Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 27 - Permata Cahaya Biru


__ADS_3

Keluar dari acara pelelangan tersebut Xin Chen melongokkan kepalanya semua tempat, dia berjalan tenang tanpa dihiraukan orang di sekitarnya.


Memang roh perempuan pernah mengatakan bahwa, topeng ini bisa menghilangkan tubuh sang pemiliknya sendiri serta bekerja di luar kendali pemiliknya.


Seperti menyembunyikan hawa keberadaan, bahkan tanpa Xin Chen minta pun hawa keberadaannya menipis membuat orang-orang tak terlalu menyadari saat dirinya lewat.


Rencana melarikan diri ditahannya sebentar, Xin Chen hampir melupakan sesuatu yang penting saat ini yaitu Permata Cahaya Biru miliknya. Dia harus mendapatkan benda berharga itu bagaimanapun caranya.


Xin Chen terhenti saat dari kejauhan tampak sebuah toko yang amat elegan serta mewah berdiri di tengah-tengah bangunan lainnya. Toko tersebut terlihat mencolok, hanya orang-orang yang memiliki uang segunung dan reputasi selangit bisa memasuki tempat tersebut.


Dikarenakan penjagaan barang bernilai di dalamnya amat ketat, membuat tempat itu tak terlalu ramai. Hanya didatangi oleh bangsawan kelas atas saja.


Alis Xin Chen menurun saat matanya menangkap satu sosok yang pernah dia lihat di suatu tempat.


"Orang itu... Dia yang mencuri permata Ayah!" gumam Xin Chen, akhirnya setelah berkeliling ke sana kemari dipertemukan lagi pria itu. Tampaknya dia baru saja menjual hasil barang curiannya pada pemilik toko, terlihat dari sekarung koin emas yang dia dapatkan.


"Cih, pak tua sialan. Lihat apa yang akan ku perbuat pada kalian semua karena mencuri permata itu.." gerutu Xin Chen mulai mendekat ke toko bernuansa putih emas tersebut, Xin Chen mengaktifkan mode hantu membuatnya tembus begitu saja dari dinding dan muncul di dalam sebuah ruangan.


Di bagian utama terdapat berbagai permata berjejer rapi, berkilat-kilat memamerkan kilauan indah. Semua pembeli hanya bisa melihatnya dari jarak satu meter serta di tempat tersebut telah disediakan pelayan wanita yang cantik pula, mereka semua tersenyum ramah.


Bentuk wajah mereka memiliki bentuk yang khas seperti orang-orang dari Kekaisaran Qing membuat Xin Chen yakin, tempat ini memang diperuntukkan bagi kaum bangsawan Kekaisaran Qing.


Namun karena permata dan berbagai harta berharga lainnya lebih banyak berada di Kekaisaran Shang, mereka membangunnya di sini.


Membangun di Kekaisaran mereka sendiri tak begitu bagus, sebab banyak sekali pendekar yang berbahaya. Harta mereka menjadi taruhannya saat berbisnis di sana.


Pada ruangan yang dikhususkan untuk penjualan pil-pil unik dengan khasiat tersendiri, Xin Chen beberapa kali disapa oleh penjualnya. Mereka bahkan mengatakan harga ribuan keping emas sudah termasuk murah hanya untuk membeli barang berukuran tak lebih dari bulatan kecil tersebut.


Memilih mengabaikannya Xin Chen melanjutkan kembali langkah, berputar-putar di segala tempat namun tak menemukan Permata Cahaya Biru di manapun. Bahkan saat tiba di deretan permata berharga, benda itupun tetap tidak ada.


Tanda tanya besar mulai menghantui kepalanya, Xin Chen harus mendapatkan barang itu sebelum pergi dari Lembah Para Dewa. Hanya ini satu-satunya kesempatan yang dia punya.


Selagi sibuk berpikir tubuhnya tiba-tiba terdorong hingga hampir terjatuh, jelas Xin Chen memprotes.

__ADS_1


"Kenapa kau menabrakku?"


Seorang pria berkharisma yang memiliki posisi tertinggi di toko ini terkejut, dia segera meminta maaf pada Xin Chen meski dahinya terus berlipat tiga.


Bagaimana mungkin penjaga di luar membiarkan anak sekecil Xin Chen memasuki tempat ini.


Kecuali jika memang Xin Chen anak bangsawan besar atau bahkan putra dari Kaisar sendiri. Dengan dugaan itu maka dirinya langsung menundukkan kepala pada Xin Chen.


"Tuan Muda, maaf aku tak melihatmu. Aku buru-buru tadi."


"Ya... Aku maafkan."


Xin Chen memerhatikan pria itu berlalu dari hadapannya, tampak urusan penting sedang menunggunya di bagian administrasi. Pria itu berhenti di dekat seorang asisten managernya, dia sedikit berbisik kepada pria itu.


Karena penasaran Xin Chen mendekati kedua orang tersebut, menyimak obrolan rahasia mereka secara diam-diam.


"Aku baru saja menerima Permata Cahaya Biru dari salah satu utusan kita, dia baru saja datang dan mengantarkannya pada kita."


Kedua orang itu tampak sumringah, kebahagiaan jelas terpancar di air muka mereka. "Ha-ha-ha orang itu bodoh sekali, jika dia menjualnya langsung kepada pimpinan dia mendapat bayaran yang sepuluh kali lipat lebih mahal dari yang kita bayar."


"Biarkan saja, mungkin menurutnya uang yang kau beri sudah lebih dari banyak."


Xin Chen mulai merasa kesal, andai dia tahu seberapa berharganya permata itu Xin Chen takkan mau memakainya. Ayahnya tak pernah mengatakan apapun selain harus menjaga harta itu baik-baik, bahkan tentang Naga Air saja dia baru mendengarnya dari Rubah Petir.


Setelah beberapa menit dua orang tersebut sampai di pembicaraan lainnya, volume suara asisten wanita terdengar sangat kecil untuk didengar.


Xin Chen mendecak kesal, tak bisa mendengar apapun karena situasi sekitar pun ribut. Tak memiliki pilihan lain dirinya mengikuti pria pemilik toko ini dari belakang, mungkin sedang memeriksa permata yang dikatakan asisten manajernya itu.


Meskipun harus melihat pria itu berbasa-basi agak lama dengan pekerjanya dia tetap sabar mengikuti, Xin Chen mengedipkan mata beberapa kali saat mereka baru saja memasuki satu ruangan lainnya yang lebih kecil.


Tempat mereka menyimpan barang-barang yang harganya hingga jutaan keping emas.


Di tempat itu berjejer sembilan harta yang ditempatkan sangat tersembunyi, pria tersebut melihat ke belakang memastikan tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali dirinya.

__ADS_1


Xin Chen sedikit gugup, untungnya saja dia bisa menggunakan tubuh hantunya tepat waktu. Kalau tidak sepuluh pendekar yang berjaga di luar ruangan ini akan membunuhnya seketika.


Ternyata di balik sembilan harta itu lagi, sebuah dinding yang lainnya terbuka. Terlihat satu batu seukuran tubuh Xin Chen, dengan satu permata biru di atasnya.


Tempat paling tersembunyi itu hanya bisa dimasuki oleh pemilik toko dan asisten manajer saja.


Pria itu tersenyum sangat lebar, bahagia sekali melihat barang incarannya itu.


Bagaimanapun pemilik seluruh Lembah Para Dewa mengatakan akan membayar siapapun yang berhasil mendapatkan permata ini dengan harga 1 miliyar, harga yang cukup fantastis itu dikarenakan Permata Cahaya Biru adalah jalan untuk mengantarkan mereka pada Siluman Penguasa Bumi, Naga Air.


"Ah... Akhirnya, aku akan segera mengirimkan pesan pada Pimpinan. Ini berita yang sangat baik untuk kami, dia pasti akan membantuku membuka cabang lain di Kekaisaran Qing."


Setelah berbicara kecil dia mencium Permata Cahaya Biru bahagia, membuat Xin Chen memasang wajah jijik. Permata itu ternodai oleh bibir berkumis menggelikan tersebut.


'Sepertinya kebahagiaan pak tua ini hanya akan bertahan sebentar, karena semua barang ini...' batin Xin Chen seraya menyeringai lebar, tak terbayangkan ide gilanya ini sangat indah. Dengan semua harta di depan matanya ini sampai tujuh turunan pun takkan habis dia gunakan.


Setiap kali pria itu melihat ke belakang Xin Chen langsung menggunakan tubuh hantu, ini dia lakukan karena wujud itu hanya bisa bertahan 5 detik. Selebih dari waktu 5 detik dia akan merasakan efek buruk seperti kehilangan kesadaran dan tekanan mental.


Pintu ruangan yang terbuat sepenuhnya dari logam berton-ton terbuka dan pria itu keluar dari sana, memastikan semua aman akhirnya pintu tertutup kembali.


Menyisakan Xin Chen di dalam dengan suasana luar biasa hening.


Kembali senyum jahilnya terkembang, membayangkan pria itu pingsan saat melihat hartanya hilang saja sudah membuat isi perutnya menari-nari.


Langkah kaki Xin Chen pertama kali tertuju pada ruangan paling tersembunyi, dia menembusnya dengan mudah dan mendapati Permata Cahaya Biru di dalam sana.


"Nah, kau telah kembali pada pemilikmu." Xin Chen mengambilnya dengan senang hati, kalung yang sebelumnya diikatkan telah disingkirkan. Xin Chen segera menyimpannya ke dalam cincin ruang. Berpikir takkan pernah mengeluarkan hartanya itu lagi.


"Karena kalian sudah mencuri barangku jangan marah kalau aku melakukan hal yang sama, hehehe."


Satu per satu benda pusaka maupun peninggalan paling bersejarah dari Kekaisaran Qing menghilang. Masuk ke dalam cincin ruang Xin Chen begitu saja. Xin Chen sempat heran saat melihat selembar kertas pun diletakkan secara istimewa di tempat ini. Tapi dia berusaha tak peduli dan fokus pada tujuan awal.


Pemuda kecil itu keluar dari sana, tentu saja merasa lega Permata Cahaya Biru telah kembali. Saat melewati para pekerja di sana dia menyempatkan untuk sedikit tersenyum, setidaknya sebelum mereka jantungan saat melihat penyimpanan harta mereka telah dicuri.

__ADS_1


__ADS_2