
"Siapa kau?" Rubah Petir mulai waspada, sosok perempuan yang menggunakan topeng masker ini terlihat sangat mencurigakan. Setahu Rubah Petir tak ada penduduk Kekaisaran Shang yang memiliki penampilan sepertinya.
"Perkenalkan dulu, aku Huan Rong, salah seorang alkemis dari Kekaisaran Wei..."
"Kekaisaran Wei?" Xin Chen terbatuk-batuk kecil, antara memang napasnya sedang sesak dan terkejut nama Kekaisaran dengan peradaban yang terkenal lebih maju itu.
"Apa kalian bersekutu dengan Kekaisaran Qing?"
"Bersekutu? Jangan mimpi!"
Gas beracun yang dilepaskan menjadi lebih pekat, wanita itu menatap Xin Chen menunggu anak itu menemui ajalnya. Tapi hal itu tak kunjung terjadi seperti yang dia harapkan.
"Cih, sepertinya kau memiliki tubuh yang istimewa hingga tak terpengaruhi oleh racun ini." Jari lentik wanita itu mulai bergerak-gerak, membuat siluman beracun yang bersembunyi di balik kepulan asap berkeliaran datang ke arahnya.
"Seperti yang lainnya, kau akan mati di sini."
Xin Chen menghindari ular-ular yang berukuran sangat besar, dari warna sisiknya saja Xin Chen sudah dapat menebak siluman itu bukan seperti yang sering dilihatnya di hutan. Lebih terlihat seperti monster yang dijinakkan untuk melukai orang banyak.
Rubah Petir sendiri menyerang lawannya, tubuh mereka sekeras baja dan sulit ditembus. Dalam hal ini untuk sementara Rubah Petir tak bisa membantu Xin Chen, anak itu harus bertahan hidup sendiri jika ingin selamat.
"Kalian-" Xin Chen menundukkan kepalanya saat kibasan ekor datang, "Kenapa kalian menyerang kami semua?!"
"Ha-ha-ha tampaknya Kaisar kalian menyembunyikan perihal ini." Wanita itu tertawa licik. "Kau sudah lihat sendiri, kan? Pusaka langit bernama Pedang Manusia Iblis dan Kaisar Langit kini berada di tangan siapa?"
"Ya, aku tahu! Tapi apa permasalahannya?"
Mata wanita itu membulat tajam, mengintai Xin Chen penuh rasa awas. "Semua senjata legenda, pusaka langit dan bumi, berada di negeri Kekaisaran kalian ini! Karena itulah semua orang mulai memperebutkan barang itu. Kekacauan yang telah terjadi di ribuan tahun lalu akan kembali terulang mulai detik ini...."
Cukup terkejut Xin Chen saat mendengarkannya, "Berarti yang diincar oleh Lembah Para Dewa..."
"Semua pusaka itu! Pusaka yang bisa mengendalikan dunia ini semaumu! Semua orang akan bertarung untuk itu!" seru wanita tersebut ambisius. "Aku mengorbankan nyawaku untuk mendapatkan satu dari benda itu, Kitab Tujuh Kunci. Tapi sayangnya..." Mata lentiknya beralih ke tempat lain.
__ADS_1
"Setelah menyelidiki tentang klan Lan yang terakhir kali membawa Kitab tersebut dari Kekaisaran Qing, aku mengetahui bahwa kitab itu telah dibawa kemari. Sayangnya tidak ada satupun orang yang bisa menjelaskan di mana kitab itu berada."
Xin Chen mengayunkan pedangnya kencang, berhasil melukai sebelah mata siluman yang menempel padanya sejak tadi. Di sisi lain dia tak ingin memberi tahu bahwa Kitab itu kini berada di tangan Ayahnya. Hal itu hanya akan menambah beban di pundak Xin Fai.
"Selagi utusan-utusan lain mencari semua benda pusaka di penjuru dunia, aku akan menetap di sini. Menyerang di balik kegelapan. Tidak ada yang bisa menghentikanku, bahkan Pedang Iblis sekalipun."
Xin Chen mulai kesal mendengar omongan wanita itu, dia melangkah cepat dan mencari celah untuk menggencarkan serangan, tampaknya lawannya kali ini bukan tipe petarung. Bisa dilihat dari setiap serangan yang diarahkan wanita itu hanya mengandalkan binatang siluman untuk melindungi diri.
Sedikit lagi hendak melukai lawan, seekor macan besar menerjang dari arah samping. Xin Chen menebaskan pedang ke bagian mata macan tersebut dengan bentuk menyilang, seketika darah mencuat dari kedua bola mata tersebut. Sang macan menjerit kesakitan tapi di waktu bersamaan dia berusaha membalas, bahkan serangannya jauh lebih beringas dari sebelumnya.
Tak habis sampai di situ wanita alkemis masih memiliki banyak sekali binatang yang timbul di balik-balik asap kabut. Ukuran tubuh mereka bahkan bisa ada yang dua puluh kali lipat dari tubuh Xin Chen sendiri.
Ketika tengah disibukkan dengan siluman burung yang terus melukainya dari atas, Xin Chen tak menyadari musuh utamanya sudah mendekat. Wanita itu muncul di balik kabut dan menendang tepat di pelipis Xin Chen.
Ditendang dengan sepatu berbahan besi jelas membuat kepala Xin Chen sakit luar biasa, darah mengalir perlahan di pelipisnya membanjiri hingga ke atas paha. Tak mau melepaskan mangsanya wanita alkemis kembali melayangkan serangan brutal tapi kali ini dia menggunakan pisau kecil.
Xin Chen tak sempat bangun sebelum wanita itu berhasil mendapatkannya, menyayat pisau-pisau tersebut hingga melukai kulitnya. Hal ini terjadi begitu cepat.
Rubah Petir sendiri masih disibukkan oleh musuh, dia bahkan tak memiliki kesempatan untuk menoleh ke arah Xin Chen yang kini berada dalam situasi sulit. Dalam waktu cepat sang musuh menancapkan salah satu pisau tepat di jantung Xin Chen.
"Hanya segitu kemampuanmu? Seharusnya aku tak perlu cemas dari awal." Langkah kakinya terdengar samar di telinga Xin Chen.
"Apa kau memiliki pesan terakhir?" Wanita itu berjongkok di arahnya, memasang wajah kasihan yang dibuat-buat. Dia mengelus wajah Xin Chen pelan. "Padahal dengan wajahmu ini, aku yakin saat dewasa nanti kau akan menjadi pria tampan. Sayang sekali..."
"Bo-boleh sampaikan sesuatu pada Guruku..." Mulut Xin Chen mengeluarkan darah, tatap matanya pun turut melemah seiring waktu. Wanita alkemis yakin anak itu sedang menghadapi ajalnya saat ini. Tentu saja dia tak berpikir panjang lagi dan langsung mengiyakan.
"Bilang padanya tidak usah pedulikan aku..."
Wanita alkemis mengangguk pelan, melihat mata Xin Chen mulai tertutup. Sedikit miris juga dia menyadari mengapa melukai Xin Chen hingga separah ini, sedangkan dia hanya seorang anak kecil. Bekas tusukan dan sayatan yang lebih terlihat seperti mutilasi ini takkan bisa menyelamatkan nyawa Xin Chen. Dia telah kehilangan terlalu banyak darah.
Perlahan tangan Xin Chen bergerak menarik pisau dari jantungnya dan menancapkannya di kaki wanita itu, racun yang diracik wanita alkemis itu sendiri masih menempel di sana bersama darah Xin Chen.
__ADS_1
"Tapi bohong."
"A-apa?!" Langkah wanita itu mulai terlihat pincang, racun pun kian tersebar di dalam tubuhnya. Melihat Xin Chen bisa berdiri dalam keadaan tubuh yang seperti itu, pendekar sekuat apapun pasti akan merasa gentar.
"Sekarang aku baru tahu bagaimana rasanya tidak bisa mati." Xin Chen menatapi tangannya yang berlumuran darah. "Rasanya seperti kau harus menahan semua luka yang disirami air garam, tak bisa bernapas atau berkedip."
"Kau siapa.." wanita itu mundur ketakutan, merasa ada yang tidak beres dengan Xin Chen ini. Dugaannya sejak awal nyatanya benar, bisa bertahan dari racun yang telah merenggut ribuan nyawa penduduk Houbi adalah sebuah hal mustahil namun Xin Chen bisa melakukannya tanpa bantuan alat apapun atau peralatan medis.
"Kau harus merasakannya, rasa sakit itu, pasti kau penasaran bukan?"
Wajahnya berubah ngeri, dia seperti ingin berbicara namun tak mampu mengeluarkannya. Tenggorokan wanita itu terasa tercekat. Dia memanggil lebih banyak siluman sebelum Xin Chen bergerak lebih dekat lagi.
***
3 chapter termasuk crazy up bukan🤣 iyain aja dahh wkwkk
jangan lupa dukungannya ya 😜
besok deh updatenya 7 chapter.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
tapi bohong wakakKkaka🤣🤣🏃🏻♀️