
"Diam dan lakukan sesuai perintah ku."
"Baik, saya mengerti." Wanita itu membungkuk sebelum akhirnya hilang di balik kegelapan, dia kembali fokus menatap di balik jendela di mana seluruh pertarungan terlihat jelas. Tempat yang sangat-sangat aman untuk membangun markas dan dibuat dengan logam tebal. Serangan jenis mana pun takkan mampu merobohkan persembunyiannya, dan para pejuang ataupun prajurit tidak ada yang curiga karena bentuknya kecil.
Sosok wanita tadi telah kembali begitu cepat, setelah dipersilahkan untuk berbicara baru dia berucap. "Jenderal Besar Liu sudah sadarkan diri. Dia sedang berada di kamar ruang bawah tanah, Kaisar Qing juga telah sampai bersama dua pengawalnya."
"Hahahaha tak kusangka laki-laki itu sampai repot-repot datang ke tempat sempit begini. Bawa dia ke ruangan ritual."
"Baik," ujar wanita itu dan kembali menghilang seperti sebelumnya. Lelaki bertopeng itu berbalik badan, menyibak jubah hitamnya dan masuk ke dalam ruangan tanpa cahaya. Sosoknya menghilang dalam kegelapan.
Lilin yang menempel di dinding bergoyang ditiup angin, udara pengap terasa panas saat Liu Fengying menarik napas. Markas yang dibangun dibawa tanah ini adalah tempat yang telah dipersiapkan oleh Lembah Para Dewa untuk melakukan ritual pemanggilan. Lelaki setengah siluman itu membentur tangannya pada dinding. Melihat luka sayat dan bakar yang diterimanya setelah pertarungan tadi. Dia tidak begitu ingat apa yang terjadi namun satu hal yang pasti, orang yang melakukannya adalah Xin Chen.
"Kau kesal? Marah? Atau putus asa?"
"A-hah, iya. Anak itu, jika bertemu lagi akan kupastikan untuk memutar lehernya. Benar-benar..." Liu Fengying tak melanjutkan gerutuannya, di dekat sosok tersebut dia tak berani banyak berbicara lagi. Mengingat apa yang akan dilakukan kepadanya sangat mengerikan, membayangkan saja Liu Fengying ingin segera lari dari kamar tersebut.
"Tidak perlu kecewa begitu." Tangannya yang dibalut sarung tangan hitam menarik dagu Liu Fengying, memaksanya menatap mata di balik topeng tersebut. Keringat dingin mengucur di dahi Liu Fengying, bola mata yang penuh dengan kebencian mendalam. Dia takkan pernah menemui rasa dendam yang amat sangat itu di mata siapapun.
"Karena kau bahkan bisa membunuh lawan utama kita sekaligus. Khekhekhe."
Suara tenggorokan lelaki itu seperti suara monster yang sudah seminggu tidak makan, Liu Fengying menelan ludah kasar. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Entah itu pujian atau sekedar kata penyemangat, namun dirinya merasa ada marabahaya di balik omongan manis tersebut.
__ADS_1
"Kurasa peranku sampai di sini cukup, aku takkan meminta pembalasan dendam ku lagi atas kematian putra tersayang ku."
"Kau sudah babak belur sampai sejauh ini dan meminta menyerah di hari penentuanmu. Si Pedang Iblis lah yang telah menghabisi nyawa putramu. Dan kau harus membalaskan kematian putramu jika ingin jiwanya tenang."
Liu Fengying mengepalkan tangannya erat, urat di tangannya terlihat jelas. Dia memendam kemarahannya selama ini, mengenang putranya hingga di detik di mana dia benar-benar sendirian. Kehilangan segalanya oleh Xin Fai, impian dan harapannya juga hancur berkeping-keping. Tidak ada yang tersisa semenjak hari itu, hari di mana Xin Fai datang dan membalaskan kematian kedua orang tuanya.
"Dia memang telah mengambil segalanya dariku...." Tanpa sadar lelaki itu menitikkan air mata, "Tapi hari ini aku baru teringat apa yang dikatakannya hari itu, hari di mana dia datang dengan kemarahan yang sama seperti yang kurasakan kali ini. Dia mengatakan 'Aku telah kehilangan segalanya karena perbuatanmu' dan kurasa ini adalah hukuman untukku."
Nada bicara lelaki dengan topeng gagak mulai terdengar lebih dingin, "Jadi kau memilih mengkhianatiku sekarang?"
Liu Fengying menengadah, mendapati kengerian telah menyambutnya. Andai dia dapat melihat ekspresi di balik topeng itu mungkin Liu Fengying akan pingsan.
"Sa-saya tidak berani Tuanku! Hanya saja ...." Liu Fengying lagi-lagi hanya bisa menelan ludah. Punggungnya terasa dingin dan bahunya bergetar hebat. Aura membunuh terasa begitu dekat hingga dirinya tak bisa menarik napas.
Hawa pembunuh kembali ditarik oleh orang yang disebutnya tuan tadi. Cara bicaranya yang terlihat sangat gembira, Liu Fengying bahkan sampai sekarang tak mengerti jalan berpikir pria itu dan hanya mampu mengikuti perintahnya.
"Dengan apa Tuanku?"
"Kaisar Qing telah mempercayakan kita untuk hal ini. Jika kita gagal mendapatkan Pedang Manusia Iblis dan Pedang Kaisar Langit maka dia hanya akan menahan malu. Kau tidak tahu berapa ribu prajurit telah disiapkannya untuk membunuh kita?"
Liu Fengying tahu benar adanya, secara militer Kekaisaran Qing tak bisa diragukan lagi. Mereka memiliki ratusan ribu prajurit yang cukup untuk menjatuhkan Kekaisaran Shang. Namun peperangan seperti itu akan melanggar perjanjian perdamaian antar Tiga Kekaisaran yang telah dibuat di jaman dahulu.
__ADS_1
Namun jika itu permasalahan konflik tentang perebutan pusaka mungkin dapat dipermasalahkan. Kaisar Qing menganggap pusaka yang berasal dari tempatnya sudah selayaknya menjadi hak milik Kekaisaran Qing namun Kekaisaran Shang tak mengakuinya. Dengan memanfaatkan siluman kuat dan musuh lama Xin Fai, tanpa mengibarkan bendera perang untuk membunuh semua masyarakat Kekaisaran mereka Kaisar Qing merasa itu cukup untuk mendapatkan kedua pusaka itu dengan paksa.
"Beliau akan tiba tidak lama lagi, Tuanku." Wanita yang berdiri di belakangnya berbicara, tak begitu lama muncul Kaisar Yin. Pemimpin dari Kekaisaran Qing yang berkuasa penuh dan memiliki tanggung jawab besar untuk mendapatkan kembali apa yang dirasakan adalah hak milik rakyat Kekaisaran Qing.
"Apakah semuanya berjalan lancar?"
"Seperti yang diharapkan, Yang Mulia." Si pengguna topeng gagak menyahut tenang. Tak lama dia kembali berujar, "Tapi sepertinya kita membutuhkan satu senjata lagi untuk menghancurkan si Pedang Iblis itu."
"Apa itu?"
"Ratu Iblis."
Liu Fengying tersedak oleh ludahnya sendiri sementara Kaisar Yin terdiam cukup lama, dia memang tidak pernah melihat siapa itu Ratu Iblis namun sempat dikabarkan pernah terjadi pertarungan yang melibatkan ratu iblis tersebut dan dia adalah salah satu musuh terkuat yang bahkan dikatakan tak terkalahkan.
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dengan mudah? Dia bukanlah manusia seperti halnya kau memanggil Han Zilong atau Han Wu, bahkan untuk mendapatkan kepercayaan Naga Kegelapan kau hampir mati ratusan kali. Andai saja kau tidak memiliki permata itu ..."
"Hahahaha mudah saja, kita hanya membutuhkan Lembar Ketiga ini, sebuah wadah dan darah dari perempuan yang mewarisi darah sang iblis."
Liu Fengying mulai merasakan ancaman saat pria itu berbicara sembari menatapnya.
"Dan sebenarnya hari ini sangat-sangat tepat untuk mendapatkan apa saja yang kita butuhkan untuk ritual pemanggilan ...." Lagi-lagi dia tertawa terkekeh, suaranya begitu mengerikan untuk didengar. "Bawakan perempuan itu kemari."
__ADS_1
Wanita yang menjadi tangan kanannya itu mengangguk, begitu kembali dari ruang penjara dua datang bersama seorang perempuan yang dibalut cantik oleh baju pernikahan. Dia adalah Xin Xia. Adik dari Xin Fai dan calon istri Lan An, tubuhnya diikat erat oleh rantai hingga mengeluarkan darah.