
Jun Xiaorong sudah menunggu di ruangan tertutup yang hanya bisa dimasuki oleh dirinya sendiri. Di ujung pintu Xin Chen muncul, langsung berjalan ke arahnya.
"Duduklah."
Keduanya duduk saling berhadapan. Jeda mengisi selama beberapa detik, hanya ketukan pelan pada meja serta helaan napas Jun Xiaorong mengisi ruangan. "Aku sudah mengorbankan segala yang ku punya demi Tuan Muda."
Sebutan itu lantas membuat Xin Chen tertegun. Xin Chen mengangkat wajahnya, di saat itu dia membuka mata dan dapat melihat jelas bahwa Jun Xiaorong ini adalah orang yang sama dengan sosok misterius di Distrik-18 yang selalu memberikan peringatan padanya. Daripada menanyakan panggilan itu, ada banyak pertanyaan lain yang lebih penting bagi Xin Chen.
"Aku tidak mengerti mengapa kau memperingatiku."
"Yang mana?"
Jun Xiaorong akhirnya teringat, dia segera membuka suara. "Perhatikan langkahmu, aku akan memata-mataimu dan jangan berkhianat?"
"Dan kenapa kau membela kami?" Tak ingin mengulur waktu lama, Xin Chen segera mengeluarkan semua pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Laki-laki bernama Jun Xiaorong ini ibarat Yin dan Yang, memiliki dua sisi sekaligus yang saling berkebalikan. Lawan atau kawan, keduanya saling bertabrakan.
"Anda terlalu panik sampai bertanya sedemikian banyak. Tidak perlu khawatir, bawahanku tahu cara membersihkan kembali nama Tuan Muda dan teman-teman Anda di mata orang-orang. Kalian tidak akan dicap sebagai penyusup."
Segera Xin Chen menyangkalnya, "Bukan itu yang ingin aku bicarakan. Tapi mengapa kau melakukan ini semua untuk kami?"
"Kupikir anakku sudah memberi tahumu."
"Anakmu?" Jun Xiaorong menjadi semakin yakin bahwa Xin Chen bahkan tidak tahu tentang dirinya sedari awal memasuki seleksi.
"Benar saja. Apakah Tuan Muda tidak berkomunikasi dengan mereka? Aku heran pemimpin mana yang bisa-bisanya berjalan sendirian untuk melindungi bawahannya seperti Anda. Sementara dalam perang semua prajurit berada di barisan terdepan untuk melindungi raja mereka."
__ADS_1
Seperti sebelum-sebelumnya, Jun Xiaorong menarik napas dalam. Tampak frustrasi, meski di sisi lain dia nyaris tak mempercayai sosok yang dimaksudkan ini memiliki pemikiran yang berbeda dari orang kebanyakan.
"Anda mungkin rela mempertaruhkan nyawa sendiri demi orang yang tidak dikenal karena merasa itu tanggung jawab Anda. Padahal Tuan Muda bisa saja berpaling dari mereka. Menghiraukan mereka seperti yang pemimpin lainnya lakukan. Nyawa anda adalah segalanya. Jika dalam perang seorang pemimpin mati, maka semua prajurit akan ketakutan. Bukankah pemikiran itu penting?"
"Sayangnya aku orang yang sangat sulit untuk mati."
Jun Xiaorong terdiam oleh jawaban itu. Dia tersenyum kaku, percaya bahwa Xin Chen tidak sedang berbohong.
Karena merasa tidak sopan Jun Xiaorong memperkenalkan diri, "Aku Jun Xiaorong. Ayah dari Jun Xiang. Orang yang kau angkat menjadi salah satu anggota unit satu di kelompok Empat Unit Pengintai. Kau tahu bahwa anakku itu adalah seorang mata-mata Kekaisaran Shang, bukan?"
Xin Chen tentu ingat bagaimana dia dan Jun Xiang bisa bertemu. Lao Zi adalah salah satu alasannya. Mereka merupakan orang-orang yang dipercaya di Kekaisaran untuk misi-misi rahasia. Saat Kekaisaran sudah berubah dari idealisme yang mereka junjung, orang-orang sepertinya berbalik haluan mencari tempat yang memiliki arah dan tujuan sama dengan keinginannya. Dan untuk itulah Jun Xiang mengikuti Xin Chen.
Demi menciptakan sebuah Era Baru.
Jun Xiaorong menjelaskan apa yang sudah Xin Chen ketahui. Tidak boleh menggunakan kekuatan sembarangan. Atau menyusup, tetapi di akhir Xin Chen melakukan hal itu dan membuat dirinya terjebak di situasi mematikan seperti tadi.
"Berterima kasihlah karena aku sudah mempersiapkan untuk segala macam situasi terburuk sehingga Tuan Muda tetap selamat."
"Terima kasih."
Jun Xiaorong tertawa Xin Chen mengatakannya langsung. "Kau memiliki tujuan yang besar, Nak. Anakku menceritakan tentang kau dengan sangat antusias. Seperti saat dia pertama kalinya melihat bintang-bintang. Sangat terang saat malam datang." Wajah Jun Xiaorong yang kaku mulai terlihat tersenyum, apalagi ketika mengingat anaknya.
"Di klanku, kami percaya bahwa jika sosok pemimpin besar akan terlahir maka kedamaian akan datang. Semua orang bersuka cita. Seperti saat-saat pertama kali Kaisar Qin diangkat. Dia begitu terang layaknya matahari. Dia berkharisma dan juga memiliki kehormatan yang besar."
Jun Xiaorong menoleh padanya, hanya sedikit. "Namun, cahaya akan selalu memudar jika waktunya tiba. Saat dia hilang, semua orang kehilangan arah. Maka dari itu kami merasa bahwa cahaya adalah kebohongan. Dan akhirnya kami percaya bahwa kegelapan itu benar. Seperti sosok yang lahir dari sebuah kemarahan. Dia percaya perpisahan itu menyakitkan. Berbeda dengan sosok yang lahir dari keluarga bangsawan, mereka tidak tahu apa itu kesedihan. Mereka tidak pernah kelaparan, tidak kedinginan, terkena wabah atau hampir dibunuh akibat sebuah penjarahan."
__ADS_1
Jun Xiaorong memandangnya. "Kami melihat sebuah cahaya gelap yang ingin melindungi semua orang. Dia membunuh demi sebuah keadilan dan mengotori tangannya untuk kebebasan semua orang yang tidak dikenalnya. Dia membuat kami kembali terbangun dan segera bergerak untuk mengikuti jejaknya. Kami Klan Jun yang telah kehilangan jati diri hanya ingin bangkit demi berjalan di belakangnya. Pahlawan itu adalah ayahmu, Pedang Iblis. Kegelapan yang kami percayai. Dan paling kami nanti kepulangannya."
Xin Chen terdiam. Rasanya kata-kata itu membuatnya semakin ingin mengejar jejak ayahnya. Dia semakin dekat dengannya, dan akan memastikan sosok itu kembali seperti apa yang dijanjikannya pada Ren Yuan tujuh tahun silam. Sementara Jun Xiaorong berhenti berbicara. Dia juga sudah melakukan banyak upaya untuk mencari tahu keberadaan Xin Fai, tetapi markas di mana Pedang Iblis disembunyikan selalu berpindah-pindah.
Xin Chen kembali bertanya, "Kenapa kau bisa di sini-kau mengatakan kau sudah mengabdi di Kekaisaran Qing puluhan tahun."
"Aku sudah menduga hal ini akan terjadi." Tentu Xin Chen tahu benar laki-laki itu memiliki kemampuan nalar yang tinggi. Dia telah memprediksikan banyak hal bahkan 30 tahun sebelum hal tersebut terjadi. "Kadang seseorang perlu berkorban demi sesuatu yang dianggapnya berharga. Dan aku ada di sini agar anak dan cucuku selamat dari perang yang akan terjadi."
Jun Xiaorong tak menyangka situasi yang dialaminya kini sama seperti Pedang Iblis. Dan hal itu membuatnya merasa bangga.
"Sekarang beri tahu padaku apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu. Aku sudah mempersiapkan hal ini selama tiga puluh tahun. Sebagai mata-mata, aku memiliki koneksi, informasi dan hal lain yang kau butuhkan di Kekaisaran ini."
Tak pernah terpikirkan bahwa Jun Xiang akan menuntunnya pada laki-laki seperti Jun Xiaorong. Xin Chen tersenyum penuh arti. Tentu saja dia selalu memiliki rencana besar yang akan menjadi bencana bagi Kekaisaran Qing.
"Aku yakin kau akan kesulitan untuk melakukannya."
"Serahkan semuanya padaku, Tuan Muda." Jun Xiaorong mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah buku kusam yang tampak berharga karena disimpan dalam lipatan kain sutra.
"Tuan Muda pasti membutuhkan ini. Semua hal tentang kekuatan roh yang seharusnya sudah dibakar habis. Kami menyimpan salinannya. Sekiranya Tuan Muda sudi menerima ini."
Jun Xiaorong tahu betul bahwa itulah yang dibutuhkan Xin Chen selama ini. "Berapa lama lagi perangnya?"
"Satu Minggu dua hari lagi, Tuan Muda."
"Kurasa cukup untuk mempersiapkan semua rencana dan mendalami kekuatan ini."
__ADS_1