Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 92 - Perangai yang Sebenarnya


__ADS_3

Awalnya gadis kedai arak merasa memang sifatnya sangatlah baik terhadap orang-orang termasuk kepada golongan kelas bawah seperti pengemis, tapi sekarang rasanya anggapan tersebut salah besar. Melihat pria itu membakar apapun yang berada di sekitarnya tanpa berpikir dua kali tadi sudah cukup menjelaskan bagaimana perangai aslinya.


Sebelum minum pria itu pergi ke kamar kecil yang memang di sediakan. Letaknya di belakang kedai arak. Saat kembali baru dia mengatakan uangnya telah hilang.


Xin Chen mengangguk pelan, dia beranjak ke arah kamar mandi yang dimaksud dan tetap tak menemukan koin emas yang disembunyikan. Saat langkah Xin Chen hendak kembali ke dalam kedai arak matanya sedikit memicing curiga ke arah sumur air yang letaknya agak jauh.


"Hm? Tampaknya aku menemukan sesuatu?" gumamnya pada diri sendiri. "Kalau aku menyembunyikan uang sebanyak itu yang pertama letaknya harus di titik tak terduga. Yah... Seperti di sini?"


Xin Chen mengobrak-abrik tumpukan barang di sekitar sumur, berpikir lagi hingga tatapannya jatuh ke dalam sumur tersebut dan menarik talinya untuk mengambil sebuah timba kayu yang biasanya dipergunakan untuk menampung air dari dalam sumur.


Samar-samar matanya menangkap bungkusan kain di letakkan di dalam timba kayu dan benar saja. Barang yang sedang dicarinya itu disembunyikan sedemikian di sana sehingga sulit didapatkan. Xin Chen kini yakin alasan pria itu tak begitu menuduh gadis kedai arak tadi karena besok dia akan datang lagi ke sini untuk mengambil uangnya yang dia sembunyikan.


Rencana licik itu membuat Xin Chen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Dia hendak kembali ke tempat Lin Lin dan pria tadi untuk memperlihatkan uang tersebut bersama sang pengemis tua. Semuanya sudah jelas. Baik pengemis tua maupun gadis kedai arak tidak ada satupun yang mencuri uangnya. Pria itu hanya mencari keuntungan atas dirinya sendiri tanpa memikirkan nasib orang lain yang dia tuduh.


Karena dengan menuduh pengemis seperti ini akan membuat pengemis lainnya dianggap sama, Xin Chen hanya tak mau penindasan terhadap kaum golongan bawah masih terus berlanjut di Kekaisaran Shang.


Tiba di sana ternyata Lin Lin sudah lebih dulu mengikat kedua tangan pelaku, dia menoleh ke arah Xin Chen perlahan sembari memicingkan matanya saat melihat tumpukan uang yang dimasukkan dalam kain.


Jumlahnya sangat banyak dan setelah melihatnya sekilas Lin Lin langsung tahu uang tersebut memang uang yang sejak tadi diributkan di tempat ini. Lin Lin menghadapkan wajah lelaki itu ke arah xin chen, saat dia dapat melihat uangnya itu sudah berpindah tempat ke tangan Xin Chen dirinya hanya bisa mengumpat.


Keadaan sudah berbalik total, orang-orang hanya bisa memasang wajah prihatin melihat kelakuan ini. Menyalahkan orang lain demi mendapatkan keuntungan pribadi dan diketahui oleh banyak orang akan menjadi aib tersendiri baginya.


“Uang ini sebaiknya kau relakan. Untuk memperbaiki rumah-rumah yang kau bakar dan pengobatan kakek ini.” Xin Chen mengeluarkan suara yang agak ditekankan agar pria itu sadar atas kesalahannya.

__ADS_1


“Tuan Muda Xin, aku sangat berterimakasih kau mau membantuku membereskan masalah ini.” Lin Lin mengeratkan putaran tali di tangan si pelaku, semakin erat hingga membuatnya meringis kesakitan. “Sisanya biar aku yang bereskan.”


Bebrapa menit berlalu suasana kembali damai seperti biasa, lalu lalang yang memang ramai kembali berjalan lancar. Xin Chen memutuskan untuk pergi ke tempat duduk yang terletak di antara pepohonan tinggi bersama sang pengemis tua.


“Tuan Muda xin, maaf jika aku lancang bertanya. Akan tetapi ada satu hal yang membuatku penasaran, mengapa kau datang ke tempat ini juga?”


“Kau sudah mengetahui jawabannya, bukan?”


“Tidak mungkin… kau mencari Armor Dewa Perang juga? Sudah berapa banyak orang hebat yang harus merenggut nyawa mereka di sini. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik dulu sebelum masuk lebih dalam lagi ke dalam desa…” saran lelaki tua itu khawatir, terlihat jelas dari bagaimana dia melihat xint Chen sekarang. Karena sudah bnyak dia melihat kematian di tempat ini.


Mati demi memperebutkan barang yang belum tentu ada dan bertarung tak kenal waktu. Informasi perihal Armor Dewa Perang ini sudah cukup menyebar luas di mana-mana hingga menambah calon korban dari waktu ke waktu. Maka dari itu para penduduk desa hanya bisa pasrah, di sisi lain usaha mereka semakin berlancar seiring bertambahnya jumlah pelanggan dengan catatan mereka harus bersiap akan biaya perbaikan jika sewaktu-waktu terjadi pertarungan.


“Kulihat di sekitar sini memang dikuasai oleh orang-orang aliran hitam, jika Armor Dewa Perang jatuh ke tangan orang seperti mereka menurutmu apa yang akan terjadi?”


“Kau mengetshui informasi tentang mereka? Atau sesuatu yang mungkin berguna?”


“Ah… aku sering mendengar para pendekar menceritakan mereka, katanya mereka datang ke sini melalui surat izin masuk dari Kekaisaran Qing."


Dia melanjutkan, "Aku tidak tahu bagaimana detailnya, tapi ku dengar-dengar ada yang mengatakan bahwa Kaisar dari Kekaisaran Qing berharap Kaisar Qin kita mengembalikan Pedang Manusia Iblis dan Kaisar Langit dan mereka akan membayar lima ratus juta keping emas. Mereka mengatakan bahwa senjata itu memang berasal dari Kekaisaran Qing dan merupakan hak milik mereka.”


Beberapa detik Xin Chen tertegun mendengarnya, memang senjata Pusaka Langit sekarang akan menjadi masalah serius bahkan memiliki pengaruh besar hingga ke dalam Kekaisaran. Di sisi lain, kata pengemis tua, Kaisar Qin menolak permintaan tersebut melalui surat tertulis. Selebihnya dia sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi.


“Mereka meminta kedua pedang tersebut sementara pusaka-pusaka langit memang dibuat untuk Ayah…”

__ADS_1


“Kau akan mengerti kalau dunia ini sangat mengerikan, Tuan Muda Xin. Ngomong-ngomong aku memiliki sesuatu untukmu…” lelaki tua itu merogoh sakunya yang merosot karena memang pakaiannya terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus. Dia mendapatkan sebuah batu permata putih agak kehijauan.


“Kau sudah banyak menolongku tadi, terimalah sedikit pemberian ini…”


“Apa ini…?”


“Itu untuk menyembuhkan luka baik luka dalam maupun luar. Aku mendapatkannya saat tak sengaja melihat petarung dari Empat Unit Pengintai mengalahkan siluman buas. Dia mengalahkannya begitu saja tanpa mengambil permata ini.”


“Begitu ya… terimakasih.”


“Gunakan itu untuk memulihkan luka di tubuhmu.”


Xin chen meletakkan permata tersebut di atas permukaan telapak tangannya mengikuti cara yang pernah diajarkan ayahnya untuk menyerap energi spiritual dari permata siluman tersebut.


Tak lama terlihat seberkas cahaya menghilang bersama dengan wujud permata tersebut. Berhasil terserap sepenuhnya dalam tubuhnya.


“Kalau begitu aku pamit dulu, ada sesuatu yang harus ku lakukan di desa ini.” Katanya kemudian, pengemis tua hanya bisa mengangguk pelan sebelum akhirnya Xin Chen berbalik badan dan menghilang dari pandangan.


Xin chen sedikit terpana saat melihat orang-orang yang berdatangan ke desa Shengyou, kebanyakan dari mereka membawa teman seperjalan berupa siluman peliharaan masing-masing, salah satunya adalah sosok pemuda dan siluman ular tak biasa yang wujudnya sama seperti Ye Long, memiliki sayap dan kaki.


Bedanya Siluman tersebut memiliki bisa racun yang sangat mematikan. Ketika peliharaannya menoleh ke arah Xin Chen, dia mendesis samar dan merayap untuk mendekat.


**

__ADS_1


__ADS_2