Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 302 - Salamender Api II


__ADS_3

"Bagaimana dengan Rubah Petir?"


Xin Chen mengalihkan perhatian Shui, raut wajahnya tak menampakkan harapan sedikit pun.


"Ku harap kau menemukan permatanya tepat waktu."


"Ada sesuatu yang tak kau katakan padaku?" Xin Chen menyorot mata Shui dengan curiga, benar saja prasangkanya tepat sasaran.


"Mungkin Dewa Petir akan menarik kekuatan ini dari Rubah Petir. Jika waktu itu tiba, dia tak memiliki kekuatan apa pun untuk membantu kesadarannya tetap terjaga. Dia akan mati sepenuhnya. Mau dengan cara bagaimana pun kau menyelamatkannya."


Xin Chen menunduk, mengepalkan tangannya perlahan. Shui hanya bisa memperhatikannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ye Long," panggil Xin Chen. Naga itu muncul sambil menguap lebar. "Makan?"


Ye Long baru tahu Shui ada di dalam danau, dia mendesis terancam. Namun berlagak aneh, seperti merasa seekor macan sedang mengintai di sampingnya dan saat melihat ternyata hanya seekor belalang.


"Ada apa kau melihatku begitu?"


"Kau benar-benar Naga Air? Kekuatanmu bahkan tak lebih besar dari siluman seribu tahun."


"Ini wujud manusia, bodoh."


Ye Long mengalihkan perhatian pada Xin Chen yang tadi memangilnya. "Kau memanggilku?"


"Tinggallah bersama Senior Bai untuk beberapa bulan."


Ye Long menatap Shui dan Xin Chen bergantian. Matanya menilik bingung, tak lama dia menggeleng tak setuju.


"Aku ikut ke mana pun majikan pergi."


"Aku mungkin tak akan memberikanmu makanan selama dua bulan lebih."


Ye Long menggeleng dua kali.


"Terserah." Ye Long sempat mendengarnya dari alam bawah sadar Xin Chen, tentang rencana kepergiannya ke Kekaisaran Qing.


"Mereka membutuhkanmu."

__ADS_1


"Aku tidak membutuhkan mereka," balas Ye Long lebih keras kepala.


Shui tertawa pelan, "Percuma kau menyuruhnya ini itu. Kalau sudah menempel jangan harap dia akan melepaskanmu."


"Tapi berjanjilah untuk tidak memunculkan diri. Kita akan dalam bahaya. Kau dengar Ye Long?"


Naga itu hanya memiringkan telinganya, mengunyah rumput-rumput yang berkilau oleh sinar matahari siang.


"Heh, Ye Long! Berhenti mengunyahnya, kau menjatuhkan harga diri seekor naga!"


"Perutku lapar." Kini Ye Long memasuki hutan, berniat mencari makanan. Belum sepuluh meter dia kembali ke tempat Xin Chen.


"Banyak sekali manusianya."


"Hm? Kau takut? Mau kembali ke dimensi ku? Dengan begitu kau tak perlu bertemu manusia lagi."


"Tidak perlu!"


Ye Long menatap Xin Chen yang lebih pendek darinya. "Beri aku waktu untuk mencari makan. Setelah itu aku tak akan keluar kecuali jika kau suruh."


Xin Chen sebenarnya hendak menawarkannya makanan tetapi Ye Long sudah pergi lebih dahulu. Tak berlangsung lama Tian Xi datang. Napasnya terputus-putus, dia hendak bicara segera tapi yang terdengar hanya gumaman tidak jelas.


"Aish, ikan biru ini. Tuan Muda, kita kedatangan tamu dari Kota Fanlu. Dia membawa surat yang ditandatangani langsung oleh Pilar Pertama Xin Zhan. Ikutlah denganku."


"Ikuut."


"Kau berendam saja seperti ikan sana."


"Aku bukan ikan, aku ini nag—"


Tian Xi mendelik ke belakang, tiba-tiba saja Xin Chen menutup mulut Shui. Dia ingin bertanya ada apa namun wajah Xin Chen begitu menyeramkan.


*


Pertemuan dilangsungkan di ruang tertutup, dua orang sudah menunggu di depan meja kecil. Beberapa teh dihidangkan di atasnya, Xin Chen baru teringat bahwa dia sempat mengizinkan seorang tabib wanita dan pembunuh dari markas kecil Empat Unit Pengintai untuk bergabung dengan mereka. Wanita itu ternyata yang membuat lukisan-lukisan indah di tempat ini. Dan ada beberapa obat-obatan yang sedang dibuatnya, meskipun masih dalam proses pembuatan. Tian Xi juga menaruh harapan pada perempuan itu. Sementara Pembunuh yang datang bersamanya telah menjadi prajurit tingkat menengah. Dan bergabung di bawah pimpinan Bai Huang.


Pintu kembali ditutup rapat sementara hanya Tian Xi berjaga di luar pintu. Tak membiarkan siapa pun menguping pembicaraan ini.

__ADS_1


Xin Chen duduk menatap dua orang laki-laki dewasa yang membuka penutup wajah mereka. Dilakukan agar tak ada yang mengenali identitas mereka. Dua orang itu sendiri tak bisa melihat wajah Xin Chen yang tertutup oleh tudung jubah. Salah satu mengambil napas, lalu berujar pelan-pelan.


"Kami sudah mengumpulkan beberapa informasi terkait. Tapi kami rasa informasi ini tak begitu berguna bagi Anda."


Dia meletakkan sebuah perhiasan emas yang disimpan baik-baik dalam lipatan kain berwarna emas.


"Salah seorang mata-mata kami sudah kembali dari kekaisaran Qing. Maaf telat mengatakannya. Mata-mata mengatakan pemilik benda itu adalah wanita bangsawan biasa yang tak memiliki riwayat kejahatan apa pun. Hanya keluarga berpengaruh kecil. Suaminya bagian dari bawahan walikota. Dan dari informasi yang kami dapat, perhiasan ini dibuat begitu lama sehingga sulit mencari tahu di mana diproduksinya."


Dua orang itu membungkuk meminta Maaf. "Hanya itu yang bisa kami sampaikan pada Anda."


Xin Chen memikirkan lebih jauh. Jika benda itu tak memiliki kaitan dengan pencuri permata Rubah Petir, maka dia tak tahu harus mencari tahu dari mana lagi. Musuh memang pandai menyembunyikan jejak. Jika pun Xin Chen kembali ke goa itu, dia yakin tak akan menemukan apa-apa lagi. Karena sudah hampir seluruhnya dia periksa. Tak ada jejak ataupun tanda-tanda. Darah atau pun petunjuk lainnya tidak ada yang tersisa.


"Kalau begitu, coba cari tahu tentang wanita bangsawan itu. Apa dia pernah kehilangan perhiasan ini."


"Baik, Tuan."


Kedua orang itu pamit, hanya sedikit berbasa-basi karena mereka juga terburu-buru. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan mereka takut jika bepergian malam hari akan bertemu dengan penjahat.


Selepas kepergian dua orang tersebut, Shui langsung bertanya. Tentu saja sambil berbisik karena takut Tian Xi yang menyebalkan mendengarnya.


"Bagaimana? Sudah mendapatkan petunjuk?"


"Belum ada perkembangan." Xin Chen menengadah, melihat seekor burung terbang dan berhenti di atas lengannya.


Burung itu adalah burung pembawa pesan dari Kota Fanlu. Xin Chen membaca pesan di dalamnya.


Di dalamnya Xin Zhan mengatakan bahwa terjadi pergerakan tak diduga dari Kekaisaran Qing. Mereka bergerak lebih cepat dari dugaan, serta menurut perkiraan prajurit mereka telah bertambah menjadi tujuh puluh ribu. Padahal Xin Chen yakin Bai Huang diserang tak lebih dari tiga hari lalu dan kini mereka telah menambah anggota sebanyak dua puluh ribu. Hanya dalam kurun waktu tiga hari.


"Sepertinya aku harus bergegas."


Dia mengeluarkan seruling, memanggil Ye Long yang terbang kencang dari kejauhan. Naga itu mendarat dengan mulut masih mengunyah tubuh harimau hutan.


"Berangkat sekarang?"


"Ya. Tapi untuk ke sana kami butuh kecepatanmu."


Ye Long menatap Shui yang tersenyum penuh arti. Naga itu menggeram sambil mengepakkan sayapnya.

__ADS_1


"Rrarggh! Suruh si rambut aneh itu terbang sendiri!"


__ADS_2