
"Aku tanya tentang informasi bukan soal pendapatmu." Suara Xin Chen terdengar tak bersahabat, lagipula Ru Yaoxi malah menghabisi waktunya dengan berceloteh panjang lebar dan jujur saja Xin Chen tidak ingin dinasehati di waktu-waktu seperti ini.
Ru Yaoxi tersenyum canggung, tak perlu berpikir lama lagi dia segera berjalan di lorong-lorong ruangan yang gelap. Salah satu kamar terkunci rapat, dia tahu di dalamnya ada orang dan menahan langkah sampai Xin Chen menyusul. Penduduk desa yang tadi bersamanya mengatakan akan menunggu di luar.
"Hanya ada perempuan di dalam. Mohon jangan bunuh dia."
Xin Chen mengangguk, baru saja membuka pintu sebuah tusukan nyaris menembus matanya. Seorang perempuan berusia sekitar 25 tahun menggenggam pisau kecil dengan gemetar. Dia terlihat sangat ketakutan. Xin Chen menepis tangan itu dan beralih ke beberapa kertas dan gulungan yang disimpan di bawah meja.
Dia tak langsung membukanya. Mata Xin Chen justru tertarik pada lantai kayu yang diinjaknya. Seperti terdengar ruang kosong saat dia menapakkan kaki di sana. Pemuda itu menghentakkan langkahnya sekali lagi. Menebaskan pedang hingga membelah kayu di lantai tersebut.
Sebuah peti kecil terlihat, Xin Chen segera mengambilnya. Perempuan di sebelahnya ingin merebut akan tetapi tangan Ru Yaoxi menghadang.
"Dia takkan membunuh kita. Percaya padaku."
"Ta-tapi jika Tuan tahu ..."
"Dia sudah mati."
Wajah yang dihiasi riasan indah itu berubah takut, diturunkan tangannya kembali dan memilih mengamati gerak-gerik orang asing yang menyeramkan tersebut.
"Siapa dia?" bisik wanita itu kecil. Ru Yaoxi menimpali, "Pemimpin Empat Unit Pengintai yang sekarang."
"Mengapa kau mau mengikutinya?!"
Nada bicara perempuan itu sedikit tertahan, dia betul-betul marah dan hendak menampar wajah Ru Yaoxi. Perempuan itu adalah orang yang biasanya menuliskan surat sebelum diberikan ke kurir. Ukiran tangannya indah dan beberapa lukisan di tempat ini sebagian adalah karyanya.
Perempuan itu menoleh saat Xin Chen menggulung kembali kertasnya. "Sepertinya memang aku harus menemui mereka langsung."
"Siapa, Tuan?"
"Orang-orang Empat Unit Pengintai di Kekaisaran Qing. Mereka tahu sesuatu tentang Pedang Iblis. Aku yakin mereka sempat membicarakan sesuatu tentang lokasi Pedang Manusia Iblis dan Kaisar Langit yang merupakan petunjuk keberadaan orang itu. Mereka sudah membakar sebagian dari informasi yang dikirimkan."
Xin Chen memasukkan gulungan itu di balik bajunya.
__ADS_1
"Ru Yaoxi, sebenarnya aku juga tidak bisa sepenuhnya percaya padamu. Tapi Empat Unit Pengintai yang sekarang membutuhkan kekuatan sepertimu. Pergilah ke Lembah Para Dewa, aku akan mengatakan pada Lan Zhuxian soal kedatanganmu."
"Tuan, sebelum itu, boleh aku tahu siapa namamu?"
Xin Chen bergeming, tak menjawab hingga membuat Ru Yaoxi salah tingkah. Pertanyaan itu tampaknya begitu mengganggu dan Ru Yaoxi berniat meminta maaf. "Hahaha, saat tahu kau pemimpin Empat Unit Pengintai rasanya lebih canggung. Aku hanya ingin menganggapmu seperti temanku, Tuan. Seperti kataku tadi. Hah ... Maaf, maaf."
"Ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Xin Chen mengalihkan topik pembicaraan, Ru Yaoxi segera mengangguk. "Apa boleh aku membawa perempuan ini ikut?"
"Siapa dia?"
"Dia adik istriku, aku tak bisa membiarkannya mati begitu saja. Dia pernah membunuh seseorang dan sampai sekarang masih dicari-cari. Aku bilang pada istriku bahwa dia juga bekerja di rumah yang sama denganku sebagai pelayan. Jika dia kembali, orang-orang itu pasti akan membunuhnya."
"Tidak."
"Tapi-"
"Aku seorang tabib, Tuan." Perempuan itu melepaskan kain yang dibalutnya di tangan. Mengeluarkan beberapa helai kain kecil berisikan obat-obatan yang diraciknya dari tanaman herbal.
Dia menyodorkannya pada Xin Chen sembari menjelaskan. "Tanaman itu aku dapatkan di gunung, untuk mengobati racun akibat sengatan siluman ular. Jika di jual harganya cukup mahal."
"Tidak masalah denganku, tapi bermasalah dengan delapan anggota unit satu. Mereka akan memasang mata awas kepadamu, terlebih lagi kepada Ru Yaoxi." Xin Chen memandang awas ke arah luar, beberapa pendekar mengejar mereka sampai ke sana.
"Pergilah. Mungkin laki-laki yang tadi ikut bersamaku juga tak memiliki tujuan lain. Kalian bisa tinggal di sana."
"Terima kasih, tuanku." Keduanya berbicara serempak, sementara Xin Chen berlari menyusul kawanan Empat Unit Pengintai yang saat ini mengepung halaman depan. Ru Yaoxi dan perempuan itu sudah berhasil kabur melewati hutan, mereka juga mengajak satu orang lagi ikut bersama mereka.
Dari kejauhan, tanah mulai bergetar kencang. Kejar-kejaran antara manusia dan siluman terjadi di sebuah dataran luas. Api besar membakar dua laki-laki dewasa sekaligus, Ye Long menampar tubuh yang lainnya dengan ekor hingga terhempas dan terbanting di batang pohon. Naga itu mengamuk lagi, mengejar para pendekar yang terus berlarian darinya.
Tanpa sadar kelompok tersebut justru bertemu dengan sandera mereka sendiri yang kini tengah menenteng pedang berdarah. Tetesan merah menetes di ujung pedang, tepat saat darah tersebut jatuh ke lantai, sosok tersebut menghilang dalam gelapnya malam.
Sesuatu bergerak sangat cepat di tengah-tengah para pendekar itu, hanya seperti angin lalu yang melewati mereka. Secepat kilat menebas leher mereka tanpa menunjukkan wujudnya.
Saat mereka dapat melihat sang sandera kini berada di belakang mereka, darah mencuat dari sayatan di leher mereka. Satu per satu dari mereka tumbang dan hanya menyisakan erangan sekarat yang terdengar menyakitkan. Ye Long mendengus, melibas ekornya ke sana kemari dengan gusar.
__ADS_1
"Oh, aku mencium bau sapi bakar yang lezat."
"Tidak ada sapi di sini. Jangan meracau."
Ye Long memutari majikannya, "Aku bunuh banyak ikan teri, hei, pinggangku juga bunyi karena terlalu lama menunggu. Pekerjaan ini juga menguras tenagaku."
"Kau sudah makan daging sapi kemarin saat di pasar."
"Itu beda cerita lagi."
Xin Chen berhenti sesaat, mencabut beberapa rumput dengan raut wajah kesal. "Tidak ada sapi di sini. Makan rumput saja mau?"
"Rarrghh!"
Pagi buta tiba dengan tak diduga, tak ada yang bisa diambil dari tempat itu selain permata dan beberapa siluman malang yang mereka kurung tanpa pernah memberi makan. Bukan siluman terlatih dan beberapa masih berusia muda. Mereka memang dikhususkan untuk sebuah permainan konyol oleh kelompok tersebut. Kamp yang tak begitu luas itu benar-benar sudah kosong, tidak ada lagi yang tinggal di sana.
Xin Chen membawa obor api dan segera membakar pemukiman tersebut. Api membumbung tinggi memakan bangunan dan kayu-kayu. Ye Long hanya bisa menatapnya dalam diam, dia menyeret tubuh para manusia yang tersisa ke dalam api. Membuat Xin Chen terkesima.
"Sejahat apa pun manusia, mereka tetap layak diperlakukan layaknya manusia yang lain. Ayahku pernah mengatakannya."
Ye Long terhenti dari geraknya.
Sementara Xin Chen menatap lama ke mayat-mayat tersebut. "Kupikir aku hampir melupakan semua pesan-pesan dari Ayah. Dan juga ... Rubah Petir."
***
Capek(╥﹏╥)
Kukira hari Minggu bakal senggang, tetiba ada urusan mendadak. Sore baru bisa balik ke rumah, cuma bisa ngetik 5 chapter. Malam kudu bikin makalah buat presentasi besok. Yg penting crazy up kan yak, gapapa ya mohon maapin. Mgkin sisanya digantikan di hari-hari lain atau di akhir bulan, ttp santuy karena thor memang harus kejar target 60 ribu kata per bulan dan ditambah lagi sama crazy update. jd kalian ga usah panik, karena seharusnya aku yg panik wkwk
(〒﹏〒)
Btw dibacanya yg merata, ya. Yaudah, sip. Sehat selalu untuk kalian dan jangan lupa bahagia( ╹▽╹ )
__ADS_1
Sankyuu