
Saat ini kondisi Kota Renwu layaknya sebuah hutan yang dibakar hingga tak bisa dipadamkan, asap mengepul cukup tinggi disertai Api Keabadian yang takkan padam bahkan setelah hujan deras membasahinya.
Shui telah babak belur, Naga Kegelapan mengendalikan percepatan dan perlambatan waktu pada dirinya sendiri, pergerakannya tidak bisa ditandingi lagi. Percepatan sepuluh kali dari waktu yang sedang terjadi membuat baik Shui maupun Rubah Petir tak berdaya. Kemampuan spesial Shui juga sama sekali tidak berguna di saat-saat seperti ini, berbeda dengan Rubah Petir yang dapat memulihkan lukanya dengan menggunakan kekuatan tanpa batasnya.
Selain itu tampaknya Naga Kegelapan berniat membunuhnya lebih dulu, benar saja ekor lawannya berhasil mencekik kepala Shui. Membakarnya dengan meningkatkan suhu ketingkat tertinggi, membuat otak Shui serasa akan mendidih dililit oleh Naga Kegelapan.
Rubah Petir melepaskan cambuk petir, bukannya menebas Naga Kegelapan justru siluman itu mengarahkan tubuh Shui tepat ke arah serangan si Rubah. Membuat Naga Air itu menjerit kencang, serangan kawannya justru mengenai dirinya sendiri.
Pertarungan terus berlanjut hingga keesokan harinya, tiada jeda dalam pertarungan itu. Sebanyak apapun Rubah Petir memulihkan lukanya dirinya takkan bisa mengimbangi kekuatan Naga tersebut. Selain itu Rubah Petir yakin Naga Kegelapan setidaknya telah membunuh dua siluman penguasa bumi lainnya. Terlihat dari daya tahannya yang sekeras baja, dia pasti mendapatkan kekuatan spesial itu dari Siluman Penguasa Tanah dan juga tiap hantaman serangannya lima kali jauh lebih besar daripada kekuatan sebenarnya yang dia miliki. Dan satu kemampuan spesial lagi yang berhasil dicurinya dari Naga Es dan yang paling unik, mempercepat dan memperlambat waktu.
"Hei Rubah, bisa kau tahan si jelek itu sebentar selagi aku memulihkan diri?"
Rubah tertawa hambar, " Terdengar seperti seekor naga yang telah kehabisan harapan."
"Tch diam saja kau rubah, ku bilang saja kalau bukan berkatku juga kau tidak akan mendapatkan batu kekuatanmu itu lagi."
Yang dikatakan Shui benar adanya, Rubah Petir mengetahui bahwa dalam pertarungan melawan Naga Es, Shui juga ikut bertempur bersama Xin Fai. Tanpa batu tersebut Rubah Petir takkan bisa hidup lebih lama lagi, itu adalah sumber kehidupannya.
"Paling juga kau hanya duduk sambil mengunyah es daripada membantu Xin Fai mengalahkan si Naga Es."
Shui ingin sekali mencakar muka si Rubah, namun sayangnya cakar si Rubah Petir lebih besar daripada tangannya sendiri. Rubah Petir berdiri di depannya dan menjatuhkan Hujan Petir. Salah satu petir berbentuk tipis nan tajam berhasil menancap di tubuh Naga Kegelapan, Rubah Petir agak terkejut. Selama ini serangan mereka tak melukai naga itu dengan fatal. Tampaknya di setiap kelebihannya naga itu juga memiliki titik lemah. Yaitu di bagian lehernya.
"Shui, kabar baik atau kabar buruk?" ujar Rubah Petir tenang, Shui sedikit tertawa. Sepertinya sudah begitu lama semenjak mereka berbicara seakrab ini.
__ADS_1
"Kabar buruk dulu."
"Kabar baiknya aku mengetahui kelemahannya adalah leher."
"Lalu kabar buruknya?" Shui mendecak malas. Lagipula untuk apa Rubah Petir menyuruhnya memilih ujung-ujungnya tidak didengarkan oleh rubah tua itu.
"Kabar buruknya dia sadar kita mengetahui rahasianya dan melapisi kulit lehernya dengan kulit yang seratus kali lebih tebal."
Mata tajam Rubah Petir memang berbahaya, tidak ada yang bisa disembunyikan dari penglihatan dan pendengarannya yang tajam. Saat melihat lagi leher Naga Kegelapan sedang beregenerasi, kulitnya mengelupas dan membentuk pelindung baru yang lebih keras daripada besi berton-ton.
"Rubah, rubah!" Shui mencoba menarik perhatian rubah itu secepatnya. Dia setengah gembira. "Satu orang lainnya akan membantu kita di sini!"
Rubah Petir mengikuti arah pandang Shui yang tengah menghadap ke bawah, ke tempat pertarungan Xin Chen dan Han Wu.
Baru kali ini Xin Chen menghadapi musuh yang sangat tangguh, bahkan ketika kedua tangan dan kakinya diputuskan lelaki bernama Han Wu ini takkan tumbang. Dia adalah gambaran para pendekar di jaman dulu, keteguhan hati yang sangat besar membuat kekuatan mereka menjadi tak tertandingi. Hanya saja pusaka-pusaka iblis yang didapatkannya dari Han Zilong membuat lelaki itu lepas kendali dan tersesat ke arah yang salah.
Keduanya sama-sama kehabisan langkah, mengetahui pergerakan Han Wu tampaknya tidak memberikan keunggulan apa-apa. Han Wu begitu mengenali gaya bertarungnya sendiri dan tidak membiarkan siapapun untuk menguasai teknik tersebut lebih baik daripadanya.
Selain itu gerakkannya yang lincah nyaris tidak membuka celah sedikitpun, kali ini Xin Chen benar-benar merutuk dirinya sendiri. Pertarungan fisik bukanlah keahliannya.
'Sedikit curang tidak apa, kan?'
Han Wu lagi-lagi menghancurkan ular biru yang mengelilinginya, padahal untuk menciptakan siluman api itu Xin Chen mengeluarkan sangat banyak tenaga dalamnya.
__ADS_1
Tidak berpikir untuk bertarung melawan Han Wu lagi Xin Chen akhirnya mundur, membuat lelaki itu menarik sudut bibirnya tersenyum penuh kemenangan.
"Bahkan sosok yang bisa selamat dari teknik Pintu Neraka ku bisa menyerah di saat-saat seperti ini."
"Anggap saja begitu," sahut Xin Chen menarik napasnya dalam-dalam.
Daripada meladeni Han Wu, Xin Chen duduk bersila di atas tanah. Kemudian berbicara, "Petarung sejati takkan menghabisi lawannya yang sedang terluka, bukan?"
Han Wu membuka tutup mulutnya kebingungan, lalu paham dengan maksud Xin Chen tadi.
"Cih, melawan bocah sepertimu saja aku sampai membuang harga diriku jauh-jauh! Dan itu juga karena jurus laknat ini...!" Han Wu mencampakkan pedangnya dan duduk lima meter dari Xin Chen. Mengamati lawannya itu dengan seksama.
Berbeda dengan dahulu kala, Han Wu selalu membunuh musuhnya dengan ***** membara. Ada beberapa orang dan klan yang dibencinya, atau para jagoan lainnya yang lebih kuat daripada Han Wu. Membuat laki-laki itu selalu mencoba menyingkirkan mereka dan membunuh tanpa ampun. Rasa benci dan amarah itu selalu muncul tanpa alasan dalam benaknya.
Akan tetapi semenjak bertarung dengan Xin Chen dia tidak melihat rasa ingin menghabisi yang menggebu-gebu dari diri anak itu. Meskipun sifatnya hampir sama dengan Han Wu, namun tiap serangan yang dikeluarkannya penuh dengan perhatian.
Han Wu mengira Xin Chen sedang mengobati luka sayatan yang bersarang di lengannya, tapi tampaknya bukan itu saja yang dilakukannya. Pertambahan kekuatannya meningkat drastis, Xin Chen menarik energi alam yang datang pada Qiang Jun. Menarik mereka paksa untuk datang pada dirinya.
Sementara Han Wu bangkit dari duduknya dalam sikap waspada, Xin Chen pulih total hanya dalam hitungan kurang dari satu menit. Proses penyembuhan yang benar-benar gila, Han Wu tak pernah melihat manusia memulihkan dirinya secepat itu.
Tubuh keabadian Xin Chen sendiri memiliki banyak keistimewaan yang langka. Maka dari tak heran proses penyembuhan luka dan tenaga dalamnya sangat-sangat cepat.
"Ayo kita mulai lagi dari awal. Tapi aku takkan berpikir ini akan adil atau tidak untukmu."
__ADS_1
Senyum bengis muncul di wajah Xin Chen setelahnya, Han Wu mundur tanpa sadar. Meski hanya sedikit, dia agak gentar oleh tatapan mengerikan dan kekuatan misterius yang muncul dari tubuh Xin Chen. Ekspresi tenang layaknya aliran air tadi berganti menjadi tatapan penuh ***** membunuh. Untuk yang pertama kalinya Han Wu mendapati wajah seperti itu darinya.