Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 217 - Ahli Strategi


__ADS_3

Tian Xi menyerbu tangan Lan Zhuxian, "Dengan senang hati bisa berniaga denganmu."


"Oi, Pendek Dungu. Aku belum mengambil keputusan apa-apa." Nan Ran mengatakannya agak kesal, Tian Xi itu orangnya memang sembarangan jika sudah tertarik dengan sesuatu. Mungkin terlalu banyak membaca buku dan sejarah-sejarah membuat otaknya sedikit aneh.


"Apalagi yang kita tunggu. Uang adalah segala-galanya jika kau ingin hidup. Tidak peduli seperti apa jalannya, aku sudah bosan menyamar menjadi pelayan. Menyebalkan sekali."


Nan Ran memijit batang hidungnya, kepala mulai berdenyut memikirkan perangai Tian Xi ini. Mereka baru kenal dua bulan tapi kelakuan pemuda ini sungguh di luar nalarnya. Terakhir kali Tian Xi bekerja sebagai pelayan di rumah bangsawan desa, karena satu-dua hal sepele dia membakar rumah tersebut. Untung saja dia tidak dicurigai sebagai pelaku dan masih bebas berkeliaran seperti sekarang.


Tapi pertimbangan Nan Ran tak bisa sebatas tentang uang saja, dengan mengikuti rencana mereka itu artinya mereka siap bertanggung jawab untuk segala hal.


"Bagaimana? Sudah sepakat?"


Nan Ran menatap adik perempuannya yang hanya mengangkat bahu.


"Aku ikut saja."


Kali ini Nan Ran beralih ke Tian Xi, belum-belum pemuda itu sudah berseru, "Kesepakatan selesai! Kita menerima tawaran Lan Zhuxian. Berkeberatan?"


"Bilang saja kau mau menggunakan kekuatan ini untuk mengusili klanmu di Kekaisaran Qing."


Tian Xi menertawai itu semua, sedang Nan Ran memasang wajah ketus.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" Mata Nan Ran bergulir ke arah Lan Zhuxian.


"Saya akan menyebarkan informasi perekrutan ini, ada beberapa orang yang bisa kita sewa cuma-cuma, mereka kenalan saya. Selebih itu apa kalian punya kenalan atau seseorang yang mungkin mau bergabung bersama kita?"


Nan Ran berpikir agak lama sebelum akhirnya hanya menggelengkan kepala. Walaupun agak lama tinggal di Kekaisaran ini, Nan Ran tak memiliki cukup banyak kenalan. Sama halnya seperti Nan Yin, mereka cukup jarang bersosialisasi dengan orang lain. Hanya ingin berbicara jika sudah mengenalnya.

__ADS_1


Lan Zhuxian mengartikan diamnya mereka sebagai jawaban, baru hendak berbicara kembali Tian Xi menyeloteh. "Jangan melupakanku, untuk urusan kenalan, kau bisa mengandalkanku."


"Benarkah, Tuan?"


"Ya ... Tentu saja. Seribu koin perunggu dulu-"


Belum menyelesaikan perkataannya Nan Ran langsung menjitak kepala Tian Xi.


"Ini juga demi keselamatan kita, jangan mencari keuntungan demi dirimu sendiri, pendek."


Tian Xi mencibirnya, "Baiklah, baiklah!"


Pemuda itu menghela napas malas, " Begini-begini aku juga pernah menjadi seorang prajurit." Ceritanya dengan sedikit sombong. Nan Ran langsung menyela.


"Jangan bohong. Kau bukan rakyat Kekaisaran Shang. Tidak punya tanda pengenal juga. Menjadi prajurit bukan pekerjaan kanak-kanak. Asal kau tahu."


Nan Ran memang tidak begitu mengenal siapa sosok yang Tian Xi maksud, tapi sedikit tahu tentangnya, Tian Xi memang bukan orang tidak berada. Lebih tepatnya dia orang yang menduduki kelas atas, dibimbing begitu ketat untuk menjadi penerus keluarga jenius. Hanya saja karena terlalu dikekang oleh keluarga membuat pemuda itu memberontak dan meninggalkan rumah menjadi gelandangan berdarah bangsawan di Kekaisaran Shang.


"Tapi menjadi seorang mantan prajurit saja tidak cukup untuk menggerakkan orang-orang itu. Mereka harus mendapatkan persetujuan dari atasan, laporan segala macamnya yang takkan sempat selesai dalam tujuh hari. Itu tidak mungkin."


"Itu jika mereka seorang prajurit ..."


Lan Zhuxian menatap Tian Xi, mengerti alur pikirannya.


"Jika mereka bukan prajurit, tidak masalah. Itu artinya kita membutuhkan kelompok baru. Tidak perlu diakui atau tidak, berperang dengan tujuan memperjuangkan tanah ini, memang siapa yang hendak menghentikan?" Lan Zhuxian melanjutkan, "Tapi memang mereka akan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai prajurit dengan cuma-cuma hanya karena bergabung dengan kita?"


"Kita membutuhkan uang ..." Nan Ran mulai berpikir untuk menyogok, biasa cara seperti itu paling ampuh.

__ADS_1


Tian Xi tertawa kecil, "Kita bisa membeli mereka dengan pikiran."


Lalu pemuda itu tersenyum penuh arti, Lan Zhuxian kali ini tidak mengerti apa yang dikatakannya dan hanya diam menunggu pemuda itu menjelaskan.


"Idealisme seorang prajurit itu sama. Mereka akan berperang demi tanah yang mereka lindungi. Terserah siapa yang menjadi atasan mereka. Apalagi pemerintahan busuk sekarang ini, aku dengar banyak yang hendak hengkang dari pekerjaan itu." Tian Xi mengusap-usap tangannya tak sabar. "Ikan tangkapan kita pasti banyak, Lan Zhuxian. Hahahhaha!"


*


Dengan kecepatan penuh Xin Chen dapat kembali ke Kota Fanlu dalam kurun waktu satu hari. Malam hari telah datang, seperti terakhir kali mendatangi tempat ini, dia tiba pada tengah malam yang dingin dan sepi.


Hanya sayup-sayup bunyi burung imigran yang melintas terdengar di atas langit, Xin Chen hendak mencari penginapan. Mungkin dia akan melakukan pencarian besok. Aliansi Pedang Suci, mungkin orang-orang itu masih tersisa setelah perang terjadi. Ho Xiuhan dan Chang Wei mungkin masih hidup, terakhir kali mereka hanya tersisa 20 orang.


Namun di satu titik, dia bisa melihat sebuah rumah diterangi pencahayaan dan puluhan orang berdiri di depan halamannya dengan wajah cemas. Mereka adalah prajurit, terlihat terluka parah.


Tapi meski pun luka itu membuat sekujur tubuh mereka sakit, para prajurit itu tak peduli dan justru lebih panik terhadap sesuatu yang terjadi di dalam rumah.


Xin Chen mendekat, membaur di antara orang-orang yang sedang sibuk. Kemudian bertanya pada seorang prajurit yang tampaknya paling tua, "Ada apa? Kenapa begitu ramai di malam selarut ini?"


Pria itu menoleh ke arah Xin Chen, mengernyit. Merasa Xin Chen pendatang baru di tempat mereka. "Mungkin kau baru tahu, tapi malam di Kota Fanlu lebih banyak orang tidak tidur. Tapi jika kau bertanya tentang apa yang terjadi sekarang ..." Pria itu menatap ke dalam rumah yang begitu kacau.


"Kami gagal. Kami gagal lagi. Terus menerus. Kami memang selalu gagal." Pria tua itu memegang lengan kirinya, lalu pergi dari samping Xin Chen tanpa menjelaskan apa pun lagi.


Xin Chen sebenarnya ingin memastikan, tapi dia tidak bisa sembarangan masuk. Di sekitarnya mayat-mayat yang berhasil dibawa kembali ke Kota Fanlu segera dimakamkan, mereka babak belur dan sebagian mati tanpa kepala. Hal itu tentu saja membuat Xin Chen semakin panik. Siapa pemilik rumah tersebut dan mengapa ada banyak prajurit di halaman rumahnya yang terluka.


Firasatnya menjadi tidak enak. Xin Chen hanya bisa memperhatikan iring-iringan yang berdatangan di sekitarnya. Beberapa menabraknya karena terlalu terburu-buru. Keluarga prajurit yang telah meninggal menangis meratapi kematian suami dan ayah mereka. Tangisan yang begitu pilu itu membuat suasana berkabung menjadi semakin terasa.


Xin Chen mendapati seorang anak berusia sepuluh tahun yang bersimpuh sendirian di depan seorang mayat yang kemungkinan adalah ayahnya. Tidak ada ibu, kakak, atau saudara lain. Dia sebatang kara. Xin Chen berusaha mendekati hingga suara seseorang membuatnya membatu.

__ADS_1


"Xin Chen ...?"


__ADS_2