang, matahari sudah merangkak naik tapi dia tak kunjung menemukan sosok yang dikatakan memiliki Ilmu Ilusi tingkat tinggi. Sama sekali tidak dirasakannya hawa kehadiran mencekam, biasa untuk seorang pendekar aliran hitam yang memiliki ilmu dan teknik tingkat tinggi, maka hawa keberadaan sosok itu akan tiga kali lebih mencekam dari pendekar biasa.

__ADS_1


Orang-orang seperti itu juga diganjarkan sebuah kutukan, seperti Kitab Pengendali Roh, terikat kontrak dengan para roh di kitab itu berarti harus merelakan tubuh aslinya untuk diambil oleh mereka.


Keadaan Kota Fanlu yang terlampau ramai, dengan para pengawas kota dan para pendekar di seisi kedai membuat laki-laki itu berulang kali menarik napas. Tampaknya pencarian ini hanya sia-sia, sekilas dilihatanya Ren Yuan berjalan di depan kedai. Seperti mencari-cari seseorang, kepalanya berulang kali melongok dan kadang sampai mengintip kedai-kedai arak. Salah satu pelayan kedai menanyainya tentang siapa yang Ren Yuan cari.


Melihat perbincangan itu Lan An menghampiri Ren Yuan, memasang tatapan wajah aneh.


"Nyonya Ren, apa yang membuatmu sampai keluar mencari-cari? Mungkin aku bisa membantumu mencari orang itu?" tawarnya, membaca kegelisahan di wajah Ren Yuan.


Ren Yuan yang baru saja menyadari kehadirannya terdiam sebentar sebelum berkata, "Orang berjubah yang datang tengah malam ke Kota ini. Aku harus menemuinya."


Lan An kebingungan, Ren Yuan tak memiliki kewajiban atas kasus orang misterius tersebut. Ren Yuan sendiri telah lama meninggalkan dunia persilatan dan hanya menjadi peracik obat. Terlibat dengan sosok berbahaya itu menurut Lan An hanya akan membahayakan nyawa Ren Yuan.


"Biar kami yang menanganinya, Nyonya Ren. Mungkin akan memakan waktu agak lama, sebaiknya anda beristirahat dulu. Xin Zhan juga, katakan padanya untuk tidak terlalu memaksakan diri."


Ren Yuan menarik napas dalam, dia sedikit membungkuk dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Berlalu dari hadapan Lan An, kiranya perkataan Lan An benar. Mencari sosok itu adalah tugas penjaga kota, namun Ren Yuan ingin sekali memastikan apakah sosok itu benar seperti dugaannya atau tidak.


***


Note: Sebenarnya thor yakin gak yakin mau publish atau enggak, soalnya di rumah lagi kedatangan tamu yang nginap. Pecah seketika konsentrasi, baru punya waktu buat nulis malah harus ngerjain ini itu. Yap, pikiran dan tulisan ikut kna imbasnya; kacau balau :(


Aduh kok tetiba thor kangen banget sama mc sendiri wkwk, mungkin dia bakal muncul di next episode? mweheheheh

__ADS_1


__ADS_2