Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 307 - Salamender Api V


__ADS_3

Jutaan tahun bukan waktu yang singkat. Dalam waktu yang begitu lama Salamender Api mengenal Rubah Petir, mereka adalah dua kubu yang saling bertengkar dan saling melindungi. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa begitu banyak siluman yang menginginkan perdamaian antara sesamanya, tanpa ada hasrat untuk saling membunuh. Pertemanan Salamender Api dan Rubah Petir bisa dibilang cukup singkat, mereka pun hanya bertemu sebentar. Namun ikatan yang dimiliki Salamender Api terhadap Rubah begitu kuat. Karena baginya, Rubah Petir adalah satu-satunya mahkluk hidup yang bisa dia percayai.


"Aku tak akan bisa memaafkan manusia atas kematian Rubah Petir. Padahal aku sudah mengatakannya ribuan kali pada Rubah Tua itu, manusia adalah pengkhianat. Lebih busuk daripada bangkai, tetapi mengapa dia harus mempercayai kalian?! Apalagi manusia sepertimu! Setelah membuatnya hancur kau datang padaku, tanpa rasa bersalah. Tanpa rasa malu sedikit pun? Aku tahu sekarang. Rubah itu dihukum karena telah mempercayai mahkluk seperti kalian!"


Laut yang semula tenang bergejolak menjadi lautan api merah, mengurung keduanya ke dalam lingkaran panas. Api tersebut semakin meninggi. Membakar roh-roh milik Xin Chen, menghabisi kabut hitam dalam sekejap mata.


"Tutup mulutmu."


"Aku sudah tahu teknikmu. Dan jangan harap kau bisa kabur dariku."


"Tarik lagi kata-katamu." Xin Chen hanya menggumam kecil, namun di kedua tangannya api biru menyala samar. Salamender Api sedikit mengenali perubahan jenis api tersebut, api terlangka yang pernah ada di muka bumi. Api Keabadian yang bisa dikatakan setara dengan kekuatannya. Namun meskipun begitu, Xin Chen pasti akan kalah dalam segi kekuatan. Salamender Api adalah Siluman Penguasa Bumi yang memiliki jumlah kekuatan besar. Manusia mana pun takkan setara dengan mereka.


Sang Salamender mulai merasakan tekanan panas yang berbeda. Sekilas namun sangat membekas.


Salamender Api tak peduli lagi meskipun pemuda itu juga seperti ingin mengamuk.


Kata-kata Salamender Api tadi membuat amarah yang dikubur Xin Chen dalam-dalam seperti ingin meledak. Xin Chen tak dapat mengendalikan kekuatan besar di dalam tubuhnya. Bersamaan dengan bangunnya kekuatan sang Dewa Api, kekuatan Api Keabadian ikut mengamuk.


Salamender Api dibuat terkejut saat permukaan lautan dibakar oleh Api Keabadian. Menyatu bersama kekuatan miliknya. Kedua api merah dan biru saling bertabrakan.


Namun hal itu tak berlangsung lama sebab kekuatan yang dimiliki oleh Salamender Api jauh lebih hebat, Dewa Api menunjukkan dirinya. Hanya sekilas, namun Xin Chen dapat melihat wujudnya yang dipenuhi oleh api membara. Wanita dengan gaun bercorak Merah dan juga mata penuh tipuan. Sang Dewi Api, wanita itu hanya lewat dengan begitu cepat di sampingnya. Terdengar bisikan halus, tetapi terdengar jelas.

__ADS_1


"Jadi kau lah pemberontak hukum langit itu? Jangan membuatku kecewa."


Tak habis tiga detik setelah kemunculan Dewi Api, ledakan besar terdengar menggema dari dalam laut. Lalu gelombang naik hingga menyapu sebagian daratan meski tidak mencapai pemukiman warga.


Suara Sang Dewi Api kembali muncul disertai tawa mengejek yang menyebalkan.


"Hentikanlah jika kau sanggup."


Rupanya api yang sedari tadi berada di laut adalah sumber malapetaka, tubuh Salamender Api bertambah puluhan kali lebih kuat dari sebelumnya. Kulitnya pun ikut berubah, menjadi lebih keras. Kekuatan Xin Chen yang saat ini seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan siluman itu. Dewi Api berpihak padanya, dengan kekuatan Siluman Penguasa Bumi dan juga dukungan Dewi Api, tak akan ada yang mampu menghentikan amukan siluman tersebut.


Saat Salamender Api berteriak, dia mengeluarkan suara yang memiliki irama. Kuat dan membunuh, saat itu ketika Xin Chen berpikir hal itu dikarenakan suara Salamender Api yang memiliki tekanan aneh, dia baru menyadari akan satu hal.


"Para siluman juga tahu cara membunuh dengan suara. Bermain-main dengan jiwa memang sesuatu yang sulit. Bahkan untuk seorang pengendali roh seperti mu."


Benar saja, serangan Api Keabadian tak akan mempan menghancurkan kulit yang sangat tebal itu. Pertarungan terjadi tanpa diduga-duga. Salamender Api memutar tubuhnya yang besar, mengeluarkan suara yang mengeluarkan getaran-getaran aneh. Tak bisa dipungkiri, baru pertama kali ini Xin Chen melihat siluman yang menggunakan kekuatan tersebut.


"Kau terkejut karena dunia di luar perkiraammu?" Salamender Api seolah-olah membaca pikirannya, Xin Chen menghilang kembali. Saat muncul dia meledakan api di tangannya tepat pada mata Salamender Api.


Mata Sang Salamender Api terkena imbas yang cukup parah. Seperti dugaannya, bagian mata adalah bagian yang tak terlindungi oleh kulit tebal seperti tubuh siluman itu. Yang dalam artian lain, mata adalah salah satu titik lemah Salamender Api.


Tak membiarkan Xin Chen menyerang kelemahannya lagi, Salamender Api menciptakan tubuh yang lebih kuat lagi. Dengan jumlah kekuatan tak terbandingi, bukan hal sulit untuk membangun pertahanan terkuat. Kini bagian kepala Salamender Api telah sepenuhnya terlapisi oleh kulit tebal. Bagian matanya tersembunyi dalam kulit kepalanya yang keras, tubuh besar itu terlihat begitu menyeramkan ditambah lagi dengan api yang terus membakar sekujur tubuh mahkluk itu.

__ADS_1


"Demi sahabat ku, Rubah Petir. Aku akan membalaskan dendamnya padamu."


Ratusan api menyerang Xin Chen di berbagai penjuru, dia memakai tubuh rohnya kembali. Namun getaran suara dari Salamender Api mengganggu konsentrasinya. Membuatnya kehilangan fokus. Saat membuka mata ledakan api itu telah berada tepat di depan matanya.


Salamender Api tersenyum penuh kemenangan melihat manusia itu mendapatkan hukuman pertamanya. Dia masih belum puas. Tanpa menunggu lama serangan berikutnya datang ke arah Xin Chen selagi dia kehilangan keseimbangan. Salamender Api merasa di awan-awan. Jelas dia Pernah mempelajari ilmu ini semasa petualangannya di dunia manusia. Dan dengan hal inilah dia dapat bertahan hidup tanpa mengeluarkan kekuatannya yang sebenarnya.


Xin Chen tergeletak di daratan pulau yang tak jauh dari Salamender Api. Sepertinya baru kali ini dia terkena serangan serius. Padahal sebelumnya dia dapat mengandalkan kekuatan roh.


Dia tersenyum miris. "Sejak kapan aku begitu bergantung dengan kekuatan ini?"


Selama ini Xin Chen mulai memikirkannya. Semenjak merebut markas Empat Unit Pengintai dan bertarung melawan Yuhao. Dia menciptakan api biru di kedua telapak tangannya. Melihat Salamender Api yang tengah menuju ke arahnya, matanya terbakar oleh amarah.


"Rupanya bukan hanya aku yang merasa kehilangan atas Rubah Petir."


"Kau tak pantas menyebut namanya!" Salamander Api menyeru kencang.


"Di pertarungan Terakhir ini, jika aku kalah maka aku tak akan menyebut Rubah Petir lagi sebagai Guruku."


Salamender mencerna kata-kata Xin Chen, dia berujar serius. Merasa dirinya pun tak ingin menyia-nyiakan tenaga lebih banyak untuk satu manusia yang hanya membuatnya benci setengah mati. Jika ada cara tercepat untuk menghabisi nyawa manusia itu, maka dengan senang hati akan dilakukannya.


"Jika kau kalah, kau akan mati di tanganku."

__ADS_1


"Aku tak keberatan."


***


__ADS_2