
"Kembalilah ke keluarga kalian."
Perlahan-lahan situasi mulai berubah, hawa roh yang pekat berubah menjadi ketenangan. Mengetahui jati diri dan alasan mengapa mereka mati setelah bertahun-tahun melayang tanpa nama, para roh pejuang dan penduduk desa itu kini bisa tenang di alamnya sendiri.
"Bagaimana kami bisa berterimakasih pada Ayahmu, katakan padanya kami sangat berhutang budi padanya... Dan untukmu, aku sebagai pimpinan Pejuang di desa ini meminta maaf... Terimakasih sudah memberitahu kami. Semoga kau dan keluargamu selalu berada dalam kebahagiaan..."
Xin Chen tersenyum kecil, merasakan kedamaian saat melihat roh-roh tersebut pulang ke alamnya, kesedihan mendalam di desa ini memang terlalu menyakitkan. Desa yang berubah menjadi hutan belantara dengan mayat-mayat dimakan oleh binatang dan siluman buas ini memiliki cerita tersendiri. Cerita memilukan yang hanya diingat segelintir orang.
Xin Chen terkejut saat mendapati Wei Feng menarik napas dalam, sepertinya dia masih hidup dan Naga Hitam kini menjilatinya agar segera bangun.
"Hei, kawan. Mau dengar sesuatu tidak?" Naga Hitam lantas menoleh pada Xin Chen, anak itu bersiul mengikuti nada Irama Kematian. Yang masih membuat telinga naga itu terganggu saat mendengarnya.
"Grroaahh!"
***
Rubah Petir datang tak lama kemudian, saat siluman itu datang kepala Naga Hitam menunduk takut. Dia terlihat sama sekali tidak berani untuk menampakkan diri di depan Rubah Petir.
Naga Hitam bergerak mundur, bahkan Xin Chen tak memiliki kesempatan untuk menahannya pergi. Dalam sekejap mata naga itu terbang melesat, menghilang begitu saja dari pandangannya.
"Yah... Kau mengusirnya lagi?" Xin Chen mengeluh, sayangnya Rubah Petir tak begitu memedulikan protesnya itu. Dia lebih memilih melihat ke arah Wei Feng yang kini terbaring.
"Baru kutinggal sebentar keadaannya sudah memburuk seperti ini. Tubuh terbakar, baju ikut tersobek dan luka di sekujur tubuh. Kau membuatnya sekarat, Chen."
"Terimakasih sudah merangkumnya, Guru." Xin Chen hanya bisa menatap Rubah Petir kecut, "Hah... Aku tidak memiliki solusi lain selain ini, dan kau sendiri juga tak memberitahu cara menghabisi roh bagaimana."
__ADS_1
"Dan Naga Hitam tadi, apa menurutmu dia benar-benar berbahaya seperti yang kau katakan tadi?" tanyanya sekali lagi, masih berharap bisa memiliki naga kecil itu.
Sudah bukan hal aneh lagi membawa peliharaan dalam berpetualang maupun bertarung, sama seperti Ayahnya. Tapi kali ini Rubah Petir tak bisa mengizinkannya memelihara naga tersebut.
"Kau tahu, bukan? Naga adalah spesies langka. Mereka hanya berpasangan sekali seumur hidup. Saat kau membawanya pergi bersama kita, kau harus tahu ke depannya naga itu menjadi incaran manusia-manusia juga. Membawa naga, berbeda dengan membawa serigala. Kurasa sampai di sini kau mengerti maksud perkataanku."
"Lalu?" Dia mendekati Rubah Petir segera, menarik rubah tersebut agar bisa melihatnya. "Baik, aku tahu memang membawa naga beresiko. Ta-tapi... Coba kau pikirkan, tanpa manusia juga dia tidak bisa bertahan hidup. Aku yakin dia masih seumuran denganku, dia masih muda. Tidak memiliki siapapun, dia bisa tertangkap dengan mudah jika berkeliaran sendirian."
"Chen, sebaiknya kau pikirkan dulu masalah di depan matamu. Naga itu tidak akan kembali walaupun kau merengek seperti anak gadis."
Wajah Xin Chen berubah pahit, Rubah Petir mengabaikan kekecewaan muridnya itu.
Wei Feng terbangun ketika itu pula, menggosok belakang kepalanya dengan tangan sambil mengedipkan mata beberapa kali. Dia menoleh sekitar dengan cermat, tak mengerti apa yang baru saja menimpa kepalanya hingga terasa begitu berat.
Wei Feng menatapi tubuhnya sendiri, menyadari bajunya sudah terkoyak-koyak dilalap api. "Si-siluman macam apa yang baru saja menyerangku?!" panik pria itu, memeriksa tubuhnya untuk memastikan tidak ada yang cacat.
Rubah Petir dan Xin Chen saling menatap, menggendikan bahu tak dapat berkata banyak. Sedangkan Wei Feng masih sibuk meratapi kemalangannya, akhirnya dia dibuat gempar saat melihat Kukang kecil tadi masih menguntitnya. "Kau lagi...! Kau lagi!!! Pergi sana, hush!"
Wei Feng menarik napas cepat-cepat, berusaha untuk tidak emosi. Dia kini fokus ke arah depan, memerhatikan Xin Chen. "Aku pingsan pasti karena siluman bukan? Jadi siluman seperti apa yang dapat menggunakan api? Kau melihatnya? Bisa beritahu padaku seperti apa wujudnya?"
Xin Chen tersenyum getir, mana mungkin dia mengatakan api yang menyemburnya tadi adalah api dari Naga Hitam. Wei Feng sedikit melotot tajam padanya meminta penjelasan dan Xin Chen hanya bisa menyengir lebar. "Mungkin... Apiku tak sengaja mengenaimu saat bertarung dengan para roh."
Xin Chen tertawa lucu, membuat Wei Feng kesal mungkin akan menjadi hiburan baru di Desa Pelarian ini. "Kau sengaja, ya?! Baik, baik. Aku memang sedang malas berburu siluman dan tugas itu lebih baik kau kerjakan. Tapi jangan menyerang temanmu sendiri, Iblis Kecil! Lagipula para siluman level payah seperti itu takkan seimbang dengan bidikan panah mautku."
Sejenak Wei Feng mengalihkan pikirannya, menyadari ada sosok lain di dekat Xin Chen.
__ADS_1
"Dan lagi... Siapa orang di sampingmu?" Dia menunjuk Rubah Petir dalam kebingungan, mencoba mencuri-curi pandang agar bisa mengenali sosok dalam jubah tersebut. Xin Chen segera berdiri di depan Rubah Petir, menyembunyikan rubah itu di balik tubuhnya.
"Bukan siapa-siapa. Dia membantu kita mengumpulkan siluman ini."
"Dia siap–"
"Langit sudah sore, sebentar lagi malam tiba. Sebaiknya kita pulang sebelum matahari terbenam," potong Xin Chen menghentikan obrolan, tak berniat menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari mulut Wei Feng.
Daripada menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan pria itu lebih baik dia langsung pulang dan beristirahat untuk hari esok.
Seperti perkataan Jin Sakai, penempaan pedang akan dimulai besok. Dia harus menyiapkan stamina besar untuk bekerja penuh di sana.
Malam telah tiba, dedaunan kering tersapu oleh angin kencang saat mereka memasuki jalan desa tersebut. Meskipun terlihat suram namun penduduk di desa ini memiliki hubungan baik satu sama lainnya membuat suasana tetap ceria walaupun langit mengelam.
Awan mendung membuat beberapa peternak hewan segera bergegas memasukkan ternak mereka ke kandang. Suasana desa mulai gaduh hingga akhirnya hujan turun tepat saat mereka sampai di rumah Wei Feng.
"Kak Wei, besok pagi bangunlah lebih awal. Kita akan mencari Gu Long untuk mengantarkan siluman buruan kita tadi."
"Hah? Berburu silumannya sudah selesai? Yang benar saja?! Kau menyapu bersih semua siluman itu sendirian!?" Bagaimana Wei Feng tak terkejut, setahunya masih ada banyak siluman di dalam hutan tadi, tentu sebelum dia jatuh pingsan dan saat sadar malah diajak pulang oleh Xin Chen.
"Ehm, bukan aku yang melakukannya. Tapi dia."
"Nah, kau belum memperkenalkannya padaku, Iblis Kecil."
"Iblis Kecil?" Rubah Petir mengulangnya dengan suara kecil, Xin Chen yang berdiri di sampingnya merengut kesal. Paling tidak nama itu masih lebih baik daripada dipanggil Kecambah seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Baik, baik. Wei Feng, perkenalkan dia adikku dan adikku, dia Wei Feng." Xin Chen memperkenalkan secara singkat.
"Hei kau belum memberitahukan namanya," sela Wei Feng.