
"Pantas saja yang memimpin perempuan, apa yang kalian harapkan dari orang lemah sepertinya?"
"Jaga mulutmu! Kau meremehkan ketua kami!"
Xiu Qiaofeng mulai serius saat menatap musuhnya, rahang gadis itu merapat karena menahan kesalnya sendiri. Dengan gerakan pelan dia mengeluarkan pedang.
"Baiklah jika kalian yang meminta perang ini. Aku dengan senang hati akan meladeni kalian."
"Cih, bicaranya seperti dia akan menang saja. Baiklah! Tak perlu menunda-nunda karena aku pun muak dengan orang-orang kaya seperti kalian. Maju lah!"
Dua kubu saling bentrok dengan denting suara pedang yang saling beradu nyaring. Di tengah-tengah hutan itu untungnya tidak ada binatang buas yang menyerang selagi mereka bertarung, Xiu Qiaofeng mundur dengan begitu cepat. Matanya membulat saat tempo pertarungan semakin menggila dan tak dapat diimbanginya.
'Jadi seperti ini kekuatan orang Kekaisaran Qing? Aku bahkan tak bisa menghadapi penjahat kelas teri seperti mereka ...' Xiu Qiaofeng mulai merasakan kebas di tangannya akibat hantaman senjata berat yang terus-menerus datang. Dia mundur sepuluh langkah namun tetap di kejar oleh lawan yang semakin tertawa-tawa kesetanan.
Kepanikan Xiu Qiaofeng membuat laki-laki itu puas dan terus menghabisinya, jika bisa sekaligus untuk memenggalnya dan menjadikan kepala itu sebagai hiasan di kamar.
Xiu Qiaofeng kewalahan saat musuh lainnya masuk dan menjaga di belakang musuh. Setiap kali dia menyerang maka akan segera dipatahkan oleh orang yang berjaga di belakang pemimpin penjahat tersebut.
Beberapa pendekar bawahannya mulai mundur ketakutan setelah melihat seberapa mengerikan lawan mereka sekarang. Seolah-olah dibuat terkejut karena sebelumnya mereka bisa membasmi penjahat lain begitu mudahnya. Hari ini mereka kedapatan monster-monster liar yang tak terbandingi, apalagi kelompok Xiu Qiaofeng kalah jumlah.
Satu pendekar dari Lembah Kabut Putih jatuh dan dihabisi oleh lima laki-laki sekaligus. Mereka tak melepaskannya sampai hembusan napas terakhir, Xiu Qiaofeng berteriak kencang. Tak ada yang membantu laki-laki yang sudah sekarat itu bahkan sampai dia kehilangan nyawa.
Sedangkan yang lain terlalu sibuk dengan lawan mereka sendiri. Situasi bergerak di luar kendali dan keadaannya Xiu Qiaofeng terpojokkan. Dalam satu tebasan, pedang tajam melewati pipi kirinya, rambut Xiu Qiaofeng yang berterbangan terpotong oleh sayatan tersebut.
__ADS_1
Laki-laki yang menjadi lawannya menghentikan serangan sejenak, seringai iblis terpampang di kedua sudut bibirnya saat memandangi wajah rupawan milik Xiu Qiaofeng.
"Ah, kau cukup cantik juga. Mungkin hanya kau yang akan ku sisakan, paling tidak kau masih bisa selamat, mungkin menjadi babuku? Atau mau ke neraka juga bersama yang lain?"
"Lebih baik aku membusuk di neraka daripada bertemu orang sepertimu."
"Oh, hahaha kata-kata yang pedas, Nona Muda. Kau pasti masih sedarah dengan mantan Pilar Ketiga perempuan itu, bukan? Siapa namanya? Hm, Xiu Juan? Apa dia gurumu? Kalau benar sebaiknya kau memberikan peringatan padanya." Laki-laki itu perlahan mendekat sehingga jarak yang tersisa di antara mereka hanya dua meter.
"Karena tak lama lagi penyerangan para pahlawan Kekaisaran Shang akan dimulai. Aku cukup baik bukan mengatakannya padamu? Ah, andai kau bersedia menjadi pelayan ku."
"Kapan? Kapan penyerangan itu akan dimulai?" Xiu Qiaofeng menanggapi dengan wajah dingin.
"Hm? Hahahaha, jadi istriku dulu baru ku beri tahu!"
"Cobalah. Jika kau sanggup."
Pertarungan di antara keduanya berlangsung semakin sengit, kali ini Xiu Qiaofeng tak menahan diri lagi setelah melihat bagaimana kekuatan lawannya. Dia tak bisa meremehkan mereka begitu saja. Saat mereka sibuk berbicara tadi, rupa-rupanya dua orang dari pihaknya telah jatuh dua orang. Satu sekarat dan berhasil di tarik mundur oleh yang lain sedangkan yang satunya lagi tewas dengan bekas luka tusukan dalam.
Sejurus pertarungan mulai berubah, Xiu Qiaofeng mulai dapat menguasai medan pertarungan. Namun itu tak berlangsung lama sebab lagi-lagi orang lain memasuki pertarungan mereka. Tiga lawan satu. Napas Xiu Qiaofeng hanya tersisa sepenggal dua penggal dan dirinya tak yakin bisa bertarung lebih lama lagi.
Di pikiran gadis itu hanyalah bagaimana cara menghabisi ketiga orang ini dengan cepat sebelum kekuatannya habis. Gadis itu melompat dengan batang pohon sebagai pijakan, menyerang orang di balik punggung musuh utamanya hingga jatuh terguling.
Xiu Qiaofeng berniat menghabisi orang tersebut akan tetapi serangan yang lebih ganas segera mengintai kepalanya. Xiu Qiaofeng tak sempat menghindar, dia menggerakkan senjata meski pun sudah terlalu telat untuk menangkis dan beruntungnya senjata itu lewat begitu saja tanpa menggores tubuhnya sedikit pun.
__ADS_1
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, selagi incarannya dibantu berdiri Xiu Qiaofeng mengeluarkan senjata rahasia berupa cakram besi beracun. Dia melemparkannya dengan tepat sehingga menembus langsung ke jantung lawan.
Racun itu menyebar ke seluruh tubuh tanpa memakan waktu lama, lebih tepatnya itu adalah racun dari salah satu siluman berbisa yang dapat membuat lawannya lumpuh atau tewas dalam waktu singkat. Racun kelabang. Tak sampai semenit, laki-laki itu meregang nyawa dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Xiu Qiaofeng menatap satu lagi orang yang berdiri di belakang pimpinan kelompok. Dia sedikit gentar namun membalas tatapan Xiu Qiaofeng dengan tajam
"Hm, boleh juga. Kau cukup kuat juga."
"Kapan mereka akan menyerang?"
"Kau begitu penasaran, bukan begitu?"
"Ini semua menyangkut nyawa Nyonya Xiu, guruku sendiri. Aku tak bisa membiarkannya tewas di tangan-tangan kotor seperti kalian. Dia tak pernah menginginkan kematian yang tak terhormat seperti itu. Mati dalam peperangan mungkin lebih baik daripada mati disergap kawanan binatang biadab seperti kalian!"
"Blablabla! Selalu bicara soal harga diri dan keadilan. Kalian hanya sekumpulan sampah yang menyebut diri sendiri suci. Aku takkan mengatakan apa pun yang kau mau, sampai di sini paham?"
Perubahan sikap itu terlihat jelas, lawannya terlihat mulai tak menyukai pembahasan ini padahal dirinya sendiri yang memulai tadi. Xiu Qiaofeng tetap harus mengorek informasi dari orang tersebut selagi bertarung.
"Kalian datang dari Kekaisaran Qing? Kau bicara seperti orang penting saja seolah-olah kau tahu segala hal yang terjadi di sana. Padahal kalian tak lebih dari gelandangan yang tak punya rumah."
"Heh? Kau mencoba mengorek informasi dariku? Cara seperti itu takkan mempan padaku, Nona Muda."
"Soal kematian salah satu dari Sepuluh Terkuat di Kekaisaran Qing. Nomor ... Empat, mungkin. Jangan bilang dia mati karena ..."
Seketika tebasan miring menghentak keras. Membuat pedang di tangan Xiu Qiaofeng terlepas.
__ADS_1
"Jaga omonganmu atau kau mati sekarang."