Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 230 - Keputusan Sepihak


__ADS_3

"Kau akan merasakan akibatnya jika bermain-main dengan kami!"


Satu dari mereka maju, sebelah tangannya ditutupi oleh kain perban yang besar. Laki-laki dengan wajah aneh itu melepaskan kainnya hingga terlihat tangan dengan kulit licin berotot di sana. Tangan itu lebih besar dari pada tangan sebelahnya, hasil percobaan para alkemis dari Kekaisaran Wei. Sebagai kelompok yang tidak bergera di bawah pemerintahan mana pun, Empat Unit Pengintai bebas bernegosiasi dengan siapa pun. Hal itulah yang membuat kelompok mereka semakin kuat, mereka memiliki banyak sumber kekuatan di sekitar mereka.


Laki-laki itu memamerkan tangannya dengan bangga, melihat reaksi Xin Chen yang saat itu menata tangannya. "Aku cukup yakin kau sudah kehabisan kekuatanmu untuk mengendalikan roh sehingga kau memutuskan menampakkan diri untuk menghadapi kami. Keputusan terburuk, kau akan menghadapiku. Pastikan kematianmu takkan sia-sia, anak muda!"


"Oi, oi. Jangan senang dulu, dia lawanku. Katak jelek. Tangan berlendirmu itu takkan sepadan dengannya, sadar diri dulu."


"Kau kira kau sudah hebat? Hah?! Mau berduel untuk membuktikan siapa yang lebih kuat?"


Seorang pengguna pedang maju, dia terlihat sangat biasa-bahkan tidak ada yang terlalu menonjol darinya seperti anggota Empat Unit Pengintai yang lain. Masih tampak muda dan raut wajahnya selalu optimis, dia membungkuk memberi salam.


"Aku sudah memutuskan," ucapnya tenang. Dan karena itu dua orang yang berdebat tadi terdiam membisu, mereka memilih tak berbicara jika orang itu yang mengambil alih. "Kita akan berduel, satu lawan satu. Siapa yang menang akan mendapatkan tempat ini, setuju?"


Malam buta hendak berganti pagi, udara dingin menembus jubah bulan darah Xin Chen, hawa sejuk itu membuat genangan darah diselimuti embun tipis. Hanya ada kesunyian saat pria pengguna pedang tadi menentukan pilihannya, melihat Xin Chen enggan menjawabnya, dia menganggap diam itu sebagai jawaban setuju.


"Baiklah, aku tak akan segan-segan. Kau boleh menentukan, pilih pertarungan hidup dan mati atau hanya duel biasa?"


"Kita memperebutkan dua hal." Xin Chen berkata cepat, Feng Guzu, laki-laki berpedang itu memiringkan kepalanya bingung tapi cukup tertarik. "Apa itu? Aku akan menyetujuinya jika itu tidak memberatkan pihak kami."

__ADS_1


"Tanah Lembah Para Dewa dan Bendera Empat Unit Pengintai, tidak ada kesepakatan lain atau enyah dari sini."


"Wah ... Wah. Kau cukup berani juga." Feng Guzu merasa tersinggung oleh usiran Xin Chen tadi. Meski pun bukan tempat mereka,tanah ini lebih dulu mereka tempati sebelum Xin Chen datang. Feng Guzu memiliki hak atas tanah ini dan dia tak sudi menyerahkannya begitu saja kepada Xin Chen. Anggota Empat Unit Pengintai yang lain tertawa, Xin Chen terlalu gegabah bagi mereka.


"Kau kehilangan kekuatanmu gara-gara melindungi kawasan ini dan hendak mengancam kami dengan cara kotor? Kami sudah menawarkan kesepakatan yang mudah padamu, satu lawan satu. Lebih adil, bukan? Atau mau satu lawan tiga puluh sekaligus tidak masalah. Tapi akan menjadi masalah bagimu. Hahahha." Feng Guzu terlihat berpikir sambil mempertimbangkan sesuatu.


"Kalau kau menang satu lawan tiga satu, nama Empat Unit Pengintai jatuh di tanganmu. Kalau kalah ..." Feng Guzu berdeham, memikirkannya sambil menatap lurus ke depannya, "Pusaka langit di tanganmu dan tanah ini menjadi milik kami. Sepakat?"


Feng Guzu memang tak begitu pandai dalam bernegosiasi, penawarannya berat sebelah. Pemimpin Empat Unit Pengintai yang lain sampai ingin menentang keputusan laki-laki itu. Tapi dibandingkan yang lainnya, meski pun bukan dirinya yang terkuat. Feng Guzu memiliki jiwa kepemimpinan tinggi sehingga Empat Unit Pengintai sering kali bergerak di bawah perintahnya.


Dia yakin Xin Chen tak akan berani mengambil penawaran itu, mengngat kekuatan rohnya mungkin telah habis saat melindungi tanah ini. Terlihat jelas saat ini kabut hitam yang menyelimuti Lembah Para Dewa telah menghilang.


"Kau pikir kau siapa mengatur-atur pilihanku?"


Mendadak Lembah Para Dewa menjadi tanah paling suram yang gelap oleh kabut hitam tebal. Ilusi para roh dimulai, Xin Chen tertawa sinis. "Kita akhiri ini dengan cepat, pastikan rohmu lebih berguna dari pada kau yang sekarang."


"Kitab Pengendali Roh - Tarian Dua Belas Roh."


Dua belas wujud roh berbentuk penari muncul, Xin Chen meniupkan serulingnya. Memberikan kesadaran pada kedua belas roh mematikan itu, jurus yang cukup tinggi dan didasari penguasaan pengendalian yang mahir. Kedua belas roh itu menjadi mimpi buruk pertama bagi yang paling lemah di antara Empat Unit Pengintai.

__ADS_1


Irama seruling semakin meninggi dan bergejolak menyerukan nyanyian perang, Feng Guzu tak serta merta diam, dia menyerang Xin Chen kompak dalam formasi empat pembunuh. Teknik yang mereka miliki dan paling ampuh untuk menghadapi lawan mereka yang kuat.


"Kalian melupakan sesuatu?" Xin Chen terdengar seperti berada di sampingnya, Feng Guzu menoleh panik. "Jika aku mau, aku bisa bertarung tanpa menampakkan wujudku. Tidak peduli adil apa tida, oran-orang seperti kalian lebih penting menang atau kalah dari pada cara menang itu sendiri bagaimana, bukan? Aku dengan senang hati akan membuatnya tak imbang."


Tiga orang jatuh dan jadi bulan-bulanan kedua belas roh, mereka mencekik dan memakannya hingga wjud manusia itu mengabu di udara. Feng Guzu yang menyadari tiga orang dari mereka sudah tumbang mulai panik. Dia harus memastikan keadaan kelompoknya harus selamat.


Feng Guzu tak berpikir dia akan melakukannya hari ini, mundur saat mengetahui sejauh mana kemampuan Xin Chen. Andai dia tahu lebih awal, bahwa Xin Chen sudah dua kali lebih tinggi tingkatnya daripada pengendali roh seperti Zhang Ziyi. Dia harus menata rencana ulang, itu yang dipikirkannya saat ini.


"Mundurkan-" tenggorokan Feng Guzu tercekik hingga tak bisa berkata apa-apa lagi. Tempatnya berdiri sudah dikelilingi oleh api biru yang begitu tinggi, dan kungkungan itu perlahan menutup hingga tidak ada jalur keluar.


Di luar Xin Chen mengangkat tinggi pedangnya, bertarung dengan anggota Empat Unit Pengintai lain. Mereka sangat-sanagt tangguh sekaligus lincah, hanya membunuh satu dari mereka saja sulitnya melebihi apa pun. Ada yang menggunakan kapak besar, setiap hentakan serangnya sudah pasti akan membelah Xin Chen andai dia tak memakai wujud roh. Selain itu, di antara mereka terdapat satu orang berpakaian serba hitam. Dia hanya memperhatikan dari kejauhan, seluruh tangannya terlilit benang ketat. Dan yang dirapalkannya hanya membacakan bahasa aneh.


Xin Chen tidak bisa mengurusi orang itu karena posisinya berdiri jauh dari tempatnya bertarung. Tidak seperti sebelumnya, dia hanya bisa menumbangkan dua orang dengan pedang. Kekuatan mereka berimbang dengan Xin Chen.


Shui kembali turun ke medan perang setelah mendapatkan kabar tentang Nan Yin yang disandera, dia sembarangan menerjang. Melemparkan cakram air tajam yang sanggup memotong tubuh manusia, sayangnya posisinya berdiri terlalu rawan hingga ahli magis yang menonton pertarungan mereka berhasil menjerat Shui.


***


Hari ini super-super crazy update, yipii

__ADS_1


cuma mau ingetin, like-nya yang merata ya! jangan lupa, klo mau sekalian vote+follow kak vi juga boleh 🤍


__ADS_2