
Angin dari barat bertiup sayup, menelusup di antara benteng kokoh yang menjadi pertahanan penting Lembah Para Dewa, kuda-kuda diikat dalam kandang. Xin Chen sengaja membelinya, untuk para pasukan berkuda yang nantinya maju di baris paling terdepan. Perbekalan dimasukkan ke dalam bangunan yang terletak di penghujung lembah. Dan paling sulit untuk dijangkau. Sementara itu beberapa titik-titik penting telah dibentengi dengan sempurna. Tong minyak dan panah yang nantinya akan dibakar dengan api siap digunakan. Hanya menunggu hingga pasukan Empat Unit Pengintai datang.
Hanya saja satu hari berlalu tanpa adanya tanda-tanda kemunculan musuh, tidak ada laporan mencurigakan. Sementara itu mereka belum selesai sepenuhnya untuk mengatur segala macam hal. Xin Chen berdiri di atas menara yang paling tinggi, jubahnya bergerak pelan tertiup angin. Tatap mata pemuda itu terpaku pada jalan di depan gerbang utama, mengintai tempat itu dengan waspada.
"Apa mereka benar-benar akan datang?"
Kali ini dia mempertanyakan perhitungannya sendiri, atau mungkin Empat Unit Pengintai sedang merencanakan siasat untuk melakukan serangan kejutan. Xin Chen tak boleh lengah. Dinginnya angin sore yang datang dari balik lembah tak menenangkan hatinya, Xin Chen tetap berdiri di sana sampai malam datang.
Lan Zhuxian memanggil-manggilnya dari bawah, memasang wajah panik. "Tuan Muda! Tuan Muda!"
Xin Chen turun cepat ke bawah, mendapati puluhan prajuritnya jatuh terbaring kesakitan. Dia mengerutkan alis heran, tanpa berkata apa-apa segera menghampiri tubuh para prajurit yang dibaringkan itu. Beberapa mengerang kesakitan, sampai pingsan tak sadarkan diri.
"Mereka diracuni ..." Xin Chen mengalihkan tatapan pada Lan Zhuxian, "Bukannya aku sudah memerintahkan padamu untuk menjaga perbekalan kita?"
"Sudah, Tuanku. Nona Yin menjaganya ... Maaf, kesalahan saya tidak memeriksa kembali." Sesal tampak di wajah Lan Zhuxian, Xin Chen tidak bisa memarahinya. Mempersiapkan benteng dalam satu hari adalah pekerjaan yang berat. Lan Zhuxian terlalu sibuk untuk memegang banyak hal sekaligus, dan Nan Yin sendiri. Tiba-tiba Xin Chen berdiri. Menerobos barisan prajurit yang mengelilingi mereka.
"Siapkan pertahanan! Musuh datang!"
Benar saja, dalam tiba-tiba panah api meluncur deras dari pagar tinggi. Puluhan sumber api membakar bangunan yang ada di sekitarnya, Xin Chen memperhatikan dari atas, dengan busur petir di tangannya.
__ADS_1
Di balik pohon-pohon tinggi, Xin Chen dapat melihat betapa banyak pemanah yang bersembunyi di hutan dekat gerbang. Mereka memanah dengan cepat dan sembunyi-sembunyi. Dan di satu titik di dalam markas, Xin Chen melihat orang mencurigakan mengeluarkan tong-tong minyak dan lari pontang-panting. Panah api dari luar menerjang tong minyak itu hingga mengakibatkan ledakan besar. Tong minyak menyambar tong lainnya hingga ledakan beruntun terjadi. Xin Chen mengakui, tak pernah disangka orang Empat Unit Pengintai sudah selangkah di depan mereka. Tiga puluh prajuritnya tumbang diracuni, sisanya mulai berjatuhan saat penyerangan di malam buta.
Kitab Pengendali Roh mengambang di sampingnya, mengeluarkan aura hitam pekat yang hendak mengungkung Lembah Para Dewa, selagi itu Xin Chen membidik para pemanah yang tidak menyadari kehadirannya. Hanya tersisa dua lagi sebelum kekuatan roh berhasil menutupi Lembah Para Dewa sebelum akhirnya anak panah berdatangan menyerbu punggungnya.
"Lawanmu adalah aku!"
Dari pintu gerbang yang sudah rusak dan hancur karena pertahanan yang kacau, sepuluh orang berjalan santai. Tatap wajah tak takut dan senyum remeh, mereka bersepuluh menggunakan seragam sama. Salah satunya memegang panah dan baru saja menyerang Xin Chen, seorang laki-laki berusia 40 tahun dan wajah ditutupi oleh kumis dan janggut.
Laki-laki itu mengintai Xin Chen dari bawah, sampai pemuda itu menjatuhkan diri ke bawah dan hilang dalam gelapnya malam. Dia cukup terkejut, namun laporan yang diterimanya beberapa hari lalu, bahwa musuh utama mereka adalah pengguna roh membuatnya sadar bahwa mereka sedang menghadapi siapa.
"Lima berpencar! Bunuh semua, tanpa sisa!"
"Mengerti!"
Di sisi lain pihak mereka kehabisan banyak pasukan dalam waktu singkat, pertarungan masih berlangsung tak berimbang-lebih tepatnya, Xin Chen tak memperhitungkan masing-masing pendekar yang dibawa Empat Unit Pengintai setidaknya setara dengan kekuatan Li Yong. Pasukannya yang tak seberapa jelas akan habis dalam waktu dekat, Xin Chen tak ingin kehilangan banyak rekannya lagi.
"Apa aku salah jika hanya mengandalkan diriku sendiri?"
Perasaan itu muncul lagi, dulu ayahnya marah besar saat Xin Chen berusaha mati-matian bertarung tanpa ingin melibatkan orang lain. Dia tidak ingin melihat lebih banyak nyawa jatuh dan berharap satu nyawanya sepadan untuk menggantikan ratusan nyawa orang lain.
__ADS_1
Tangan Xin Chen terus menebas musuh, menjatuhkan dua dari sepuluh anggota inti Empat Unit Pengintai. Kesepuluh orang tersebut memiliki tingkat kekuatan berbeda dari pasukan mereka dan cukup sulit untuk menjatuhkannya. Kesepuluh orang itulah yang paling cepat membunuh, Xin Chen tenggelam dalam lautan musuh. Hingga salah satu serangan nyaris mengenainya, tusukan belati nyaris merobek perutnya sebelum anak panah dari arah lain membunuh orang yang hendak menikam Xin Chen.
Xin Chen melemparkan pandangan ke atas, pemanah handal milik Kaisar yang membelot dan melepaskan diri dari Kekaisaran. Lao Zi, dia bersembunyi dengan sempurna dan nyariss tidak terlihat. Di waktu bersamaan, Xin Chen dapat melihat begitu besarnya semangat pasukannya walaupun kemungkinan mereka menang hanya kecil. Pasukan berkurang hingga sekitar delapan puluh, prajurit berbaring di menara karena keracunan dibunuh tanpa pandang bulu oleh mereka.
"Mundur!" teriak Xin Chen membuat yang lain berhenti bertanya-tanya.
"Wah, wah? Sudah mau menyerah saja?"
"Tarik kembali pasukan!" Xin Chen memerintah sekali lagi, mereka mundur tanpa banyak bertanya. Seketika peperangan terhenti, di waktu yang bersamaan delapan anggota inti yang mengenakan baju serba putih datang, begitu juga dengan sepuluh orang lain yang memiliki kekuatan yang jauh sepuluh kali lebih kuat dari yang sebelumnya.
Xin Chen memperhatikan situasi yang semakin runyam. Pasukan musuh yang sekitar 400 orang hanya berkurang dua puluh sementara miliknya melebihi setengah. Lalu mereka bertambah oleh tiga unit sekaligus yang terdiri masing-masing 10 orang, empat sudah mati dan hanya tersisa 26 orang sekarang. Empat Unit Pengintai sendiri memiliki empat pembagian kelompok pendekar terkuat, dan masing-masing kelompok hanya diisi oleh 10 orang kecuali unit paling utama yang hanya memiliki 4 orang saja. Dua dari mereka terbunuh di penyerangan pertama saat Xin Chen bersama Mou Zhueyang dan dua lagi tewas di peperangan hari ini.
Lan Zhuxian memaku tak percaya, situasi sudah di luar kendali. Dia yakin kali ini jika Xin Chen bersikeras maka dia akan mati. Dirinya sendiri tak menyangka Empat Unit Pengintai menurunkan tiga unit inti sekaligus untuk menyerang mereka.
Tidak sampai di sana, kini mereka kembali di datangi oleh empat orang yang sangat-sangat menyeramkan. Unit terkuat dari tiga yang lainnya, dan mereka adalah empat pemimpin saat ini yang salah satu dari mereka pernah bertemu dengan Xin Chen.
"Apa kabar, Tuan Muda Xin kedua, lama tak bertemu?" Dia tertawa melihat strateginya berjalan mulus, kali ini Xin Chen takkan bisa lari ke mana lagi.
"Masih ingat denganku?"
__ADS_1
*
A/N: Recommend bgt denger lagu ONE OK ROCK - Renegades. Thor klo nulis biasa smbil dngr lagu. Bukan promosi loh ya🤣