Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
Ch. 37 - Rahasia Pil Keabadian


__ADS_3

Tujuh siluman sekaligus melindungi sang wanita alkemis, geraman mereka terdengar menggertak Xin Chen. Satu demi satu mulai maju menyerbu, sedangkan Xin Chen masih di tempatnya berdiri.


Ketika dua siluman menerkamnya, mata wanita alkemis membeliak lebar-lebar. Xin Chen tembus begitu saja dari sana, seperti hantu. Tatapan mata Xin Chen mulai menuju ke arahnya, membuat wanita itu merasa ada yang salah darinya.


Kabut putih menutupi hampir seluruh tubuh Xin Chen, tapi tidak dengan tatapan matanya yang tajam. Terdapat sesuatu yang bersinar terang di kepalanya, tanda bunga api mulai menjalar membuat kabut yang semula putih berubah merah darah.


Wanita alkemis tak pernah membayangkan pertama kali dirinya dibuat sangat ketakutan saat berhadapan dengan anak kecil sepertinya. Benar-benar terlihat seperti Iblis, perlahan-lahan pula aura mengerikan mulai menyerbunya. Aura mematikan dari Topeng Hantu Darah ikut keluar bersama dengan Xin Chen yang terus mendekat.


"Hantu Kabut... Kau terlihat seperti–" Xin Chen tiba-tiba sudah berada di balik punggungnya, menebas menggunakan kecepatan penuh membelah tubuhnya. Meski ketajaman pedangnya tak seberapa namun kekuatan yang dikerahkan Xin Chen juga tak main-main. Membuat baju pelindung besi yang wanita itu kenakan pun ikut tertembus pedang.


Sayatan Xin Chen sendiri masih belum cukup untuk membunuhnya, saat dia jatuh berlutut Xin Chen menggunakan mode hantunya dan memasukkan tangannya tepat ke jantung lawan.


Wanita alkemis terkejut saat menyadari Xin Chen tak lain halnya dengan hantu, matanya terbelalak saat merasakan tangan anak itu berada di dalam tubuhnya dan menarik jantungnya dari sana.


"Arrrgh!!!"


Rubah Petir sendiri terkejut melihat kekejaman Xin Chen, dia tak pernah membayangkan Xin Fai pernah melakukan hal yang sedemikian keji seperti ini.


"Anak ini... Jika dibiarkan bisa kehilangan kendali." Rubah Petir mendekat ke arahnya, melakukan serangan terakhir pada siluman-siluman yang menjadi lawannya sebelum pergi.


"Chen, apa yang kau lakukan?"


Xin Chen mengangkat kepalanya, menatapi rubah tersebut dengan tatapan kosong.


"Aku benci darah," ucapnya.


"Lalu mengapa kau membunuh dengan cara seperti itu? Justru tanganmu lebih banyak dinodai oleh darah."


"Aku memang membenci darah. Tapi kalau aku harus berhadapan dengannya demi mereka yang berada di dalam kota ini, mengakhiri perang dan melindungi rumahku, aku takkan segan melakukannya pada siapapun yang terlibat." Selesai berkata demikian jantung yang masih berdenyut di tangannya dia pecahkan, tubuh wanita itu sendiri telah terkapar tak bernyawa. Dengan mata terbelalak lebar-lebar.

__ADS_1


Rubah Petir menggeleng pelan. Tidak tahu harus memberikan respon seperti apa.


Xin Chen memasuki bagian dalam Desa Hantu, menemukan mayat seorang pria yang terasa tak asing, benar saja, pria itu adalah orang yang pernah dia selamatkan di rumahnya. Sang peracik obat yang datang ke Desa Hantu untuk mengantarkan penawar racun ini.


Beberapa bangunan di tempat ini telah dibakar hangus sehingga membuat kepulan asap menjadi sangat tebal, Xin Chen yakin wanita alkemis itu pasti mencemari udara dengan racun serbuk.


Membuat siapapun yang menghirupnya akan meninggal. Selain itu air di tempat ini berwarna hijau lumut. Walaupun bisa bertahan dari asap, mereka takkan sanggup hidup dengan meminum air kotor beracun itu.


"Sial... Pantas saja terdengar banyak sekali pembunuhan akhir-akhir ini. Apa Ayah sudah mengetahui jika semua pusaka langit itu berada di Kekaisaran kita? Seharusnya dia tahu... Sebentar lagi mungkin perang akan kembali terjadi."


Xin Chen membalikkan badannya, menatapi Rubah Petir lama-lama.


"Ada apa?" Tanya Rubah Petir merasa ada yang tak beres.


"Begini, Ayah bilang Siluman Penguasa Bumi bisa mengendalikan alam dengan kekuatannya. Apa kau bisa menurunkan hujan atau yang lain agar kabut di sini menghilang?"


Awan-awan tersebut mengambang rendah di atas mereka, dari arah laut disertai petir yang berantai-rantai di bawahnya. Xin Chen bahkan sampai khawatir salah satu petir itu mungkin akan menyambarnya.


"Kenapa? Kau mau kena sambar petir?"


"Apa? Guru, kau gila? Tubuhku saja sudah terluka parah dan kau mau menambah rasa sakitnya?"


"Kau tidak bisa mati, 'kan?" Rubah Petir menyahutinya, membuat Xin Chen membungkam mulutnya tak mau menjawab. Dia belum sempat mengatakan hal ini pada Rubah Petir. Membuatnya sedikit tak enak hati.


Rasa curiga mulai datang saat petir-petir ciptaan si rubah mulai turun ke permukaan laut, menyambar dalam kecepatan tinggi dan masuk hingga ke dasar laut. Membuat gelombang pun meninggi serta memperlihatkan cuaca yang diciptakan Rubah Petir seperti akan kiamat.


Lebih tepatnya kiamat untuk Xin Chen, karena pada saat matanya sibuk mengamati aliran laut yang kini telah diisi dengan listrik bertegangan tinggi punggungnya di tolak hingga tercebur ke dalamnya.


"Tu-tunggu, tidak!!"

__ADS_1


Byurr


Sengatan listrik menyetrum tubuh Xin Chen, pendekar besar sekalipun mungkin takkan tahan bahkan seketika bisa meninggal oleh listrik ini. Rubah Petir menjadi semakin yakin dengan dugaannya, meski dia tak begitu tahu jelas bagaimana tubuh Xin Chen bisa sekuat itu menahan listriknya.


Rubah Petir menaikkan kekuatan petirnya membuat tegangan menjadi semakin mengganas, Xin Chen berusaha naik ke atas jembatan namun ombak seperti tak menginginkannya pergi. Ombak tersebut menarik Xin Chen semakin ke tengah laut.


Hujan turun deras setelahnya, hujan yang biasa menyejukkan kini berubah menjadi mengerikan. Tiap-tiap tetesan air itu mengandung listrik berkekuatan tinggi, jika dalam satu detik saja ribuan tetesan air jatuh ke laut berarti Xin Chen harus siap-siap merasakan kematian paling menyakitkan itu selama di dalam air.


"Arrghh!! Kalau begini lebih enak mati saja!" teriak Xin Chen tak sanggup lagi, merasa anak itu sudah tak memiliki daya lagi Rubah Petir menariknya dari air dan membaringkannya di atas jembatan.


"Masih bisa hidup?" tanya Rubah Petir.


Xin Chen memelototkan matanya kesal, masih sempat juga Rubah Petir menanyakan keselamatannya setelah membunuh dirinya seperti tadi.


"Kalau tidak ada pil itu mungkin aku sudah menjadi ratusan hantu yang menggentayangimu," gerutu Xin Chen. Napasnya masih belum bisa stabil juga meskipun sudah berada di darat.


"Pil yang kau maksud itu apa? Bisa jelaskan?"


"Pil Dewa Matahari. Katanya itu adalah pil keabadian, kukira hanya bohongan tapi hari ini aku benar-benar tidak mati. Seharusnya aku sudah mati sekali oleh wanita itu dan seratus kali oleh guruku sendiri," jawabnya sedikit terdengar seperti mengumpat.


"Hahahaha itu karena aku ingin memeriksanya sendiri. Rupanya benar."


Xin Chen mendengus, "Ngomong-ngomong seharusnya dengan kekuatanmu kau bisa menolongku saat hampir dibunuh wanita tadi."


Rubah Petir berjalan duluan, tak peduli dengan Xin Chen yang masih berusaha berdiri di belakangnya. "Kau pikir aku mau menolongmu?"


"Hm." Dalam hatinya anak itu hanya bisa menggerutu, memang kesalahannya di awal tidak segera mengenakan topeng hantu dan berakhir ditusuk-tusuk kesetanan oleh si wanita alkemis, tapi paling tidak kini dia dapat membuktikan bahwa tubuhnya memang abadi.


Entah memang benar atau tidak, Xin Chen rasa masih harus mencari jawaban mengenai pil keabadian ini. Tapi tampaknya Pil Dewa Matahari dibuat oleh orang Kekaisaran lain, dia takkan mendapatkan informasinya dari siapapun kecuali dengan pergi ke sana.

__ADS_1


__ADS_2