
Lan An terkesiap.
Sekilas, tapi begitu terasa laki-laki itu merasakan hawa dingin nan suram melewati jalan Kota. Tatapannya mengitari seisi penjuru dan tidak menemukan apa pun selain para penduduk yang berlalu lalang. Beberapa penjaga kota memberikan laporan padanya, mereka tetap tidak menemukan jejak apa pun. Setelah memberikan perintah untuk terus mencari, Lan An memutuskan untuk berjalan terus ke depan. Mengikuti hawa misterius itu dengan instingnya yang tajam.
Lan An dibuat sedikit terkejut ketika hawa itu semakin dekat, secaa tiba-tiba saja seperti mendadak berada di balik punggungnya. Ketika membalikkan badan, Lan An mendapati seorang pemuda tengah membelakanginya. Berjalan menuju hutan rimba yang tak begitu di tepi jalan.
"Berhenti!" serunya, menarik perhatian para warga di sekitar. Lan An memecah kerumunan dan menyusul sosok itu ke dalam hutan. Dia kehilangan jejaknya.
"Tunjukkan dirimu, aku tahu kau ada di sini!"
Suara Lan An menggemadi tengah hutan yang sepi, hanya bunyi irama suara serangga hutan yang menjawabnya. Lama tak mendapatkana jawaban Lan An kembali bersuara.
"Aku beri kau waktu satu sampai tiga!"
Lan An mulai menghitung, dia benar-benar serius.
"Satu ...."
Masih tak terlihat pergerakan apa pun akan tetapi dia tetap melanjutkan. "Dua ...."
"Tiga."
Lan An mencabut pedang dari sarungnya, bersiap-siap jika sosok misterius itu tiba-tiba mengeluarkan diri. Tapi percuma, tidak ada siapa-siapa di tempat ini. Seperti hanya ada dirinya di hutan tersebut. Lan An kembali menyarungkan pdangnya, tentu dengan perasaan kesal.
"Percuma saja memanggilku kalau kau sendiri tidak melihatku di sini."
Lan An tertegun, dia segera membalikkan badan dan tak menemukan siapa pun. Matanya memicing dengan peluh membasahi pelipis, tak dapat dibohongi Lan An sedikit cemas ketika mendengar bahwa sosok tersebut bahkan dengan mudahnya membunuh tiga puluh orang, dan sampai sekarang orang yang mengaku sudah dibunuh oleh sosok itu masih dapat bernapas. Aneh. Namun tak mungkin pimpinan pejuang itu berbohong padanya, laki-laki iu tak sudi mengatakan sesuatu yang bohong bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Saat Lan An melihat ke atasnya, dia dapat melihat jelas sesosok berjubah menggantung terbalik di sebuah pohon tinggi sambil menyilangkan tangan. Memperhatikan Lan An begitu lama dari atas sana dan tak berniat turun.
"Siapa kau sebenarnya, dan apa yang kau lakukan ke sini?" Lan An menaruh curiga besar terhadap sosok tersebut. Memiliki kekuatan besar kadang menjadi bencana bagi Kota Fanlu, jika orang tersebut menggunakan kekuatannya untuk membunuh. Sempat terjadi penyerangan sebelumnya, dikarenakan pusat Kekaisaran Shang telah berpindah di tempat itu.
Menjaga Kota Fanlu sendiri adalah tugas yang diemban Lan An sebagai pengganti Pilar Kekaisaran pertama, sebab itu sosok misterius yang mengancam Kota Fanlu ini adalah tanggung jawab bagi Lan An.
"Aku hanya pengembara biasa yang hendak lewat, hanya saja semalam bawahanmu menuduhku orang jahat dan tanpa sebab menyerang tiba-tiba. Bahkan saat aku belum mengeluarkan senjata sama sekali. Menurutmu itu salahku?"
__ADS_1
Lan An tampak tak begitu percaya, namun dia juga tak bisa mengatakan bahwa orang itu bohong.
"Namamu, siapa?"
"Perlu apa dengan namaku?"
"Katakan saja, dengan begitu akan melepasmu. Tentu jika kau meninggalkan kota ini tanpa pertumpah darahan. Lagipula dari insiden semalam tak ada nyawa yang melayang."
"Aih, bagaimana jika aku katakan aku lupa dengan namaku sendiri?"
Lan An tak habis pikir, "Ingat-ingat dulu."
"Hm ...."
Pemuda berjubah itu berpikir lama, tak kunjung membuka suara dan membuat Lan An canggung berdiri di tempatnya. "Belum ingat juga?"
"Aku tidak mau ingat."
"Kalau begitu, dari mana asalmu?" tanya Lan An sekali lagi, jika kali ini pemuda itu tak menjawabnya maka dia pasti akan melemparnya dengan sendal.
Pemuda itu sedikit menimang sebelum akhirnya menjawab, "Antah berantah."
Pemuda itu mengangkat jari telunjuknya, "Pertama, tolong jaga wanita yang bernama Ren Yuan. Dan kedua pastikan Xin Zhan tetap hidup."
"Sebenarnya apa hubunganmu dngan mereka?" Lan An mencoba menelaah lawan bicaranya dengan detail, namun dirinya merasa tak mengenal sosok tersebut.
Tidak menjawab apa pun, pemuda itu lantas berpaling badan dan mengucapkan sesuatu yang terdengar mengancam. " Suatu saat aku akan kembali lagi ke sini. Tolong jaga janji ini. Dengan begitu aku akan pergi seperti yang kau pinta."
Lan An tak pernah menyangka jika dirinya baru saja diancam sedemikian rupa, bahkan oleh sesosok misterius yang tidak dia ketahui seberapa besar kekuatannya. Mata laki-laki itu terbuka heran dengan pandangannya yang terus menyusuri segala arah.
Orang tadi telah lenyap dari pandangannya.
*
Membawa penyesalan yang berakibat pada kebencian tiada akhir adalah dosa yang hanya akan membawa petaka. Namun, kadang juga akan membawa kedamaian, meski pun takkan hanya bertahan sementara. Jalanan pedesaan yang begitu ramai dan begitu damai di Kota Qingyun tampak sangat padat, tawa anak-anak menggema dari setiap penjuru. Penjual mainan anak-anak berseliweran menawarkan dagangannya.
__ADS_1
Di kota itu, sebuah aliran sungai mengalir di tengah-tengah kepadatan, membelah rumah penduduk, sementara itu perahu-perahu kecil bersandar di tepian.
Di sungai itu, sebuah perahu tengah menyusuri padatnya Kota Qingyun. Seorang pemuda dengan sebilah pedang di pinggang serta topi caping yang menutupi mukanya tengah duduk bersila di atas. Sesekali mengagumi indahnya tempat di kota ini. Bangunan-bangunan indah menjadi lambang perdamaian telah lama ada di tempat tersebut. Tak ada pertumpah darahan di sana, hanya keriangan dan tawa yang memenuhi sekitar.
Selama perjalanan laki-laki tua yang mendayung perahunya terus bercerita banyak tentang Kota Qingyun, dikenal sebagai kota paling damai di Kekaisaran Shang. Sesekali, pria itu menyinggung soal anak gadisnya yang seumuran dengan pemuda tersebut.
"Kau memiliki rupa yang menawan, Tuan. Putriku pasti akan jatuh cinta saat melihat Anda." Begitu katanya tanpa berusaha menutup-nutupi.
"Anda terlalu memuji."
"Ah, tidak juga. Aku berkata sejujur-jujurnya. Kalau boleh tahu, siapa nama Tuan? Tampaknya Tuan bukan orang biasa," ujar laki-laki itu. Pembawaan pemuda itu layaknya orang dari keluarga bangsawan dan juga melihat paras dan caranya berbicara, agaknya sang pemilik perahu terpana meskipun baru pertama kali mengenalnya.
"Chen. Panggil saja begitu."
Sebelum pria itu sempat memulai basa-basinya lagi, sekumpulan penduduk berlarian menuju sebuah pusat di mana tengah terjadi keributan. Xin Chen menaikkan topi jeraminya, menangkap sebuah pertarungan sengit tengah terjadi di sekitar sana.
Sang pemilik perahu yang sebelumnya mengatakan bahwa Kota Qingyun jauh dari kejahatan seketika malu, tampak seperti dia sedang membohongi pendatang baru Kota Qingyun.
"Maaf, Tuan. Mungkin lebih tepatnya masa kedamaian di Kota Qingyun telah lama menghilang. Sekarang ini ... Kota Qingyun tak lebih dari tempat penjarahan."
Xin Chen bangun dari tempatnya, dengan sebelah tangan siap mengeluarkan pedangnya.
"Jangan bilang Anda seorang pendekar?"
**
Maapkan diriku mamang, mbak, kak, bang, tante, bapack, ibu, adek dan jones-jones sekalian, kgk up 2 hari apakah ada yg ngamok? Moga2 aja enggak ya😭😭😭 Aku lagi sibuk ngurusin cerita sebelah, (judulnya A Girl Named Aoi) tanggal 09-12 september udh dibuka waiting listnya lho! Cuma tiga hari dibuka, jadi siap-siap buat yg pengen pesen, deg-degan aku kok ya wkwk.
Lgi gak ada uang/belum gajian? Tenang ajaa, msi ada waktu buat nabung kok🥰. Cuma klo isi waiting list dari sekarang, klian bakal dpat souvenir2 kece dari penerbitnya. Pengen gtu, dibikinin gantungan kunci Rubah Petir atau Lang, kan mereka ucul banget kan yak😭
Sedikit spoiler, sini tak bisikin🤫 Di buku itu bkal ada secret ending di mana tokoh utamanya ketemu sama Xin Chen. Walah, walah nak?! Ngapain ente nyasar ke sebelah? Ya Ndak Tau, Kok Tanya Saya? Beli bukunya aja lah, gas!!! Ada yang mau ikutan? Komen doong siapa2 aja😍😍💖
Satu hal lagi, rencana author pengen ngadain
SDCU alias SUPER DUPER CRAZY UPDATE, bakal ada updte gila-gilaan sampai 20 chapter lebih😬😱 tapi ...
__ADS_1
Lanjut kapan2 dehhh wkwkkkw
KABORRRRRR🏃♀️🏃♀️