
Nyaris tidak ada suara selama beberapa detik hingga Xin Chen melanjutkan.
"Kalian datang ke sini bukan sekedar makan tidur dan membangun markas. Ingat tujuan awal kita adalah untuk memenangkan perang. Ini bukan soal menguasai atau menduduki wilayah. Tetapi untuk menghindari datangnya perang akibat perseteruan antar kekaisaran yang saling ingin berebut tempat dan kedudukan."
"Biar aku perjelas apa tujuan Empat Unit Pengintai sekarang."
Pemuda itu menegaskan setiap kalimatnya. "Kita ada di sini, pertama untuk mengembalikan Pedang Iblis ke Kekaisaran Shang. Kedua untuk menaklukkan dua Kekaisaran lain dan ketiga untuk mendamaikan perang akibat perebutan pusaka langit. Sampai di sini saja, ada yang kurang dimengerti?"
Yun Shan mengangkat tangannya. "Bagaimana tentang jumlah prajurit kita yang belum setara dengan musuh?"
"Pilar Pertama saat ini sudah bekerjasama denganku. Dia juga menginginkan perang untuk Pedang Iblis. Kita bisa memanfaatkan momentum itu untuk menundukkan satu Kekaisaran lebih dahulu. Terserah Kekaisaran Wei atau Kekaisaran Qing. Yang jelas dukungan Kekaisaran Shang ada di tangan kita."
Mendengar penjelasan tersebut mereka sedikit lebih lega dari sebelumnya.
"Aku akan mengirimkan surat padanya. Untuk mempersiapkan ratusan ribu prajurit perang. Kita hanya memiliki waktu delapan bulan lagi sebelum Perjanjian Berdarah habis dan Kekaisaran Qing memulai perang besar-besaran lagi."
"Mereka memiliki Naga Kegelapan di sisi mereka dan juga Pedang Iblis. Aku tak tahu ..." Xin Chen mendadak berhenti, membuat yang lain menoleh padanya penasaran.
"Ada apa, Tuan Muda?" Lan Zhuxian bersuara.
"Lupakan. Kembali dengan permasalahan atas penyerangan Bai Huang."
Xin Chen menjelaskan kembali seperti apa yang dikatakannya pada Tian Xi dan Bai Huang sebelumnya, tentang kepergiannya ke Kekaisaran Qing dan bergabung dalam aliansi perang musuh. Tentu saja rencana nekat kedua Xin Chen membuat yang lain terperangah.
Dia sudah mempertimbangkan segalanya. Seperti apa kata Tian Xi, Empat Unit Pengintai sekarang tak akan mampu meladeni musuh yang berjumlah ratusan ribu. Terlebih lagi mereka dibekali oleh persiapan matang dan dana yang jauh lebih besar. Tak menutupi kemungkinan pula musuh melebihi angka dua ratus ribu. Dan itu adalah jumlah yang juga cukup untuk mengambil alih sebagian Kekaisaran Shang.
Lao Zi merasa rapat ini seperti hanya mimpi belaka. Tidak, mungkin pembahasannya saja yang tidak terdengar masuk akal.
"Satu melawan ratusan ribu?"
"Aku sudah mengatakannya sepuluh kali. Bukan aku yang menghadapi secara langsung. Mereka akan tumbang dengan hukumku. Sampai di sini jangan ada yang bertanya apa dan kenapa. Tugas kalian adalah mempersiapkan prajurit dan perlengkapan perang tanpa diketahui oleh musuh. Aku akan meninggalkan semua uang yang ku miliki demi perang ini. Jika ku dengar satu saja dari kalian mundur ..."
__ADS_1
Xin Chen mengangkat wajahnya, dia juga membuka matanya lebar-lebar.
"Silakan saja pergi. Tapi aku tak menjamin nyawa kalian di luar sana. Apalagi setelah mendengarkan semua rencana ku."
"Ba-baik Tuan Muda!"
"Rapat selesai!"
Anggota Unit Satu dibubarkan, namun tak satu pun mau berdiri dari sana. Xin Chen menatap mereka satu per satu.
"Sepertinya aku memang harus mendengarkan kalian. Siapa yang mau bicara pertama? Silakan berdiskusi, aku akan mendengarnya."
Yang lain akhirnya dapat mengeluarkan pendapat. Yang pertama sudah pasti Shui. Walaupun dia sebenarnya ikut-ikut saja. Dibilang berperang dia akan berperang. Daripada tidak ada kerjaan di dasar laut seperti dulu.
"Mengenai kepergian mu itu, kau yakin tak membawa rekan?"
"Tidak. Aku pergi sendiri. Tidak ada debat. Karena ini cukup bahaya dan identitas kalian dengan mudah diketahui. Sementara aku sudah lama menghilang, tujuh tahun. Kabar kematianku sudah sampai ke telinga mereka. Kurasa hal ini cukup menguntungkan bagiku."
"Bagaimana jika mereka melakukan penyerangan lebih awal dari yang kita duga? Atau ada pihak lain yang menghancurkan musuh sebelum mereka?"
"Bagaimana saya dapat memberi tahu perkembangan markas kepada Tuan Muda?"
Xin Chen menggeleng, "Tidak perlu. Aku akan menutup komunikasi dengan kalian. Mungkin hanya akan mengandalkan penjual Informasi untuk mengetahui keadaan Empat Unit Pengintai. Musuh kita bukan orang biasa. Bisa berbahaya jika misi ini gagal."
Diskusi berlanjut begitu lama, bahkan yang lain sampai lupa makan. Dari pagi sampai malam hari baru mereka selesai, Xin Chen menarik napas dalam-dalam. Tampaknya lebih pusing mengurusi pertanyaan Unit Satu daripada merencanakan penyusupannya sendiri.
Semua orang sudah kembali ke tempat masing-masing, kecuali Shui. Si Surai Biru itu merangkulnya.
"Mau dengar sesuatu dariku?"
"Apa?"
__ADS_1
"Ke mana kau pergi saat aku di rumah terkutuk itu?"
"Ke YuangXe. Mereka tidak memberi tahumu?"
"Tidak. Kami pulang Bai Huang sudah terluka parah. Kakinya terkena tusukan dalam." Shui menjadi omongannya, menengok ke samping sambil menepuk-nepuk pundak Xin Chen.
"Kau masih belum berubah."
Xin Chen tak mengerti apa yang dibicarakan Shui, dia hanya mengangkat sebelah alis. Sementara itu Shui benar-benar ingin menjitak kepala Xin Chen.
"Kau selalu melimpahkan semua masalah pada dirimu sendiri. Tak ingin orang lain terlibat karena takut mereka tewas di pertarungan. Sebaliknya, kau hanya mengandalkan dirimu sendiri. Merasa nyawamu cukup untuk menebus jumlah korban yang seharusnya tewas?"
Tidak ada pembelaan dari mulut Xin Chen. Berarti Shui benar.
"Ck, jujur saja dengan begini kau hanya akan terus menyiksa dirimu. Menanggung semua beban dan tak berharap siapa pun menolongmu. Kau itu termasuk manusia langka, jarang sekali aku melihat orang yang bodohnya sudah mengalir sampai ke darah daging sepertimu."
Xin Chen mempercepat langkahnya, meninggalkan Shui di belakang. "Hais, sudahlah! Kepala batu ini memang susah dibilang! Kau tunggu aku mati dulu baru mau mendengarku?"
Xin Chen tertegun agak lama. Dia menoleh ke tempat Shui yang membalas tatapannya jengah.
"Apa? Sepertinya kataku tadi menyinggung mu?"
Shui menyusul cepat, takut Xin Chen berubah pikiran. Wajahnya berubah meyakinkan saat berbicara.
"Kau pernah mendengar Salamender Api, 'kan? Rubah Petir pasti pernah mengatakannya padamu!"
"Salamender Api?" Dia mengingat-ingat, hanya samar tapi nama itu memang pernah didengarnya dulu. Mungkin saat perang.
"Dia pernah mengatakan sesuatu seperti 'seandainya Salamender Api ada di sini'. Kau tahu, Naga Kegelapan harus dibunuh dengan bantuan sesama Siluman Penguasa Bumi. Hanya beberapa yang tersisa dari kami dan kurasa kau juga harus mencarinya."
"Dalam waktu delapan bulan ini?"
__ADS_1
"Kalau tidak, kau bahkan tak akan sanggup untuk menyingkirkan satu pun kepala orang Kekaisaran Qing. Jika kau berubah pikiran temui aku besok."
***