Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 282 - Penyerahan


__ADS_3

Perdebatan di YuangXe terhenti saat dari kejauhan muncul sekelompok orang, tatapan mereka lurus pada para orang YuangXe.


Terjadi keheningan beberapa saat hingga akhirnya dua orang penting di antara dua kubu berbicara.


"Sebelumnya kau pernah mengatakan tentang percaya pada manusia, bukan?"


"Ya."


"Kalau begitu ... Sebelum mempercayaimu, apa yang bisa kau berikan pada kami?"


"Berikan pada kalian?" Dia sedikit tertawa, "Lagipula aku tidak sepenuhnya manusia."


Wanita itu menelan ludah, Xin Chen sedang mempermainkannya. Wajahnya berkerut masam, bisa saja dia menyumpah serapah di depan muka Xin Chen, tapi dia sadar keadaan YuangXe sudah di ujung tanduk.


"Kau benar-benar licik dalam bernegosiasi."


"Aku tidak melakukan apa pun."


"Mulutmu itu membuatku kesal."


Senyuman tipis di wajah Xin Chen membuat wanita itu kesal dan terpana di waktu yang bersamaan.


Wanita itu berdeham, setelah mempertimbangkan matang-matang akhirnya dia memutuskan untuk bersuara.


"Aku tak tahu lagi harus mempercayai siapa di sini. Setelah mengatakan apa yang dikatakan anak Hantu dari YuangXe. Jika pun kau mau sudah pasti tanah ini menjadi abu. Walaupun yang lain menentang keputusanku ini, aku tetap tak akan merubahnya. Keselamatan nyawa saudaraku juga lebih penting. Kami tidak akan bisa menjaga sesuatu yang begitu besar, setelah rahasia ini terungkap seluruh penjuru akan datang merebutnya."


Dia mendekat, menepuk pundak Xin Chen. Wanita itu terkejut dia masih dapat menyentuhnya, "Aku sudah mengenalmu jauh sebelum kau datang kemari. Ucapan Yuhao selama ini hanya meracuni pikiran kami tentangmu. Dia tahu suatu saat kau akan datang kemari untuk mengambil sesuatu yang sudah seharusnya dijaga."


"Pergilah."


Derap kaki semakin dekat dari waktu ke waktu, wanita itu menatap Xin Chen penuh harap.


"Sembunyi. Setelah ini semua berakhir katakan Pemimpin Empat Unit Pengintai lah yang mengambil pusaka dari tangan kalian. Dengan paksaan. Mereka tak akan menyakiti kalian lagi. Empat Unit Pengintai bersama kalian."


"Terima kasih ... Tuan Muda Xin ..." Dia mengatupkan kedua tangan, untuk pertama kali memanggil nama seseorang dengan formal. Pertama kalinya juga dibela oleh orang yang bukan saudara mereka.


"Jangan sekali-kali kalian angkat kaki dari YuangXe. Sampai aku mati sekalipun."

__ADS_1


"Baik ..." Tetesan air mata jatuh bersamaan ketika dia menganggukkan kepala.


*


Lan Zhuxian menatap kertas mantra yang terakhir yang tersisa di YuangXe. Menyimpan kertas tersebut dalam lipatan kain.


"Aku tidak bermaksud membunuhnya."


Lan Zhuxian mengangkat wajah, walaupun sudah mengatakan dirinya baik-baik saja, Xin Chen terus memikirkannya.


"Bukan Anda yang membunuhnya. Saya melihatnya juga, ada orang lain saat itu. Dan lagipula saya sudah menyampaikan rasa terima kasih pada Guru Yuhao."


Tepat sebelum meninggalkan YuangXe Lan Zhuxian datang ke peristirahatan Yuhao. Semua telah selesai, YuangXe kembali membentengi diri. Mereka akan menutupi diri sampai keadaan kembali damai. Dan setelah kabar beredar, maka nama Pimpinan Empat Unit Pengintai akan menjadi sasaran berikutnya. Meskipun banyak yang ragu untuk mencari keberadaan sosok yang dikenal misterius tersebut.


Wanita-wanita cantik penuh riasan memenuhi jalanan perkotaan, lentera dengan hiasan bunga dipajang di atas mereka. Malam menjadi semakin meriah oleh pertunjukan di malam itu.


Dari dalam sebuah rumah hiburan segerombolan laki-laki berkerumun memenuhi pintu masuk. Ada banyak sekali wanita dengan riasan cantik serta gaun indah di dalam sana. Namun bukan hal itu saja yang membuat mata Shui terbelalak, dia dibuat tercengang lagi ketika seorang laki-laki botak berpakaian layaknya bangsawan megah sengaja mendorongnya. Membuat Shui jatuh tertelungkup mencium tanah, lalu dengan tak bersalahnya laki-laki itu berjalan seperti biasa.


"Hoi, botak!" seru Shui langsung bangun, dia memakan gurita bakar yang dicurinya di penjaja makanan di jalan. Kesal tak didengar, dilemparnya tusuk lidi ke kepala tersebut. Nyaris menancap sempurna seandainya seorang gadis tidak menangkap benda tersebut.


Tetapi baik Nan Ran ataupun Xin Chen, mereka benar-benar mengenali siapa gadis tersebut.


"Apa yang kau lakukan?" Nan Ran nyaris tak percaya melihat laki-laki itu membawa Fu Yu ke rumah hiburan.


"Oh, kau yang tadi, ya?" sahut laki-laki di sebelah Fu Yu, menimang-nimang penampilannya orang di depannya. Tidak ada yang tampak berharga dari mereka selain pedang. Itu pun kualitas yang biasa-biasa saja.


"Rupanya kau datang jauh-jauh dari Kekaisaran Qing untuk jadi wanita rendahan di sini?" geram Nan Ran mengepalkan tangan, dia hendak menarik Fu Yu namun laki-laki itu menahannya.


"Perhatikan langkahmu kalau tak mau mati, bocah."


Lalu kedua orang itu pergi ke dalam rumah hiburan. Sebelum benar-benar jauh, laki-laki itu sempat menoleh.


"Jangan mencoba masuk, atau orang sepertimu akan kehilangan kendali. Kita tidak tahu berapa orang yang akan mati jika kau berulah."


Kalimat itu ditujukan pada Xin Chen lewat tatapan mata, Nan Ran tak sempat mengejar. Ada beberapa penjaga yang berdiri di sana. Tempat itu seolah-olah dikhususkan untuk mereka yang memiliki banyak uang.


"Sial-" Nan Ran menoleh ke belakang. "Aku harus tahu kenapa Fu Yu melakukannya!"

__ADS_1


"Dia kekasihmu?" Lao Zi menanggapi seadanya, Nan Ran memasang wajah berkerut. "Di Kekaisaran Qing kami sama-sama anak terbuang. Aku pernah mengenalnya meski hanya satu-dua bulan. Dia bukan orang seperti itu, aku yakin "


Ditatapnya Xin Chen. "Kita harus mencari tahu."


"Siapa yang ke sana?"


"Kau dan aku."


Xin Chen melihat rumah hiburan itu ragu tak ragu, dia tahu apa yang ada di dalam sana. Bukan tak mungkin ada pengguna roh lain atau saat masuk ke dalam dia dipaksa meminum pil yang membuatnya kehilangan kesadaran. Seperti yang dikatakan laki-laki tadi, dia tak bisa sembarangan.


"Untuk memata-matai jangan berharap padaku."


"Haish, cuma segitu nyali Tuan Muda Xin ini?"


"Nan Ran, kau mulai tak sopan padanya." Lao Zi menginterupsi dengan tampang terganggu. Yang dinasehatinya hanya menggumam dengan gusar. "Jadi aku sendiri yang masuk ke dalam?"


"Tempat itu sangat luas." Shui membersihkan rambutnya yang tadi terkena debu tanah. "Sebelum sempat menemui gadis itu kau pasti sudah terlena dengan gadis lain."


"Tuan Muda, kau pasti punya cara."


Xin Chen menatap Shui, lalu tersenyum usil. "Tentu saja punya. Tapi yang kali ini sangat menarik."


"Ohohoho~ sudah lama tak melihat sifat usilmu." Shui menutup mulutnya tertarik.


"Kau pasti sudah tak sabar, bukan?"


"Apa rencanamu?"


Yang terjadi selanjutnya adalah hal yang takkan pernah diinginkan Shui seumur hidup.


**


Kalau ketemu alur yang ngebosenin Thor juga malas nulisnya, bukan cuma readers yang bosen baca. Dan belakangan rasanya jenuh aja sama nulis. Gejala writerblock keknya. Ealah. Otak sama mood gak sinkron, ya begini lah jadinya. Semoga masih bisa menghibur para pembaca walaupun agak rancu begini tulisannya(〒﹏〒)


Oiya, untuk yang pesan buku A Girl Named Aoi pengiriman mulai hari ini, ya. Ditunggu dengan sabar hehe


Menglope sekebon!(◍•ᴗ•◍)❤

__ADS_1


__ADS_2