Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 232 - Kehilangan


__ADS_3

"Aku masih menyisakan 140 orang dalam keadaan sehat. Mereka bisa bekerja di sini, dan semua harta di tempat ini sudah kukumpulkan bersama mereka di gudang bawah tanah. Hanya menunggu perintah tuan untuk mulai beroperasi di tempat ini."


"Hai? Kita tidak merayakan dulu kemenangan ini? Yang benar saja!" Nan Ran menggaruk telinganya, sementara itu Lan Zhuxian ikut berkumpul ke arah mereka. Menunduk pelan.


"Saya sudah mengumpulkan semua jasadnya. Beberapa barang yang tersisa dan informasi yang bisa kita dapatkan. Kelompok ini masih memiliki cabang-cabang kecil di Kekaisaran Shang. Tapi tidak begitu berbahaya, kita sudah mengambil alih kelompok terbesar mereka."


Lan Zhuxian menyerahkan jubah milik Feng Guzu, Xin Chen menerimanya dan mengangkatnya tinggi.


"Empat Unit Pengintai sekarang adalah milik kita!"


Teriakan serempak seolah-olah mengudara, prajurit berkumpul dan semua anggota baru telah terbentuk. Tanpa mereka sadari matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur, hari-hari yang melelahkan berlalu begitu saja. Xin Chen menarik napas dalam. Dia meninggalkan kerumunan dan menuju tempat yang lebih sepi. Menyadari tubuhnya sempat terkena luka sayatan sebelum menggunakan wujud roh.


"Tuan Muda, anda tidak apa-apa?" Lao Zi sang pemanah bertanya, dia satu-satunya yang melihat saat pertarungan Xin Chen melawan tiga puluh lebih pasukan utama Empat Unit Pengintai. Dia tahu benar siapa tuannya saat ini dan rela melepaskan pekerjaannya pada Kaisar Qin yang bahkan bayarannya jauh lebih besar dibandingkan menjadi seorang walikota.


"Aku akan pergi setelah ini."


Lao Zi terdiam, "Tapi bukankah kita baru sebentar di sini? Dan juga kita baru berperang. Anda butuh beristirahat. Ditambah lagi keadaan tempat ini sedang tidak stabil."


Xin Chen mengangkat wajahnya, angin dingin menyentuh pipi putihnya. Perasaannya memburuk ketika melihat langit mendung, entah itu memiliki kaitannya dengan sang rubah yang begitu ingin ditemuinya.


Rubah Petir tak ingin menemuinya lagi, begitu kata Shui. Hal itu mengganggu pikiran Xin Chen beberapa kali. Apa yang terjadi pada rubah itu sehingga dia enggan menampakkan diri? Xin Chen merasa salah terbesarnya adalah meninggalkan semua orang saat keadaan sedang buruk. Dia tak bisa memahami apa pun saat ini.


'Aku membuang terlalu banyak hal hari itu. Ye Long, Rubah Petir, keluargaku, teman-temanku ... Dan jati diriku sendiri.' batinnya, Lao Zi tak memahami apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Dia begitu sedih hanya karena memandang langit yang mendung. Cuaca yang sama persis seperti perang dulu.


"Lao Zi, aku percayakan ketentraman di sini padamu. Ada tiga orang dari Kekaisaran Qing yang bersama kita. Aku membawa empat dari kalian yang berasal Kekaisaran Shang. Jangan sampai terjadi perselisihan. Aku mungkin akan pergi lama."

__ADS_1


"Tapi, Tuan Muda-! Bagaimana jika terjadi sesuatu seperti perang di sini?"


"Temanku yang bernama Shui dan juga mantan Pilar Kekaisaran ketiga. Mereka akan menjadi pelindung kalian selagi aku tidak ada."


"Shui itu, dia berasal dari Kekaisaran mana tuan? Keluarga bangsawan apa? Jangan-jangan dia adalah bagian dari ..." Lao Zi takut mengatakan jika mereka adalah satu komplotan dengan bangsawan licik itu. Jujur saja, alasannya meninggalkan istana adalah karena tingkah mereka yang suka adu domba. Lao Zi tak pernah tenang, bahkan orang yang jati dirinya dirahasiakan sepertinya juga sempat terlibat masalah dengan mereka.


Lao Zi sendiri adalah cucu dari mantan Pilar Kekaisaran terdahulu yang setia mengabdi pada Kekaisaran. Dia tak bisa mempercayai Shui begitu saja, terlebih lagi saat pertama kali mengikuti Xin Chen, dia melihat di antara pasukan terdapat satu anak dari bangsawan kota bernama Dong Ye. Entah bagaimana perangai orang itu nantinya, apalagi tanpa Xin Chen. Banyak hal yang membuat pemuda itu khawatir.


"Shui adalah temanku dari dulu, kami sudah kenal bertahun-tahun lalu. Dan dia bukan dari keluarga bangsawan mana pun."


Lao Zi tetap tak yakin, dia sudah melihat sendiri bagaimana Shui bertarung. Dia tidak pandai memegang pedang atau bela diri. Tidak ada yang bisa diunggulkan dari pemuda aneh itu.


Lao Zi tak ingin menyangkal lagi, dia mengiyakan. "Akan kujaga sampai Tuan Muda kembali. Sepertinya orang bernama Lan Zhuxian bisa dipercaya. Tapi, kuharap malam ini Tuan Muda bersedia tinggal untuk merayakan kemenangan kita."


Xin Chen mengangguk kecil, sebelum akhirnya sesosok pemuda berlari riang ke arahnya.


Shui mendekati dua pemuda itu, melihat Lao Zi yang tak asing di matanya. Pemanah itu juga bertarung dari jarak jauh saat mereka bertarung. Tembakannya yang mematikan tadi membunuh setidaknya lima orang dari pihak lawan.


"Namamu, siapa?"


"Lao Zi, Tuan Shui. Maaf baru memperkenalkan diri, senang bertemu dengan anda."


"Oh ... Oi, Chen. Bagaimana? Kita sudah menang. Sekarang apa?" Shui mengalihkan topik pembicaraan.


Lao Zi mengerutkan alis saat Shui tak memakai embel-embel Tuan Muda, atau Tuan Muda Xin kedua. Sebagai anak dari keluarga yang dihormati di Kekaisaran Shang, panggilan Shui tadi terdengar sangat tak sopan. Lao Zi tak berani memberi tahu, dia juga tak mengetahui apa-apa tentang Shui. Pemuda itu izin pamit dengan beralasan ada beberapa hal yang harus dikerjakannya. Lalu pergi meninggalkan Shui dan Xin Chen.

__ADS_1


"Guru Rubah, terakhir kali kau melihatnya di laut lepas Kota Fanlu?"


"Apa yang hendak kau lakukan?" Shui mendecakkan lidah tiga kali, pusing. "Kau sudah diminta untuk tidak menemuinya. Mungkin, dia akan menunjukkan diri sendiri saat masalahnya selesai."


"Bagaimana jika dia membutuhkanku?"


"Membutuhkan manusia, katamu?" Shui sadar tak sadar mengatakannya, pembicaraan mulai serius.


"Aku memang hanya manusia. Tapi jika itu tentang guruku, segala hal akan kulakukan untuk menemuinya. Biar pun harus dibenci olehnya ... Aku hanya ingin memastikannya baik-baik saja."


Shui menyesal, "Chen, maafkan aku. Tapi, aku hanya panik kalau kau meninggalkan tempat ini. Sisa dari mereka akan mengambil alih, kau tahu sendiri bukan mereka sangat kuat?"


"Untuk itu aku memintamu tinggal di sini, mungkin akan memakan waktu lama. Nanti malam kita akan mendiskusikan semuanya. Pastikan kau berkumpul bersama kami."


Shui tampak tak setuju, dia ingin menyela kembali tapi wajah Xin Chen seolah-olah tak menerima penolakan. Dia tidak masalah ditinggalkan di Lembah Para Dewa, tapi tentang menemui Rubah Petir. Shui sudah berjanji pada rubah itu untuk tidak membiarkan Xin Chen menemuinya.


"Kau tidak boleh menemuinya, Chen."


"Kenapa?" Nada bicara Xin Chen berubah, Shui tak jauh bedanya.


"Dia akan semakin membencimu, kau tak pernah mendengarkan omongannya. Itulah yang membuatnya meninggalkanmu."


Xin Chen membisu, melihat ke mata Shui yang masih menyembunyikan sesuatu. Kata-kata itu tepat menusuknya, dia tidak dapat berpikir jernih lagi. Mungkin benar memang salahnya, tapi Xin Chen sadar Shui sedang berbohong.


Amarah yang semula menguasainya hanya bertahan beberapa detik, Xin Chen bersuara.

__ADS_1


"Aku hanya merasa kehilangannya."


Xin Chen melanjutkan dalam hati. 'Aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja. Dan kau menyembunyikan semua itu dariku.'


__ADS_2