
Ren Yuan ingin sekali memeluk putranya itu namun sayang situasi di sekitar makin mendesak, beberapa murid dari Lembah Kabut Putih terluka serius menghadapi Siluman dan mayat-mayat yang dipanggil oleh Han Zilong. Tak bisa diremehkan lagi, meskipun sudah menciptakan ribuan mayat dari dimensi lain, kekuatan Han Zilong sama sekali tidak melemah.
"Chen'er, kau harus segera pergi dari tempat ini selagi ayahmu menghadang musuh. Ibu akan tetap di sini untuk membantunya, tolong katakan pada Zhan'er untuk ikut kapal penumpang di pelabuhan, kalian harus segera bergerak ke Kota Fanlu." Ren Yuan dengan suara berat, dia sengaja menyembunyikan luka di balik lengan jubahnya agar tak membuat anaknya khawatir.
"Ayah pernah bilang jika saatnya tiba, aku harus menyelamatkannya. Aku tidak bisa pergi dari sini."
"Chen'er, bukan itu maksud ayahmu. Ibu yakin dia tak ingin kau terluka walau hanya segores saja, kali ini saja, mohon dengarkan ibumu," pinta Ren Yuan hampir menangis. Nyawa kedua putranya adalah segala-galanya bagi wanita itu, dia tidak keberatan menukarkan nyawanya sendiri asal mereka hidup.
"Ibu sudah pernah meminta padaku juga seperti ini, dan aku malah membangkang." Xin Chen begitu ingat saat di mana dia hendak meninggalkan Lembah Kabut Putih untuk mengelana bersama Rubah Petir, dia sama sekali tidak mempertimbangkan bagaimana perasaan Ibunya setelah kepergiannya. Mendengar sendiri dari Xin Zhan bahwa ibunya menangis setiap malam, menunggu kepulangannya. Rasanya sangat menyakitkan jika untuk yang kedua kalinya Xin Chen menolak permintaan Ibunya.
Lama menunggu reaksi dari Xin Chen, kemudian yang diterimanya bukan persetujuan. Xin Chen berjongkok dan perlahan-lahan bersujud di hadapan ibunya.
"Aku minta jika untuk yang kedua kalinya, aku melanggar perkataan ibu."
"Chen'er ... " Air mata yang sedari tadi memupuk di kedua bola mata Ren Yuan akhirnya tumpah juga, wanita cantik itu mendekap putranya. Rasa takut akan kehilangan yang amat besar, mengingat anaknya yang kedua ini begitu lemah dibandingkan Xin Zhan.
"Tenang saja aku bisa menjaga diri," katanya kecil. "Janji."
"Baiklah, jika rumah kita telah diperbaiki kau harus menerima hukuman dari Ibu."
"Dengan senang hati." Ren Yuan mengusap kepalanya penuh kasih sayang, kerinduannya pada Xin Chen seakan terobati.
Hempasan angin mendadak menerpa tubuh mereka, pepohonan di sekitar bergoyang tak beraturan. Seekor naga berkulit hitam jatuh menghantam tanah, sayapnya yang sebelah kiri terluka parah. Xin Chen membulatkan matanya.
__ADS_1
"Ye Long!"
Naga itu mendesis kala mendengar suara majikannya, Ren Yuan menatap siluman itu sambil bersiap-siap mengeluarkan senjatanya. Namun kelihatannya Xin Chen mengenal siapa siluman itu.
Naga hitam itu meringkuk di tanah, goresan dalam di dalam tubuhnya mengeluarkan darah banyak. Tak berapa lama berselang sesosok pendekar turun, menimbulkan getaran kuat di tanah.
Ren Yuan yang pertama kali menyadari bahaya mengincar anaknya, dia berdiri di depan Xin Chen sambil merentangkan pedangnya.
"Chen'er, mundur ke belakang."
"Baik."
Ye Long meraung, tampaknya tak terima sosok yang dianggap lawannya akan menghadapi wanita itu. Dia saja sudah terluka parah, apalagi jika manusia yang menghadapi pria tersebut. Han Zilong menghela napasnya, dia memiliki kesadaran namun sayangnya pikirannya dikendalikan oleh sesuatu.
Ren Yuan tahu para pemanggil sosok Han Zilong mengorbankan tubuh seseorang sebagai wadah jiwa pria tersebut.
"Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau membunuh orang-orang kau lindungi?" Ren Yuan berbicara lantang, Xin Chen kagum melihat ibunya. Meskipun tahu lawannya ini sama sekali tak sepadan dengannya namun dia masih tegar seperti biasa. Tidak terlihat sedikitpun rasa gentar di wajahnya.
Akan tetapi Han Zilong sama sekali tidak menjawab, justru dia memulai pertarungan lebih dulu dengan melemparkan pedangnya. Ren Yuan buru-buru menghindari lemparan tersebut namun pedang milik Han Zilong berbalik arah saat melewati Ren Yuan.
Rambut Ren Yuan sedikit terpotong akibat serangan mendadak tersebut, helaian rambutnya jatuh ke tanah. Kecepatan tangan Han Zilong terlalu cepat, bahkan dia sangat beruntung dapat menghindari lemparan tersebut.
"Chen, tetap di belakang ibu atau jika bisa cari Pilar Kekaisaran lainnya untuk membantu di sini. Hati-hati dengan para mayat di jalan sana."
__ADS_1
"Tidak, aku akan tetap di sini bersama ibu."
"Tapi-!" Ren Yuan paham, Xin Chen terlalu lemah untuk berlari sendirian di antara para musuh yang membanjiri Kota Renwu. Dia juga tak ingin putra keduanya itu terbunuh selama mencari pertolongan.
"Baiklah ibu menger-"
Trang!!
Han Zilong tiba-tiba sudah berada di depan wajah Ren Yuan, jubahnya berkibar akibat angin kencang yang sangat kuat. Kapanpun menyerang Han Zilong tetap menggunakan kekuatan yang besar, hal itu membuat apapun yang berada di sekitarnya rusak.
Ye Long baru saja menangkis pedang Han Zilong dengan ekornya, nyaris saja serangan tersebut mengenai leher Ren Yuan. Wanita itu mundur beberapa langkah, napasnya tercekat. Aura yang dimiliki lawannya ini begitu menekan membuat udara di sekitar menjadi lebih berat.
Ye Long mengandalkan api dan ekornya untuk melukai Han Zilong, pertarungan keduanya membuat apapun yang berada di sekitarnya menjadi hancur lebur. Xin Chen tidak paham mengapa Ye Long begitu membenci Han Zilong, mungkin karena naga itu menganggapnya sebagai orang yang mengendalikan Naga Kegelapan di sana.
Dengan melihat pertarungan Ye Long dan Han Zilong, Xin Chen baru mengetahui bahwa lelaki itu adalah lawan alami Ye Long, pria itu menguasai elemen es yang menjadi musuh terbesar pengguna elemen api. Saat naga itu menyemburkan apinya Han Zilong dapat menetralkan api tersebut dengan esnya, meski pun api tersebut adalah Api Keabadian yang takkan padam namun saat terkena teknik yang lebih tinggi dan mantra tertentu api tersebut akan padam dengan mudah.
Hanya butuh waktu singkat hingga akhirnya Ye Long kembali terpojok, luka berat di sayapnya membuat naga itu tidak bisa bergerak leluasa. Dia tertangkap oleh Han Zilong dan dengan kecepatan kilat terdengar bunyi suara tulang setelahnya. Sebelah sayap Ye Long telah patah.
"Ye Long!" teriak Xin Chen, dia tidak bisa terus menonton kekalahan Ye Long dan ibunya. Sementara dirinya tidak diperbolehkan bertarung oleh Ren Yuan.
Tepat saat Ye Long berhasil dijatuhkan, Han Zilong mulai menyerbu Ren Yuan. Puluhan keping cakram es yang tipis nan tajam datang, Ren Yuan berhasil menghindarinya meskipun hampir telat namun tanpa diduganya Serangan lain mengintainya sedari tadi.
Han Zilong telah menarik pedang di atas kepala Ren Yuan, dia menjatuhkan senjata beratnya tepat di atas kepala wanita itu.
__ADS_1
Xin Chen berusaha menyelamatkan ibunya tapi terlambat, jaraknya terlampau jauh untuk mengimbangi kecepatan tarikan pedang Han Zilong.