
Xin Zhan berhasil mengenai pundak Xin Chen, dia berguling di tanah menghindari tiga kali serangan berbahaya. Tempo pertarungan semakin mengerikan, Ren Yuan bahkan tak mampu lagi mengikuti alur pertarungan yang mengandalkan kecepatan itu. Kedua anaknya beradu kegesitan dan seberapa cepat ayunan pedangnya. Pertarungan ketiga ini bahkan menyita waktu hampir setengah jam lamanya dan tak ada yang terlihat lebih menonjol. Keduanya seimbang dalam hal kecepatan.
Sadar posisinya terancam, Xin Zhan mulai bertarung dengan lebih keras. Meski begitu dia tetap memfokuskan pertahanannya. Serangan terakhir, Xin Zhan menarik senjatanya lurus ke bawah, tak mengenai Xin Chen.
Keduanya saling berhenti.
"Kau kena."
Xin Chen membalik pedang kayunya, terlihat bekas goresan tipis di sana. Karena kecepatan pedang Xin Zhan, angin tajam berhasil menggores kayu tersebut. Ren Yuan mendekat untuk memastikannya.
"Babak ketiga dimenangkan oleh Xin Zhan!"
Xin Zhan menarik senyuman penuh kemenangan. "Bersiaplah orang-orang datang ke rumah kita sebentar lagi."
Dia mengusap tangannya tak sabaran. "Dan juga pembalasan setelah kau menganiaya jidatku."
Xin Chen menyesal dia tertawa tadi. Dia sama sekali tidak bisa mengandalkan kekuatannya untuk bisa memenangkan pertarungan ini. Pertarungan yang hanya menggunakan kecepatan, insting dan juga strategi. Xin Chen membuang napas singkat. Wajahnya nampak terganggu.
Pertarungan keempat, Xin Zhan tampak lebih tenang dari sebelumnya. Dia hanya berfokus dengan irama hembusan napasnya sendiri. Seseorang pernah mengatakan, hal itu dapat membantu dirinya tetap tenang sekalipun suasana begitu kacau.
Karena keduanya tak ada yang berinisiatif untuk menyerang pertama, Ren Yuan menegur.
"Dalam tiga menit tidak ada pergerakan, pertarungan keempat dibatalkan dan langsung ke pertarungan lima sebagai babak penentuan!"
Benar saja, peringatan itu membuat keduanya langsung bergerak. Halaman belakang yang dipenuhi oleh dedaunan pohon kering mendadak ribut oleh suara pukulan kayu, daun-daun merah beterbangan mengikuti pergerakan dua pemuda itu. Dibandingkan pertarungan yang lain, kali ini senjata yang mereka gunakan tak serta merta untuk mengenai senjata lawan. Melainkan digunakan untuk memukul tubuh, membuat lawan lemah. Meski tak begitu serius namun jika dilakukan di waktu yang tepat, maka hal itu akan memudahkannya untuk menang.
__ADS_1
Ren Yuan tak bisa berhenti mengikuti kencangnya pertarungan itu, beberapa tempat latihan dirusak. Tempat membidik panah hancur seperti diserang badai. Berkali-kali Xin Zhan menguasai pertarungan dan direbut kembali oleh Xin Chen. Keduanya saling berimbang lagi, hingga nyaris tak ada satu detik pun terlewatkan tanpa menyerang.
Xin Zhan menyasarkan pedang kayu ke hadapan lawan, seketika pertarungan memelan. Keduanya dapat menarik napas walau hanya sebentar. Tangan Xin Zhan memerah karena terlalu keras memegang senjata. Tak ada satu pun serangan yang mengenai pedang Xin Chen begitu pula sebaliknya.
Namun meski begitu Xin Chen tetap bertarung adil, dia bisa saja menghilangkan wujud manusianya saat Xin Zhan lengah. Namun dia tak melakukannya. Xin Zhan menghargai itu. Namun ini benar-benar tidak bisa dibiarkan, jika Pertarungan tetap seperti ini, satu hari pun tidak akan ada yang menang.
Xin Zhan kembali ke tempatnya semula. Sama halnya seperti Xin Chen, hanya saja dia membiarkan kakaknya menarik napas sebentar.
Tak lebih dalam hitungan dua puluh detik, Xin Chen segera berdiri lagi. Sambil berkata tegas. "Bangun. Kita harus menyelesaikan ini."
Mau tak mau Xin Zhan mengikuti, dia tak ingin berdebat lagi karena terlalu lelah. Mungkin sudah lebih dari dua jam pertarungan berlangsung sengit. Xin Zhan sedikit mengumpat, dia baru sadar adiknya itu tak kelelahan sepertinya.
Ren Yuan mengisyaratkan pertarungan keempat dilanjutkan, belum sedetik pertarungan dimulai, Xin Chen langsung mengambil langkah pertama. Tak ada yang dapat dilakukan Xin Zhan selain mengamankan jarak. Hal itu tak berhasil sebab Xin Chen memaksanya untuk melawan. Pertarungan seperti sebelumnya kembali terjadi, meskipun tahu mereka berdua imbang, Xin Chen tetap menyerang Xin Zhan tanpa memberikan jeda.
Xin Zhan sempat meragukan cara adiknya itu, tak akan ada yang menang di antara mereka jika terus mengadu kecepatan.
Xin Zhan tersadar dia memiliki kelemahan saat ini. Rasa lelah seperti manusia pada umumnya. Sementara Xin Chen, tubuh manusia yang diwujudkan oleh kekuatan roh itu tak mudah merasakan penat. Memang mereka tak dibolehkan menggunakan kekuatan jenis apa pun, selain yang satu ini agar pertarungan bisa imbang.
Benar seperti dugaannya, Xin Chen menunggu dirinya lemah sampai-sampai tak mampu menyambut serangannya. Peluh di dahi Xin Zhan mulai berjatuhan seiring dengan terik panas matahari yang terus naik. Cuaca membakar tubuh dan kesabaran Xin Zhan. Sekali lagi, Xin Zhan menggunakan teknik berpedang yang diajarkan gurunya dulu.
Sebelum meluncurkan serangan yang memiliki teknik tingkat tinggi itu, Xin Chen mematahkan pergerakannya. Dia berhasil membenturkan pedang kayunya. Xin Zhan kalah dengan tangan masih mempertahankan posisi pedang kayunya sendiri.
Hanya hening mengisi setelah berakhirnya pertarungan keempat, kedua pemuda itu sama-sama serius. Mereka seimbang dua banding dua. Dan pertarungan kelima atau lebih tepatnya pertarungan terakhir ini akan menjadi penentuan nasib mereka ke depannya.
"Gila saja aku akan menghabiskan masa tuaku demi mencari kumbang tujuh warna." Tiba-tiba Xin Zhan bercelutuk, nada bicaranya sangat getir. Sementara gestur tubuhnya tampak kurang baik.
__ADS_1
"Aku minta lima menit untuk beristirahat."
Xin Chen mengiyakan, begitu pula dengan Ren Yuan. Tak adil jika Xin Zhan bertarung dengan kurang maksimal.
Ren Yuan masih terkagum-kagum dengan pertarungan kedua putranya, mungkin baru pertama kali dia melihat duel sesengit tadi.
"Kalian berdua tumbuh begitu cepat."
"Kalau ibu tidak kuat menunggu kami akan bertarung sendiri. Ibu tidurlah di dalam. Cuaca panas begini tidak bagus untuk kesehatanmu."
Ren Yuan menggeleng. "Aku harus melihatnya. Zhan'er, kau terlalu khawatir."
Tak habis sampai Xin Zhan saja, Xin Chen juga menyuruhnya beristirahat. "Kami mungkin akan lama. Jangan sampai keadaan ibu memburuk karena kami."
"Ibu baik-baik saja." Senyuman wanita itu mengembang indah, dia tak rela melewatkan kesempatan untuk melihat latih tanding anaknya ini. Namun senyum Ren Yuan perlahan memudar, membuat Xin Zhan yang serba khawatir akan ibunya bertanya.
"Ada apa? Kepala ibu pusing? Aku antarkan ke dalam."
"Bukan, bukan itu." Ren Yuan menunduk pelan. "Jika ayah kalian melihat ini, aku yakin dia akan begitu bahagia. Aku benar-benar beruntung memiliki anak yang berbakti seperti kalian."
Meskipun Ren Yuan memuji keduanya, tak satu pun dari Xin Zhan dan Xin Chen yang senang. Mengingat ayah mereka yang entah bagaimana sekarang, mungkin saja sedang dalam bahaya dan justru mereka duduk santai seolah-olah tak mengingatnya.
Ren Yuan meringis, sepertinya dia salah bicara lagi. Xin Chen dan Xin Zhan kembali berdiri, menantang satu sama lainnya dengan bersungguh-sungguh.
"Kali ini aku tak akan segan-segan."
__ADS_1
Xin Zhan menanggapi ucapan adiknya tak kalah menantang, "Bersiaplah menjadi pecundang untuk yang kesekian kalinya."