
Penjaga markas mundur, anggota inti Empat Unit Pengintai memainkan cambuk di tangannya. Cambuk api yang memiliki jangkauan luas, senyum merekah lebar di bibir pria itu.
"Ho ... Kebetulan kami kekurangan seseorang yang bisa dijadikan objek untuk melaksanakan Pesta Berdarah ini? Kau tidak berkeberatan?" Raut wajah menantang itu semakin menertawai Xin Chen yang telah kehabisan kesabarannya saat melihat jasad Mou Zhueyang tak terselamatkan lagi. Kekuatan Api Keabadian tak lagi bisa mengembalikan kehidupannya. Dia telah mati utuh, baik raga maupun jiwanya.
"Kau berkata akan tetap hidup sampai Pedang Iblis kembali ..."
Lao Dao, anggota ke-19 Empat Unit Pengintai tak mengerti ucapan itu ditujukan untuk siapa, dia melihat pemimpin prajurit di bawah kakinya. Menyeringai tiba-tiba dan membenamkan kepala mayat itu dengan sebelah kaki.
"Apakah nyawanya begitu berharga bagimu?" Meskipun kakinya menginjak-injak, tatap mata Lao Dao tak lepas dari Xin Chen.
"Perhatikan langkahmu, manusia busuk."
Kata-kata Xin Chen membuat Lao Dao memelototkan matanya lebar-lebar, merasa semakin dipanas-panasi lantas mulutnya berseru keras.
"Kau yang meminta kematianmu sendiri!"
Xin Chen hendak bergerak namun sekitarnya berubah gaduh, seseorang memanggil pendekar Empat Unit Pengintai lain. Jumlah mereka melebihi angka dua ratus dan sekarang telah berkerumun mengelilingi Xin Chen. Siap dengan senjata masing-masing. Seru-seruan perang terdengar membumbung melawan badai yang semakin mengganas. Lao Dao tersenyum miring, cukup dengan hal itu saja dia yakin akan membuat nyali pemuda itu ciut.
Menghadapi 10 prajurit kelas teri memang bukan pekerjaan yang menyenangkan bagi Lao Dao, dia bahkan nyaris mengumpati atasannya setelah menerima misi tersebut. Namun jika dengan itu mereka bisa menumbangkan nama prajurit Benteng Fugi, maka hal itu pasti akan berdampak pada masyarakat desa seberang. Mereka akan takut pada nama besar Empat Unit Pengintai.
Untuk itulah Lao Dao di sini, menghabisi para prajurit tanpa bersisa.
"Ha-ha-ha sepertinya kami terlalu antusias menyambut kedatangan kalian." Tawanya menggelegar, bersama guntur yang ikut menambah kesan ngeri terhadap laki-laki itu.
Xin Chen yang semula berdiri tepat di depannya menghilang. Lao Dao memasang sikap waspada. Membaca pergerakan lawan dalam ributnya deras air hujan. Lao Dao merasakan sesuatu akan datang padanya, bersegera melayangkan serangan.
__ADS_1
Cambuk tersebut menggantung di udara, napas Lao Dao tertahan. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Ditariknya benda itu. Tarik ulur terjadi.
"Malam ini akan menjadi malam berdarah."
Tengkuk Lao Dao menjadi sedingin es, dia merebut kembali cambuknya. Sosok tersebut tak menampakkan diri lagi, hanya terdengar suara-suara bising yang membangkitkan bulu kuduk.
"Bangkitlah jiwa yang terbangun."
Lao Dao tak tahu mengapa sekitarnya menjadi begitu berat, pria itu tetap tak terganggu sekali pun anak buahnya mulai berbisik-bisik satu sama lain. Ada yang aneh kata mereka. Lao Dao memutuskan untuk tak mempercayai itu, Xin Chen hanya menggetarkan mereka.
"Kotori tanganmu pada pembalasan tanpa ampun."
Hujan mendadak berhenti, tak ada yang menganggapnya aneh dan lebih memilih mencari sumber suara yang seakan-akan menggema di mana pun. Tidak jelas sumbernya dari mana. Jika saja Lao Dao tahu di mana Xin Chen bersembunyi, sudah pasti saat ini pemuda itu meregang nyawa di tangannya.
"Hah-ha! Aku mengerti, aku mengerti!" Lao Dao meludah setelahnya, "Kau mencoba menakuti kami karena sadar dirimu terpojokkan, kami menang jumlah dan kekuatan dibandingkan kau yang sendirian! Kau pengecut tidak tahu malu, berani memakai trik busuk itu padaku, anggota inti ke-19 Empat Unit Pengintai?!"
Keheningan mencekik Lao Dao, pria itu kembali menatap lurus dan mendapati Xin Chen telah berdiri menunduk di hadapannya. "Hari pembalasan, malam berdarah. Ingatlah kehidupan siapa yang telah kau hancurkan dengan tangan kalian itu dan sesali semuanya di alam kubur."
Terdengar Xin Chen berbisik. "Kitab Pengendali Roh - Mata Ilusi."
Bulan putih pucat berubah menjadi ilusi mematikan berapa mata yang terbuka lebar, mengintai seisi Lembah Para Dewa. Bagi yang tidak terdampak jurus tersebut semuanya akan terlihat normal.
Begitu Lao Dao melihat para pendekar di sekitarnya yang berdiri mematung menghadap ke langit, dia sudah tahu apa yang terjadi. Pengguna Roh, kekuatan yang paling ditakuti di Kekaisaran Qing hingga dikeluarkan hukuman mati bagi mereka yang nekat mempelajari teknik berbahaya tersebut. Meskipun dulunya mereka amat mendukung praktik penggunaan roh, tahun belakangan ini terjadi tragedi mematikan yang menewaskan satu desa. Dan sang pengguna roh pun tewas akibat perjanjiannya dengan roh itu sendiri.
"Tutup mata kalian! Ini semua adalah teknik ilusi!" Lao Dao berteriak.
__ADS_1
Xin Chen tersenyum miring, "Akan kupastikan kau tergoda untuk membuka matamu."
Kata-kata Xin Chen disambut dengan serangan pedang yang beruntun tajam mencoba merenggut nyawanya. Lao Dao memakai sebuah mantra yang dipercayai klannya dapat menghindari kendali roh. Meskipun tak membantu banyak, dengan begitu dia akan lebih sulit terkena dampak Ilusi.
Kitab Pengendali Roh adalah mimpi buruk, Kaisar di tempatnya bahkan sampai menyuruh Zhang Ziyi menggunakan kekuatannya itu untuk menghancurkan Kekaisaran lain. Pria itu menyukai pembantaian yang merenggut nyawa di atas ratusan orang. Mereka takkan bisa mengiyakan hasrat pembunuh Zhang Ziyi yang berapi-api dan lebih memilih menimpakan kekuatan itu ke tempat lain.
Dan tanpa disangka, kekuatan itu telah tumbuh dan menjadi sumber malapetaka lain. Lao Dao tak mengenal siapa pengguna roh ini, yang pasti dia memiliki Kitab Pengendali Roh. Ingin dia segera kembali untuk melaporkan hal ini, namun pertarungan sulit membuatnya tak bisa berkutik.
Lawannya itu tangguh memainkan pedang, Lao Dao mencebik. Xin Chen tak melebarkan jarak dan terus memojokkannya sedemikian rupa. Lima puluh pendekar kehabisan jiwa mereka sebelum Mata Ilusi menghilang.
"Kau tidak pantas mati dikubur." Xin Chen menaikkan alur serangannya, pedang saling bertabrak. Adu tangkis terjadi, Lao Dao menangkis serangan Xin Chen dan dalam langkah seribu melarikan diri.
Sesuatu membuat tubuhnya seperti ditimpa batu yang amat besar, kekuatan roh menyergapnya dari berbagai sisi. Pria itu menjerit sakit, lebih kencang dari teriakan orang sekarat. Sesuatu menggerogoti di dalam, membuat Lao Dao mengguling di tanah dan menyepakkan kakinya.
Lao Dao merasa tubuhnya seperti dimakan oleh belatung, digigit sedikit demi sedikit hingga organ dalamnya bocor. Roh tersebut memakannya, membawa jiwa Lao Dao menjadi bagian dari mereka.
"Kau lebih pantas mati bersama mereka yang sudah kau bunuh."
***
Thor pengen berubah jd mesin ketik, beneran.
Sayangnya thor cuma manusia. Sering capek, stress, sakit, apalagi bnyk masalah dtg. Pengen dimengertiin sbg manusia, maafkan diriku cuma bisa up segini dulu. :(
Besok insyaallah udh up seperti biasa yak, xiexie🥰
__ADS_1
Nah, nahh jadi daftar nama temen-temen yg ikutan waiting list kemarin akan thor umumkan besok. Lope lima kebon deh buat kalian<3 makasih bangett, aku ndak bisa ngomong apa2 selain kata terima kasih karena telah mendukungku. Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan dilancarkan rezekinya yaaa💝(๑♡⌓♡๑)