Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2
131 - Aula Penghakiman II


__ADS_3

"Kau-!!!" Gigi-giginya menyatu rapat, kedua tangan mengepal begitu kencang sementara Xin Chen memasang wajah penuh kemenangan. Roh Elemen Api menarik kembali mantra pengendali yang dipakainya untuk menggerakkan patung-patung tersebut, memutuskan untuk langsung memenggal kepala Xin Chen dengan tangannya sendiri saat itu juga.


Merusak salah satu Patung Penghakim miliknya berarti melanggar segala aturan yang telah ditetapkan sebagai ketentuan langit. Tak bisa dibiarkan. Senjata tajam menyerupai bilah pedang yang diciptakannya dari perubahan jenis api abadi terbentuk.


"Aku sama sekali tak berniat bermain-main denganmu, manusia bodoh. Matilah."


Keduanya sudah saling berhadapan, Xin Chen sama sekali tak senjata apapun. Jelas ini kematiannya. Melihat patung-patung tersebut bahkan bisa melukainya, sementara tubuhnya tidak beregenerasi lagi semenjak berpindah ke alam bawah sadar Roh Elemen Api, berarti penggalan kepala pun akan membuatnya mati di tempat ini.


Dengan satu tarikan napas panjang Xin Chen mengangkat kedua tangannya pasrah. "Kuakui ini kekalahanku. Mengalahkan Roh Elemen Api sepertimu apalagi tanpa senjata begini. Kau bahkan sampai membatasi kekuatan dalam tubuhku agar aku tak bisa memakai jurus apapun?"


Mendengarnya Roh Elemen Api tertawa sinis.


"Sekarang bunuh saja aku." Hanya kata itu yang mengakhiri kalimatnya.


Raut wajah Roh Elemen Api mulai serius, dia mengangkat pedang tersebut tepat di samping leher lawan. Dalam satu kali tarikan saja leher itu akan terputus dari tempatnya.


Namun kepalanya tak kunjung terpenggal, Roh Elemen Api masih menatapnya dalam diam.


"Kenapa? Kau takut?" Xin Chen bersuara, tak gentar sama sekali.


"Justru harusnya aku yang bertanya demikian."


"Takut untuk apa memangnya?"


"Ch, aku penasaran dengan isi kepalamu."


"Tidak kusangka setelah memenggal kepalaku kau juga ingin membongkar isinya? Kejam juga."


Roh Elemen Api tak mau mendebat, dia menurunkan pedang tersebut. "kau ini tidak takut mati, ya? Kau tahu aku benar-benar bisa membunuhmu sekarang juga."


"Lantas aku harus menangis? Sudah kukatakan, mau aku mati pun aku akan mencari segala cara untuk kembali ke dunia."

__ADS_1


"Cih, memangnya untuk apa itu semua? Kau ingin dikenang orang-orang karena jasamu?"


Xin Chen menggendikan bahunya, "Kau terlalu naif menganggap kehormatan itu segala-galanya. Aku hanya mengetahui di masa depan dunia ini akan mengalami goncangan hebat, Naga Kegelapan milikmu itu akan menjadi musuh terberatku. Musuh kesepuluh Siluman Penguasa Bumi, musuh para manusia, dan juga semua mahkluk hidup di muka ini serta keempat Roh Elemen pastinya."


Cukup terkejut akan jawaban tersebut, Roh Elemen Api menebak Xin Chen tahu hal ini dari Rubah Petir. Namun informasi mengenai bangkitnya Naga Kegelapan ini baru diketahuinya sekarang.


"Apa maksudmu dengan Naga sialan itu?"


"Kau tidak tahu?"


Xin Chen tak habis berpikir, bahkan si penyebab masalah ini pun tak tahu akibat perbuatannya kini akan berakhir sangat buruk pada peradaban manusia.


"Kau yang memberikannya kekuatan sebagai Siluman Penguasa Bumi, melihat naga itu tak bisa diimbangi oleh Siluman Penguasa Bumi lain kau pikir nagamu akan duduk manis dan tidur-tidur manja selagi kau sibuk meladeni anak kecil di sini?"


Kalimat selanjutnya terucap, "Naga Kegelapan akan membunuh semua mahkluk yang dia rasa sama kuatnya dengannya. Sampai tidak ada lagi yang tersisa dan dia menjadi tak tertandingi. Kurasa kalau perlu naga itupun takkan segan-segan menantang empat Roh Elemen sekaligus."


"Dan kau-? Kau berniat mengalahkannya? Walaupun kau tahu hal itu sangatlah tidak mungkin?"


Roh Elemen Api menolak pernyataan tersebut, ini semua bukan salahnya. Naga itulah yang menjadi tak terkendali semenjak kekuatan besar dipercayakan kepadanya. Menghancurkan segala apapun dengan serakah.


"Hah... Ini menyebalkan, melihat manusia sepertimu bertindak seolah-olah kau mampu menyelamatkan seisi dunia. Aku ingin sekali menghanguskan mukamu itu "


"Tidak perlu jauh-jauh, memenggal kepalaku saja kau sudah tak sanggup."


"Kau-!? Mau kupenggal sekarang?!"


"Jadi bagaimana kau mau membantu ku apa tidak? Kekuatan api abadi itu aku butuhkan untuk menyelamatkan temanku Ye Long."


"Menurutmu sendiri?"


"Kau harus menjawab ya."

__ADS_1


"Percaya diri sekali."


"Kalau begitu suruh patung-patung kesayanganmu itu melawanku lagi."


"Tidak akan!" dia mendengus sehabis membentak. "Terserahlah, aku juga tak sanggup lagi meladenimu. Hei kau tahu, berperang tiga hari bahkan jauh lebih mudah daripada berdebat dua jam dengan mahkluk berkepala batu sepertimu."


"Hahahaha," Xin Chen tertawa hampir lupa diri, mengingat dirinya tak lebih dari seorang budak di hadapan Rubah Petir dan Lang kembali menamparnya kembali pada kenyataan. Dia sama sekali takkan berkutik di hadapan dua mahkluk tersebut, ditambah lagi ibunya juga memiliki mulut yang sama-sama judes, pedas, selalu benar dan selalu menyakiti hati orang.


"Pada akhirnya bagaimana pun juga ini termasuk salah satu tanggung jawabku, selama ini aku terus menanggung dosa itu sehingga diriku diasingkan dari tempatku yang seharusnya. Menjadi tak berguna dan seperti yang kau lihat, kekuatan ini tidaklah seberapa. Tapi jika kau bersikeras untuk mendapatkannya mungkin aku bisa memberikannya. Aku mempercayakan ini padamu tidak secara sembarangan, melainkan aku benar-benar tahu siapa dirimu."


"Darimana?"


"Sudahlah kau tak perlu tahu." Dia mendekati Xin Chen dengan langkah pelan, suasana sekitar yang begitu hening membuat bunyi langkah kakinya bergema seisi aula.


"Jika benar tujuanmu seperti yang kau katakan di awal, maka..."


Roh Elemen Api membakar tangannya dengan api, bergerak seolah ingin menjabat tangannya. "Kau harus bertaruh nyawa untuk menyelamatkan peradaban ini. Kau bersumpah, atas namaku Roh Elemen Api menghancurkan Naga Kegelapan dan membawa kepalanya kembali di hadapanku. Mengerti?"


"Aku bersumpah atas nama Roh Elemen Api untuk mengemban kewajiban tersebut."


Saat dirinya menjabat tangan tersebut, rasa terbakar menggerogotinya di sekujur tubuh nyaris tanpa ampun. Seketika seluruh organ tubuhnya seperti meleleh di dalam, meskipun tidak terlihat sedikitpun luka di bagian luar. Satu hal yang diketahuinya, kini Xin Chen sudah kembali ke dunia nyata dengan Rubah Petir dan Belut listrik yang memasang wajah khawatir di depan wajahnya.


"Apa-apaan kekuatan ini?" Baru kali ini Rubah Petir kaget bukan main, tak ada lagi raut wajah tenang yang selalu terlihat meski dalam situasi paling buruk sekali pun. Tak jauh beda dengan siluman di sebelahnya. Meskipun tidak begitu paham namun dari jumlah kekuatan yang mengalir dalam tubuh anak itu, pasti telah terjadi sesuatu besar.


Mereka menatap Xin Chen seolah berutang penjelasan, menunggu anak itu benar-benar pulih. Dia muntah darah setelahnya, seperti menahan sesuatu yang sangat-sangat menyakitkan dalam setiap tarikan napasnya. Tangan Xin Chen bergetar kesakitan dan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya dia mengeluarkan suara kecil.


"Kau bohong, Guru Rubah."


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di alam bawah sadarmu, mengapa tiba-tiba datang kekuatan mengerikan seperti tadi dan..." Dia memastikan dugaannya, "Apa benar kekuatan tadi milik salah satu Roh Elemen?"


Mengetahui kekuatan yang berada jauh di atas Siluman Penguasa Bumi sepertinya, Rubah Petir langsung mengenali kekuatan tersebut hanyalah milik Roh Elemen. Aura kekuasaan yang amat besar, yang akan menundukkan apapun di bawah kakinya. di hadapan mereka Rubah Petir hanyalah seujung kuku.

__ADS_1


__ADS_2