Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 163 - Perang Besar III


__ADS_3

Han Wu berhasil melepaskan diri dari jeratan para roh, mereka terpecah belah ketika pria itu mengamuk. Xin Chen kembali menarik para roh yang berada di bawah kendalinya, dia menjaga jarak dari Han Wu sebaik mungkin. Sadar jika pertarungan jarak dekat hanya lebih cepat mengantarnya pada kekalahan.


Tampaknya Han Wu tahu betul apa yang ada dalam pikiran Xin Chen, dia sadar lawannya itu jauh lebih lemah jika melawan fisiknya yang sudah terlatih begitu keras. Semasa hidupnya Han Wu berlatih di dekat lahar gunung, menyelam di laut yang dalam dan bertahan di tengah badai salju yang ekstrem. Ditambah lagi dia menempa tubuhnya dengan berlatih keras di tempat seperti itu. Ketahanan dan kekebalan tubuhnya nyaris tiada lawan. Jadi tidak heran saat Xin Chen menyambar tubuhnya dengan sengatan petir dan Api merah, Pria itu tetap berdiri kokoh.


'Hah... Ini menyebalkan, dipikir dengan cara apapun monster ini memang susah dikalahkan. Serangan dari Api Keabadianku dapat dielakkannya begitu saja,dan lagi jika terus menerus menggunakan kekuatan dari elemen itu tubuhku akan mengalami masalah serius.' Kebimbangannya itu membuatnya resah, aliran Api Keabadian yang mengalir dalam tubuhnya secara berlebihan dapat membakar bagian dalam tubuh Xin Chen. Dan lagi saat ini energi alam yang seharusnya didapatkannya telah diambil oleh Qiang Jun, tidak ada harapan lagi jika dia terus menerus menyia-nyiakan tenaga dalamnya.


Bunyi gesekan pedang yang memekakkan telinga kian terdengar nyaring di atas sana, tampaknya pertarungan menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya.


Xin Fai lengah sesaat dan Qiang Jun langsung mengambil keuntungan dengan menyerang celah, darah mulai mengaliri bagian dadanya yang sedikit terkoyak oleh sabetan pedang tersebut.


"Dia ... Anakmu?"


Sangat terkejut Xin Fai mendengarnya, tidak ada siapa pun yang mungkin berbicara dengannya kecuali Qiang Jun. Tatapan mata yang hampa tertuju lurus padanya, meski pun demikian raut wajahnya dipenuhi penyesalan. Ada banyak sekali hal yang tak sempat dituturkannya lewat kata-kata.


Tangannya bergetar kecil, tubuhnya melawan keinginan hatinya sendiri. Qiang Jun berusaha menahan dirinya sendiri agar tak menyerang Xin Fai namun hal itu berada di luar kendalinya. Melihat sosok yang memiliki begitu banyak kesamaan dengannya itu menghadapi semua permasalahan ini, rasanya Qiang Jun juga ingin terlahir di era yang sama untuk membantunya.


Tapi apa daya, saat ini bahkan dirinya dipaksa berperan sebagai musuh temannya sendiri. Hal itu melukai harga dirinya sebagai Kaisar Langit, si Bunga Api dari kerajaan. Mengingat bagaimana wajah orang-orang yang mengaguminya saja, Qiang Jun rasanya ingin membuang wajahnya saat ini juga.

__ADS_1


"... Senior Qiang, kau, kau mengingat siapa dirimu?"


Qiang Jun berusaha tertawa meskipun dadanya terasa sesak, "Hahha begitulah. Aku mendapatkan kesadaran ku setelah bertarung denganmu. Kurasa aku sangat mengenalmu dan saat ini kupikir kau memanggilku lagi untuk masalah yang lebih besar," tuturnya lemah.


"Tapi tak kusangka justru akulah yang membuat masalah itu sendiri."


Xin Fai tercekat, segera membantah kata lelaki itu. "Mana mungkin ini terjadi jika mereka tidak seenaknya memanggil jiwamu kemari, dan menjadikan dirimu di balik kehancuran ini ... "


"Kau menahan dirimu karena tak bisa melukaiku, kan?" Qiang Jun hafal betul siapa diri Xin Fai sebenarnya. Dirinya merasa mengenal sosok itu begitu lama, bahkan seperti seorang teman dekat yang selalu bertualang bersamanya.


Qiang Jun mengamati hal yang terjadi di bawahnya, benar apa kata Xin Fai hingga detik ini pun anak itu bukan hanya tak menerima bekas luka apapun melainkan dirinya berhasil memojokkan Han Wu berkali-kali.


"Kekuatan yang diberikan Roh itu adalah anugerah sekaligus kutukan yang harus anakmu terima. Mereka mengizinkan dirinya memakai kekuatan itu dengan imbalan jiwanya, semakin tinggi dia bergantung pada kekuatan tersebut maka pikirannya akan dikacaukan. Di masa depan andai saja anakmu itu tidak berhasil mengendalikan dirinya sendiri bisa kupastikan dia akan menjadi kekacauan yang jauh lebih besar dari apa yang kau lihat saat ini." Panjang lebar Qiang Jun berbicara, mencoba mengalihkan dirinya agar tak dikendalikan oleh sesuatu di dalam pikirannya.


"Hah ... Sebelum kau berbicara begitu aku tahu dia jauh lebih tahu tentang dirinya sendiri."


"Sialnya sekarang manusia busuk itu mulai mengambil kembali kesadaranku, tubuh ini ... Tidak lebih dari sekedar boneka baginya." Qiang Jun mencengram kembali senjatanya. "Tolong hentikan aku atau jika tidak anakmu akan menjadi sasaran 'orang itu'."

__ADS_1


"Orang itu yang kau maksud siapa-!?"


Terlambat, Qiang Jun sudah tak mengatakan apapun sesudahnya, tatapannya kembali seperti semula. Seperti seseorang yang tak bernyawa, Xin Fai menghindar secepat kilat saat kobaran Api Keabadian memenuhi udara di sekitarnya. Naga Kegelapan mengaum kencang, teriakannya menggema dari atas langit.


Rubah Petir baru saja berhasil merobek sayapnya dengan listrik terkuat yang pernah dimilikinya, namun hal itu tak melemahkan Naga Hitam tersebut. Ekornya yang berat berulang kali menghantam tanah, membuat lubang besar yang cukup dalam di sana.


Shui mencoba menggigit kepala naga itu dan Rubah Petir mengurung mereka dengan penjara petir yang ukurannya hampir melebihi separuh dari Kota Renwu. Pertempuran dahsyat itu berkali-kali membuat guncangan hebat.


Naga Kegelapan menghempas kepala Shui hingga membentur kungkungan penjara petir, dia mendobrak tubuh Shui di sana hingga naga itu menjerit kesakitan. Kekuatan mereka sama sekali tidak berimbang. Rubah Petir berusaha menolongnya sebelum Naga Kegelapan melepaskan Shui dan berbalik menyerbunya.


Keadaan kian gawat dari waktu ke waktu, terlihat jelas kini perbedaan kekuatan siluman tersebut saat Naga Kegelapan mulai menampakkan taringnya yang sebenarnya. Dia membakar Rubah Petir dengan apinya, menyerang di saat bersamaan dengan tombak es dan menghentakkan ekornya di tubuh rubah tersebut.


Rubah Petir sendiri mulai kehilangan kendali, dia tidak berpikir jernih lagi seperti yang biasa dilakukannya saat dalam wujud kecil. Insting dan nalurinya sebagai siluman berkata lain, keinginannya menghancurkan sesuatu tanpa perhitungan membuatnya kini berada dalam situasi sulit. Naga Kegelapan jauh lebih gesit dan kuat dibandingkan Rubah Petir. Daya rusak yang ditimbulkan oleh Api Keabadian juga sangat-sangat berbahaya dibandingkan elemen petir miliknya kini.


Ekor Naga Kegelapan membuatnya terpelanting dan terjatuh di atas bukit, cukup jauh dan membuatnya kian mengganas. Telinga Rubah Petir naik, corak hitam abstrak di tubuhnya berganti warna menjadi kuning keemasan. Diiringi dengan ekornya yang bertambah menjadi tiga, pada akhirnya Rubah Petir benar-benar menggunakan seluruh kekuatan yang dia simpan berjuta-juta tahun.


Demi hari ini, hari di mana Lembar Ketiga Kitab Terlarang benar-benar menimbulkan bencana besar.

__ADS_1


__ADS_2