Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 80 - Bangkitnya Bunga Api


__ADS_3

"Hadapi aku kalau bisa!" Rubah Petir maju melindungi Ye Long, entah naga itu tahu bagaimana cara mengembalikan roh Xin Chen yang telah terpisah dari tubuhnya. Rubah Petir juga tak tahu. Yang dilakukannya hanya menjaga naga itu untuk membantu menyelamatkan Xin Chen.


Tanda Bunga Api di kening Xin Chen menyala dalam gelapnya malam, saat pemuda kecil itu membuka matanya sinar bercahaya merah juga muncul. Ye Long berhasil menyelamatkan kesadaran spiritualnya yang telah diserap roh milik Zhang Ziyi.


Xin Chen terkejut saat menyadari Ye Long menggunakan api dari mulutnya untuk memancing tanda Bunga Api muncul. Sebuah wujud dari alam bawah sadar Xin Chen sendiri. Saat rohnya direnggut oleh para roh, Bunga Api bekerja dengan sendirinya. Menyelamatkan jiwa sang pemilik dan menguncinya di alam bawah sadar.


Ye Long membakar lubang roh yang menyerap jiwa Xin Chen di bawah beberapa kali hingga kekuatan Zhang Ziyi sempat terganggu walaupun hanya sepersekian detik saja.


Rubah Petir dapat menarik napas lega, "Pantas saja aku sering mendengar dari Lang kalau peliharaan seperti kalian memang lebih mengerti diri majikan kalian dibandingkan dirinya sendiri."


Tak lama Ye Long mendesis kencang ke arah Zhang Ziyi, mengepakkan sayapnya dan terbang dalam kecepatan tinggi ke atas langit, menembus awan-awan gelap layaknya anak panah yang melesat tajam.


Menghasilkan suara nyaring akibat udara yang bergesekan dengan tubuh hitam bersisiknya seperti kilat. Di satu sisi Xin Chen menarik napas, dapat merasakan tubuhnya sendiri setelah sebelumnya kehilangan kendali.


Di saat itu terdengar suara siulan dari mulut Xin Chen, membuat Zhang Ziyi sadar tak sadar mengumpat. Itu adalah bunyi dari Irama Kematian, sebuah jurus yang digunakan dari Kekaisaran Qing untuk memadamkan jiwa. Tidak hanya manusia saja, para roh, siluman serta apapun yang bergerak berdasarkan kesadaran akan terkena dampak dari irama ini.


Hanya dengan siulan saja, jika penggunanya memiliki penguasaan sempurna orang-orang bisa terbunuh tanpa bergerak dari tempat mereka. Mati dalam keadaan paling misterius.


"Untuk hal inilah aku harus membunuhmu. Kau akan menjadi pesaing alamiku sebelum aku bisa mengendalikan semua manusia di dunia ini."


"Menguasai dunia, katamu?" Rubah Petir mendecak, "Lakukan saja di alam mimpimu."

__ADS_1


"Hm... Sepertinya rubah ini sudah tidak menahan diri lagi? Kenapa? Kau tidak takut pada manusia menyadari kehadiranmu?"


"Jika ini untuk menghentikan penjahat besar sepertimu aku tidak akan segan-segan."


Burung-burung petir berteriak seolah membelah langit, kabut hitam berdatangan seiring berjalannya waktu. Saat Rubah Petir berniat membuat hujan dengan kekuatannya, Zhang Ziyi lebih dulu mengeluarkan ancaman.


"Kau yakin ingin membuat hujan? Jika hujan turun maka awan yang melingkari bulan itu akan sirna. Dan kuberi tahu saja padamu..." Senyum licik tergambarkan di wajah mengerikannya. "Roh para penduduk desa itu sedang berada dalam kendali jurusku. Jika kau menggagalkannya, semua jiwa itu lebih cepat terpisah dari tubuh mereka."


Rubah Petir menggeram kesal. "Liciknya kau, manusia sialan."


"Dan kalian bangsa siluman, roh atau binatang hanya akan menjadi budak para manusia. Diperintah tanpa bisa mengeluh... Hahahaha ini menggelikan, persahabatan antara manusia dan siluman?" Zhang Ziyi seolah menunjuk Xin Chen dan Naga Hitam dengan ekor matanya. "Suatu saat akan kubuat pertemanan menjijikkan kalian itu hancur, Kekaisaran Shang akan menjadi milik ku."


"Hahahaha," tawa Wei Feng tiba-tiba terdengar, Zhang Ziyi membesarkan bola matanya. Yakin pria itu juga terkena dampak dari jurus Pengendali Roh.


Wajah Zhang Ziyi memerah murka, dia menghilang dalam udara dan muncul begitu saja di depan Wei Feng. Mencengkram rahang pria itu sampai terasa berbunyi gemeretak, Wei Feng tak bergeming. Sepertinya pria itu sedang tertawa, tak bisa menyembunyikan tertawaan mengejek meskipun Zhang Ziyi tepat di depan mukanya.


"Mengincar yang lemah, memilih membunuh semut-semut daripada para singa kelaparan di neraka sana. Kukira jika kau sama saja seperti pengecut. Menggelikan, seperti kata kau tadi."


Zhang Ziyi mengeratkan cengkramannya hingga Wei Feng tak bisa berkata lagi, pria itu mengibaskan tangan kanannya hingga memunculkan pedang penuh aura hitam. "Orang sepertimu sudah seharusnya mati saja."


Sebelum Zhang Ziyi membunuh Wei Feng, sesuatu sedang terjadi di belakangnya. Mata Rubah Petir terus memindai Xin Chen teliti. Siulan dari mulutnya mengundang para roh milik Zhang Ziyi, meski hanya sebagian mereka tetap mengikuti kehendak Xin Chen melalui irama yang dibuatnya.

__ADS_1


"Chen, kau yakin ingin bertarung dengan orang itu?" tiba-tiba saja Rubah Petir berucap demikian, mengalahkan musuh yang tak tertembus dan nyaris tak memiliki kelemahan adalah hal mustahil untuk Xin Chen. meskipun dia masih memiliki peluang menang menggunakan Irama Kematian.


Xin Chen menoleh ke arah Rubah Petir sebelum pergi menyelamatkan Wei Feng, "Ayahku pernah mengatakan, selama hidupnya dia sudah pernah mati dua kali. Awalnya kukira hal itu tidak mungkin apalagi jika aku sendiri yang melakukannya. Tapi hari ini aku benar-benar paham. Aku bahkan sudah merasakan kematian lebih dari seratus kali, dan tidak benar-benar mati. Walaupun rohku diambil. Dunia akhirat mungkin satu-satunya hal yang tidak akan pernah aku jumpai selamanya."


Rubah Petir tertegun hingga akhirnya Xin Chen menghilang sekejap mata. Tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya. Melihat dengan jurus ilmu hitam tingkat tinggi saja tidak bisa membuat anak itu mati, bahkan dengan memadamkan jiwanya sekalipun, Xin Chen akan tetap abadi di dunia ini.


"Itu artinya... Bahkan di saat aku mati pun, kau akan tetap berjalan di dunia ini. Saat semuanya telah tiada, kau–"


Rubah Petir menatap Xin Chen yang sedang menyiapkan serangan kejutan, "Kau akan tetap abadi di dunia ini."


Xin Chen mengeluarkan senjatanya, Pedang Baja Phoenix bersiap menikam Zhang Ziyi dari belakang. Sadar ada seseorang sedang memburunya pria itu menyingkirkan diri, membuat serangan kejutan Xin Chen gagal begitu saja.


"Kau tahu senjata tajam takkan berefek apapun padaku?" Zhang Ziyi memamerkan senyum beringas, mencengkram udara dan mengumpulkan senjata hidupnya; roh-roh manusia itu menyerang Xin Chen dalam kecepatan tinggi.


Sejengkal lagi mereka akan menyerang Xin Chen, sebuah pelindung roh tercipta dan menghalau jalur musuh. Membuat mata Zhang Ziyi membeliak lebar.


"Me-mereka semua roh milikku!"


"Milikmu? Kenapa mereka tidak mematuhimu kalau memang benar seperti yang kau katakan?"


"Jangan katakan kau tidak hanya mempelajari dasar Irama Kematian?" Zhang Ziyi merapatkan kedua alisnya curiga, terakhir kali melihat Xin Chen secara diam-diam dia melihatnya berhasil mempelajari dasar Irama Kematian dan hampir saja ketahuan oleh Rubah Petir, hanya butuh waktu sebulan, Xin Chen kembali menunjukkan perkembangan yang tak masuk di akal.

__ADS_1


"Benarkah? Sepertinya kau tidak tahu alunan Senandung Air yang dipelajari para biksu untuk melemahkan para mahluk halus."


__ADS_2