
Rubah Petir membalikkan badan, meski derap kakinya terdengar ringan tapi suasana di sekitarnya berjalan terasa seakan-akan begitu berat.
Hawa-hawa mengerikan kian bertambah kuat saat jarak di antara mereka semakin menipis. Rubah tersebut menciptakan satu hal yang tak pernah terbayangkan oleh Xin Chen.
Semula hanya sebuah bentuk listrik bercabang-cabang yang muncul di dekat si rubah. Hingga muncullah rombongan manusia petir melayang-layang di udara layaknya boneka.
Jumlah mereka bukan lagi puluhan seperti yang biasa Xin Chen lihat, melainkan ratusan dan kesemuanya memiliki aliran listrik bertegangan tinggi.
"Kau mengajakku bertarung?" Rubah Petir memastikan sekali lagi.
Xin Chen agak gentar saat Rubah Petir menunjukkan seperempat kekuatannya, selama ini Xin Chen sendiri tak pernah melihat kekuatan asli Siluman Penguasa Bumi tersebut.
Kalau bisa pun dia yakin bukan hanya Padang rumput, satu kota juga bisa terkena imbas kekuatannya.
"Ya... Kalau kau mau menggunakan separuh kekuatanmu." Pinta Xin Chen, membuat Rubah Petir sedikit tertawa meremehkan. "Kau yakin dengan itu? Tidak pernah melihat bagaimana wujud asliku, bukan? Kalau aku menggunakan separuh kekuatanku, tubuhku juga ikut membesar."
"Membesar? Seukuran Naga yang hari itu kulihat?"
"Ya, sepertinya kau tidak pernah mengetahui sejarah Rubah Petir di masa lalu."
Xin Chen melihat sekeliling sebentar, merasa di tempat mereka berdiri tak ada siapapun yang akan melihat. Dia melebarkan senyum jahilnya, mencoba menguji keberanian Rubah Petir kali ini.
"Kau bilang kau memiliki wujud asli, kan? Kenapa tidak tunjukkan sekarang?"
__ADS_1
"Kau gila? Kau ingin mengundang manusia-manusia untuk mengejarku?" omel Rubah Petir agak kesal, dia tak pernah berpikir untuk benar-benar memakai wujud aslinya yang telah puluhan ribu tahun itu disembunyikan.
Sama halnya seperti Rubah Petir, sebenarnya Naga Air pun masih bisa memperkecil ukuran tubuh mereka dari bentuk raksasa. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak ke manapun tanpa harus dicurigai, tapi sayangnya Naga Air tak memiliki Permata Cahaya Biru untuk menyimpan kekuatan dan memperkecil bobot tubuhnya.
Hal itulah yang membuat dirinya harus mengurung diri selama berjuta-juta ribu tahun di dasar laut. agar keberadaannya tak terendus oleh para manusia serakah.
Rubah Petir cukup terkejut saat respon yang ditunjukkan Xin Chen di luar dugaannya. "Hah... Tak kusangka justru aku memiliki guru yang penakut, sial. Tahu begini lebih baik aku berguru dengan Lang, si serigala tua. Dia pasti lebih berani daripada rubah tua ini."
"Kau menantangku?!" Rubah Petir yang biasanya terlihat tenang mulai terpengaruhi kata-kata Xin Chen, gemuruh besar pun datang menyambar di siang bolong terik nan ini. Xin Chen tak pernah menduga akan muncul kepulan awan yang berputar-putar di atasnya membuat lubang dalam menakutkan dan jaraknya pun sangat rendah hampir menyentuh bumi, mengeluarkan kemarahan sang langit dengan sangat garang.
Lebih terkejut lagi Xin Chen saat muncul raksasa rubah yang ribuan kali lebih menakutkan dari pada Rubah Petir yang biasanya, gigi-gigi taring dan tajam serta corak bulu perak nan indah terpampang jelas.
Meskipun corak bulu Rubah Petir menakjubkan namun kekuatannya sangat berbahaya. Corak bulu Rubah Petir memiliki banyak bentuk di wujud aslinya, menyerupai petir dengan garis-garis hitam abstrak.
Mereka menyambar Xin Chen seperti dapat melihat anak itu sedang berlari ke mana. Sedangkan itu tangan Rubah Petir yang sepuluh kali lebih besar dari tubuh Xin Chen ikut menyerang. Satu kali saja terkena tebasan cakar itu, Xin Chen yakin abu tulangnya bahkan tak bersisa. Setelah merasakan kekuatan Rubah Petir dia bisa mengukur kurang lebihnya separuh kekuatan yang dikeluarkan Rubah Petir.
Rantai listrik menari-nari mengejar Xin Chen dari belakang, untuk bernapas saja Xin Chen hampir kehabisan waktu. Dia menggunakan tubuh hantu beberapa kali dan membutuhkan waktu beberapa detik untuk memulihkan kekuatannya, sedangkan kini bola-bola petir menyambar dari mulut si Rubah Petir raksasa. Siap membakar Xin Chen menjadi abu.
Xin Chen berpaling badan, merasa tak memiliki waktu untuk menghindar dan tak bisa menggunakan tubuh hantu agar bisa selamat. Dia mulai memikirkan satu ide gila di kepalanya.
"Jika petir yang dihasilkan oleh Guru jauh lebih mematikan dari yang sebelumnya, seharusnya..."
Xin Chen berlapang dada, membiarkan dirinya diserang kilat petir ini seperti kemarin-kemarin. Rasanya ditusuk-tusuk sampai tak tahu lagi caranya untuk menangis sudah pernah Xin Chen lalui sebelumnya.
__ADS_1
Ratusan bola petir dan kilat dalam tegangan tinggi menyambar Xin Chen serentak, padang rumput yang semula hijau sudah kehitaman karena terbakar loncatan listrik ini. Dan kini Xin Chen membiarkan dirinya dilukai oleh serangan tersebut.
Rubah Petir yang sudah mulai bisa membiasakan diri dengan wujud asli dibuat tak bisa berkedip saat menyadari apa yang telah terjadi. Dia sempat kehilangan kesadaran dan bergerak hanya mengikuti naluri seperti Siluman Penguasa Bumi pada umumnya.
Sepertinya halnya Naga Air, Rubah Petir memiliki emosi stabil yang membuatnya bisa tetap menguasai diri walau memakan waktu agak lama saat memakai wujud aslinya.
Hanya Naga Air dan Rubah Petir yang dapat mengendalikan emosi seperti ini, sedangkan sisanya seperti Naga Es hanya bergerak mengikuti ego dan kekuatan masing-masing.
Selagi mengumpulkan sisa kesadarannya, mata Rubah Petir terbuka lebar ketika melihat seorang anak kecil sudah pingsan di atas padang rumput. Terluka begitu parah akibat serangan beruntun yang dilakukannya tadi.
"Gawat!" Rubah Petir menyadari sekumpulan manusia telah bergerak menuju ke arah mereka, karena panik dia segera kembali ke wujud sebelumnya dan menghampiri Xin Chen di sana. Sayang, dua orang lelaki sudah lebih dulu datang dan memeriksa tubuh anak tersebut.
"Apa yang terjadi di sini?" Salah satunya mengangkat wajah, menengadah ke langit yang perlahan kembali cerah. Kepulan awan hitam pun mulai memudar seiring berjalannya waktu.
"Ini sangat tidak biasa. Apa kau juga merasakan kekuatan berbahaya di sekitar sini? Aku pernah merasakannya dulu, saat melihat Naga Air dalam peperangan besar puluhan tahun lalu. Ini pasti ulah Siluman Penguasa Bumi!"
"Kau benar sekali... Sepertinya sosok siluman itu mulai menampakkan dirinya kembali. Ini tidak bisa dibiarkan apalagi melukai anak kecil seperti dirinya."
Bola mata keduanya menyorot Rubah Petir yang kini ditutupi tudung jubah, dengan penampilan serba tertutup seperti itu jelas sekali dia ditunjuk sebagai pelaku.
Apalagi Rubah Petir tak melakukan apa-apa selain berdiri mematung tanpa berbicara. Kini pendekar dari sebuah sekte bergerak ke tempat mereka. Saling berbisik kecil satu sama lain. Hingga salah satunya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan, maaf jika tidak sopan. Bisa tolong kau buka tudung jubahmu itu?" pintanya masih menunjukkan rasa sopan, agar tak menyinggung sosok dalam jubah tersebut.
__ADS_1
Rubah Petir terdiam di tempat, mulai berpikir untuk merebut Xin Chen paksa dan melarikan diri sejauh mungkin. Tak mungkin identitasnya harus terbongkar oleh mereka, bisa memperpanjang masalah nantinya.