
Satu hal yang Rubah Petir temui saat pertama kali melihat Xin Chen hanya luka bakar di mana-mana, Katak Daun tiba di waktu itu juga karena sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Dia memulai penyembuhan tingkat tinggi, Rubah Petir tak tinggal diam, siluman itu memastikan baik-baik denyut nadi di lengan Xin Chen.
Sama sekali tak ada denyut apapun, bahkan di jantungnya sendiri. Sama sekali tidak ada bunyi detakan.
Katak Daun sampai-sampai tak habis pikir, dia mengerahkan sisa kekuatannya. Berpikir ini akan menjadi akhir bagi anak itu.
"Hei manusia, kau tahu aku baru menemui mu hari ini dan kau mau mati secepat ini?"
Tubuh Xin Chen sudah tak menampakkan tanda-tanda kehidupan, loncatan petir tadi bukan hanya bisa menewaskan manusia. Bahkan Katak Daun sekalipun.
Angin bertiup pelan, menyingkirkan rambut di kening Xin Chen hingga sebuah lambang Bunga Api terlihat jelas di sana. Rubah Petir menyentuh lambang tersebut, yang seharusnya berwarna merah kini berubah menjadi biru layaknya Api Keabadian.
"Dia serius tidak main-main kali ini.." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Terdengar suara gesekan sayap di belakang, Ye Long mendesis kesakitan. Sayapnya terseret-seret di bebatuan kerikil, mencoba berdiri beberapa kali namun terjatuh begitu saja. Mata gelapnya bergulir ke arah Xin Chen dan menjerit setelahnya, dia mendekati anak itu dan melindungi tubuhnya dengan sayap.
"Ye Long..."
Naga itu seperti menangisi kepergian kawannya, tak membiarkan Katak Daun menyentuh barang sedikitpun.
Keduanya saling bertatapan tanpa berbicara, Ye Long tidak akan terima jika Xin Chen mati karena menyelamatkannya. Dalam mimpi sekalipun. Rubah Petir masih percaya anak itu akan memegang teguh kata-katanya. Tapi apa yang sekarang dihadapkan di depannya seperti mengatakan hal yang berkebalikan. Rubah Petir bahkan tak bisa mengatakan kesadaran spiritual anak itu masih tersisa walau hanya setitik.
"Ini benar-benar akhir hidupnya?" meski tahu pertanyaan itu tak seharusnya keluar tapi Katak Daun tak peduli. Dia ingin tahu itu dari mulut Rubah Petir langsung, melihat sahabatnya itu tak memiliki jawaban apapun selain wajah putus asa, agaknya dia mengerti tanpa harus dijawab.
"Aku akan menyiapkan pemakaman yang layak untuknya."
Katak Daun menyembunyikan kesedihannya, berlalu meninggalkan mereka dalam diam. Ye Long masih melindungi tubuh Xin Chen, hal ini membuat Rubah Petir kasihan. "Bahkan kau saja takkan bisa menerimanya, kan?"
Rubah Petir bangkit dari tempatnya, sisa-sisa angin badai menggoyangkan jubah milik rubah itu perlahan. Meninggalkan Ye Long sendirian di sana.
"Bahkan jika pun harus mati, aku akan merangkak dari kerak neraka agar bisa kembali."
__ADS_1
Mata Rubah Petir membeliak lebar. Tercekat langkahnya untuk terus berjalan, terdiam sembari menolehkan arah pandangan ke belakang. Xin Chen masih berbaring seperti tadi, namun yang dilihatnya kali itu muridnya telah membuka matanya. Membuat rubah merasa lega.
"Kau takkan mengingkari janjimu."
Senyuman lebar terpampang, Ye Long meloncat senang, dia bahkan menyelipkan kepalanya di lengan Xin Chen untuk membantunya duduk. "Kau merindukanku, Ye Long?"
Dibilang begitu Ye Long semakin semangat, tak berapa lama berganti kesal saat Xin Chen bersiul menyenandungkan Irama Kematian.
"Rrarrghh!"
Rubah Petir mendekati mereka, baru saja ingin berbicara Katak Daun telah kembali, membawa beberapa siluman untuk menguburkan jasad Xin Chen di tempat ini.
Sialnya, saat dia berpikir anak itu benar-benar mati justru yang dilihatnya sekarang Xin Chen malah tertawa-tawa dengan Ye Long.
"Hah? Apa-apaan ini kukira kau sudah mati...?" Katak Daun terkejut dan sangat senang di waktu bersamaan. Benar-benar penipuan publik, dirinya sampai-sampai memanggil siluman lain untuk melakukan penghormatan terakhir.
"Sepertinya kau sudah mendapatkan Api Keabadian itu seutuhnya. Saat loncatan petir tadi, kau mempercayakan nyawamu pada kekuatan itu bukan?" Rubah Petir menebak.
Dua detik sebelum loncatan petir datang Xin Chen mengalihkan seluruh perubahan elemen di tubuhnya pada Api Keabadian. Kekuatan dalam sekali sentak itu dialirkannya pada Ye Long.
Masih belum pulih dalam keterkejutannya kini, Katak Daun dibuat makin terkejut saat Ye Long mengeluarkan api dari mulutnya. Api yang sama dengan monster di bawah permukaan laut ini dan juga majikannya.
Kobaran api biru keluar, Xin Chen sampai membatu di tempatnya. Tampaknya energi murni itu tak hanya mengembalikan kekuatan spiritual naga itu, melainkan menyatu dengan tubuhnya membentuk kekuatan baru yang jauh lebih kuat. Api Keabadian memiliki suhu panas yang mengerikan. Dalam sekali sembur saja logam tebal bisa dibuat meleleh olehnya, tidak padam oleh air dan justru lebih unggul digunakan dalam pertarungan di bawah air.
"Keren..." Xin Chen sampai terpana dibuatnya. Tapi ekspresinya berubah sepersekian detik, seolah teringat akan sesuatu dan Rubah Petir menyadarinya. Sebenarnya ingin menanyakan. Namun melihat situasi dia mengurungkannya.
"Waktu kita tidak banyak, cepatlah berlatih Hujan Petir sebelum besok kita meninggalkan tempat ini."
*
Air menetes di dedaunan liar, hujan baru saja usai berganti dengan hangatnya matahari sore. Meski demikian angin dingin tetap bersisa. Suasana tenang dan damai itu sama sekali berkebalikan dengan yang terjadi di atas gunung sana. Xin Chen masih berlatih teknik Hujan Petir mati-matian, sementara Rubah Petir berada di bawah kaki gunung yang berhadapan langsung dengan laut.
__ADS_1
Sebentar lagi hari akan malam, Rubah Petir berniat kembali ke sarang para siluman sebelum satu hawa kehadiran yang amat kuat menghampirinya.
Ketika dirinya membalikkan tubuh ke belakang berdiri sosok manusia dalam balutan jubah hitam. Tak ada segaris pun celah untuk mengenalinya.
'Orang ini bukanlah manusia biasa.' Rubah Petir tak bisa mengukur kekuatannya, tapi merasakan hawa kehadirannya ini mungkin hanya sampai pada kesimpulan. Setidaknya orang tersebut dapat disetarakan dengan sang Pedang Iblis atau bahkan lebih kuat.
"Kau bahkan tidak terlihat terkejut? Sudah memperkirakan kedatanganku?"
"Siapa kau sebenarnya?"
Tertawaan menggema, puas sekali lelaki itu tertawa. "Kekuatanmu seharusnya kau berikan padaku, rubah malang."
"Guru Rubah!"
Serangan kejutan datang, Hujan Petir mengepung tempat mereka berdiri sekaligus. Sosok tersebut membaca pergerakannya lebih dulu dan tak bergeming di tempatnya. Petir-petir tersebut sama sekali tidak mempengaruhi tubuhnya. Namun di balik serangan kejutan masih ada kejutan kecil lainnya, panah api mengarah amat cepat, berbekal ilmu yang diajarkan si Pemanah Kidal, Wei Feng, panah tersebut tembus tepat di jantungnya.
Tembus namun tak mengenai apapun.
"Kita akan bertemu lagi."
Sosok tersebut menghilang begitu saja, Xin Chen masih sedikit bergetar, orang-orang seperti itu secara alami memiliki hawa pembunuh yang di luar nalar. Dia bahkan lebih memilih lawannya itu pergi dari pada harus berhadapan dengannya.
"Apa yang terjadi?" Cemas tergambar jelas di wajahnya, Rubah Petir memikirkan perkataan sosok tersebut berulang kali.
"Dia menginginkan kekuatanku."
"Bukankah yang kau katakan hanya Naga Kegelapan yang ingin mencuri kekuatan kalian? Tapi manusia itu...?"
"Itu artinya dia juga sedang memperkuat dirinya, apa menurutmu kau pernah melihat orang itu?"
"Sama sekali tidak." Rubah Petir melanjutkan, "Tapi kekuatannya itu sama sekali tidak bisa diremehkan."
__ADS_1