Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 137 - Langit Malam


__ADS_3

Rubah Petir menganggukkan kepalanya sedikit, setelah mendengarkan penjelasan Xin Chen di pagi harinya tentang keadaan sisa Manusia Darah Iblis akhirnya dia paham. Walaupun kejadiannya tak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan selama ini setidaknya orang-orang tersebut dapat mengakhiri masa hidupnya dengan damai.


"Chen, masih ada satu hal yang ingin aku tanyakan."


"Tentang apa?"


"Pemilik Topeng Hantu Darah, apakah dia sama sekali tidak muncul setelah hari itu?"


Ditanya begitu Xin Chen berpikir keras, mengingat-ingat apakah dia pernah merasakan hawa kehadiran Huo Zhao si roh penghuni topeng tersebut.


Sayangnya tidak sama sekali. Roh itu telah menghilang begitu saja tanpa kejelasan. Tahu Xin Chen menggelengkan kepalanya, Rubah Petir mengajukan pertanyaan lain.


"Apa kau pernah berpikir lagi bagaimana Irama Kematian memiliki alunan yang sama seperti Senandung Air?"


Dikarenakan banyak hal yang terjadi Xin Chen sampai melupakan keganjilan tersebut, dia menyahut. "Pastinya, aku ingin memastikan sesuatu."


"Kalau begitu kau pasti tahu tujuan kita saat ini."


"Ya, Kuil Teratai."


*


Mencapai sekte Kuil Teratai cukup mudah, hampir tidak ada halangan di perjalanan. Terkecuali gangguan dari para perampok yang biasanya mencuri pada malam hari, tapi yang namanya Xin Chen memang agak sesuatu. Yang dirampok dirinya, yang kehilangan harta orang lain. Rubah Petir sampai tak habis pikir. Batinnya terlalu lelah menghadapi perilaku Xin Chen.


Tidak mau memikirkan hal aneh lagi sewaktu malam tiba mereka segera berhenti, mungkin tak butuh setengah hari lagi seharusnya mereka sampai namun mengingat hari sudah malam dan marabahaya sangat rawan terjadi di malam hari Rubah Petir memutuskan untuk berhenti. Ye Long yang menyusul mereka dengan terbang jauh di atas langit akhirnya turun, hal itu dilakukan agar tak ada manusia yang menyadari keberadaannya.


Sementara Xin Chen duduk bersila di bawah pohon besar. Melepas penatnya setelah perjalanan siang malam tanpa henti. Dia menatap Rubah Petir sebentar, siluman itu menyadarinya.


"Kenapa terus menatapiku begitu? Kau seperti orang belum makan seharian saja."

__ADS_1


"Memang." Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin dikatakannya, Rubah Petir memasang raut wajah heran. "Guru Rubah, kaumasih memikirkan tentang orang itu?"


Orang yang dimaksud oleh Rubah Petir adalah sosok yang datang saat mereka berada di sarang siluman tempat Katak Daun tinggal. Aura mengerikan dari sosok tersebut bahkan masih bisa dibayangkannya.


"Entahlah... Aku rasa bukan dia musuhku. Melainkan hal lain, yang lebih besar." Firasatnya mengatakan demikian meskipun sampai saat ini belum jelas semua informasi yang mereka kumpulkan. Mengenai perebutan ketujuh Pusaka Langit, pembunuhan yang terjadi di Kekaisaran Shang, kedatangan para alkemis dari Kekaisaran lain dan juga tentang Lembah Para Dewa. Mau mencari kaitannya sama sekali pun Xin Chen hanya makin kebingungan dibuatnya.


Suara binatang-binatang malam dari hutan masih terdengar cukup jelas, membuat keheningan di antara mereka sangat terasa. Rubah Petir tidak menjawab apa-apa selain matanya yang terus menatap sinar rembulan malam.


Sekian lama suasana menjadi lengang, hanya Ye Long yang tidur bersandar pada batu terlihat tanpa beban.


"Di saat itu tiba aku tak yakin apakah aku masih bisa bertahan atau tidak."


"Saat itu? Hei guru Rubah, jangan berbicara setengah-setengah begini aku tidak paham apa maksudmu."


"Itu karena-"


Mata Rubah Petir berubah haluan, dia mengamati anak manusia di dekatnya tak yakin. "Yang ku tahu sudah kuceritakan semua padamu. Tinggal bagaimana kau menilai situasi ini dan menebak kemungkinan yang akan terjadi nantinya."


Sesudah itu Rubah Petir meninggalkannya dalam beribu tanda tanya besar, Xin Chen mendengus kecil. Dalam situasi rumit, merebahkan tubuh di atas rumput dengan langit malam berbintang seperti ini cukup menenangkan hatinya.


Kurang dari sedetik, sekilas Xin Chen melihat sebuah bayangan yang cukup mengerikan sedang melewati awan tebal di atasnya. Layaknya binatang buas dengan sayap dan tubuh yang panjangnya sepantaran dengan ketinggian gunung.


Entah itu hanya halusinasi saja mengingat memang tubuhnya kelelahan, Xin Chen memutuskan untuk memejamkan mata berusaha tidur. Ye Long di belakangnya telah membuka mata, mendongak pada langit malam sendirian.


*


Di keesokan paginya Rubah Petir sudah memanggang kelinci hasil tangkapannya, pagi sekali sebelum matahari belum menampakkan dirinya dia sudah bangun. Melihat manusia seperti Xin Chen masih terhanyut di alam mimpinya membuat tekanan darah tinggi rubah naik. Ada saja yang membuatnya emosi pagi-pagi.


"Bocah pemalas ini, kau lihat bahkan siluman saja bangun lebih dulu daripada kau. Manusia macam apa ini."

__ADS_1


Ye Long yang memang sudah terbangun daritadi menjilat wajah Xin Chen, walaupun mukanya sudah basah oleh air liur naga itu, Xin Chen masih senantiasa tidur. Bahkan lebih nyenyak dari sebelumnya. Ikut kesal juga Ye Long, dia menggunakan tangannya yang berat untuk menimpa tubuh Xin Chen.


"Uhuk! Uhuk!!"


Anak itu terbangun paksa.


"Sudah pagi saja. Baru tadi aku tertidur."


"Ini sudah mau siang dan kau bilang masih pagi? Cepat bangun dan cuci mukamu sebelum kau yang kupanggang di api ini." Biar bicaranya masih tergolong tenang tapi jelas terlihat Rubah Petir kesal bukan main.


Pertanyaannya, semenjak kapan Rubah Petir yang mengerikan sepertinya menjadi juru masak untuk menyiapkan makan pagi seperti ini. Benar-benar menyedihkan sekali.


Tengah disibukkan dengan ikan di hadapannya, ternyata Xin Chen kembali dengan membawa sebilah bambu. Dia melubangi beberapa bagian sehingga menjadi sebuah seruling. Sejak di perjalanan dia menggunakan waktunya untuk meningkatkan kemahirannya dalam menggunakan alat musik tiup dan juga melatih Irama Kematian. Terkadang Xin Chen mengasingkan diri dari Rubah Petir dan Ye Long untuk berlatih sendirian.


"Perkembanganmu sudah cukup bagus, hanya saja berhati-hatilah memainkan irama tersebut. Kau tidak tahu jika manusia biasa yang mendengarnya bisa tiba-tiba pingsan karenamu." Rubah bersuara, saran tersebut akan diingatnya. Xin Chen tak tahu seberapa berbahayanya ilmu hitam yang dipergunakan oleh pendekar dari Kekaisaran Wei yang terkenal kejam itu.


Dia mengeluarkan kitab Pengendali Roh yang tak lama ini diperolehnya dari Zhang Ziyi, belum-belum saja aura misterius telah memenuhi sekitar. Begitu kuat. Rubah Petir memasang wajah terganggu karenanya.


"Kau benar-benar serius mempelajari ilmu hitam. Sebagai anak yang terlahir dari golongan aliran putih, menodai tanganmu dengan ilmu sesat ini akan menjatuhkan nama Ayahmu di Kekaisaran. Kau lebih paham itu daripada aku."


"Ayah tak pernah melarang ku akan hal ini. Lagipula selagi tidak ada yang tahu memang apa salahnya?"


"Aura yang kau miliki akan sama saja seperti pembunuh berdarah dingin."


Xin Chen tersenyum polos, dia menunjuk wajah sendiri. "Apa wajah seperti ini orang-orang akan tetap menganggapku demikian?"


Si rubah tercenung sebentar, dipikir-pikir lagi anggapan orang takkan sejauh itu. Mengingat kesan yang ditunjukkan oleh Xin Chen hanya seorang anak usil nan bodoh.


"Baiklah, kita berangkat."

__ADS_1


__ADS_2